Analisis politik model kieu masih arang/langka di nagara (mayoritas) islam.
Kasimpulan  yen : "Semua bermula dari absennya wasiat Nabi Muhammad tentang 
siapa penggantinya jika dia meninggal."  (lamun bener ieu asumsi) hartina  
pamimpin nagara teu  sarua jeung pamimpin spiritual (agama).
Epek atanapi konsekwensina lamun pamimpin nagara teu sarua jeung pamimpin agama
nimbulkeun pasualan,  atuh lamun kitu saha anu arek ngajalankeun "hukum Allah" 
anu aya dina ayat-ayat Qur'an.

Salam 

--- On Sat, 12/5/12, Ki Hasan <[email protected]> wrote:

From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: [kisunda] Fwd: [Baraya_Sunda] agama, politik jeung sekte?
To: "Ki Sunda" <[email protected]>
Received: Saturday, 12 May, 2012, 4:54 PM
















 



  


    
      
      
      

---------- Forwarded message ----------
From: rsyaifoel <[email protected]>

Date: 2012/4/16
Subject: [Baraya_Sunda] agama, politik jeung sekte?
To: [email protected]


Politik dan Kekuasaan dalam Islam

 Membaca Kembali Sejarah Syiah

Oleh Luthfi Assyaukanie



Syi¡¯ah adalah sekte pertama di dalam Islam yang kemunculannya sepenuhnya 
didorong oleh peristiwa politik. Semua bermula dari absennya wasiat Nabi 
Muhammad tentang siapa penggantinya jika dia meninggal. Jika sejak awal Nabi 
memberikan wasiat dan diumumkan kepada publik, pastilah sejarah Islam akan 
berjalan lain. Ketiadaan wasiat ini memunculkan persoalan besar beberapa saat 
setelah Nabi meninggal, yakni siapa yang akan menggantikannya? Selain sebagai 
pemimpin spiritual, Nabi Muhammad juga seorang pemimpin politik bagi warga 
Madinah. Kematiannya, dengan demikian, bukan hanya berarti hilangnya 
kepemimpinan spiritual, tapi juga kepemimpinan politik.




Perundingan yang hampir menumpahkan darah di Saqifah yang terkenal itu, 
sesungguhnya adalah permufakatan untuk mencari pengganti Muhammad sebagai 
pemimpin politik, bukan sebagai pemimpin spiritual. Semua sahabat Nabi sadar 
bahwa secara spiritual tak ada yang bisa menggantikan Muhammad. Juga, mereka 
tahu diri bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad. Bahwa pilihan kemudian jatuh 
kepada Abu Bakar, sepenuhnya berdasar pertimbangan primus inter pares, yakni 
karena Abu Bakar dianggap sebagai orang paling senior, paling dekat dengan 
Nabi, dan punya sedikit jiwa kepemimpinan.




Dari perspektif tata-pemerintahan (polity) yang berlaku saat itu, pilihan 
kepada Abu Bakar sebetulnya menyalahi aturan umum, yakni jika seorang pemimpin 
politik meninggal, maka yang akan menggantikannya adalah keturunannya atau 
famili terdekatnya. Karena Muhammad tidak memiliki anak laki-laki, yang berhak 
menggantikannya seharusnya adalah anak perempuannya, sebagaimana yang pernah 
terjadi pada kerajaan-kerajaan di sekitar Mediterania saat itu. Ada opsi lain, 
jika warisan kekuasaan tidak jatuh ke tangan anak perempuan, maka ia akan jatuh 
ke tangan saudara laki atau perempuan (adik). Masalahnya, Nabi Muhammad tak 
memiliki adik, karena dia anak tunggal. Satu-satunya famili terdekatnya adalah 
Ali bin Abi Thalib, sepupunya yang sekaligus juga menantunya.




