Dihandap ieu kawilang sae numutkeun badi mah.Mun ninggal eusina janten emut ka 
bukuna pun guru: Jalaluddin Rakhmat anu nyerat dua buku dina widang anu sami 
(1) Meraih Kebahagiaan diterbitkan Simbiosa; (2) Tafsir Kebahagiaan 
diterbitkeun  Serambi. Nu mimiti mah analisa psikologi modern. NU kadua mah 
tafsir tematik anu ngaguar ayat2 anu berkaitan sareng kabagjaan. 



Fitrah dan Kebahagiaan
Posted on May 4, 2012 | Leave a comment | Edit
Kolom Haidar Bagir
Fitrah dan Kebahagiaan
”Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah. (Tetaplah atas) 
Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak sekali-kali ada perubahan 
dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus …” (QS. Ar-Ruum: 30)
Kata fitrah -bahasa Arab ”fith-rah”- berasal dari akar kata f-th-r. Arti kata 
ini adalah ”keawalmulaan sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada”. 
Dengan kata lain, ”sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa 
preseden (contoh)”. Sinonimnya adalah al-khalq atau atau al-ibda’. Contohnya, 
air susu yang pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai “fithr”. 
Maka, dalam ayat di atas, fitrah berarti unsur manusia yang diciptakan pertama 
kali. Bukan itu saja, fitrah manusia itu tak pernah berubah sepanjang 
hidupnya -dengan kata lain, selama-lamanya. Bukan kebetulan juga bahwa makna 
lain kata fitrah adalah cetakan atau patrian, yang sekali dicetak atau dipatri, 
tak akan bisa diubah atau dilepaskan.
Tapi, di atas semuanya itu, penting kita sadari bahwa sesungguhnya unsur 
kemanusiaan -bawaan, tak lain dan tak bukan, terbentuk atas model sifat atau 
”tabiat”- yakni fitrah -Allah sendiri.
Selanjutnya, disebutkan juga dalam ayat 30 tersebut, bukan saja bahwa fitrah 
manusia merupakan perwujudan ruh Allah, tapi ia juga identik dengan agama itu 
sendiri, tepatnya ”agama yang lurus”. Yakni, suatu pandangan dunia 
(world-view atau weltanscahauung) dan cara hidup (way of life) yang benar, yang 
berorientasi keimanan kepada Allah, dan kepada kebenaran -suatu cara pandang 
dan cara hidup yang, dalam ayat yang sama, disebut juga dengan cara hidup 
yang hanif.
Memang, dalam analisis lebih jauh, kita mendapati bahwa fitrah memiliki dua 
unsur utama dan fundamental.Pertama, keimanan kepada Tuhan sebagai Rabb kita, 
sebagai Pencipta dan Perawat kita:
”Dan ingatlah ketika Allah mengeluarkan (cikal-bakal) anak-cucu Adam dari 
punggung atau tulang sulbi ayah-ayah mereka (yakni di alam sebelum alam dunia 
ini) dan menarik persaksian atas diri mereka: ’Bukankah Aku ini Rabb-Mu?’ 
Mereka pun berkata: ’Benar, kami bersaksi’. Agar kelak mereka tidak berkata: 
’Sesungguhnya mengenai hal ini kami lupa’.” (QS. Al A’raf: 172).
Unsur kedua fitrah adalah pengetahuan tentang jalan kebaikan dan jalan 
keburukan yang telah diilhamkan kepada manusia sejak awal penciptaannya:
”Dan demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-Nya. Maka diilhamkan kepadanya jalan 
keburukan dan jalan ketakwaannya. Pasti berbahagia siapa saja yang memelihara 
kesuciannya, dan pasti sengsara siapa saja yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 
7 – 10).
Berdasar itu semua, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia diciptakan 
dengan kecenderungan-bawaan beriman kepada Allah dan kepemilikan pengetahuan 
tentang kebaikan atau ketakwaan dan keburukan. Tapi, yang lebih penting dari 
itu adalah bahwa, kepenuhan dan kebermaknaan hidup kita, yakni kebahagiaan 
kita, terletak dalam keberhasilan kita memelihara kesucian keyakinan kita 
kepada-Nya dan kemampuan kita dalam berbuatbaik dan menghindar dari 
keburukan -yang pengetahuan tentangnya telah diilhamkan kepada kita 
tersebut.Kegagalan dalam hal ini -jauhnya kita dari Tuhan, dan kurangnya 
orientasi amal saleh dalam kehidupan kita- hanya akan meninggalkan kehampaan 
hati, betapa pun mungkin kehidupan kita berlimpah materi dan dikerumuni banyak 
orang. Karena, bukankah kecenderungan-kecenderungan ini telah menjadi fitrah 
(tabiat-bawaan) hidup kita yang tak akan pernah berubah?
Inilah kiranya yang dimaksud William James, seorang filosof dan psikolog 
Amerika awal abad 20 ketika menulis dalam buku-klasiknya, Varieties of 
Religious Experience bahwa, betapa pun kehidupan akan menarik manusia ke arah 
yang bertentangan (materialistik), dan betapa pun dikerumuni banyak orang, 
manusia tak akan pernah berbahagia sebelum ia bersahabat dengan The Great 
Socius (Sang Kawan Agung)
Sumber Kutipan: http://mizan.com/index.php?fuseaction=plong&id=44
juga di Publish di :
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/05/04/fitrah-dan-kebahagiaan/  
 http://icasjakarta.wordpress.com/2012/05/04/fitrah-dan-kebahagiaan/#more-926   
 
 http://icasparamadinauniversity.wordpress.com/2012/05/04/fitrah-dan-kebahagiaan-menurut-dr-haidar-bagir/#more-722


Kirim email ke