POSISI FILSAFAT ISLAM DALAM MASALAH KEMANUSIAAN
Dr. Haidar Bagir
(Pendiri dan pembina Islamic College for Advanced Studies (ICAS), STFI Sadra,
STAI Madina Ilmi, dan Penerbit Mizan )
Meluaskan Wawasan dan Semangat Pluralistik
Salah satu sumber keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam
kontemporer adalah lambatnya kelompok ini mentas dari "masa pubertas"
intelektualnya. Hal ini ditandai dengan ciri terobsesinya sebagian umat dengan
simbol-simbol formalisme-legalistik, pemahaman keagamaan yang simplistik,
kurangnya apresiasi terhadap penafsiran rasionalistik atas agama, dan
kecenderungan untuk merasa paling benar sendiriyakni dalam kaitannya dengan
kemungkinan dialog antar maupun interkeyakinan (inter and intrafaithdialogues).
Di sisi lain, kelompok lain umat yang sebenarnya lebih siap untuk mengambil
sikap terbuka tampak gamang dalam menghadapi tantangan realitas zaman yang
menuntut kemampuan apropriasi, yaitu kemampuan memahami, dan mengambil dari
orang lain tanpa hanyut ke dalamnya.
Sebagai gantinya, sebagian dari kita pun terdorong untuk mengambil jalan pintas
dan mudah, yakni bersikap eksklusif terhadap sumber-sumber kebijaksanaan dan
pengetahuan di luar lingkungannya seraya mengobral cap sesat dan berbahaya.
Atau, kalau tidak, sebagian yang lain malah cenderung mengorbankan jati-diri
kita di altar sekularisme atau pluralisme keagamaan radikal.
Sebelum yang lain-lain, di sini filsafat bisa mengambil peranan, yaitu untuk
membuka wawasan berpikir umat untuk bersikap lebih sophisticated, adil, dan
apresiatif dalam meneliti berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh
berbagai kelompok manusia. Dengan cara ini, diharapkan umat Islam lebih siap
untuk memajukan nilai-nilai keterbukaan, pluralitas, dan inklusivitas sehingga
dapat melihat hikmah-hikmah yang mungkin dipungut dari berbagai sumbersuatu
sikap yang jelas-jelas dianjurkan oleh agamanya sendiri.
Demi Memecahkan Krisis Modernisme
Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang
memaksa kita untuk berpikir holistik, sistemik, dan reflektif untuk memahami
realitas dalam memecahkan problem-problem besar yang diakibatkannya. Krisis
ekologis, misalnya, mengentakkan kesadaran manusia untuk menggugat pandangan
kosmologi modernyang atasnya sains modern dikembangkanyang bersifat parsial
dan positivistik-antroposentrik, yang telah dianut hampir tiga abad. Krisis ini
menggugah, antara lain, seorang filosof analitik dari Norwegia, Arne Naess,
melakukan hijrah intelektual untuk menjadi pelopor apa yang disebut Gerakan
Ekologi Dalam (Deep Ecology Movement) pada pertengahan dasawarsa 1970-an.
Dengan Ekologi Dalam, ia merunut akar persoalan dalam kekeliruan peradaban
modern dalam melihat dan menempatkan posisi lingkungan alam semesta kita dan
bentuk hubungan manusia dengannyayakni, pandangan teknologistik yang bersikap
eksploitatif.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan juga mendorong Thomas S. Kuhn, seorang
saintis, mencoba memahami gerak laju ilmu pengetahuan sebagai dibentuk oleh
"paradigma" yang diterima luas pada setiap masasebuah kumpulan keyakinan dan
pemahaman tentang alam semesta yang berkorelasi erat dengan metafisika dan
nilai (The Structure of Scientific Revolutions). Maka, dalam rangka mencari
sains yang lebih sesuai dengan kebutuhan manusia, Fritjof Capraseorang ahli
fisika yang lebih belakangan terpaksa menoleh ke hikmah Timur, khususnya
Taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sudah telanjur
dirongrong oleh relativime dan skeptisisme (The Tao of Physics). Kedua contoh
di atas tampaknya kembali menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak
bisa terpisahkan dari induknya, yakni filsafat. Dengan kata lain, pemisahan
keduanya secara paksa telah terbukti menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan,
ekologi, krisis keyakinan yang melahirkan alienasi, dan sebagainya.
Di Dunia Islam, kenyataan pelepasan sains dari filsafat ini bahkan berakibat
lebih buruk lagi.
Al-Biruni
MOHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI
Ibnu Sina (Aviciena)
Dalam sebuah kesempatan Konferensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ahli
sains di Dunia Islam ditanya tentang sebab-sebab kemunduran sains di wilayah
ini. Berbagai jawaban masuk akal pun diberikan. Akan tetapi, jawaban Prof.
Osman Bakar menarik perhatian kita karena menyebut-nyebut permusuhan terhadap
filsafat di negara-negara Muslim selama beberapa abad belakangan ini sebagai
sebab-utama persoalan ini. Bagaimana tidak? Sejarah peradaban Islam hingga
kira-kira abad ke-15 dengan jelas menunjukkan bahwa dorongan bagi berkembangnya
sains di negara-negara Muslimbahkan jauh lebih dulu dan (sempat) jauh lebih
maju dibandingkan dengan perkembangan yang sama di belahan dunia lainadalah
berkembang suburnya filsafat. Kenyataannya, sains pada "masa-masa emas"
peradaban Islam itu dikembangkan oleh orang-orang yang lebih dikenal sebagai
filosof: Ibn Hayyan, Al-Biruni, Ibn Sina, Al-Razi, Al-Thusi, dan sebagainya.