Tapi, mengapa para petinggi di Saqifah memilih Abu Bakar dan bukan Ali? 
Bukankah lebih masuk akal dan bisa diterima publik jika Ali yang menggantikan 
Nabi? Bukankah Fatimah, anak Nabi, layak dijadikan Ratu, penerusnya, mengikuti 
tradisi tata-pemerintahan yang berlaku di kawasan itu? Apalagi Fatimah adalah 
isteri Ali, yang juga sepupu Nabi. Adalah tidak masuk akal mengikuti logika 
para pembesar di Saqifah yang memilih Abu Bakar dan melupakan Ali sama sekali. 
Dalam perdebatan sengit antara Faksi Madinah dan Faksi Mekah, yang muncul 
adalah nama-nama seperti Umar bin Khatab (Mekah), Abu Ubaydah bin Jarrah 
(Mekah), Sa¡¯ad bin Ubadah (Madinah/Khazraj), dan Bashir bin Sa¡¯d 
(Madinah/Aws).




Nama Ali atau Fatimah tak disebut sama sekali. Keduanya tak hadir di Saqifah, 
tapi lebih memilih mengurusi jenazah Nabi, yang menurut al-Tabari (Tarikh), 
hampir tak dipedulikan para sahabat besar yang tengah memperdebatkan siapa 
pengganti Nabi kelak. Bagi Ali dan keluarganya, mengurusi jenazah Nabi dan 
mempersiapkan pemakamannya jauh lebih penting ketimbang meributkan kandidat 
pengganti Nabi. Mungkin, Ali dan Fatimah juga berpikir bahwa kekuasaan tak akan 
pergi ke mana-mana, toh menurut tradisi politik yang berlaku, kekuasaan selalu 
jatuh ke tangan anak atau famili terdekat.




Asumsi Ali dan Fatimah bahwa kekuasaan ayah mereka akan jatuh ke tangan mereka 
terbukti keliru. Setelah upacara penguburan Nabi selesai, pengganti Nabi 
tetaplah Abu Bakar. Satu persatu kaum Muslim melakukan bay¡¯at (sumpah) kepada 
Abu Bakar sebagai pengganti Nabi (khalifah). Bashar bin Sa¡¯ad, pemimpin Suku 
Aws yang sempat berminat menggantikan Nabi, mengurungkan niatnya dan berbalik 
mendukung Abu Bakar. Dukungannya kepada Abu Bakar bukan karena dia suka kepada 
mertua Nabi itu, tapi karena rival beratnya, Sa¡¯ad bin Ubadah (pemimpin 
Khazraj) bisa berpeluang besar, jika kaum Anshar tidak mendukung Abu Bakar. 
Maka, terjadilah apa yang pernah terjadi dalam Pilkada DKI 2007, warga Jakarta 
memilih Fauzi Bowo bukan karena mereka suka dengan pria berkumis itu, tapi 
karena mereka tidak suka jika Jakarta dipimpin oleh calon yang didukung PKS.




Tidak semua orang mendukung Abu Bakar menjadi pengganti Nabi.  Abu Bakar dan 
timnya (di antaranya Umar bin Khattab yang paling antusias) harus melakukan 
kampanye dari Jum¡¯at ke Jum¡¯at untuk meyakinkan kaum Muslim di Madinah bahwa 
dia layak menjadi pengganti Nabi. Bay¡¯at (sumpah setia) harus segera 
dikumpulkan agar Abu Bakar mendapatkan legitimasi dan lancar dalam mengeluarkan 
kebijakan-kebijakan politik. Sayangnya, bay¡¯at tidak diperoleh dengan mulus. 
Sebagian suku di Madinah (misalnya Banu Ghatafan dan Khawazin) menolak Abu 
Bakar dan tak bersedia memberikan bay¡¯at. Untuk menunjukkan perlawanan, mereka 
menolak membayar upeti (zakat), yang kemudian memicu apa yang dalam sejarah 
Islam dikenal dengan ¡±Perang Apostasi¡± (hurub al-riddah).




