Pamimpin Agama = Ulama
Pamimpin Nagara = Umaro
Duana perlu dina kahirupan berbangsa jeung bernagara 

________________________________
 Dari: Gus Maman <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Minggu, 13 Mei 2012 15:00
Judul: Re: [kisunda] Fwd: [Baraya_Sunda] agama, politik jeung sekte?
  
 
   
 
Analisis politik model kieu masih arang/langka di nagara (mayoritas) islam.
Kasimpulan  yen : "Semua bermula dari absennya wasiat Nabi Muhammad tentang 
siapa penggantinya jika dia meninggal."  (lamun bener ieu asumsi) hartina  
pamimpin nagara teu  sarua jeung pamimpin spiritual (agama).
Epek atanapi konsekwensina lamun pamimpin nagara teu sarua jeung pamimpin agama
nimbulkeun pasualan,  atuh lamun kitu saha anu arek ngajalankeun "hukum Allah" 
anu aya dina ayat-ayat Qur'an.


Salam


--- On Sat, 12/5/12, Ki Hasan <[email protected]> wrote:


>From: Ki Hasan <[email protected]>
>Subject: [kisunda] Fwd: [Baraya_Sunda] agama, politik jeung sekte?
>To: "Ki Sunda" <[email protected]>
>Received: Saturday, 12 May, 2012, 4:54 PM
>
>
>  
>
>
>
>---------- Forwarded message ----------From: rsyaifoel 
><[email protected]> Date: 2012/4/16Subject: [Baraya_Sunda] agama, 
>politik jeung sekte?To: [email protected] dan Kekuasaan 
>dalam Islam  Membaca Kembali Sejarah Syiah Oleh Luthfi Assyaukanie  Syi¡¯ah 
>adalah sekte pertama di dalam Islam yang kemunculannya sepenuhnya didorong 
>oleh peristiwa politik. Semua bermula dari absennya wasiat Nabi Muhammad 
>tentang siapa penggantinya jika dia meninggal. Jika sejak awal Nabi memberikan 
>wasiat dan diumumkan kepada publik, pastilah sejarah Islam akan berjalan lain. 
>Ketiadaan wasiat ini memunculkan persoalan besar beberapa saat setelah Nabi 
>meninggal, yakni siapa yang akan menggantikannya? Selain sebagai pemimpin 
>spiritual, Nabi Muhammad juga seorang pemimpin politik bagi warga Madinah. 
>Kematiannya, dengan demikian, bukan hanya berarti hilangnya kepemimpinan 
>spiritual, tapi juga kepemimpinan politik.  Perundingan yang hampir menumpahkan
 darah di Saqifah yang terkenal itu, sesungguhnya adalah permufakatan untuk 
mencari pengganti Muhammad sebagai pemimpin politik, bukan sebagai pemimpin 
spiritual. Semua sahabat Nabi sadar bahwa secara spiritual tak ada yang bisa 
menggantikan Muhammad. Juga, mereka tahu diri bahwa tidak ada nabi setelah 
Muhammad. Bahwa pilihan kemudian jatuh kepada Abu Bakar, sepenuhnya berdasar 
pertimbangan primus inter pares, yakni karena Abu Bakar dianggap sebagai orang 
paling senior, paling dekat dengan Nabi, dan punya sedikit jiwa kepemimpinan.  
Dari perspektif tata-pemerintahan (polity) yang berlaku saat itu, pilihan 
kepada Abu Bakar sebetulnya menyalahi aturan umum, yakni jika seorang pemimpin 
politik meninggal, maka yang akan menggantikannya adalah keturunannya atau 
famili terdekatnya. Karena Muhammad tidak memiliki anak laki-laki, yang berhak 
menggantikannya seharusnya adalah anak perempuannya, sebagaimana yang pernah 
terjadi pada kerajaan-kerajaan di sekitar
 Mediterania saat itu. Ada opsi lain, jika warisan kekuasaan tidak jatuh ke 
tangan anak perempuan, maka ia akan jatuh ke tangan saudara laki atau perempuan 
(adik). Masalahnya, Nabi Muhammad tak memiliki adik, karena dia anak tunggal. 