Apalagi, pada masa-masa itu, fisika (thabî`iyyah) merupakan bagian integral
dari filsafat, di samping metafisika (mâ ba`d al-thabî`ah). Dan, perlu
diungkapkan di sini, betapapun spekulatifnya sifat filsafat Yunani, kaum
filosof Muslim ini mendapatkan dorongan untuk mementingkan alam empiris dari
Al-Quran. Metode kritis dan analitis serta kekayaan kosmologi filsafat yang
dikombinasikan dengan semangatdalam istilah Iqbalantiklasik Al-Quran ini
terbukti telah menjadi kekuatan luar biasa bagi pengembangan sains di dunia
Muslim pada masa itu.
Fenomena yang sama, yakni dipegangnya inisiatif pengembangan sains awal oleh
para filosof ini, terjadi pula di Barat. Meskipun demikian, dalam
perkembangannya kemudian, pelan-pelan sains dilepaskan dalam
kesatuan-organiknya dengan filsafat. Hal ini terjadi bersamaan dengan ditemukan
dan diterima luasnya apa yang belakangan disebut sebagai metode ilmiah
(scientific method) sejak masa Rene Descartes (1596-1650) dan Roger Bacon
(1214-1292). Di satu sisi, hal ini tampak sebagai telah mendorong sains untuk
berkembang lebih cepat lagi oleh apa yang tampak sebagai penekanan-eksklusif
atas rasionalitas dan eksperimen yang terbuka lebar untuk verifikasi
(eksperimental)dibandingkan dengan ketika ia masih menjadi bagian organik
filsafat yang, betapapun juga, spekulatif. Namun, ada tiga hal yang perlu
disinggung di sini.
Pertama, pelepasan sains dari filsafatselain bagi beberapa orang berarti
hilangnya kesempatan bagi sains untuk bisa mengambil manfaat dari kekayaan
filsafattelah pula melepaskan sains dari transendentalisme dan religiusitas
yang terkandung dalam filsafat. Setidak-tidaknya, sains melepaskan diri dari
etika, yang selama ini selalu merupakan bagian dari filsafat. (Kenyataannya,
belakangan pelepasan ini juga merugikan filsafat sendiri. Pesatnya perkembangan
dan luasnya penerimaan sains modern di kalangan masyarakat telah pula mendorong
filsafat untuk menjadi lebih "sekuler" sebagaimana dapat dilihat dalam
perkembangan filsafat modern, setidak-tidaknya seabad belakangan ini). Hal ini
belakangan telah menimbulkan persoalan etika dalam pengembangan dan penerapan
sains modern, sehubungan dengan munculnya kemungkinan pengembangan dan
penerapan sains yang menabrak persoalan nilai-nilai (values) kemanusiaan yang
telah diterima luas selama ini. Persoalancloning dan eugenika, sehubungan
dengan dikembangkannya proyek genome manusia (human genome project) yang
membuka kemungkinan manipulasi genetik, hanyalah salah satu contohnya.
Kedua, pada kenyataannya sains tak pernah bisa benar-benar terlepas dari
filsafat, yakni metafisika. Jadi, yang terjadi hanyalah pergeseran dari
metafisika yang bersifat transendental kepada metafisika yang, dalam banyak
hal, sekuler.
Ketiga, kerugian yang timbul dari pemisahan sains dari filsafat tak hanya
terbatas pada hilangnya kesempatan bagi sains untuk mengambil manfaat dari
kekayaan filsafat di bidang metafisika (kosmologi dan ontologi) serta arah yang
bisa diberikan oleh filsafat bagi perkembangan sains (etika atau aksiologi),
tetapi juga dalam bidang epistemologis. Seperti disebutkan juga oleh beberapa
saintis terkemuka, antara lain Schrödinger, Capra, dan Oppenheimer, sains telah
kehilangan kesempatan bagi pengembangan fakultas atau daya intuitifyang memang
diandalkan dalam filsafat (klasik) sebagai salah satu alat pengetahuan di
samping indra.
Nah, jika dalam hal sains kealaman (natural science)yang biasa disebut sebagai
"sains keras" (hard science) saja begitu besar peran filsafat, apatah pula
dalam sains sosial ataupun budaya?
Dan itu semua baru separo cerita. Karena, kenyataannya, krisis modernisme tidak
berhenti pada krisis epistemologis dan ekologis saja. Krisis yang lebih akut
lagi adalah krisis-krisis eksistensial yang menyangkut hakikat dan makna
kehidupan itu sendiri. Manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis
makna, dan legitimasi hidup, serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan
(alienasi) terhadap dirinya sendiri. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam The
Plight of Modern Man, krisis-krisis eksistensial ini bermula dari pemberontakan
manusia modern kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan
masa depan seperti yang dijanjikan oleh Renaisans, Abad Pencerahan,
sekulerisme, saintisme, dan teknologisme. Di sinilah terletak peran kedua
kajian filsafat, yaitu mendekonstruksi paradigma modernisme sedemikian seraya
mengembalikan nilai-nilai transendental dan holistik.
Pada gilirannya, filsafat juga akan membantu memecahkan salah satu problem
krusial pemikiran keagamaan sekarang ini. Yakni, perlunya dilahirkan perumusan
pemahaman agama yang dapat mengintegrasikan secara utuh dan tanpa dikotomi
antara visi Ilahi dan visi manusiawi.