Yang mengejutkan adalah bahwa penolakan bay¡¯at bukan hanya dilakukan oleh 
sebagian suku Anshar, tapi juga beberapa tokoh Muhajirin. Ali bin Abi Thalib, 
menantu dan sepupu Nabi, juga tak bersedia melakukan bay¡¯at kepada Abu Bakar. 
Tentu saja, Ali bukanlah satu-satunya sahabat besar Nabi yang menolak Abu 
Bakar. Ada Sa¡¯ad bin Ubadah (perunding Saqifah dan pemimpin Khahzraj), yang 
sampai wafatnya tak mau memberikan bay¡¯at kepada Abu Bakar. Dia juga tak mau 
memberikan bay¡¯at kepada Umar bin Khattab, dan karena merasa nyawanya 
terancam, dia hijrah ke Suriah hingga meninggal di sana. Ada Hubab bin 
al-Mundzir, pahlawan dan ahli strategi yang mengantarkan kemenangan perang 
Badar. Demikian juga, ada al-Abbas, Salman Al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, dan 
Khuzaimah bin Tsabit; semua sahabat besar ini pada mulanya enggan memberikan 
bay¡¯at kepada Abu Bakar.




Ali baru memberikan bay¡¯atnya kepada Abu Bakar setelah enam bulan peristiwa 
Saqifah. Menurut Bukhari dan Muslim, Ali melakukan bay¡¯at setelah Fatimah, 
isteri tercintanya, meninggal. Tidak ada yang tahu pasti mengapa Ali kemudian 
memberikan bay¡¯atnya. Bagi para pengikutnya yang 25 tahun kemudian dikenal 
dengan sebutan ¡±pengikut Ali¡± (syi¡¯at Ali), bay¡¯at Ali dilakukan dalam 
keadaan terpaksa dan dalam tekanan situasi politik di Madinah ketika itu. Bagi 
mereka, Ali adalah pewaris yang sah dari kekuasaan yang ditinggalkan Nabi. 
Bukan hanya karena Ali merupakan isteri Fatimah, tapi menurut ¡±Syi¡¯at Ali,¡± 
karena Nabi telah mengumumkan di Ghadir Khum bahwa Ali adalah calon 
penggantinya kelak jika dia wafat.




Ghadir Khum adalah episode lain yang penting dalam sejarah Syi¡¯ah. Kaum Muslim 
dari kalangan Sunni dan Syi¡¯ah berbeda pendapat, bukan hanya apakah Nabi 
secara eksplisit memberikan wasiat kepada Ali di sana, tapi apakah peristiwa 
Ghadir Khum itu benar-benar ada. Ghadir Khum adalah sebuah lembah tempat para 
pesiar dan saudagar Mekah beristirahat dalam perjalanan panjang mereka ke Syam. 
Lokasinya persis berada di tengah-tengah, sekitar 180 Km jarak antara Mekah dan 
Madinah. (di Google Earth, lokasinya terletak di bujur ini: 22¡ã49¡ä30¡åN 
39¡ã4¡ä30¡åE). Nabi dan para sahabatnya beristirahat di tempat itu dalam 
perjalanan dari Mekah usai menunaikan haji wada. Di tempat itulah Nabi diyakini 
memberikan khutbah dan wasiatnya soal siapa penggantinya kelak.




Para perawi Sunni (termasuk Bukhari dan Muslim) membenarkan bahwa Nabi pernah 
istirahat di situ dan¡ªtentu saja¡ªmemberikan khutbahnya. Namun, mereka menolak 
kalau isi khutbah Nabi secara eksplisit menyebutkan wasiat untuk Ali. 
Sebagaimana di tempat-tempat lain, Nabi selalu memberikan khutbah dan seperti 
juga kebiasaannya, beliau memuji sahabat-sahabatnya. Kadang memuji Abu Bakar, 
kadang memuji Bilal, kadang memuji Umar, dan kadang memuji Utsman. Nah, di 
Ghadir Khum itu, Nabi memuji Ali. Sebetulnya pujian biasa saja, yang sering ia 
lontarkan juga kepada para sahabatnya yang lain. Sanjungan itu adalah ucapan 
Nabi bahwa Ali adalah seorang pemimpin yang sama dengan dirinya (man kuntu 
mawlah, fa ali mawlah). Oleh para pengikut Ali, pernyataan Nabi ini kemudian 
ditafsirkan sebagai wasiat kepada kaum Muslim bahwa setelah Nabi meninggal 
nanti yang menjadi penggantinya adalah Ali.




