POSISI FILSAFAT ISLAM DALAM MASALAH  KEMANUSIAAN


Dr. Haidar  Bagir 

(Pendiri dan pembina Islamic College for Advanced Studies (ICAS),   STFI Sadra, 
STAI Madina Ilmi,  dan Penerbit Mizan )

Meluaskan Wawasan dan Semangat Pluralistik

Salah satu sumber keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam 
kontemporer adalah lambatnya kelompok ini mentas dari "masa pubertas" 
intelektualnya. Hal ini ditandai dengan ciri terobsesinya sebagian umat dengan 
simbol-simbol formalisme-legalistik, pemahaman keagamaan yang simplistik, 
kurangnya apresiasi terhadap penafsiran rasionalistik atas agama, dan 
kecenderungan untuk merasa paling benar sendiri—yakni dalam kaitannya dengan 
kemungkinan dialog antar maupun interkeyakinan (inter and intrafaithdialogues). 
Di sisi lain, kelompok lain umat yang sebenarnya lebih siap untuk mengambil 
sikap terbuka tampak gamang dalam menghadapi tantangan realitas zaman yang 
menuntut kemampuan apropriasi, yaitu kemampuan memahami, dan mengambil dari 
orang lain tanpa hanyut ke dalamnya.


Sebagai gantinya, sebagian dari kita pun terdorong untuk mengambil jalan pintas 
dan mudah, yakni bersikap eksklusif terhadap sumber-sumber kebijaksanaan dan 
pengetahuan di luar lingkungannya seraya mengobral cap sesat dan berbahaya. 
Atau, kalau tidak, sebagian yang lain malah cenderung mengorbankan jati-diri 
kita di altar sekularisme atau pluralisme keagamaan radikal.

Sebelum yang lain-lain, di sini filsafat bisa mengambil peranan, yaitu untuk 
membuka wawasan berpikir umat untuk bersikap lebih sophisticated, adil, dan 
apresiatif dalam meneliti berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh 
berbagai kelompok manusia. Dengan cara ini, diharapkan umat Islam lebih siap 
untuk memajukan nilai-nilai keterbukaan, pluralitas, dan inklusivitas sehingga 
dapat melihat hikmah-hikmah yang mungkin dipungut dari berbagai sumber—suatu 
sikap yang jelas-jelas dianjurkan oleh agamanya sendiri.



Demi Memecahkan Krisis Modernisme

Evolusi ilmu penge­tahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang 
memaksa kita untuk berpikir holistik, sistemik, dan reflektif untuk memahami 
realitas dalam memecahkan problem-problem besar yang diakibatkannya. Krisis 
ekologis, misalnya, mengentakkan kesadaran manusia untuk menggugat pandangan 
kosmologi modern—yang atasnya sains modern dikembangkan—yang bersifat parsial 
dan positivistik-antroposentrik, yang telah dianut hampir tiga abad. Krisis ini 
menggugah, antara lain, seorang filosof analitik dari Norwegia, Arne Naess, 
melakukan hijrah intelektual untuk menjadi pelopor apa yang disebut Gerakan 
Ekologi Dalam (Deep Ecology Movement) pada pertengahan dasawarsa 1970-an. 
Dengan Ekologi Dalam, ia merunut akar persoalan dalam kekeliruan peradaban 
modern dalam me­lihat dan menempatkan posisi lingkungan alam semesta kita dan 
bentuk hubungan manusia dengannya—yakni, pandangan teknologistik yang bersikap 
eksploitatif.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan juga mendorong Thomas S. Kuhn, seorang 
saintis, mencoba memahami gerak laju ilmu pengetahuan sebagai dibentuk oleh 
"paradigma" yang diterima luas pada setiap masa—sebuah kumpulan keya­kinan dan 
pemahaman tentang alam semesta yang berkorelasi erat dengan metafisika dan 
nilai (The Structure of Scientific Revolutions). Maka, dalam rangka mencari 
sains yang lebih sesuai dengan ke­butuhan manusia, Fritjof Capra—seorang ahli 
fisika yang lebih belakangan— terpaksa menoleh ke hikmah Timur, khususnya 
Taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sudah telanjur 
dirongrong oleh relativime dan skeptisisme (The Tao of Physics). Kedua contoh 
di atas tampaknya kembali menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak 
bisa terpisahkan dari induknya, yakni filsafat. Dengan kata lain, pemisahan 
keduanya secara paksa telah terbukti menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan, 
ekologi, krisis keyakinan yang melahirkan alienasi, dan sebagainya.

Di Dunia Islam, kenyataan pelepasan sains dari filsafat ini bahkan berakibat 
lebih buruk lagi.


Al-Biruni


MOHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI


Ibnu Sina (Aviciena)