Filsafat sebagai Basis Berbagai Sistem Kehidupan
Bukan hanya di bidang pengembangan sains, berbagai bidang lain kehidupan
manusiaentah itu ekonomi, politik, sosial, apalagi keagamaanpun tak pernah
bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan filosofis yang menjadi fondasinya.
Termasuk di dalamnya, makna sejati kemanusiaan, keadilan, persamaan,
kesejahteraan, dan kebahagiaan sebagai tujuan semua solusi persoalan, serta
banyak soal mendasar lainnya.
Barangkali itu sebabnya mengapa beberapa dekade belakangan ini menyaksikan
tuntutan sebagian kaum Muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia akan
perlunya "Islamisasi" berbagai bidang kehidupan. Entah itu ekonomi,
politiklewat, antara lain, tuntutan pemberlakuan syariatdan sebagainya.
Sebuah tuntutan yang sah, tentu saja, selama maknanya dipahami dengan benar.
Pertama, seperti telah diungkapkan dalam perbincangan mengenai perkembangan
sains sebelum ini, harus dipahami bahwa sistem-sistem yang tampak begitu
bersifat duniawi itu sesungguhnya dibangun atas dasar suatu "metafisika" juga.
Misalnya, ekonomi liberalistik didasarkan pada keyakinan akan sifat rasional
mekanisme kehidupan. Yakni, bahwa kehidupan ini akan paling baik mengurusi
dirinya jika dibiarkan sendiri, dengan sesedikit mungkin intervensi atau campur
tangan negara. Hidup punya "invisible hand"-nya sendiri. Inilah suatu sistem
yang dibangun atas kepercayaan laissez faire laissez passer. Sedemikian
sehingga tindakan-tindakan afirmatif untuk memberikan fasilitas khusus bagi
bagian masyarakat yang kurang beruntung di beberapa negarakhususnya di
ASdikritik sebagai akan merusak mekanisme invisible hand itu.
Hal ini, tak bisa tidak, terkait dengan konsep seseorang atau satu kelompok
tentang suatu persoalan filosofis yang amat mendasar, yakni tentang definisi
keadilan. Apakah yang disebut adil itu? Apakah itu berarti memberikan
kesempatan yang sama bagi semua orang meskipun hal itu bisa mengakibatkan
kesenjangan akibat perbedaan kemampuan-awal berbagai kelompok masyarakat yang
ada, sebagaimana yang dipraktikkan di negara yang berpandangan ekonomi liberal?
Ataukah seperti yang diterapkan di negara-negara kesejahteraan (welfare state)
yang menerapkan sistem ekonomi campuran? Ataukah "sama rata sama rasa"
sebagaimana yang dibayangkan dalam masyarakat komunis tertentu yang memujikan
campur tangan negara secara besar-besaran? Apa pendapat Islam mengenai soal ini?
Soal yang lain lagi, misalnya Marxisme mengkritik kapitalisme karena memberikan
penghargaan terlalu besar pada sumber daya kapital dan menomorsekiankan sumber
daya manusia, sehingga Marx menyebut adanya "surplus value of labour"Apa kata
Islam tentang ini? Tentu masih banyak soal filosofis seperti ini yang harus
terlebih dulu dijawab sebelum kita bisa menawarkan sebuah sistem Islami, atau
yang setidak-tidaknya dapat merevisi beberapa kelemahan yang ada dalam
sistem-sistem yang ada sekarang ini.
Demikian pula dalam politik. Pilihan antara pengembangan negara otoritarian,
atau apa yang disebut sebagai demokrasi terpimpin, ataupun demokrasi liberal,
terkait erat dengan suatu isu filosofis mendasar. Yakni, di mana sesungguhnya
letak kewenangan (authority) dalam masyarakat? Apakah pada sekelompok bangsawan
(aristokrasi), raja, intelektual, ulama, atau siapa saja yang punya kelebihan
(meritokrasi), atau agamawan (dalam suatu negara teokrasi), kelompok yang kuat
secara militer, atau pada rakyat banyak (demokrasi)? Kita ingat bahwa Plato
memberikan kewenangan kepada raja-filosof, sementara filsafat Nietzche pernah
dipahami sedemikian, sehingga dianggap sebagai memberikan pembenaran bagi
pengembangan suatu fasisme militeristik model Naziisme. Yang lain lagi
berpendapat bahwa seharusnya kaum terpelajarlah yang paling tahu tentang
bagaimana dan ke mana seharusnya kehidupan ini diarahkan untuk kepentingan
semua pihak. Akhirnya, kita sudah akrab pada argumentasi para pendukung
demokrasi hingga sampai sejauh menyatakan bahwa "suara rakyat adalah suara
tuhan" (vox populi vox dei). Lagi-lagi, apa pendapat Islam mengenai soal ini?
Adakah Islam memberikan kewenangan pada khalifah, ulû al-amr, ahl al-hall wa
al-`aqd, wilâyah al-faqîh, atau pada ijmâ`dan syûrâ yang mencakup semua warga
negara lewat sebuah lembaga representatif atau parlemen?