Satu-satunya famili terdekatnya adalah Ali bin Abi Thalib, sepupunya yang 
sekaligus juga menantunya.  Tapi, mengapa para petinggi di Saqifah memilih Abu 
Bakar dan bukan Ali? Bukankah lebih masuk akal dan bisa diterima publik jika 
Ali yang menggantikan Nabi? Bukankah Fatimah, anak Nabi, layak dijadikan Ratu, 
penerusnya, mengikuti tradisi tata-pemerintahan yang berlaku di kawasan itu? 
Apalagi Fatimah adalah isteri Ali, yang juga sepupu Nabi. Adalah tidak masuk 
akal mengikuti logika para pembesar di Saqifah yang memilih Abu Bakar dan 
melupakan Ali sama sekali. Dalam perdebatan sengit antara Faksi Madinah dan 
Faksi Mekah, yang muncul adalah nama-nama seperti Umar bin Khatab (Mekah), Abu 
Ubaydah bin Jarrah (Mekah), Sa¡¯ad bin
 Ubadah (Madinah/Khazraj), dan Bashir bin Sa¡¯d (Madinah/Aws).  Nama Ali atau 
Fatimah tak disebut sama sekali. Keduanya tak hadir di Saqifah, tapi lebih 
memilih mengurusi jenazah Nabi, yang menurut al-Tabari (Tarikh), hampir tak 
dipedulikan para sahabat besar yang tengah memperdebatkan siapa pengganti Nabi 
kelak. Bagi Ali dan keluarganya, mengurusi jenazah Nabi dan mempersiapkan 
pemakamannya jauh lebih penting ketimbang meributkan kandidat pengganti Nabi. 
Mungkin, Ali dan Fatimah juga berpikir bahwa kekuasaan tak akan pergi ke 
mana-mana, toh menurut tradisi politik yang berlaku, kekuasaan selalu jatuh ke 
tangan anak atau famili terdekat.  Asumsi Ali dan Fatimah bahwa kekuasaan ayah 
mereka akan jatuh ke tangan mereka terbukti keliru. Setelah upacara penguburan 
Nabi selesai, pengganti Nabi tetaplah Abu Bakar. Satu persatu kaum Muslim 
melakukan bay¡¯at (sumpah) kepada Abu Bakar sebagai pengganti Nabi (khalifah). 
Bashar bin Sa¡¯ad, pemimpin Suku Aws
 yang sempat berminat menggantikan Nabi, mengurungkan niatnya dan berbalik 
mendukung Abu Bakar. Dukungannya kepada Abu Bakar bukan karena dia suka kepada 
mertua Nabi itu, tapi karena rival beratnya, Sa¡¯ad bin Ubadah (pemimpin 
Khazraj) bisa berpeluang besar, jika kaum Anshar tidak mendukung Abu Bakar. 
Maka, terjadilah apa yang pernah terjadi dalam Pilkada DKI 2007, warga Jakarta 
memilih Fauzi Bowo bukan karena mereka suka dengan pria berkumis itu, tapi 
karena mereka tidak suka jika Jakarta dipimpin oleh calon yang didukung PKS.  
Tidak semua orang mendukung Abu Bakar menjadi pengganti Nabi.  Abu Bakar dan 
timnya (di antaranya Umar bin Khattab yang paling antusias) harus melakukan 
kampanye dari Jum¡¯at ke Jum¡¯at untuk meyakinkan kaum Muslim di Madinah bahwa 
dia layak menjadi pengganti Nabi. Bay¡¯at (sumpah setia) harus segera 
dikumpulkan agar Abu Bakar mendapatkan legitimasi dan lancar dalam mengeluarkan 
kebijakan-kebijakan politik. Sayangnya,
 bay¡¯at tidak diperoleh dengan mulus. Sebagian suku di Madinah (misalnya Banu 
Ghatafan dan Khawazin) menolak Abu Bakar dan tak bersedia memberikan bay¡¯at. 