Dalam sebuah kesempatan Konferensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ahli 
sains di Dunia Islam ditanya tentang sebab-sebab kemunduran sains di wilayah 
ini. Berbagai jawaban masuk akal pun diberikan. Akan tetapi, jawaban Prof. 
Osman Bakar menarik perhatian kita karena menyebut-nyebut permusuhan terhadap 
filsafat di negara-negara Muslim selama beberapa abad belakangan ini sebagai 
sebab-utama persoalan ini. Bagaimana tidak? Sejarah peradaban Islam hingga 
kira-kira abad ke-15 dengan jelas menunjukkan bahwa dorongan bagi berkembangnya 
sains di negara-negara Muslim—bahkan jauh lebih dulu dan (sempat) jauh lebih 
maju dibandingkan dengan perkembangan yang sama di belahan dunia lain—adalah 
berkembang suburnya filsafat. Kenyataannya, sains pada "masa-masa emas" 
peradaban Islam itu dikembangkan oleh orang-orang yang lebih dikenal sebagai 
filosof: Ibn Hayyan, Al-Biruni, Ibn Sina, Al-Razi, Al-Thusi, dan sebagainya. 
Apalagi, pada masa-masa itu, fisika (thabî`iyyah) merupakan bagian integral 
dari filsafat, di samping metafisika (mâ ba`d al-thabî`ah). Dan, perlu 
diungkapkan di sini, betapapun spekulatifnya sifat filsafat Yunani, kaum 
filosof Muslim ini mendapatkan dorongan untuk mementingkan alam empiris dari 
Al-Quran. Metode kritis dan analitis serta kekayaan kosmologi filsafat yang 
dikombinasikan dengan semangat—dalam istilah Iqbal—antiklasik Al-Quran ini 
terbukti telah menjadi kekuatan luar biasa bagi pengembangan sains di dunia 
Muslim pada masa itu.

Fenomena yang sama, yakni dipegangnya inisiatif pengembangan sains awal oleh 
para filosof ini, terjadi pula di Barat. Meskipun demikian, dalam 
perkembangannya kemudian, pelan-pelan sains dilepaskan dalam 
kesatuan-organiknya dengan filsafat. Hal ini terjadi bersamaan dengan ditemukan 
dan diterima luasnya apa yang belakangan disebut sebagai metode ilmiah 
(scientific method) sejak masa Rene Descartes (1596-1650) dan Roger Bacon 
(1214-1292). Di satu sisi, hal ini tampak sebagai telah mendorong sains untuk 
berkembang lebih cepat lagi oleh apa yang tampak sebagai penekanan-eksklusif 
atas rasionalitas dan eksperimen yang terbuka lebar untuk verifikasi 
(eksperimental)—dibandingkan dengan ketika ia masih menjadi bagian organik 
filsafat yang, betapapun juga, spekulatif. Namun, ada tiga hal yang perlu 
disinggung di sini.

Pertama, pelepasan sains dari filsafat—selain bagi beberapa orang berarti 
hilangnya kesempatan bagi sains untuk bisa mengambil manfaat dari kekayaan 
filsafat—telah pula melepaskan sains dari transendentalisme dan religiusitas 
yang terkandung dalam filsafat. Setidak-tidaknya, sains melepaskan diri dari 
etika, yang selama ini selalu merupakan bagian dari filsafat. (Kenya­taannya, 
belakangan pelepasan ini juga merugikan filsafat sendiri. Pesatnya perkembangan 
dan luasnya penerimaan sains modern di kalangan masyarakat telah pula mendorong 
filsafat untuk menjadi lebih "sekuler" sebagaimana dapat dilihat dalam 
perkembangan filsafat modern, setidak-tidaknya seabad belakangan ini). Hal ini 
belakangan telah menimbulkan persoalan etika dalam pengembangan dan penerapan 
sains modern, sehubungan dengan munculnya kemungkinan pengembangan dan 
penerapan sains yang menabrak persoalan nilai-nilai (values) kemanusiaan yang 
telah diterima luas selama ini. Persoalancloning dan eugenika, sehubungan 
dengan dikembangkannya proyek genome manusia (human genome project) yang 
membuka kemungkinan manipulasi genetik, hanyalah salah satu contohnya.

Kedua, pada kenyataannya sains tak pernah bisa benar-benar terlepas dari 
filsafat, yakni metafisika. Jadi, yang terjadi hanyalah pergeseran dari 
metafisika yang bersifat transendental kepada metafisika yang, dalam banyak 
hal, sekuler.

Ketiga, kerugian yang timbul dari pemisahan sains dari filsafat tak hanya 
terbatas pada hilangnya kesempatan bagi sains untuk mengambil manfaat dari 
kekayaan filsafat di bidang metafisika (kosmologi dan ontologi) serta arah yang 
bisa diberikan oleh filsafat bagi perkembangan sains (etika atau aksiologi), 
tetapi juga dalam bidang epistemologis. Seperti disebutkan juga oleh beberapa 
saintis terkemuka, antara lain Schrödinger, Capra, dan Oppenheimer, sains telah 
kehilangan kesempatan bagi pengembangan fakultas atau daya intuitif—yang memang 
diandalkan dalam filsafat (klasik) sebagai salah satu alat pengetahuan di 
samping indra.

Nah, jika dalam hal sains kealaman (natural science)—yang biasa disebut sebagai 
"sains keras" (hard science) saja begitu besar peran filsafat, apatah pula 
dalam sains sosial ataupun budaya?

Dan itu semua baru separo cerita. Karena, kenyataannya, krisis modernisme tidak 
berhenti pada krisis epistemologis dan ekologis saja. Krisis yang lebih akut 
lagi adalah krisis-krisis eksistensial yang menyangkut hakikat dan makna 
kehidupan itu sendiri. Manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis 
makna, dan legitimasi hidup, serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan 
(alienasi) terhadap dirinya sendiri. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam The 
Plight of Modern Man, krisis-krisis eksistensial ini bermula dari pemberontakan 
manusia modern kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan 
masa depan seperti yang dijanjikan oleh Renaisans, Abad Pencerahan, 
sekulerisme, saintisme, dan teknologisme. Di sinilah terletak peran kedua 
kajian filsafat, yaitu mendekonstruksi paradigma modernisme sedemikian seraya 
mengembalikan nilai-nilai transendental dan holistik.

Pada gilirannya, filsafat juga akan membantu memecahkan salah satu problem 
krusial pemikiran keagamaan sekarang ini. Yakni, perlunya dilahirkan perumusan 
pemahaman agama yang dapat mengintegrasikan secara utuh dan tanpa dikotomi 
antara visi Ilahi dan visi manusiawi.

