Asup ka "kelas penceloteh" yang ramai menanggapi sejenak tetapi ragu
bertindak. Mereka adalah kelas pencinta sinetron yang selalu mengejar
sensasi dan komedi.

 

Haha 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Waluya
Sent: Monday, June 11, 2012 11:39 AM
To: [email protected]
Subject: [kisunda] Fw: Beuki Konsumtif, Beuki Konservatif

 

  

Panganteur: Kompas tgl 8 Juni 2012, nurunkeun artikel hasil survei Litbang
Kompas perkara Kelas Menengah Indonesia. Saha kelas menengah Indonesia teh?
Sigana kaasup urang-urang di ieu millis. Jadi hasil survei kompas ieu,
lumayan keur "ngeunteung". Hanjakal artikel dina versi digitalna teu
dilengkepan ku hasil surveina, ayana di Kompas cetak. Ku kuring disalin
sabagian hasil surveina kumaha konservatifna kelas menengah Indonesia
ayeuna:

1. 69.6% responden berpendapat masalah pornografi harus diatur undang-undang
2. 65.8% responden berpendapat Agama seharusnya menjadi prinsip yang
melandasi negara Indonesia
3. 73.8% responden berpendapat pelarangan aliran Ahmadiyah di Indonesia
tindakan yang tepat
4. 77.1% responden berpendapat Organisasi massa atau partai yang berhaluan
kiri sebaiknya dilarang di Indonesia
5. 52.6% responden berpendapat laki-laki lebih mampu menjadi pemimpin
negara.

Artikelna:

SOSOK KELAS MENENGAH
Makin Konsumtif, Makin Konservatif

Oleh BAMBANG SETIAWAN

Kelas menengah Indonesia saat ini merupakan lapisan masyarakat yang gigih
mengejar identitas kelas lewat gaya hidup, tetapi konservatif dalam ideologi
dan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap peran negara. 

Kebangkitan kelas menengah dalam politik sempat menjadi kalimat penanda
ketika Soeharto berhasil ditumbangkan dari tampuk kekuasaannya lewat
demonstrasi besar tahun 1998. Terlebih, ketika demokrasi liberal kemudian
diterapkan di Indonesia dengan pemilihan umum yang bebas tahun 1999, lalu
diikuti pemilu langsung anggota parlemen dan presiden sejak tahun 2004, dan
berikutnya pemilihan kepala daerah secara langsung sejak tahun 2005.
Pengadopsian demokrasi dengan menerapkan prosedur-prosedur yang menjamin
kebebasan memilih seolah menggambarkan pesatnya perubahan ideologi kelas
menengah dari konservatif menjadi liberal.

Namun, 14 tahun setelah reformasi, pertanyaan sebaliknya justru layak
diajukan. Apa yang terjadi dengan kelas menengah kita saat ini? Di tengah
ketegangan sosial yang memburuk dan banyaknya pejabat yang korup, kelas
menengah lebih suka antre mengejar diskon telepon genggam merek Blackberry
daripada membentuk barisan menegakkan pilar demokrasi.

Survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April 2012 memperlihatkan,
semakin tinggi kelas sosial, semakin banyak mereka mengoleksi semua ornamen
dan aktivitas gaya hidup. Di satu sisi, masyarakat berlomba menaikkan citra
kelasnya dengan berusaha mengadopsi gaya hidup konsumerisme. Di sisi lain,
mereka cenderung menanggalkan nilai-nilai demokrasi dan kembali menarik
bandul politik ke arah otoritarianisme.

Membandingkan kelas menengah saat ini dengan hasil survei sejenis yang
pernah dilakukan Litbang Kompas tahun 1997, gambaran yang tertangkap sungguh
mengejutkan. Pada survei yang dilakukan setahun menjelang kejatuhan Soeharto
tersebut, gambaran tentang demokrasi begitu menggembirakan. Semua kelas,
termasuk kelas menengah, cenderung memandang pentingnya demokrasi.

Namun, sekarang gambaran yang tertangkap adalah masyarakat yang
antidemokrasi yang mengharapkan negara lebih berperan dalam mengendalikan
"keliaran" demokrasi. Tirani mayoritas tumbuh subur di semua kelas,
mengesampingkan minoritas.