Untuk menunjukkan perlawanan, mereka menolak membayar upeti (zakat), yang 
kemudian memicu apa yang dalam sejarah Islam dikenal dengan ¡±Perang Apostasi¡± 
(hurub al-riddah).  Yang mengejutkan adalah bahwa penolakan bay¡¯at bukan hanya 
dilakukan oleh sebagian suku Anshar, tapi juga beberapa tokoh Muhajirin. Ali 
bin Abi Thalib, menantu dan sepupu Nabi, juga tak bersedia melakukan bay¡¯at 
kepada Abu Bakar. Tentu saja, Ali bukanlah satu-satunya sahabat besar Nabi yang 
menolak Abu Bakar. Ada Sa¡¯ad bin Ubadah (perunding Saqifah dan pemimpin 
Khahzraj), yang sampai wafatnya tak mau memberikan bay¡¯at kepada Abu Bakar. 
Dia juga tak mau memberikan bay¡¯at kepada Umar bin Khattab, dan karena merasa 
nyawanya terancam, dia hijrah ke Suriah hingga meninggal di sana. Ada Hubab bin 
al-Mundzir,
 pahlawan dan ahli strategi yang mengantarkan kemenangan perang Badar. Demikian 
juga, ada al-Abbas, Salman Al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, dan Khuzaimah bin 
Tsabit; semua sahabat besar ini pada mulanya enggan memberikan bay¡¯at kepada 
Abu Bakar.  Ali baru memberikan bay¡¯atnya kepada Abu Bakar setelah enam bulan 
peristiwa Saqifah. Menurut Bukhari dan Muslim, Ali melakukan bay¡¯at setelah 
Fatimah, isteri tercintanya, meninggal. Tidak ada yang tahu pasti mengapa Ali 
kemudian memberikan bay¡¯atnya. Bagi para pengikutnya yang 25 tahun kemudian 
dikenal dengan sebutan ¡±pengikut Ali¡± (syi¡¯at Ali), bay¡¯at Ali dilakukan 
dalam keadaan terpaksa dan dalam tekanan situasi politik di Madinah ketika itu. 
Bagi mereka, Ali adalah pewaris yang sah dari kekuasaan yang ditinggalkan Nabi. 
Bukan hanya karena Ali merupakan isteri Fatimah, tapi menurut ¡±Syi¡¯at Ali,¡± 
karena Nabi telah mengumumkan di Ghadir Khum bahwa Ali adalah calon penggantinya
 kelak jika dia wafat.  Ghadir Khum adalah episode lain yang penting dalam 
sejarah Syi¡¯ah. Kaum Muslim dari kalangan Sunni dan Syi¡¯ah berbeda pendapat, 
bukan hanya apakah Nabi secara eksplisit memberikan wasiat kepada Ali di sana, 
tapi apakah peristiwa Ghadir Khum itu benar-benar ada. Ghadir Khum adalah 
sebuah lembah tempat para pesiar dan saudagar Mekah beristirahat dalam 
perjalanan panjang mereka ke Syam. Lokasinya persis berada di tengah-tengah, 
sekitar 180 Km jarak antara Mekah dan Madinah. (di Google Earth, lokasinya 
terletak di bujur ini: 22¡ã49¡ä30¡åN 39¡ã4¡ä30¡åE). Nabi dan para sahabatnya 
beristirahat di tempat itu dalam perjalanan dari Mekah usai menunaikan haji 