Filsafat sebagai Basis Berbagai Sistem Kehidupan

Bukan hanya di bidang pengembangan sains, berbagai bidang lain kehidupan 
manusia—entah itu ekonomi, politik, sosial, apalagi keagamaan—pun tak pernah 
bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan filosofis yang menjadi fondasinya. 
Termasuk di dalamnya, makna sejati kemanusiaan, keadilan, persamaan, 
kesejahteraan, dan kebahagiaan sebagai tujuan semua solusi persoalan, serta 
banyak soal mendasar lainnya.

Barangkali itu sebabnya mengapa beberapa dekade belakangan ini menyaksikan 
tuntutan sebagian kaum Muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia akan 
perlunya "Islamisasi" berbagai bidang kehidupan. Entah itu ekonomi, 
politik—lewat, antara lain, tuntutan pemberlakuan syariat—dan sebagainya. 
Sebuah tuntutan yang sah, tentu saja, selama maknanya dipahami dengan benar.

Pertama, seperti telah diungkapkan dalam perbincangan mengenai perkembangan 
sains sebelum ini, harus dipahami bahwa sistem-sistem yang tampak begitu 
bersifat duniawi itu sesungguhnya dibangun atas dasar suatu "metafisika" juga. 
Misalnya, ekonomi liberalistik didasarkan pada keyakinan akan sifat rasional 
mekanisme kehidupan. Yakni, bahwa kehidupan ini akan paling baik meng­urusi 
dirinya jika dibiarkan sendiri, dengan sesedikit mungkin intervensi atau campur 
tangan negara. Hidup punya "invisible hand"-nya sendiri. Inilah suatu sistem 
yang dibangun atas kepercayaan laissez faire laissez passer. Sedemikian 
sehingga tindakan-tindakan afirmatif untuk memberikan fasilitas khusus bagi 
bagian masyarakat yang kurang beruntung di beberapa negara—khususnya di 
AS—dikritik sebagai akan merusak mekanisme invisible hand itu.

Hal ini, tak bisa tidak, terkait dengan konsep seseorang atau satu kelompok 
tentang suatu persoalan filosofis yang amat mendasar, yakni tentang definisi 
keadilan. Apakah yang disebut adil itu? Apakah itu berarti memberikan 
kesempatan yang sama bagi semua orang meskipun hal itu bisa mengakibatkan 
kesenjangan akibat perbedaan kemampuan-awal berbagai kelompok masyarakat yang 
ada, sebagaimana yang dipraktikkan di negara yang berpandangan ekonomi liberal? 
Ataukah seperti yang diterapkan di negara-negara kesejahteraan (welfare state) 
yang menerapkan sistem ekonomi campuran? Ataukah "sama rata sama rasa" 
sebagaimana yang dibayangkan dalam masyarakat komunis tertentu yang memujikan 
campur tangan negara secara besar-besaran? Apa pendapat Islam mengenai soal ini?

Soal yang lain lagi, misalnya Marxisme mengkritik kapitalisme karena memberikan 
penghargaan terlalu besar pada sumber daya kapital dan me­nomorsekiankan sumber 
daya manusia, sehingga Marx menyebut adanya "sur­plus value of labour"—Apa kata 
Islam tentang ini? Tentu masih banyak soal filosofis seperti ini yang harus 
terlebih dulu dijawab sebelum kita bisa menawarkan sebuah sistem Islami, atau 
yang setidak-tidaknya dapat merevisi beberapa kelemahan yang ada dalam 
sistem-sistem yang ada sekarang ini.

Demikian pula dalam politik. Pilihan antara pengembangan negara otoritarian, 
atau apa yang disebut sebagai demokrasi terpimpin, ataupun demokrasi liberal, 
terkait erat dengan suatu isu filosofis mendasar. Yakni, di mana sesungguhnya 
letak kewenangan (authority) dalam masyarakat? Apakah pada sekelompok bangsawan 
(aristokrasi), raja, intelektual, ulama, atau siapa saja yang punya kelebihan 
(meritokrasi), atau agamawan (dalam suatu negara teokrasi), kelompok yang kuat 
secara militer, atau pada rakyat banyak (demokrasi)? Kita ingat bahwa Plato 
memberikan kewenangan kepada raja-filosof, sementara filsafat Nietzche pernah 
dipahami sedemikian, sehingga dianggap se­bagai memberikan pembenaran bagi 
pengembangan suatu fasisme militeristik model Naziisme. Yang lain lagi 
berpendapat bahwa seharusnya kaum terpelajarlah yang paling tahu tentang 
bagaimana dan ke mana seharusnya kehidupan ini diarahkan untuk kepentingan 
semua pihak. Akhirnya, kita sudah akrab pada argumentasi para pendukung 
demokrasi hingga sampai sejauh menyatakan bahwa "suara rakyat adalah suara 
tuhan" (vox populi vox dei). Lagi-lagi, apa pendapat Islam mengenai soal ini? 
Adakah Islam memberikan kewenangan pada khalifah, ulû al-amr, ahl al-hall wa 
al-`aqd, wilâyah al-faqîh, atau pada ijmâ`dan syûrâ yang mencakup semua warga 
negara lewat sebuah lembaga representatif atau parlemen?

