Kecanduan Baca Buku
Oleh AHMAD SAHIDIN
 
Kecanduan buku. Mungkin itu kurang tepat. Namun, kalau dipikir ulang seperti 
benar. Saya merasakan kurang nyaman atau tidak enjoy kalau seharian tidak baca 
buku. Terasa ada yang kurang kalau belum baca buku.  Buku yang dibaca pun 
rata-rata buku yang dapat sedikit mengernyitkan dahi—istilah kawan-kawan di UIN 
Bandung menyebut buku-buku bernuansa filsafat, teologi, sejarah, atau pemikiran.
 
Entah kenapa sampai sekarang kebiasan baca buku belum berhenti. Bahkan, sangat 
jarang sekali membaca Quran atau Sunnah Nabawiyah. Malah lebih banyak membaca 
yang tidak berkaitan dengan kedua sumber Islam tersebut. Pada konteks ini saya 
mengakui keislaman saya belum seratus persen. Mungkin baru pra-Islam karena 
saya masih belajar dan terus mencoba memahami mengapa kita mesti beragama dan 
agama serta aliran manakah yang sesuai dengan jalur yang digariskan Ilahi?
 
Pertanyaan ini sempat hilang dua tahun silam; kemudian muncul lagi akhir 2010. 
Goncangan, gugatan, keraguan.  Kalau tidak salah—menurut Ayatullah Murtadha 
Muthahhari (1919-1979)—fenomena tersebut dapat  mengantarkan seseorang pada 
titik kesempurnaan hidup. Berkat pencarian kebenaran, para filosof melahirkan 
teori-teori filsafat. Berkat pertanyaan yang bernuansa Ilahiah melahirkan para 
teolog dan sufi. Tidak sedikit yang dari fenomena tersebut yang sebaliknya: 
ateis atau agnostik.
 
Ah… ngelantur.  Ya, memang ini yang harus saya lakukan untuk mengakrabkan 
kembali tuts-tuts keyboard.  Terakhir, saya ucapkan terima kasih buat Anda yang 
sudah berkenan membaca gerentes ini. Insya Allah… bermanfaat kalau Anda pandai 
mengambil hikmahnya.

Kirim email ke