Bagi kaum Muslim, filsafat diperlukan sekarang ini demi melanjutkan proyek
dekonstruksi yang disebutkan di muka, yaitu dengan merekonstruksi fondasi
filsafat bagi pengembangan solusi terhadap krisis eksistensial manusia modern
tersebut. Dalam kerangka ini, filsafat Islam dapat memberikan kontribusi
penting dengan menawarkan pandangan-dunia yang utuh, holistik, dan penuh makna
kepada manusia modern, baik dalam kajian epistemologi, metafisika, etika,
kosmologi, dan psikologi yang merupakan manifestasi nilai tauhid. Dalam
sifat-sifatnya yang seperti inilah diharapkan manusia dapat memperoleh-kembali
pegangan-hidup yang, pada saat yang sama, dapat memuasi tuntutan-intelektualnya.
Dari uraian di atas, sedikitnya ada tiga manfaat yang bisa diperoleh dengan
mengembalikan filsafat ke dalam wacana pengembangan berbagai sistem kehidupan.
Pertama, filsafat bisa membekali kita untuk memajukan sikap kritis dalam
melihat sistem-sistem yang ada sekarang ini. Kedua, filsafat bisa mendorong
kaum Muslim agar benar-benar memahami kompleksitas persoalan dalam upayanya
membangun sistem-sistem kehidupan Islami. Ketiga, hanya dengan penguasaan akan
isu-isu filosofis mendasar seperti ini kaum Muslim, atau kelompok mana pun
juga, dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi
kepentingan semua orang. Karena, pada dasarnya, perbedaan muncul terutama dalam
tataran isu-isu filosofis mendasar ini, sementara model-model yang dikembangkan
di atasnya setelah itu relatif lebih bebas nilai (value free).
Masih Ihwal Manfaat Filsafat: Dari Kebahagiaan, via Kesuksesan Bisnis, hingga
Keimanan
Aristoteles pernah mengajarkan kepada kita tentang eudamonia Aristotelianyakni
kebahagiaan intelektual, sebagai hasil dari perenungan filosofis, dari kegiatan
berfilsafatyang peraihannya merupakan tujuan puncak kehidupan manusia.
Argumentasinya sederhana saja. Manusia pada dasarnya adalah "hewan rasional
atau intelektual" (homo Sapien). Maka, dia akan mendapati kebahagiaannya pada
kepuasannyakepuasan-puncaknya, yakni tentu setelah kebutuhan-kebutuhan fisikal
(dan, mungkin, sosial)-nya telah terpenuhidalam perenungan intelektual dan
filosofis. Tidak percaya? Anda tinggal mencobanya, demikian kata para filosof.
Maka, akan Anda dapati ia tak bisa diperbandingkan dengan kesenangan fisikal
dan sosial belaka.
Bahkan, tak sedikit yang berpendapat bahwa filsafat bisa membuka pintu bagi
"kebahagiaan praktis". Ah, yang benar saja, barangkali demikianlah
reaksi-segera orang ketika mendengar pernyataan ini. Kenyataannya, bukankah
kita dapati bahwa sebagian filsafat, khususnya filsafat Barat modern sejak
tahun 1960-antermasuk eksistensialisme dan posmodernismejustru mempromosikan
kehidupan sebagai absurditas, sebagai tragedi. Ingat Sartre dan Camus, atau
Foucault dan Lyotard. Bagi yang tidak percaya pada kemungkinan filsafat membawa
orang kepada kebahagiaan, saya persilakan Anda membaca buku karya Alain De
Botton yang berjudul The Consolations of Philosophy. Boleh juga dilengkapi
dengan Plato, Not Prozac! karya Louis Marinoff2, yang juga sama-sama
best-seller. Di dalamnya kedua penulis itusebagai bagian dari orang-orang yang
menyebut diri mereka philosophy practitioners (filosof praktik, persis seperti
dokter praktik atau medical practitioners)mendemonstrasikan manfaat filsafat
untuk menjawab persoalan-persoalan praktis dan immediate kehidupan, termasuk
masalah pekerjaan, keluarga, perkawinan, dan lain-lain. Siapa tahu, setelah itu
Anda akan teryakinkan.
Tak sulit dipahami, kebahagiaan terkait amat erat dengan kemampuan kita
mengelola perasaan (emosi)kesedihan, kekecewaan, frustrasi, kesepian, dan
sebagainya. Selain dari agama, pengelolaan emosi dikendalikan oleh rasio. Di
sinilah, filsafatyang pada esensinya memang bersifat rasionaldapat banyak
membantu. Sebagai ilustrasi, penulis buku Consolations of Philosophy juga
menulis sebuah buku lain yang berjudul Status Anxiety. Dalam buku ini, si
penulis mengerahkan penguasaan-filosofisnya untuk menunjukkan betapa hampir
seluruh sumber kesengsaraan kita terdapat pada kegelisahan yang terkait dengan
status kita dalam masyarakat. Kita sedih karena tak dianggap sukses, atau tak
dianggap paling hebat, atau paling terhormat. Setelah menganalisis persoalan
itu, penulisnya kemudian menawarkan berbagai cara untuk mengatasi
kegelisahan-status seperti itu agar dapat meraih kebahagiaan hidup. Bertrand
Russel, seorang filosof analitik yang tak diragukan kehebatannya, juga menulis
sebuah buku berjudul The Conquest of Happiness, yang di dalamnya ia berupaya
mengungkapkan, betapapun secara "populer", kemampuan-kemampuan-filosofisnya
dalam mengupas persoalan cara-cara mencapai kebahagiaan.