Bagi kaum Muslim, filsafat diperlukan sekarang ini demi melanjutkan proyek 
dekonstruksi yang disebutkan di muka, yaitu dengan merekonstruksi fondasi 
filsafat bagi pengembangan solusi terhadap krisis eksistensial manusia modern 
tersebut. Dalam kerangka ini, filsafat Islam dapat memberikan kontribusi 
penting dengan menawarkan pandangan-dunia yang utuh, holistik, dan penuh makna 
kepada manusia modern, baik dalam kajian epistemologi, metafisika, etika, 
kosmologi, dan psikologi yang merupa­kan manifestasi nilai tauhid. Dalam 
sifat-sifatnya yang seperti inilah diharapkan manusia dapat memperoleh-kembali 
pegangan-hidup yang, pada saat yang sama, dapat memuasi tuntutan-intelektualnya.

Dari uraian di atas, sedikitnya ada tiga manfaat yang bisa diperoleh dengan 
mengembalikan filsafat ke dalam wacana pengembangan berbagai sistem kehidupan. 
Pertama, filsafat bisa membekali kita untuk memajukan sikap kritis dalam 
melihat sistem-sistem yang ada sekarang ini. Kedua, filsafat bisa mendorong 
kaum Muslim agar benar-benar memahami kompleksitas persoalan dalam upayanya 
membangun sistem-sistem kehidupan Islami. Ketiga, hanya dengan penguasaan akan 
isu-isu filosofis mendasar seperti ini kaum Muslim, atau kelompok mana pun 
juga, dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi 
kepentingan semua orang. Karena, pada dasarnya, perbedaan muncul terutama dalam 
tataran isu-isu filosofis mendasar ini, sementara model-model yang dikembangkan 
di atasnya setelah itu relatif lebih bebas nilai (value free).

Masih Ihwal Manfaat Filsafat: Dari Kebahagiaan, via Kesuksesan Bisnis, hingga 
Keimanan

Aristoteles pernah mengajarkan kepada kita tentang eudamonia Aristotelian—yakni 
kebahagiaan intelektual, sebagai hasil dari perenungan filosofis, dari kegiatan 
berfilsafat—yang peraihannya merupakan tujuan puncak kehidupan manusia. 
Argumentasinya sederhana saja. Manusia pada dasarnya adalah "hewan rasional 
atau intelektual" (homo Sapien). Maka, dia akan mendapati kebahagiaannya pada 
kepuasannya—kepuasan-puncaknya, yakni tentu setelah kebutuhan-kebutuhan fisikal 
(dan, mungkin, sosial)-nya telah terpenuhi—dalam perenungan intelektual dan 
filosofis. Tidak percaya? Anda tinggal mencobanya, demikian kata para filosof. 
Maka, akan Anda dapati ia tak bisa diperbandingkan dengan kesenangan fisikal 
dan sosial belaka.

Bahkan, tak sedikit yang berpendapat bahwa filsafat bisa membuka pintu bagi 
"kebahagiaan praktis". Ah, yang benar saja, barangkali demikianlah 
reaksi-segera orang ketika mendengar pernyataan ini. Kenyataannya, bukankah 
kita dapati bahwa sebagian filsafat, khususnya filsafat Barat modern sejak 
tahun 1960-an—termasuk eksistensialisme dan posmodernisme—justru mempromosikan 
kehidupan sebagai absurditas, sebagai tragedi. Ingat Sartre dan Camus, atau 
Foucault dan Lyotard. Bagi yang tidak percaya pada kemungkinan filsafat membawa 
orang kepada kebahagiaan, saya persilakan Anda membaca buku karya Alain De 
Botton yang berjudul The Conso­lations of Philosophy. Boleh juga dilengkapi 
dengan Plato, Not Prozac! karya Louis Marinoff2, yang juga sama-sama 
best-seller. Di dalamnya kedua penulis itu—sebagai bagian dari orang-orang yang 
menyebut diri mereka philosophy practitioners (filosof prak­tik, persis seperti 
dokter praktik atau medical prac­titioners)—mendemonstrasikan manfaat filsafat 
untuk menjawab persoalan-persoalan praktis dan immediate kehidupan, termasuk 
masalah pekerjaan, keluarga, perkawinan, dan lain-lain. Siapa tahu, setelah itu 
Anda akan teryakinkan.

Tak sulit dipahami, kebahagiaan terkait amat erat dengan kemampuan kita 
mengelola perasaan (emosi)—kesedihan, kekecewaan, frustrasi, kesepian, dan 
sebagainya. Selain dari agama, pengelolaan emosi dikendalikan oleh rasio. Di 
sinilah, filsafat—yang pada esensinya memang bersifat rasional—dapat banyak 
membantu. Sebagai ilustrasi, penulis buku Consolations of Philosophy juga 
menulis sebuah buku lain yang berjudul Status Anxiety. Dalam buku ini, si 
penulis mengerahkan penguasaan-filosofisnya untuk menunjukkan betapa hampir 
seluruh sumber kesengsaraan kita terdapat pada kegelisahan yang terkait dengan 
status kita dalam masyarakat. Kita sedih karena tak dianggap sukses, atau tak 
dianggap paling hebat, atau paling terhormat. Setelah menganalisis persoalan 
itu, penulisnya kemudian menawarkan berbagai cara untuk mengatasi 
kegelisahan-status seperti itu agar dapat meraih kebahagiaan hidup. Bertrand 
Russel, seorang filosof analitik yang tak diragukan kehebatannya, juga menulis 
sebuah buku berjudul The Conquest of Happiness, yang di dalamnya ia berupaya 
mengungkapkan, betapapun secara "populer", kemampuan-kemampuan-filosofisnya 
dalam mengupas persoalan cara-cara mencapai kebahagiaan.