wada. Di tempat itulah Nabi diyakini memberikan khutbah dan wasiatnya soal 
siapa penggantinya kelak.  Para perawi Sunni (termasuk Bukhari dan Muslim) 
membenarkan bahwa Nabi pernah istirahat di situ dan¡ªtentu saja¡ªmemberikan 
khutbahnya. Namun, mereka menolak kalau
 isi khutbah Nabi secara eksplisit menyebutkan wasiat untuk Ali. Sebagaimana di 
tempat-tempat lain, Nabi selalu memberikan khutbah dan seperti juga 
kebiasaannya, beliau memuji sahabat-sahabatnya. Kadang memuji Abu Bakar, kadang 
memuji Bilal, kadang memuji Umar, dan kadang memuji Utsman. Nah, di Ghadir Khum 
itu, Nabi memuji Ali. Sebetulnya pujian biasa saja, yang sering ia lontarkan 
juga kepada para sahabatnya yang lain. Sanjungan itu adalah ucapan Nabi bahwa 
Ali adalah seorang pemimpin yang sama dengan dirinya (man kuntu mawlah, fa ali 
mawlah). Oleh para pengikut Ali, pernyataan Nabi ini kemudian ditafsirkan 
sebagai wasiat kepada kaum Muslim bahwa setelah Nabi meninggal nanti yang 
menjadi penggantinya adalah Ali.  Seperti Cak Nur yang kerap memuji orang, Nabi 
juga selalu memuji sahabat-sahabatnya. Suatu kali Nabi memuji Abu Bakar sebagai 
¡±pemimpin kaum Muslim di surga,¡± ¡±pintu surga akan memanggilnya untuk 
memasukinya,¡± dan ¡±orang Islam
 pertama yang akan masuk surga.¡± Nabi juga pernah memuji Umar dengan ungkapan 
yang terkenal ini: ¡±andaikata sesudahku ada Nabi, dialah Umar.¡± Di Ghadir 
Khum, yang mendapat pujian kebetulan adalah Ali. Orang-orang Sunni sama sekali 
tidak menganggap pernyataan Nabi itu sebagai sebuah wasiat. Nabi biasa memuji 
sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang unik dengan itu. Tapi, bagi para pengikut 
fanatik Ali, pernyataan Nabi itu adalah sebuah wasiat penting. Bahkan, Ghadir 
Khum adalah sebuah peristiwa besar, bukan hanya tempat. Ghadir Khum adalah 
sebuah perjanjian suci yang dilanggar, yang akibatnya memunculkan rangkaian 
peristiwa berdarah dalam tubuh umat Islam, dari pemberontakan terhadap Abu 
Bakar, pembunuhan Umar, pembunuhan Uthman, dan puncaknya pembunuhan Ali.  Dari 
perspektif politik, Ghadir Khum hanyalah sebuah justifikasi belakangan para 
pengikut Ali untuk mendukung suatu niat lebih besar yang sudah ada sejak awal: 
warisan kekuasaan. Menurut tradisi
 politik yang berlaku pada saat itu, tidak ada orang yang paling berhak untuk 
menggantikan Nabi kecuali Ali bin Abi Thalib. Tidak ada presedennya bahwa 
kekuasaan politik jatuh kepada sahabat terdekat atau kepada seorang mertua. 