Meski pada awalnya bersifat keagamaan, filsafat juga membahas
persoalan-persoalan eskatologis (keakhiratan), terkait dengan ketakutan banyak
orang terhadap misteri kehidupan setelah mati. Belum lagi pembahasan metafisis
filsafat merupakan bahan-bahan yang solid bagi upaya menjawab
pertanyaan-pertanyaan eksistensial mendasar tentang makna kehidupan manusia di
dunia ini. Juga bagi pengembangan semacam spiritualisme. Bukankah kekeringan
spiritualisme sering kali menjadi sumber penderitaan manusia modern? Akhirnya,
keterkaitan erat filsafat dengan psikologi menunjukkan kepada kita perannya
dalam membantu menjawab masalah-masalah psikologis manusia pada umumnya, yang
merupakan penghalang bagi pencapaian suatu kehidupan yang bahagia.
Belakangan, orang mulai mengatakan bahwa berfilsafat pun bisa membawa kepada
kebahagiaan (baca: kesuksesan) ekonomi dan bisnis. Mana mungkin? Kali ini, saya
akan mengajak Anda untuk melancong bersama Tom Morris, dengan cara membaca
karya penulis ini yang berjudul If Aristotle Ran General Motor3. Buku ini
mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa
membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua
penulis lainGay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya yang berjudul
The Corporate Mystic4 malah menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha
dan eksekutif sukses di AS adalah spiritualitas dan pengetahuan diri.
Spiritualitas, seperti yang akan dibahas dalam judul berikut, adalah juga ciri
filsafat, khususnya filsafat Islam. Juga pengetahuan diri.
Sebelum ini, kita pun telah banyak disuguhi oleh penerapan pikiran-pikiran
filosofis, seperti Taoisme, Buddhisme termasuk Zen, bahkan "filsafat perang"
Sun Tzu dalam meraih kesuksesan dalam (organisasi) bisnis. Sudah lama juga kita
tahu bahwa banyak pengusaha dan eksekutif sukses adalah para penikmat karya
sastra dan novel-novel serius. Mereka mengaku telah banyak menimba
pelajaran-pelajaran berharga yang membimbing mereka dalam menjalankan
kepemimpinan-bisnis mereka dari karya-karya sedemikian.
Memang, filsafat membawa kita terutama untuk membahas masalah-masalah yang
masuk ke alam metafisis, yakni alam khayal (alam imajinal atau mundus
imaginalis)5 dan bahkan alam ruhani. Pembahasan filsafat, khususnya filsafat
Islam, mengangkat kita dari eksistensi sehari-hari yang umumnya bersifat
fisikal dan indrawi ke "dunia lain" yang di dalamnya pengertian agama dan
keimanan beroperasi. Kenyataan inilah yang kiranya bisa mendekatkan diri kita
kepada (pengetahuan) tentang elemen-elemen keimanan termasuk tentang Tuhan,
Malaikat, Nabi, Hari Akhir, dan sebagainya.
Buat saya, filsafat punya manfaat lain. Dan, percaya atau tidak, itu adalah
meningkatkan keimanan. Bagaimana boleh? Seperti kata Rudolf Otto, salah satu
aspek Tuhansebagai pusat agama atau keimananadalah misterium tremendum
(misteri yang mengandung kedahsyatan). Inilah aspek ke-Tuhan-an yang, pada
gilirannya, berpeluang menimbulkan ketercekamanuntuk tak menyebutnya
ketakutan. Aspek ketuhanan ini perlu sebagai sarana untuk menimbulkan ketaatan
dan penghambaan kepada hukum Tuhan di antara para penyembahnya. Namun, Tuhan
juga memiliki aspek fascinans, aspek penimbul pesona, rasa cinta. Nah, seperti
kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Salah satu jalan untuk menimbulkan
rasa cinta atau sayang ini adalah memahami. Dalam hal ini, memahami Tuhan dan
ciptaannya. Di sinilah filsafat, betapapun spekulatifnya, memberi kita berbagai
penjelasan tentang misteri-puncak (the ultimate mystery) ini. Filsafat, dalam
perwujudan-khas seperti yang akan disebutkan dalam judul yang langsung
mengikuti judul ini, mengajari kita tentang proses penciptaan, tentang hierarki
wujud (hierarchy of being), tentang alam semesta dan posisi manusia di
dalamnya, tentang tujuan-hidupnya, dan berbagai jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini.
Akan tetapi, perlu diketahui, terdapat perbedaan di antara berbagai aliran
filsafat. Maksud saya, berbicara secara umum, filsafat Barat modern memang
ditandai sejenis pemikiran yang cenderung melihat hidup sebagai kumpulan
misteri yang terpecah-pecah bagai jigsaw puzzle yang tak bisa terselesaikan,
tidak jelas tujuan dan maknanya. Betapapun juga, lewat perenungan-lanjutnya,
para pemikir seperti ini masih merasa bahwa kehidupan ini tetaplah
worthwhile(berharga).
Nah, kalau kita kembali pada sejarah filsafat pramodern (yakni, sebelum abad
ke-20), bahkan hingga awal masa modern, kita dapati bahwa filsafat masih
menyimpan suatu ciri yang bisa disebut sebagai transendental, malah religius.
Bahkan, pada diri seseorang yang biasa disebut sebagai tokoh aliran (psikologi)
pragmatisme seperti William Jamesyang hidup persis pada awal abad
ke-20religiusitas itu terasa amat kental (James amat terkenal dengan bukunya
yang berjudul The Varieties of Religious Thought, di samping beberapa buku
psikologi-filosofis yang ditulisnya). Dalam filsafat seperti inilah, yang sudah
diletakkan dasar-dasarnya sejak para filosof Yunani, pembicaraan mengenai peran
filsafat sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan sejati tampak memiliki arti.