Meski pada awalnya bersifat keagamaan, filsafat juga membahas 
persoalan-persoalan eskatologis (keakhiratan), terkait dengan ketakutan banyak 
orang terhadap misteri kehidupan setelah mati. Belum lagi pembahasan metafisis 
filsafat merupakan bahan-bahan yang solid bagi upaya menjawab 
pertanyaan-pertanyaan eksistensial mendasar tentang makna kehidupan manusia di 
dunia ini. Juga bagi pengembangan semacam spiritualisme. Bukankah kekeringan 
spiritualisme sering kali menjadi sumber penderitaan manusia modern? Akhirnya, 
keterkaitan erat filsafat dengan psikologi menunjukkan kepada kita perannya 
dalam mem­bantu menjawab masalah-masalah psikologis manusia pada umumnya, yang 
merupakan penghalang bagi pencapaian suatu kehidupan yang bahagia.

Belakangan, orang mulai mengatakan bahwa berfilsafat pun bisa membawa kepada 
kebahagiaan (baca: kesuksesan) ekonomi dan bisnis. Mana mungkin? Kali ini, saya 
akan mengajak Anda untuk melancong bersama Tom Morris, dengan cara membaca 
karya penulis ini yang berjudul If Aristotle Ran General Motor3. Buku ini 
mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa 
membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua 
penulis lain—Gay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya yang berjudul 
The Corporate Mystic4 —malah menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha 
dan eksekutif sukses di AS adalah spiritualitas dan pengetahuan diri. 
Spiritualitas, seperti yang akan dibahas dalam judul berikut, adalah juga ciri 
filsafat, khu­susnya filsafat Islam. Juga pengetahuan diri.

 Sebelum ini, kita pun telah banyak disuguhi oleh penerapan pikiran-pikiran 
filosofis, seperti Taoisme, Buddhisme termasuk Zen, bahkan "filsafat perang" 
Sun Tzu dalam meraih kesuksesan dalam (organisasi) bisnis. Sudah lama juga kita 
tahu bahwa banyak pengusaha dan eksekutif sukses adalah para penikmat karya 
sastra dan novel-novel serius. Mereka mengaku telah banyak menimba 
pelajaran-pelajaran berharga yang membimbing mereka dalam menjalankan 
kepemimpinan-bisnis mereka dari karya-karya sedemikian.

Memang, filsafat membawa kita terutama untuk membahas masalah-masalah yang 
masuk ke alam metafisis, yakni alam khayal (alam imajinal atau mundus 
imaginalis)5  dan bahkan alam ruhani. Pembahasan filsafat, khususnya filsafat 
Islam, mengangkat kita dari eksistensi sehari-hari yang umumnya bersifat 
fisikal dan indrawi ke "dunia lain" yang di dalamnya pengertian agama dan 
keimanan beroperasi. Kenyataan inilah yang kiranya bisa mendekatkan diri kita 
kepada (pengetahuan) tentang elemen-elemen keimanan termasuk tentang Tuhan, 
Malaikat, Nabi, Hari Akhir, dan sebagainya.

Buat saya, filsafat punya manfaat lain. Dan, percaya atau tidak, itu adalah 
meningkatkan keimanan. Bagaimana boleh? Seperti kata Rudolf Otto, salah satu 
aspek Tuhan—sebagai pusat agama atau keimanan—adalah misterium tremendum 
(misteri yang mengandung kedahsyatan). Inilah aspek ke-Tuhan-an yang, pada 
gilirannya, berpeluang menimbulkan ketercekaman—untuk tak menyebutnya 
ketakutan. Aspek ketuhanan ini perlu sebagai sarana untuk menimbulkan ketaatan 
dan penghambaan kepada hukum Tuhan di antara para penyembahnya. Namun, Tuhan 
juga memiliki aspek fascinans, aspek penimbul pesona, rasa cinta. Nah, seperti 
kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Salah satu jalan untuk menimbulkan 
rasa cinta atau sayang ini adalah memahami. Dalam hal ini, memahami Tuhan dan 
ciptaannya. Di sinilah filsafat, betapapun spekulatifnya, memberi kita berbagai 
penjelasan tentang misteri-puncak (the ultimate mystery) ini. Filsafat, dalam 
perwujudan-khas seperti yang akan disebutkan dalam judul yang langsung 
mengikuti judul ini, mengajari kita tentang proses penciptaan, tentang hierarki 
wujud (hierarchy of being), tentang alam semesta dan posisi manusia di 
dalamnya, tentang tujuan-hidupnya, dan berbagai jawaban terhadap 
pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini.

Akan tetapi, perlu diketahui, terdapat perbedaan di antara berbagai aliran 
filsafat. Maksud saya, berbicara secara umum, filsafat Barat modern memang 
ditandai sejenis pemikiran yang cenderung melihat hidup sebagai kumpulan 
misteri yang terpecah-pecah bagai jigsaw puzzle yang tak bisa terselesaikan, 
tidak jelas tujuan dan maknanya. Betapapun juga, lewat perenungan-lanjutnya, 
para pemikir seperti ini masih merasa bahwa kehidupan ini tetaplah 
worthwhile(berharga).

Nah, kalau kita kembali pada sejarah filsafat pramodern (yakni, sebelum abad 
ke-20), bahkan hingga awal masa modern, kita dapati bahwa filsafat masih 
menyimpan suatu ciri yang bisa disebut sebagai transendental, malah religius. 
Bahkan, pada diri seseorang yang biasa disebut sebagai tokoh aliran (psikologi) 
pragmatisme seperti William James—yang hidup persis pada awal abad 
ke-20—religiusitas itu terasa amat kental (James amat terkenal dengan bukunya 
yang berjudul The Varie­ties of Religious Thought, di samping beberapa buku 
psikologi-filosofis yang ditulisnya). Dalam filsafat seperti inilah, yang sudah 
diletakkan dasar-dasarnya sejak para filosof Yunani, pembicaraan mengenai peran 
filsafat sebagai alat untuk men­capai kebahagiaan sejati tampak memiliki arti.