Seperti Cak Nur yang kerap memuji orang, Nabi juga selalu memuji 
sahabat-sahabatnya. Suatu kali Nabi memuji Abu Bakar sebagai ¡±pemimpin kaum 
Muslim di surga,¡± ¡±pintu surga akan memanggilnya untuk memasukinya,¡± dan 
¡±orang Islam pertama yang akan masuk surga.¡± Nabi juga pernah memuji Umar 
dengan ungkapan yang terkenal ini: ¡±andaikata sesudahku ada Nabi, dialah 
Umar.¡± Di Ghadir Khum, yang mendapat pujian kebetulan adalah Ali. Orang-orang 
Sunni sama sekali tidak menganggap pernyataan Nabi itu sebagai sebuah wasiat. 
Nabi biasa memuji sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang unik dengan itu. Tapi, 
bagi para pengikut fanatik Ali, pernyataan Nabi itu adalah sebuah wasiat 
penting. Bahkan, Ghadir Khum adalah sebuah peristiwa besar, bukan hanya tempat. 
Ghadir Khum adalah sebuah perjanjian suci yang dilanggar, yang akibatnya 
memunculkan rangkaian peristiwa berdarah dalam tubuh umat Islam, dari 
pemberontakan terhadap Abu Bakar, pembunuhan Umar,
 pembunuhan Uthman, dan puncaknya pembunuhan Ali.




Dari perspektif politik, Ghadir Khum hanyalah sebuah justifikasi belakangan 
para pengikut Ali untuk mendukung suatu niat lebih besar yang sudah ada sejak 
awal: warisan kekuasaan. Menurut tradisi politik yang berlaku pada saat itu, 
tidak ada orang yang paling berhak untuk menggantikan Nabi kecuali Ali bin Abi 
Thalib. Tidak ada presedennya bahwa kekuasaan politik jatuh kepada sahabat 
terdekat atau kepada seorang mertua. Yang selalu terjadi adalah kekuasaan jatuh 
kepada adik atau anak. Nabi memiliki banyak anak dan mestinya salah satu 
anaknya yang paling berhak meneruskan kekuasaannya. Pun, jika anak-anaknya 
dianggap kurang layak, famili terdekatnya, yakni Ali, bisa menjadi kandidat 
kuat. Apalagi Ali bukan sekadar sepupu, tapi juga seorang menantu yang 
mengawini anak kesayangannya.




Syi¡¯ah adalah sebuah sekte Islam yang muncul karena dorongan politik. 
Kepemimpinan dinastik, yakni sistem pemerintahan turun-temurun, adalah obsesi 
tertingginya. Sejak awal, para pengikut Ali memproyeksikan keluarga Nabi (ahl 
al-bayt) sebagai poros dari kekuasaan yang mereka dukung. Buat mereka, setelah 
Nabi meninggal, orang yang paling berhak untuk mewarisi kekuasaan adalah 
anaknya, yakni Fatimah (kalaulah Nabi punya anak laki-laki, pastilah anak itu 
yang akan jadi kandidat kuat). Setelah Fatimah/Ali meninggal, kekuasaan politik 
harus turun kepada anak-cucunya. Karena alasan inilah mereka menolak Muawiyah 
bin Abi Sufyan yang pada saat itu menjadi kompetitor Ali paling kuat. Perang 
berdarah-darah yang dilakukan pengikut Ali kepada Mua¡¯wiyah dan anaknya 
(Yazid) adalah perang mempertahankan dinasti Ali. Pun, ketika Yazid berkuasa, 
bagi para pengikut Ali, pemimpin yang sah tetaplah anak Ali, yakni Hasan dan 
Husein.