Akhirnya, bukankah Aristoteles juga menyatakan bahwa "hidup yang tidak
direnungi adalah hidup yang tak layak dijalani"?
Apa Itu Filsafat Islam
Avicenna ( Ibn Sina )
Jika orang ditanya, apa perbedaan agama dan filsafat, maka jawaban-standarnya
adalah sebagai berikut. Filsafat mulai dari keragu-raguan, sementara agama
mulai dari keimanan. Jawaban ini, meski sepintas tampak memuaskan, tak terlalu
tepat jika dirujukkan kepada filsafat pramodern, khususnya Islam. Pertama, tak
benar bahwa agama Islam menyatakan bahwa penganutannya bermula dari iman. Dalam
Islam, dalam hal ini paham rasionalistik Islam (ta`aqqulî), keimanan datang
belakangan setelah atau, paling cepat, bersamaan dengan akal. Menurut paham
ini, agama harus dipahami secara rasional. Bahkan, bagi sebagian orang, adalah
menjadi tugas setiap individu Muslim untuk berupaya sampai kepada kepercayaan
(`aqîdah) yang benar tentang Islam lewat pemikirannya sendiri. Dengan demikian,
sampai batas tertentu keragu-raguanskeptisisme sehatmemang dipromosikan di
sini. "Agama," kata sang Nabi, "adalah akal. Tak ada agama bagi orang yang
tidak berakal."
Ibn Rusdh (Averoes), Filosof Islam Peripatetik (Masya'iyyah)
Kedua, tak pula benar bahwa filsafat Islam sepenuhnya mulai dari keragu-raguan.
Seperti segera akan kita lihat, ciri filsafat Islam bukanlah terutama terletak
pada skeptisisme. Ciri yang membedakan filsafat Islam dari pendekatan
tradisional (ta`abbudî) dan teologis adalah pada metode yang digunakannya.
Kalau dalam yang disebut belakangan metode yang digunakannya bersifat dialektik
(jadalî), maka dalam filsafat Islammeski sama-sama rasional-logismetode yang
diterapkan adalah demonstrasional (burhânî). Teologi berangkat dari keimanan
terhadap sifat kebenaran-mutlak bahan-bahan tekstual kewahyuanAl-Quran dan
Hadis. Para teolog membangun argumentasinya secara dialektis berdasarkan
keyakinan baik-buruk tekstual, dan dari situ berupaya mencapai
kebenaran-kebenaran baru. Sementara, kaum filosof membangun argumentasinya
melalui pijakan apa yang dipercayai dan disepakati secara umum sebagai
premis-premis kebenaran primer (primary truth). Meski demikian, pada
praktiknyasesungguhnya tak beda dengan peran pandangan-dunia dalam aliran
filsafat apa punia tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang
pandangan-Dunia Islam. Sejak awal sejarahnyatermasuk pada pemikiran-pemikiran
yang lebih murni bersifat Aristoteliannuansa religius memang tak pernah absen
dalam filsafat Islam. Nuansa tersebut datang lewat Stoisisme dan Neoplatonisme
Yunani, ajaran Kristen Helenistiksetidak-tidaknya lewat Philo, orang Mesir
pemikir Kristen Helenistik pertamadan, tentu saja, ajaran agama Islam sendiri.
Mulai dari keyakinan yang sudah taken for granted mengenai keberadaan Tuhan
dengan sifat-sifatnya; fenomena nabi sebagai pesuruh Tuhan; hingga kepercayaan
mengenai adanya sifat ruhaniah, teleologis-rasional, dan holistik segenap unsur
alam semesta dan, pada saat yang sama, pandangan ihwal sifat hierarkis wujud
(hierarchy of being atau marâtib al-wujûd) yang berada di dalamnya. Hierarki
wujud ini bermula dari Tuhan yang murni bersifat imaterial hingga kemaujudan
yang paling rendah dan bersifat material murni, melewati malaikat, dan manusia
yang merupakan campuran kedua unsur ini. Nuansa religius ini muncul dengan
lebih kuat setelah periode Ibn Rusyd bersama lahirnya filsafat isyrâqiyyah
(iluminisme), `irfân(teosofi atau tasawuf filosofis), dan hikmah (teosofi
transenden). Dalam aliran-aliran ini, tradisiAl-Quran dan Hadisteologi, serta
mistisisme sudah merupakan ramuan tak terpisahkan bersama metode peripatetik
(masysyâ'î) Aristotelian. (Meski demikian, orang tak bisa gagal melihat
perbedaannya dengan mistisisme, karena secara metodologis mistisisme tak
meyakini metode rasional dalam mencapai kebenaran).
Jadi, memang filsafat Islam pada akhirnya bisa dilihat sebagai gabungan antara
pemikiran liberal dan agama. Ia bisa disebut sebagai liberal dalam hal
pengandalannya pada kebenaran-kebenaran primer dan metode demonstrasional untuk
membangun argumentasi-argumentasinya. Pada saat yang sama, pengaruh keyakinan
religius atau quasi religius amat dominan, baik dalam penerimaan kesepakatan
mengenai apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran primer tersebut, maupun
dalam pemilihan premis-premis lanjut dalam silogisme mereka.