Akhirnya, bukankah Aristoteles juga menyatakan bahwa "hidup yang tidak 
direnungi adalah hidup yang tak layak dijalani"?

Apa Itu Filsafat Islam



Avicenna ( Ibn Sina )

Jika orang ditanya, apa perbedaan agama dan fil­safat, maka jawaban-standarnya 
adalah sebagai berikut. Filsafat mulai dari keragu-raguan, sementara agama 
mulai dari keimanan. Jawaban ini, meski sepintas tampak memuaskan, tak terlalu 
tepat jika dirujukkan kepada filsafat pramodern, khususnya Islam. Pertama, tak 
benar bahwa agama Islam menyatakan bahwa penganutannya bermula dari iman. Dalam 
Islam, dalam hal ini paham rasionalistik Islam (ta`aqqulî), keimanan datang 
belakangan setelah atau, paling cepat, bersamaan dengan akal. Menurut paham 
ini, agama harus dipahami secara rasional. Bahkan, bagi sebagian orang, adalah 
menjadi tugas setiap individu Muslim untuk berupaya sampai kepada kepercayaan 
(`aqîdah) yang benar tentang Islam lewat pemikirannya sendiri. Dengan demikian, 
sampai batas tertentu keragu-raguan—skeptisisme sehat—memang dipromosikan di 
sini. "Agama," kata sang Nabi, "adalah akal. Tak ada agama bagi orang yang 
tidak berakal."



Ibn Rusdh (Averoes), Filosof Islam Peripatetik (Masya'iyyah)

Kedua, tak pula benar bahwa filsafat Islam sepenuhnya mulai dari keragu-raguan. 
Seperti segera akan kita lihat, ciri filsafat Islam bukanlah terutama terletak 
pada skeptisisme. Ciri yang membedakan filsafat Islam dari pendekatan 
tradisional (ta`abbudî) dan teologis adalah pada metode yang digunakannya. 
Kalau dalam yang disebut belakangan metode yang digunakannya bersifat dialektik 
(jadalî), maka dalam filsafat Islam—meski sama-sama rasional-logis—metode yang 
diterapkan adalah demonstrasional (burhânî). Teologi berangkat dari keimanan 
terhadap sifat kebenaran-mutlak bahan-bahan tekstual kewahyuan—Al-Quran dan 
Hadis. Para teolog membangun argumentasinya secara dia­lektis berdasarkan 
keyakinan baik-buruk teks­tual, dan dari situ berupaya mencapai 
kebenaran-kebenaran baru. Sementara, kaum filosof membangun argumentasinya 
melalui pijakan apa yang dipercayai dan disepakati secara umum sebagai 
premis-premis kebenaran primer (primary truth). Meski demikian, pada 
praktiknya—sesungguhnya tak beda dengan peran pandangan-dunia dalam aliran 
filsafat apa pun—ia tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang 
pandangan-Dunia Islam. Sejak awal sejarahnya—termasuk pada pemikiran-pemikiran 
yang lebih murni bersifat Aristotelian—nuansa religius memang tak pernah absen 
dalam filsafat Islam. Nuansa tersebut datang lewat Stoisisme dan Neoplatonisme 
Yunani, ajaran Kristen Helenistik—setidak-tidaknya lewat Philo, orang Mesir 
pemikir Kristen Helenistik pertama—dan, tentu saja, ajaran agama Islam sendiri. 
Mulai dari keyakinan yang sudah taken for granted mengenai keberadaan Tuhan 
dengan sifat-sifatnya; fenomena nabi sebagai pesuruh Tuhan; hingga kepercayaan 
mengenai adanya sifat ruhaniah, teleologis-rasional, dan holistik segenap unsur 
alam semesta dan, pada saat yang sama, pandangan ihwal sifat hierarkis wujud 
(hierarchy of being atau marâtib al-wujûd) yang berada di dalamnya. Hierarki 
wujud ini bermula dari Tuhan yang murni bersifat imaterial hingga kemaujudan 
yang paling rendah dan bersifat material murni, melewati malaikat, dan manusia 
yang merupakan campuran kedua unsur ini. Nuansa religius ini muncul dengan 
lebih kuat setelah periode Ibn Rusyd bersama lahirnya filsafat isyrâqiyyah 
(iluminisme), `irfân(teosofi atau tasawuf filosofis), dan hikmah (teosofi 
transenden). Dalam aliran-aliran ini, tradisi—Al-Quran dan Hadis—teologi, serta 
mistisisme sudah merupakan ramuan tak terpisahkan bersama metode peripatetik 
(masysyâ'î) Aristotelian. (Meski demikian, orang tak bisa gagal melihat 
perbedaannya dengan mistisisme, karena secara metodologis mistisisme tak 
meyakini metode rasional dalam mencapai kebenaran).

Jadi, memang filsafat Islam pada akhirnya bisa dilihat sebagai gabungan antara 
pemikiran liberal dan agama. Ia bisa disebut sebagai liberal dalam hal 
pengandalannya pada kebenaran-kebenaran primer dan metode demonstrasional untuk 
mem­bangun argumentasi-argumentasinya. Pada saat yang sama, pengaruh keyakinan 
religius atau quasi religius amat dominan, baik dalam penerimaan kesepakatan 
mengenai apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran primer tersebut, maupun 
dalam pemilihan premis-premis lanjut dalam silogisme mereka.