Obsesi mempertahankan dinasti Ali terus tumbuh dalam diri pengikut fanatik Ali 
yang sejak tahun 661 M, disebut sebagai ¡±Syi¡¯at Ali.¡± Setelah peristiwa 
Karbala yang oleh Ali Shari¡¯ati, salah seorang tokoh Syi¡¯ah modern, disamakan 
dengan peristiwa penyaliban Yesus, obsesi dinastik kaum Syi¡¯ah terus 
dipelihara. Pembunuhan Husein bukan berarti kematian dinasti Ali. Kaum Syi¡¯ah 
meneruskannya dengan ¡±raja virtual¡± yang mereka sebut ¡±imam.¡± Kekuasaannya 
pun diperluas, bukan hanya kekuasaan politik, tapi juga kekuasaan spiritual. 
Sejak Husein terbunuh, imamah menjadi fondasi penting dalam ajaran Syi¡¯ah. 
Ketika seseorang kalah di dunia, maka dia akan membaw-bawa akhirat untuk 
memperkuat dirinya. Persis seperti yang dikatakan Hamid Dabashi, sarjana Iran 
yang menulis banyak buku tentang Syi¡¯ah, kaum Syi¡¯ah mengidap gejala neurosis 
sejak pertama kali mereka kehilangan ¡±Yesus¡± mereka, yakni Husein bin Ali 
yang mati
 dimutilasi oleh Yazid bin Muawiyah.




Obsesi dinastik ini terus berkelanjutan. Apa yang tak bisa diwujudkan dalam 
kenyataan, diwujudkan dalam angan-angan. Dari sini, para pengikut fanatik Ali 
kemudian membangun konsep ¡±imamah¡± yang lebih tepat disebut sebagai 
¡±kerajaan virtual.¡± Setelah Husein wafat, kaum Syi¡¯ah menunjuk anaknya 
Husein, yakni Ali atau yang lebih dikenal dengan Zayn al-Abidin. Setelah Ali 
wafat, digantikan oleh puteranya, yakni Muhammad yang lebih dikenal dengan 
Muhammad al-Baqir. Kerajaan virtual ini terus berlangsung secara turun-temurun 
sampai pewaris ke-12, yakni: Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali 
bin Musa bin Ja¡¯far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. 
Kesebelas orang ini plus Hasan bin Ali, menjadi ¡±raja¡± dalam dinasti yang 
dibangun oleh orang Syi¡¯ah. Mereka menyebutnya Syi¡¯ah Imamiyah atau Syi¡¯ah 
Istna Asyariah (Syi¡¯ah 12 Imam).




Sama seperti kerajaan atau sistem dinasti lainnya, ¡±kerajaan virtual¡± yang 
dibangun orang-orang Syi¡¯ah pun tidak maksum dari pertengkaran. Pada awal abad 
ke-8 M, pengikut Syi¡¯ah bertengkar siapa yang patut menggantikan Ali bin 
Husein. Satu kelompok meyakini bahwa Muhammad al-Baqir, anak tertua Ali yang 
patut menggantikan ayahnya. Tapi kelompok lain menganggap anak Ali yang lain, 
yakni Zayd, lebih cocok. Kelompok kedua ini kemudian memisahkan diri dan kelak 
disebut sebagai ¡±Syi¡¯ah Zaydiyah.¡± Sedangkan kelompok pertama disebut 
sebagai ¡±Syi¡¯ah Imamiyah.¡± Perpecahan ini masih berlanjut. Pada pertengahan 
abad ke-8, pertengkaran soal siapa yang layak menjadi pewaris kerajaan kembali 
mencuat. Satu kelompok menjagokan Ismail bin Ja¡¯far, sementara kelompok lain 
mendukung Musa bin Ja¡¯far. Kelompok pertama kemudian memisahkan diri dan 
membangun sekte independen yang disebut ¡±Syi¡¯ah Ismailiyah.¡±