Demikian pula halnya dengan epistemologi filsafat Islam. Akal, bahkan dalam
alirannya yang lebih peripatetik, tak pernah dipahami sebagai semata-mata rasio
(ratio atau reason) yang bersifat cerebral (terkait dengan otak) belaka. Masih
sebagaipengaruh Neoplatonisme, akal sejak awal sejarah filsafat Islam selalu
terkait dengan Nous. Dan Nous pasti bukan sekadar rasio. Bahkan Tuhan, dalam
Neoplatonisme identik dengan Nous. Barangkali memang, seperti dilakukan banyak
orang, menerjemahkan `aql dengan intelek (intellect) jauh lebih tepat. Tercakup
di dalam konsep intelek ini, bahkan lebih utama dari rasio, adalah apa yang
disebut dengan intuisi atau "ilham" (pencerahan, iluminasi, atau isyrâq), atau
terkadang disebut sebagai "kesadaran poetik". Sebagaimana Nous bersifat
imaterial atau ruhani, maka Nous yang merupakan daya (quwwah) untuk
mempersepsinya juga mencakup yang ruhaniah.
Sejak awal sejarah filsafat Islam ketika pengaruh Aristotelianisme masih amat
kuatapalagi dalam bentuk mistisisme, iluminisme, teosofi, dan hikmahakal
(`aql) selalu dipahami secara bertingkat-tingkat, dari akal material hingga apa
yang mereka sebut sebagai "akal suci" (al-`aql al-qudsî), bahkan akal kenabian.
Akal dalam aktualisasi-puncaknya ini dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan
kontak (ittishâl) dengan Akal Aktif (Al-`Aql Al-Fa` `âl)sejenis Intelek yang,
oleh sementara pemikir Muslim, diidentikkan dengan Malaikat Jibril sebagai
pembawa wahyu atau ilham.
Alhasil, orang boleh saja mempersoalkan kemurnian sifat "filosofis" Filsafat
Islam. Kenyataannya, dalam segenap keliberalan metodenya, pengaruh religiusitas
masih bekerja dengan kuat dalam pemikiran para tokohnya. Nah, apakah dengan
demikian pemikiran yang berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran ("dogma-dogma")
masih bisa disebut sebagai filsafatyang mestinya liberal dalam proses
berpikirnya?
Buat yang berpikiran demikian, Anda mungkin bisa belajar dari Oliver Leaman,
seorang profesor ahli sejarah filsafat Islam di Amerika Serikat. Menggemakan
kembali pandangan Fazlur Rahman dan Toshihiko Izutsu sebelumnya, dia mengakui:
"Pada masa yang lampau, saya sempat menganggap (tasawuf dan mistisisme yang
banyak mewarnai filsafat Islam, khususnya pasca-Ibn RusydHB) sebagai bukan
filsafat sama sekali, dan lebih erat terkait dengan teologi dan pengalaman
religius yang subjektif. Saya menganggap bentuk-bentuk pemikiran ini sebagai
indikasi-indikasi suatu bentuk schwarmerei atau keliaran, yang saya pandang
sebelah mata dengan gaya pelecehan Kantian. Saya sekarang berpikiran bahwa pada
masa lampau pendekatan saya terhadap cara-cara berfilsafat ini terlalu
terbatas. (Sesungguhnya, bahkan teologi dan tasawuf) memiliki kaitan yang jauh
lebih banyak dengan tradisi peripatetik (yang bersifat rasional-analitikHB)."
(Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, Cambridge
University Press, Cambridge, UK, 2002, hh. xi-xii.)
Lagi pula, persoalan pengaruh ajaran agama pada filsafat Islam hanya terkait
dengan apayang dalam filsafat sains disebut sebagai context of
discovery(konteks penemuan). Padahal rasional atau ilmiah tidaknya suatu karya
pemikiran seharusnya dinilai dari context of justification (konteks
justifikasi atau pembenaran). Karena, bahkan dalam hard science sekalipun,
boleh jadi suatu penemuan (discovery) terjadi secara sama sekali tak "ilmiah"
atau rasional. Bahkan, bukan tak ada suatu teori ilmiah yang ditemukan lewat
mimpi, misalnya. Contohnya adalah penemuan rumus benzena oleh Kekule. Kenyataan
itu tak lantas berarti bahwa rumus yang ditemukan Kekule itu harus dianggap
tidak ilmiah. Tolok ukurnya pada apakah penemuan tersebut bisa dijustifikasi
secara ilmiah atau tidak. Kenyataannya, teori-teori atau pandangan-pandangan
dalam filsafat Islammeski mungkin penemuannya terjadi di bawah pengaruh
agamajustifikasinya bersifat sepenuhnya rasional.
Dari uraian di atas, beberapa kesimpulan kiranya bisa ditarik. Pertama,
filsafat Islam bisa disebut demikianbukan "sekadar" filsafat Muslim atau
filsafat Arabkarena sifat-menentukannya ajaran Islam di dalamnya. (Bahkan,
bukan hanya filsafat Islam pasca-Ibn Rusyd yang memang menjadikan teks-teks
tradisi sebagai bahan ramuan filsafatnya, filosof Muslim peripatetik sejak
Al-Kindi hingga Ibn Rusyd dikenal dengan upaya inkorporasi atau sedikitnya
penyejajaran ajaran-ajaran Islam dengan prosedur rasional. Ibn Sina malah
dikenal dengan karya tafsir Al-Quran, sementara Ibn Rusyd adalah juga seorang
ahli fiqh yang terkenal dengan empat jilid karya fiqh-nya yang berjudul Bidâyah
Al-Mujtahid). Meski demikian, ia tak kehilangan sifat filosofisnya dan
"hak"-nya untuk diapresiasi sebagai sejenis filsafat karena kesetiaannya
kepada kegiatan rasiosinasi (ratiocination) dalam segenap prosedur berpikirnya.