Demikian pula halnya dengan epistemologi filsafat Islam. Akal, bahkan dalam 
alirannya yang lebih peripatetik, tak pernah dipahami sebagai semata-mata rasio 
(ratio atau reason) yang bersifat cerebral (terkait dengan otak) belaka. Masih 
sebagaipengaruh Neoplatonisme, akal sejak awal sejarah filsafat Islam selalu 
terkait dengan Nous. Dan Nous pasti bukan sekadar rasio. Bahkan Tuhan, dalam 
Neoplatonisme identik dengan Nous. Barangkali memang, seperti dilakukan banyak 
orang, menerjemahkan `aql dengan intelek (intellect) jauh lebih tepat. Tercakup 
di dalam konsep intelek ini, bahkan lebih utama dari rasio, adalah apa yang 
disebut dengan intuisi atau "ilham" (pencerahan, iluminasi, atau isyrâq), atau 
terkadang disebut se­bagai "kesadaran poetik". Sebagaimana Nous bersifat 
imaterial atau ruhani, maka Nous yang merupakan daya (quwwah) untuk 
mempersepsinya juga mencakup yang ruhaniah.

Sejak awal sejarah filsafat Islam ketika pengaruh Aristotelianisme masih amat 
kuat—apalagi dalam bentuk mistisisme, iluminisme, teosofi, dan hikmah—akal 
(`aql) selalu dipahami secara bertingkat-tingkat, dari akal material hingga apa 
yang mereka sebut sebagai "akal suci" (al-`aql al-qudsî), bahkan akal kenabian. 
Akal dalam aktualisasi-puncaknya ini dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan 
kontak (ittishâl) dengan Akal Aktif (Al-`Aql Al-Fa` `âl)—sejenis Intelek yang, 
oleh sementara pemikir Muslim, diidentikkan dengan Malaikat Jibril sebagai 
pembawa wahyu atau ilham.

Alhasil, orang boleh saja mempersoalkan kemurnian sifat "filosofis" Filsafat 
Islam. Kenyataannya, dalam segenap keliberalan metodenya, pengaruh religiusitas 
masih bekerja dengan kuat dalam pemikiran para tokohnya. Nah, apakah dengan 
demikian pemikiran yang berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran ("dogma-dogma") 
masih bisa disebut sebagai filsafat—yang mestinya liberal dalam proses 
berpikirnya?

Buat yang berpikiran demikian, Anda mung­kin bisa belajar dari Oliver Leaman, 
seorang profesor ahli sejarah filsafat Islam di Amerika Serikat. Menggemakan 
kembali pandangan Fazlur Rahman dan Toshihiko Izutsu sebelumnya, dia mengakui: 
"Pada masa yang lampau, saya sempat menganggap (tasawuf dan mistisisme yang 
banyak mewarnai filsafat Islam, khususnya pasca-Ibn Rusyd—HB) sebagai bukan 
filsafat sama sekali, dan lebih erat terkait dengan teologi dan pengalaman 
religius yang subjektif. Saya menganggap bentuk-bentuk pemikiran ini sebagai 
indikasi-indikasi suatu bentuk schwarmerei atau keliaran, yang saya pandang 
sebelah mata dengan gaya pelecehan Kantian. Saya sekarang berpikiran bahwa pada 
masa lampau pendekatan saya terhadap cara-cara berfilsafat ini terlalu 
terbatas. (Sesungguhnya, bahkan teologi dan tasawuf) memiliki kaitan yang jauh 
lebih banyak dengan tradisi peripatetik (yang bersifat rasional-analitik—HB)." 
(Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, Cambridge 
University Press, Cambridge, UK, 2002, hh. xi-xii.)

Lagi pula, persoalan pengaruh ajaran agama pada filsafat Islam hanya terkait 
dengan apa—yang dalam filsafat sains disebut sebagai context of 
discovery(konteks penemuan). Padahal rasional atau ilmiah tidaknya suatu karya 
pemikiran seharusnya  dinilai dari context of justification (konteks 
justifikasi atau pembenaran). Karena, bahkan dalam hard science sekalipun, 
boleh jadi suatu penemuan (discovery) terjadi secara sama sekali tak "ilmiah" 
atau rasional. Bahkan, bukan tak ada suatu teori ilmiah yang ditemukan lewat 
mimpi, misalnya. Contohnya adalah penemuan rumus benzena oleh Kekule. Kenyataan 
itu tak lantas berarti bahwa rumus yang ditemukan Kekule itu harus dianggap 
tidak ilmiah. Tolok ukurnya pada apakah penemuan tersebut bisa dijustifikasi 
secara ilmiah atau tidak. Kenyataannya, teori-teori atau pandangan-pandangan 
dalam filsafat Islam—meski mungkin penemuannya terjadi di bawah pengaruh 
agama—justifikasinya bersifat sepenuhnya rasional.

Dari uraian di atas, beberapa kesimpulan kiranya bisa ditarik. Pertama, 
filsafat Islam bisa disebut demikian—bukan "sekadar" filsafat Muslim atau 
filsafat Arab—karena sifat-menentukannya ajaran Islam di dalamnya. (Bahkan, 
bukan hanya filsafat Islam pasca-Ibn Rusyd yang memang menjadikan teks-teks 
tradisi sebagai bahan ramuan filsafatnya, filosof Muslim peripatetik sejak 
Al-Kindi hingga Ibn Rusyd dikenal dengan upaya inkorporasi atau sedikitnya 
penyejajaran ajaran-ajaran Islam dengan prosedur rasional. Ibn Sina malah 
dikenal dengan karya tafsir Al-Quran, sementara Ibn Rusyd adalah juga seorang 
ahli fiqh yang terkenal dengan empat jilid karya fiqh-nya yang berjudul Bidâyah 
Al-Mujtahid). Meski demikian, ia tak kehilangan sifat filosofisnya dan 
"hak"-nya untuk diapresiasi sebagai se­jenis filsafat karena kesetiaannya 
kepada kegiatan rasiosinasi (ratiocination) dalam segenap prosedur berpikirnya. 
Inilah kesimpulan kedua yang dapat kita tarik.