Yang selalu terjadi adalah kekuasaan jatuh kepada adik atau anak. Nabi memiliki 
banyak anak dan mestinya salah satu anaknya yang paling berhak meneruskan 
kekuasaannya. Pun, jika anak-anaknya dianggap kurang layak, famili terdekatnya, 
yakni Ali, bisa menjadi kandidat kuat. Apalagi Ali bukan sekadar sepupu, tapi 
juga seorang menantu yang mengawini anak kesayangannya.  Syi¡¯ah adalah sebuah 
sekte Islam yang muncul karena dorongan politik. Kepemimpinan dinastik, yakni 
sistem pemerintahan turun-temurun, adalah obsesi tertingginya. Sejak awal, para 
pengikut Ali memproyeksikan keluarga Nabi (ahl al-bayt) sebagai poros dari 
kekuasaan yang mereka dukung. Buat mereka, setelah Nabi meninggal, orang yang 
paling berhak untuk mewarisi
 kekuasaan adalah anaknya, yakni Fatimah (kalaulah Nabi punya anak laki-laki, 
pastilah anak itu yang akan jadi kandidat kuat). Setelah Fatimah/Ali meninggal, 
kekuasaan politik harus turun kepada anak-cucunya. Karena alasan inilah mereka 
menolak Muawiyah bin Abi Sufyan yang pada saat itu menjadi kompetitor Ali 
paling kuat. Perang berdarah-darah yang dilakukan pengikut Ali kepada 
Mua¡¯wiyah dan anaknya (Yazid) adalah perang mempertahankan dinasti Ali. Pun, 
ketika Yazid berkuasa, bagi para pengikut Ali, pemimpin yang sah tetaplah anak 
Ali, yakni Hasan dan Husein.  Obsesi mempertahankan dinasti Ali terus tumbuh 
dalam diri pengikut fanatik Ali yang sejak tahun 661 M, disebut sebagai 
¡±Syi¡¯at Ali.¡± Setelah peristiwa Karbala yang oleh Ali Shari¡¯ati, salah 
seorang tokoh Syi¡¯ah modern, disamakan dengan peristiwa penyaliban Yesus, 
obsesi dinastik kaum Syi¡¯ah terus dipelihara. Pembunuhan Husein bukan berarti 
kematian dinasti Ali. Kaum Syi¡¯ah
 meneruskannya dengan ¡±raja virtual¡± yang mereka sebut ¡±imam.¡± Kekuasaannya 
pun diperluas, bukan hanya kekuasaan politik, tapi juga kekuasaan spiritual. 
Sejak Husein terbunuh, imamah menjadi fondasi penting dalam ajaran Syi¡¯ah. 
Ketika seseorang kalah di dunia, maka dia akan membaw-bawa akhirat untuk 
memperkuat dirinya. Persis seperti yang dikatakan Hamid Dabashi, sarjana Iran 
yang menulis banyak buku tentang Syi¡¯ah, kaum Syi¡¯ah mengidap gejala neurosis 
sejak pertama kali mereka kehilangan ¡±Yesus¡± mereka, yakni Husein bin Ali 
yang mati dimutilasi oleh Yazid bin Muawiyah.  Obsesi dinastik ini terus 
berkelanjutan. Apa yang tak bisa diwujudkan dalam kenyataan, diwujudkan dalam 
angan-angan. Dari sini, para pengikut fanatik Ali kemudian membangun konsep 
¡±imamah¡± yang lebih tepat disebut sebagai ¡±kerajaan virtual.¡± Setelah 
Husein wafat, kaum Syi¡¯ah menunjuk anaknya Husein, yakni Ali atau yang lebih 
dikenal dengan Zayn
 al-Abidin. Setelah Ali wafat, digantikan oleh puteranya, yakni Muhammad yang 
lebih dikenal dengan Muhammad al-Baqir. Kerajaan virtual ini terus berlangsung 
secara turun-temurun sampai pewaris ke-12, yakni: Muhammad bin Hasan bin Ali 
bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja¡¯far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin 
Ali bin Abi Thalib. Kesebelas orang ini plus Hasan bin Ali, menjadi ¡±raja¡± 
dalam dinasti yang dibangun oleh orang Syi¡¯ah. Mereka menyebutnya Syi¡¯ah 
Imamiyah atau Syi¡¯ah Istna Asyariah (Syi¡¯ah 12 Imam).  Sama seperti kerajaan 
