Kacirina motto "Bhineka Tunggal Ika" beuki populer, Presiden Obama dina
pidatona di UI, nyebut-nyebut hal ieu, ayeuna Menteri Inggris nyebutkeun motto
ieu kudu di"ekspor". Hebat nu nyiptakeun motto ieu, ngan hanjakal ayeuna di
urang Indonesia sorangan, motto ieu teu pati dipake ....
Selasa, 10 Februari 2009 | 18:41 WIB
Indonesia Perlu 'Mengekspor' Bhineka Tunggal Ika
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta: Bhineka Tunggal Ika yang maksudnya berbeda tapi satu
(unity in diversity) adalah pemikiran dan semboyan Indonesia yang layak
disiarkan ke dunia internasional. Bahkan, Indonesia perlu "mengekspor"
pemikiran Bhineka Tunggal Ika ke berbagai belahan dunia. Bill Rammel, Menteri
Negara untuk Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris, menyampaikan hal tersebut
di Jakarta, Selasa (10/2).
Tiba di Jakarta pada Senin (9/2) malam untuk kunjungan dua hari, Menteri
Rammel memberikan pidato khusus berjudul Unity in Diversity di lembaga Centre
for Dialogue and Cooperation Among Civilizations di Jalan Kemiri, Menteng,
Jakarta Pusat, pada Selasa siang.
Hadir dalam pertemuan itu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dien Syamsuddin
serta sejumlah tokoh lain. Menteri Rammel datang untuk membahas peran positif
Indonesia dalam peristiwa penting dunia. "Kehadiran saya di Jakarta adalah
karena pengaruh Indonesia dalam peristiwa dunia. Dan karena keberhasilan negeri
ini mengatasi otoritarianisme dan konflik," ujar Rammel.
Selanjutnya, dia mengatakan, "Inggris tidak memiliki motto nasional, namun jika
kami harus memilikinya, rasanya tak ada yang lebih tepat dari itu (Bhineka
Tunggal Ika, Red)" . Menurut dia, betapa besar perdamaian dan manfaat yang bisa
dipetik bila prinsip berbeda tapi satu ini diterapkan pula di negara-negara
lain. Umpama, di Timur Tengah di mana Palestina selalu berkonflik dengan
Israel, Afganistan, dan di Irak di mana kaum Sunni, Syiah dan Kurdi kerap
bertikai.
Sebelum berpindato di CCDC, Rammel menerima tiga media Ibu Kota, termasuk Tempo
untuk brifing terbatas di Kedutaan Besar Inggris di Jalan Teuku Umar 72- 74,
Jakarta Pusat. Menjawab pertanyaan Tempo tentang langkah Inggris seusai perang
Israel Hammas, yang berkobar pada Februari lalu, Menteri Rammel menjawab:
"Sejak awal pemerintah Inggris aktif menyerukan genjatan senjata, secara privat
maupun publik."
Inggris mengutuk Hamas yang menyerang warga sipil Israel, walau pun "Menurut
hemat kami, respons pihak militer Israel tidaklah proporsional." Menurut
Rammel, genjatan senjata dan bantuan kemanusiaan saja tidaklah cukup. "Ada
urgensi mencari solusi jangka panjang untuk problem ini."
HERMIEN Y KLEDEN
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/