Aya panorama jalur kareta Cibatu-Garut-Cikajang nu hade tur lengkep. Toong di dieu:
Indonesian State Railways PJKA Cibatu - Garut - Cikajang Branch CC10 engines http://www.flickr.com/photos/malawirail/sets/72157602467449358/ 2012/4/4 Irpan Rispandi <[email protected]> > ** > > [Attachment(s) <#1367b65c3bc02352_TopText> from Irpan Rispandi included > below] > > Kuring ngadongeng lalakon keur leutik yeuh, hampura basa Indonesia. :) > > *** > > Mang Irin, sosok setengah baya berseragam PJKA ini, pagi-pagi sekali sudah > berada di stasiun kereta yang kini sudah tidak beroperasi lagi. Stasiun > yang berupa gedung tua khas bangunan Belanda ini adalah stasiun Bayongbong, > sebuah stasiun kecil yang berada di jalur kereta Cibatu-Garut-Cikajang. > Sayangnya setelah beroperasi selama 57 tahun, trayek Cibatu-Garut-Cikajang > ini harus ditutup. Sejak dibuka tahun 1926 dan ditutup tahun 1983, jalur > kereta ini telah menjadi tulang punggung transportasi di dataran tinggi > Garut. > > Mang Irin adalah seorang yang sederhana. Samar-samar saya masih bisa > mengingat wajahnya yang ramah dan bersahabat. Saya masih kecil waktu itu, > mungkin belum sekolah, berarti sekitar tahun 1985 atau 86. Meski jalur > keretanya sudah ditutup, dan stasiun berhenti beroperasi, namun Mang Irin > tetap melaksanakan tugasnya, merawat semua peralatan operasional kereta. > Karena masih kecil, waktu itu saya tidak begitu mengerti tentang apa itu > pekerjaan dan apa itu bakti. Yang saya tahu hanyalah bermain-main di > sekitar stasiun, berjalan meniti jalur besi roda kereta, atau mengangkat > bandul besi pemindah jalur rel, dan semua yang bisa dimainkan disana. > > Sekarang saya baru menyadari, bahwa apa yang dilakukan oleh Mang Irin > adalah sebuah darma yang didorong oleh kesetiaan dan kecintaan pada dunia > kereta. Meski stasiunnya sudah tidak beroperasi lagi, namun beliau merasa > memiliki dan menjadi bagian dari stasiun itu. Karenanya beliau tidak ingin > semuanya menjadi terbengkalai tak terawat. > > Terkadang saya merasa heran, dulu dijaman Belanda yang katanya Penjajah, > justru memperhatikan sistem transportasi dan berusaha merancang moda-moda > transportasi yang efektif. Pembangunan jalur kereta yang sampai ke dataran > tinggi Cikajang (+- 1200m) merupakan salah satu buktinya. Belum lagi > berbagai infrastruktur pendukung jalur kereta, seperti jembatan-jembatan, > gedung-gedung stasiun, dll, semuanya dibangun dengan kualitas terbaik. > Jembatan kereta yang ada di dekat stasiun Bayongbong misalnya, sejak > dibangun tahun 1926, sampai sekarang masih kokoh berdiri. Bangunan > stasiunnya pun masih ada, meski sekarang sudah tidak terawat lagi. Apalagi > sejak Mang Irin wafat, tidak ada yang meneruskan mengurus bangunan itu. > > Di jaman (yang katanya) merdeka ini, sistem transportasi justru seperti > kehilangan arah dan idealisme. Pembangunan moda-moda transportasi seakan > tidak terencana dan tidak tepat sasaran untuk memenuhi kebutuhan yang > sebenarnya. Pembangunan jalan-jalan mulai jalan tol sampai jalan mobil > biasa, seakan tidak pernah cukup. Dan semakin banyaknya mobil dan kendaraan > darat individualistis lainnya, berefek domino sedemikian kemana-mana. Mulai > dari BBM sampai harga bawang putih. > > Seandainya di Indonesia mengutamakan pembangunan kereta, mungkin ceritanya > akan lain. Mungkin tidak akan ada masalah BBM, mungkin. Selain itu, Kereta > itu tak kenal macet, sehingga waktu yang terbuang tidak sebanyak sekarang. > > Dan siapa tahu, "tuah" kereta akan menghasilkan Mang Irin-Mang Irin baru, > yang mencintai kereta dan merawat sistemnya. Sehingga angka kecelakaan pun > bisa sangat kecil. > > ** > > Saya sertakan juga beberapa foto kereta yang melayani jalur > Cibatu-Garut-Cikajang di bagian attachment. > Jadul Banget ^_^ > > *** > >