Inilah kesimpulan kedua yang dapat kita tarik.
Akhirnya, sedikit tanggapan kiranya perlu diberikan kepada pernyataan sebagian
orang yang mereduksi apa yang selama ini disebut sebagai filsafat Islam sebagai
sekadar "contekan" filsafat Yunani. Pernyataan seperti ini kiranya hanya bisa
muncul dari orang yang tak cukup akrab dengan filsafat Islam. Bukan saja,
seperti telah disinggung di atas, warna ajaran Islam tersebar di mana-mana
dalam segenap tema "tradisional" filsafat Yunani, kenyataannya filsafat Islam
telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat, termasuk dalam
epistemologi dan ontologi filsafat. Karena tulisan seringkas ini bukanlah
tempat bagi pembahasan yang terperinci, maka saya hanya ingin mengajak Anda
untuk membaca judul "Kontribusi Filosof Muslim kepada Filsafat" yang ditulis
Muthahhari mengenai soal ini. Dalam tulisan tersebut, Muthahhari menyatakan
bahwa filsafat Islam telah menyumbangkan banyak problem baru yang sama sekali
tak pernah dibahas filsafat sebelumnya, di samping lebih banyak lagi
pengembangan lebih lanjut problem-problem yang sudah pernah dibahas sebelumnya.6
__________
1 Menurut versi lain tamsil ini, ketika sang ulama tersadar, dia mendapati
lilin yang dipakainya untuk membaca telah lama mati. Namun, dilihatnya pula
ruangannya masih terang. Baru kemudian dia sadari, persis di belakangnya
berdiri istrinyayang rupanya telah lama ikut membaca dengan pelita di
tangannya.
2 Edisi Indonesia kedua buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Teraju
masing-masing dengan judul The Consolations of Philosophy: Filsafat sebagai
Pelipur Lara dan Plato not Prozac!: Berfilsafat sebagai Terapi Praktis
Persoalan Sehari-hari.
3 Edisi bahasa Indonesianya berjudul Sang CEO Bernama Aristoteles, Mizan,
Bandung, 2003.
4 Edisi bahasa Indonesianya berjudul The Corporate Mystic, Penerbit Kaifa,
Bandung, 2002.
5 Mengenai makna alam khayal ini, lihat Bab 10, "Tingkatan-Tingkatan Wujud
Menurut para Hukamâ'."
6 Edisi bahasa Indonesia berjudul Filsafat Hikmah, Mizan, 2002. Di antara
problem-problem baru tersebut adalah problem-problem utama yang berkaitan
dengan eksistensi, seperti realitas fundamental eksistensi (ashâlah al-wujûd),
kesatuan eksistensi (wahdah al-wujûd), eksistensi mental (al-wujûd al-dzihnî),
hukum-hukum noneksistensi, kemustahilan apa-apa yang sudah tak wujud untuk
kembali (wujud), problem "menjadikan" (ja`l), kriteria kebutuhan sesuatu akan
sebab, sifat konseptual (i`tibârât) kuiditas, hal-hal terpahamkan yang bersifat
sekunder (al-ma`qûlât al-tsanawiyyah), sebagian dari jenis-jenis prioritas
(taqaddum), berbagai jenis hudûts, berbagai jenis kemestian, kemustahilan, dan
kemungkinan, sebagian dari jenis-jenis unitas multiplisitas, gerak substansial
(al-harakah al-jauhariyyah), immaterialitas jiwa hewani (al-nafs
al-hayawâniyyah), dan immaterialitas intelektualnya (tajarrud `aqlî). Karakter
fisik (hal-hal) yang baru (tercipta dalam waktu) dan karakter ruhani (hal-hal)
yang baka (jismâniyyah al-hudûts wa rûhâniyyah al-baqâ'), penggerakan melalui
penundukan (fâ`iliyyah bi al-taskhîr), kesatuan tubuh dan jiwa, karakter
kombinasi materi dan forma, kesatuan dalam keserbaragaman daya-daya jiwa,
pandangan bahwa relasi akibat dengan sebabnya adalah tatanan relasi
iluminasionis, kebangkitan fisik di alam barzakh (barzakh), diketahuinya waktu
sebagai dimensi keempat, prinsip realitas sederhana (qâ`idah bâsith
al-haqîqah), dan sifat sederhana pengetahuan Ilahi meski karakternya
terperinci. Itu semua belum termasuk sejumlah topik problem-problem yang
mengalami perkembangan. Termasuk di dalamnya adalah problem-problem
kemustahilan, ihwal regresi tanpa ujung, nonmaterialitas jiwa, bukti-bukti bagi
eksistensi Wujud Mutlak Ada, Kesatuan Wujud Mutlak Ada, kemustahilan munculnya
"yang banyak" dari "yang satu", kesatuan subjek dan objek (ittihâd al-`âqil wa
al-ma`qûl), serta hakikat subtansial bentuk-bentuk spesifik (al-shuwar
al-nau`iyyah).
http://icasparamadinauniversity.wordpress.com/2012/04/21/posisi-filsafat-islam-dalam-masalah-kemanusiaan/
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/