atau sistem dinasti lainnya, ¡±kerajaan virtual¡± yang dibangun orang-orang 
Syi¡¯ah pun tidak maksum dari pertengkaran. Pada awal abad ke-8 M, pengikut 
Syi¡¯ah bertengkar siapa yang patut menggantikan Ali bin Husein. Satu kelompok 
meyakini bahwa Muhammad al-Baqir, anak tertua Ali yang patut menggantikan 
ayahnya. Tapi kelompok lain menganggap anak Ali yang lain, yakni Zayd, lebih 
cocok. Kelompok kedua
 ini kemudian memisahkan diri dan kelak disebut sebagai ¡±Syi¡¯ah Zaydiyah.¡± 
Sedangkan kelompok pertama disebut sebagai ¡±Syi¡¯ah Imamiyah.¡± Perpecahan ini 
masih berlanjut. Pada pertengahan abad ke-8, pertengkaran soal siapa yang layak 
menjadi pewaris kerajaan kembali mencuat. Satu kelompok menjagokan Ismail bin 
Ja¡¯far, sementara kelompok lain mendukung Musa bin Ja¡¯far. Kelompok pertama 
kemudian memisahkan diri dan membangun sekte independen yang disebut ¡±Syi¡¯ah 
Ismailiyah.¡±  Sejak berdiri, kaum Syi¡¯ah terobsesi membangun kekuasaan 
dinastik, bukan pemerintahan republik. Karena alasan inilah mereka menolak 
mengakui pemerintahan Abu Bakar, Umar, dan Uthman. Buat mereka, pemerintahan 
yang sah adalah pemerintahan turun-temurun, dari Nabi, ke Fatimah dan Ali, lalu 
ke anak-cucu mereka. Perjuangan orang-orang Syi¡¯ah menuai hasil pada awal abad 
ke-10 ketika salah seorang keturunan Husein, yakni Abdullah al-Mahdi, berhasil
 membangun sebuah kerajaan besar yang disebut Dinasti Fatimiyah. Dinasti 
Fatimiyah (909-1171) adalah pengikut sekte Syi¡¯ah Ismailiyah. Abdullah sendiri 
adalah keturunan kelima dari Ismail bin Ja¡¯far, pendiri sekte Ismailiyah. 
Sekte Imamiyah pada akhirnya juga mampu mendirikan kerajaan besar di Iran, 
yakni Dinasti Safawiyah (1501-1736). Dua dinasti ini, Fatimiyah dan Safawiyah 
merupakan kerajaan-kerajaan yang sukses dan menjadi salah satu mercusuar 
peradaban Islam.  Penutup  Sejak runtuhnya dinasti Safawiyah pada abad ke-18, 
tidak ada lagi kerajaan Syi¡¯ah yang muncul. Para pemeluk Syi¡¯ah lebih memilih 
menjadi rakyat yang dipimpin oleh orang non-Syi¡¯ah seperti yang terjadi di 
Iraq, Lebanon, dan Bahrain, atau oleh orang-orang Syi¡¯ah yang tak menganut 
ideologi politik ahlul bayt. Di Mesir, pengaruh Syi¡¯ah semakin hilang sejak 
dinasti Ayubiyah (1171-1341) mengambil alih kekuasaan dari tangan Fatimiyah. Di 
Iran, dinasti Usmaniyyah yang
 Sunni menguasai pemerintahan selama lebih dari satu abad yang kemudian 
diteruskan oleh dinasti Pahlevi (1925-1979) yang tak peduli dengan ideologi 
ahlul bayt. Ideologi Syi¡¯ah baru bangkit pada tahun 1980an, menyusul 
keberhasilan ¡±revolusi Islam¡± yang dipimpin Ayatullah Khomeini menumbangkan 
dinasti Pahlevi.  Tapi, seperti dikatakan Hamid Dabashi, teologi politik 
Syi¡¯ah tidak kompatibel dengan dunia modern. Sebagai sebuah agama, Syi¡¯ah 
sangat melankolis. Teologinya dibangun berdasarkan penderitaan dan kesedihan. 
Masa silamnya mencengkeram dan menghantui terus para pemeluknya yang kini hidup 
di dunia yang berbeda. Sikap seperti ini terus terbawa, bahkan ketika mereka 
berkuasa. Kata Dabashi, dendam dan semangat perlawanan selalu mendominasi 
kehidupan orang Syi¡¯ah, ¡±sejak Imam Husein di Karbala, Ayatullah Khomeini di 
Iran, Muqtada al-Sadr di Iraq, hingga Hassan Nasrallah di Lebanon¡­ Syi¡¯ah 
adalah mayoritas dengan kompleks

Kirim email ke