Akhirnya, sedikit tanggapan kiranya perlu diberikan kepada pernyataan sebagian 
orang yang mereduksi apa yang selama ini disebut sebagai filsafat Islam sebagai 
sekadar "contekan" filsafat Yunani. Pernyataan seperti ini kiranya hanya bisa 
muncul dari orang yang tak cukup akrab dengan filsafat Islam. Bukan saja, 
seperti telah disinggung di atas, warna ajaran Islam tersebar di mana-mana 
dalam segenap tema "tradisional" filsafat Yunani, kenyataannya filsafat Islam 
telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat, termasuk dalam 
epistemologi dan ontologi filsafat. Karena tulisan seringkas ini bukanlah 
tempat bagi pembahasan yang terperinci, maka saya hanya ingin mengajak Anda 
untuk membaca judul "Kontribusi Filosof Muslim kepada Filsafat" yang ditulis 
Muthahhari mengenai soal ini.  Dalam tulisan tersebut, Muthahhari menyatakan 
bahwa filsafat Islam telah menyumbangkan banyak problem baru yang sama sekali 
tak pernah dibahas filsafat sebelumnya, di samping lebih banyak lagi 
pengembangan lebih lanjut problem-problem yang sudah pernah dibahas sebelumnya.6

__________

1    Menurut versi lain tamsil ini, ketika sang ulama tersadar, dia mendapati 
lilin yang dipakainya untuk membaca telah lama mati. Namun, dilihatnya pula 
ruangannya masih terang. Baru kemudian dia sadari, persis di belakangnya 
berdiri istrinya—yang rupanya telah lama ikut membaca dengan pelita di 
tangannya.

2    Edisi Indonesia kedua buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Teraju 
masing-masing dengan judul The Consolations of Philosophy: Filsafat sebagai 
Pelipur Lara dan Plato not Prozac!: Berfilsafat sebagai Terapi Praktis 
Persoalan Sehari-hari.

3    Edisi bahasa Indonesianya berjudul Sang CEO Bernama Aristoteles, Mizan, 
Bandung, 2003.

4    Edisi bahasa Indonesianya berjudul The Corporate Mystic, Penerbit Kaifa, 
Bandung, 2002.

5    Mengenai makna alam khayal ini, lihat Bab 10, "Tingkatan-Tingkatan Wujud 
Menurut para Hukamâ'."

6    Edisi bahasa Indonesia berjudul Filsafat Hikmah, Mizan, 2002. Di antara 
problem-problem baru tersebut adalah problem-problem utama yang berkaitan 
dengan eksistensi, seperti realitas fundamental eksistensi (ashâlah al-wujûd), 
kesatuan eksistensi (wahdah al-wujûd), eksistensi mental (al-wujûd al-dzihnî), 
hukum-hukum noneksistensi, kemustahilan apa-apa yang sudah tak wujud untuk 
kembali (wujud), problem "menjadikan" (ja`l), kriteria kebutuhan sesuatu akan 
sebab, sifat konseptual (i`tibârât) kuiditas, hal-hal terpahamkan yang bersifat 
sekunder (al-ma`qûlât al-tsanawiyyah), sebagian dari jenis-jenis prioritas 
(taqaddum), berbagai jenis hudûts, berbagai jenis kemestian, kemustahilan, dan 
kemungkinan, sebagian dari jenis-jenis unitas multiplisitas, gerak substansial 
(al-harakah al-jauhariyyah), immaterialitas jiwa hewani (al-nafs 
al-hayawâniyyah), dan immaterialitas intelektualnya (tajarrud `aqlî). Karakter 
fisik (hal-hal) yang baru (tercipta dalam waktu) dan karakter ruhani (hal-hal) 
yang baka (jismâniyyah al-hudûts wa rûhâniyyah al-baqâ'), penggerakan melalui 
penundukan (fâ`iliyyah bi al-taskhîr), kesatuan tubuh dan jiwa, karakter 
kombinasi materi dan forma, kesatuan dalam keserbaragaman daya-daya jiwa, 
pandangan bahwa relasi akibat dengan sebabnya adalah tatanan relasi 
iluminasionis, kebangkitan fisik di alam barzakh (barzakh), diketahuinya waktu 
sebagai dimensi keempat, prinsip realitas sederhana (qâ`idah bâsith 
al-haqîqah), dan sifat sederhana pengetahuan Ilahi meski karakternya 
terperinci. Itu semua belum termasuk sejumlah topik problem-problem yang 
mengalami perkembangan. Termasuk di dalamnya adalah problem-problem 
kemustahilan, ihwal regresi tanpa ujung, nonmaterialitas jiwa, bukti-bukti bagi 
eksistensi Wujud Mutlak Ada, Kesatuan Wujud Mutlak Ada, kemustahilan munculnya 
"yang banyak" dari "yang satu", kesatuan subjek dan objek (ittihâd al-`âqil wa 
al-ma`qûl), serta hakikat subtansial bentuk-bentuk spesifik (al-shuwar 
al-nau`iyyah).

http://icasparamadinauniversity.wordpress.com/2012/04/21/posisi-filsafat-islam-dalam-masalah-kemanusiaan/






------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke