Unhas, Dahlan Iskan dan Krisis Minyak Posted by PENERBITAN KAMPUS 'IDENTITAS'UNHAS on 5:34 AM in kolom, unhas | 0 komentar Minyak mentah di pasar dunia melambung tinggi. Ditengarai kenaikan ini merupakan rekor tertinggi dari beberapa bulan terakhir. Para analis mengatakan itu efek domino dari kebijakan negara Republik Islam Iran yang secara resmi menghentikan penjualan minyaknya ke Inggris dan Perancis.
Kenaikan harga minyak ternyata punya juga efek domino ke Indonesia. Otomatis harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan naik. Sebagaimana biasanya ketika harga minyak naik maka harga lainnya pun segera menyusul. Untuk mengantisipasi krisis minyak tersebut Dahlan Iskan (DI) sebagai menteri BUMN bergerak cepat . Langkah yang dipandang oleh DI sebagai solusi terbaik adalah bekerjasama dengan negara Republik Islam Iran. Tampaknya ada harapan Indonesia bisa menekan harga minyak jika Iran bersedia menjual minyaknya ke Indonesia dengan harga diskon sebagaimana yang diharapkan DI. Menurut DI bahwa ide untuk membeli minyak hasil produksi Iran yang akan diekspor ke Uni Eropa ini menarik karena harganya yang murah. "Saya setuju, saya kan otaknya pedagang bukan politisi jadi harus begitu," tandasnya (Okezone,23/2). Hitungan dagang orang sekaliber DI kemungkinan besar jauh dari sekadar keuntungan sebagaimana yang ada di benak pedagang biasa. Memang, tanggapan DI terkesan sebatas mengantisipasi kenaikan harga minyak saja ketika merespon pertanyaan jurnalis . Keliru bila menilai hitungan dagang DI hanya sebatas keuntungan pada minyak mentah saja. DI yang selalu berhasil memimpin sebuah institusi, tentu jauh sekali dari sebuah sikap yang tidak memiliki perhitungan yang matang serta pikiran yang tidak punya prospek di masa depan. Sudah pasti setiap keputusan dan tindakannya sudah dihitung beberapa langkah ke depan guna mendapatkan keuntungan yang berlipat. Hitungan saya terhadap hitungan DI bahwa DI menghitung keuntungan bukan hanya persoalan minyak tetapi juga gas dan yang lainnya, seperti semangat hidup, cara hidup dan semangat keilmuan yang terus terjaga dan berkembang di Iran dari zama kuno hingga hari ini. Hal itu bisa kita lihat pada tulisan DI ketika setahun lalu mengunjungi Iran. Sepulang dari Republik Islam Iran, DI menulis catatan perjalanan, tidak lama kemudian menjadi menteri. Dalam catatan itu, DI menuangkan apresiasi dan kekagumannya pada Republik Islam Iran seperti ini:” Pertama, saat mulai diisolasi dulu kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan ekonomi domestik. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal dengan golongan bazari-nya.Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan (Dahlan Iskan,2011: Tahan Banting dengan Tradisi Keilmuan dan Bazari). Gayung bersambut dengan niat baik DI, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh mengatakan bahwa hubungan Indonesia dan Iran meningkat 100 persen saat Iran dijatuhkan sanksi. ”Insya Allah tidak ada masalah hubungan Indonesia dan Iran ke depannya. Dengan dukungan bangsa dan masyarakat Indonesia, hubungan akan terus berkembang,”kata Farazande (Republika,11/2). Unhas kemudian bisa menjadi jembatan taktis untuk menghubungkan antara Dahlan Iskan dan Duta Besar Republik Islam Iran mengingat hubungan baik Unhas dengan kedutaan Republik Islam Iran di Jakarta. Hal itu bisa dilakukan dengan semacam seminar atau pertemuan terbatas antara Unhas, Kementerian BUMN dan Kedutaan Republik Islam Iran. Krisis minyak yang dihadapi oleh bangsa Indonesia menimbullkan persoalan yang cukup pelik. Oleh karena itu membutuhkan banyak cara dan taktik yang variatif untuk mernghadapinya. Demi kepentingan nasional dan bangsa Indonesia kita harus berani melakukan terobosan-terobosan. Tidak bisa lagi kita terpaku dengan cara-cara yang konvesional dan monoton. Harus ada variasi dan perubahan guna mengantisipasi situasi zaman yang bergerak begitu cepat pada semua sektor akibat keterkaitan yang kuat antara satu bidang dengan lainnya yang dimotori oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu inisiatif DI kiranya perlu didukung oleh segenap komponen bangsa,termasuk Unhas punya peluang besar berperan aktif mengingat kedudukan Unhas sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia, dengan harapan krisis minyak yang sekarang Indonesia alami bisa dijawab dan direalisasikan untuk mendapatkan minyak dari Iran dengan harga rendah. Jika ini berhasil dilakukan maka Unhas dan DI tidak hanya berhasil menumbuhkan pohon sejarah yang kokoh dan rimbun dalam hubungan antara dua negara besar Indonesia dan Iran tetapi juga itu bisa menjadi pohon sejarah yang menaunginya berjalan menelusuri jejak-jejak para pemimpin bangsa menuju puncak pohon sejarah bangsa yang menghasilkan dan memberikan buah yang sangat dirindukan oleh masyarakat Indonesia yang mana sekarang ini sedang tidak bisa menikmati buah dari pohon yang disebut negara Republik Indonesia dengan perasaan nyaman, damai dan bahagia. Tak ada salahnya untuk mencoba. Tak berhasil pun bukan aib. Sebaliknya, jika berhasil maka Unhas akan semakin mengokohkan diri sebagai universitas yang punya karakter dan siap menjadi sebagai institusi terdepan mengarahkan bangsa ini berlayar mengarungi samudera di masa depan. Namun satu hal lain yang juga perlu dipahami dan disadari kita semua bahwa Unhas tidak bicara satu- dua orang atau satu-dua fakultas. Sehingga tidak akan bisa menumbuhkan pohon sejarah kebesarannya jika tidak mendapat dukungan dari semua pihak.Saya percaya dan yakin sepenuhnya jika semua orang dan fakultas bersatu untuk membawa Unhas berlayar ke puncak peradaban ‘maritim’ sebagaimana yang kita sepakati bersama yang menjadi visi-misi Unhas maka kejayaan dan kebesaran yang pernah diraih oleh masyarakat di daerah ini pada abad-abad ke-16 dan 17 sebagai pusat kemajuan di Asia akan tercapai. Insya Allah! http://www.identitasonline.net/2012/03/unhas-dahlan-iskan-dan-krisis-minyak.html