Sejak berdiri, kaum Syi¡¯ah terobsesi membangun kekuasaan dinastik, bukan 
pemerintahan republik. Karena alasan inilah mereka menolak mengakui 
pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Uthman. Buat mereka, pemerintahan yang sah 
adalah pemerintahan turun-temurun, dari Nabi, ke Fatimah dan Ali, lalu ke 
anak-cucu mereka. Perjuangan orang-orang Syi¡¯ah menuai hasil pada awal abad 
ke-10 ketika salah seorang keturunan Husein, yakni Abdullah al-Mahdi, berhasil 
membangun sebuah kerajaan besar yang disebut Dinasti Fatimiyah. Dinasti 
Fatimiyah (909-1171) adalah pengikut sekte Syi¡¯ah Ismailiyah. Abdullah sendiri 
adalah keturunan kelima dari Ismail bin Ja¡¯far, pendiri sekte Ismailiyah. 
Sekte Imamiyah pada akhirnya juga mampu mendirikan kerajaan besar di Iran, 
yakni Dinasti Safawiyah (1501-1736). Dua dinasti ini, Fatimiyah dan Safawiyah 
merupakan kerajaan-kerajaan yang sukses dan menjadi salah satu mercusuar 
peradaban Islam.




Penutup



Sejak runtuhnya dinasti Safawiyah pada abad ke-18, tidak ada lagi kerajaan 
Syi¡¯ah yang muncul. Para pemeluk Syi¡¯ah lebih memilih menjadi rakyat yang 
dipimpin oleh orang non-Syi¡¯ah seperti yang terjadi di Iraq, Lebanon, dan 
Bahrain, atau oleh orang-orang Syi¡¯ah yang tak menganut ideologi politik ahlul 
bayt. Di Mesir, pengaruh Syi¡¯ah semakin hilang sejak dinasti Ayubiyah 
(1171-1341) mengambil alih kekuasaan dari tangan Fatimiyah. Di Iran, dinasti 
Usmaniyyah yang Sunni menguasai pemerintahan selama lebih dari satu abad yang 
kemudian diteruskan oleh dinasti Pahlevi (1925-1979) yang tak peduli dengan 
ideologi ahlul bayt. Ideologi Syi¡¯ah baru bangkit pada tahun 1980an, menyusul 
keberhasilan ¡±revolusi Islam¡± yang dipimpin Ayatullah Khomeini menumbangkan 
dinasti Pahlevi.




Tapi, seperti dikatakan Hamid Dabashi, teologi politik Syi¡¯ah tidak kompatibel 
dengan dunia modern. Sebagai sebuah agama, Syi¡¯ah sangat melankolis. 
Teologinya dibangun berdasarkan penderitaan dan kesedihan. Masa silamnya 
mencengkeram dan menghantui terus para pemeluknya yang kini hidup di dunia yang 
berbeda. Sikap seperti ini terus terbawa, bahkan ketika mereka berkuasa. Kata 
Dabashi, dendam dan semangat perlawanan selalu mendominasi kehidupan orang 
Syi¡¯ah, ¡±sejak Imam Husein di Karbala, Ayatullah Khomeini di Iran, Muqtada 
al-Sadr di Iraq, hingga Hassan Nasrallah di Lebanon¡­ Syi¡¯ah adalah mayoritas 
dengan kompleks minoritas.¡±




Bibliografi:



1. Dabashi, Hamid. Shi¡¯ism: A Religion of Protest. Cambridge, Mass.: The 
Belknap Press of Harvard University Press, 2011.

2. Dabashi, Hamid. Theology of Discontent: The Ideological Foundation of the 
Islamic Revolution in Iran. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 2006.

3. Hitti, Philip K. History of the Arabs. 8th ed. London, New York,: Macmillan; 
St. Martin¡¯s Press, 1963.

4. Hodgson, Marshall G. S. The Classical Age of Islam. Chicago: University of 
Chicago Press, 1974.

5. Hodgson, Marshall G. S. The Venture of Islam : Conscience and History in a 
World Civilization. 3 vols. Chicago: University of Chicago Press, 1974.











------------------------------------



http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/





[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links



    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/



    Individual Email | Traditional



    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join

    (Yahoo! ID required)



    [email protected]

    [email protected]



    [email protected]



    http://docs.yahoo.com/info/terms/







    
     

    
    






  








Kirim email ke