Kecenderungan melakukan simplifikasi nilai demokrasi dengan hanya berpegang
pada makna "mayoritas" menang melawan "minoritas" ekuivalen dengan
perkembangan yang terjadi sejak reformasi bergulir hingga hari ini.
Masyarakat, termasuk kelas menengah, kian tak peduli terhadap orang-orang
yang termarjinalkan, minoritas yang tersingkirkan dalam tata kehidupan
kenegaraan. Terhadap penganut Ahmadiyah yang dikejar-kejar dan dimusnahkan,
mereka cenderung tidak ambil pusing. Mereka lebih suka berlindung aman di
balik ideologi "mainstream".

Kelas menengah merupakan strata sosial dengan anggota terbesar saat ini yang
terbentuk oleh mobilitas ke atas yang cukup besar, yakni berupa naiknya
status sosial sejumlah orang yang tadinya berasal dari kelas bawah menjadi
kelas menengah. Komposisinya juga dilengkapi oleh turunnya sejumlah orang
dari kalangan atas dan menengah atas ke kelompok menengah.

Kelas menengah mencerminkan sebuah strata yang secara sosial ekonomi belum
cukup kuat. Mereka dicirikan oleh rata-rata pendidikannya yang setingkat SMA
dengan penghasilan sekitar Rp 1,9 juta dan pengeluaran Rp 750.000-Rp 1,9
juta per bulan.

Mereka juga dicirikan oleh luasnya variasi pekerjaan, mulai dari wirausaha
perseorangan, pedagang, pegawai negeri rendahan, pegawai swasta setingkat
supervisor dan karyawan biasa, serta mereka yang memilih profesi sebagai ibu
rumah tangga, pelajar/mahasiswa, dan pensiunan. Jumlah mereka diperkirakan
berada di kisaran 50 persen dari jumlah penduduk perkotaan yang disurvei.

Kelas menengah juga dicirikan sebagai kelas yang mulai melek teknologi dan
lebih banyak pergi ke mal dibandingkan dengan kelas bawah. Mereka memiliki
waktu luang lebih banyak dibandingkan dengan kelas menengah atas. Rata-rata
pencari nafkah dari kelas ini bekerja 8 jam per hari, sedangkan kelas
menengah atas bekerja 10 jam sehari.

Meskipun memiliki kecenderungan mengejar materi dan berusaha tampil modis
demi mempertahankan identitas kelasnya, sesungguhnya kelas menengah lebih
menampakkan gambaran psikologis tipe pemeluk teguh (believer) yang
konvensional, memiliki kepercayaan tebal pada tradisi dan nilai-nilai
keluarga, agama, masyarakat, serta kehidupan bernegara.

Kelas ini cenderung tidak berani mencoba sesuatu yang baru tanpa melihat
terlebih dahulu bagaimana kelompok menengah ke atas melakukannya. Demikian
juga dalam pembelian barang-barang, mereka cenderung memakai merek-merek
yang sudah terkenal, dan baru mau coba-coba setelah betul-betul yakin banyak
yang memakainya.

Gila karier

Sifat-sifat progresif dan keinginan untuk meraih kemajuan baru muncul di
kelas menengah atas, tetapi sayangnya jumlahnya masih terlalu sedikit untuk
dapat menjadi kekuatan pendorong perubahan sosial. Kelas menengah atas-lah
yang sesungguhnya memiliki ciri-ciri paling menonjol dari sebuah kelas yang
jauh berbeda dibanding kelas bawah, dan memiliki karakter khusus yang dapat
dibedakan dengan kelas-kelas lainnya.

Kelas ini jumlahnya 1,7-5,5 persen, dan memiliki gaya hidup lebih mewah,
menikmati kemakmuran setelah berjuang keras. Mereka adalah para pemilik
usaha dengan jumlah karyawan 1-10 orang, para manajer, atau pegawai swasta
setingkat supervisor tetapi bergaji besar. Pendidikan mereka rata-rata
setingkat sarjana dan memiliki dorongan untuk selalu maju dalam karier.

Rata-rata kelas menengah atas termasuk ke dalam kelompok "gila karier"
(achiever). Tipe ini dicirikan oleh keinginan yang kuat untuk meraih
kemajuan, berorientasi pada hasil, dan memiliki komitmen yang tinggi
terhadap keluarga. Dengan kemauan dan kebutuhan yang besar, mereka aktif
berada di pasar barang-barang konsumsi kualitas atas. Bagi mereka, citra
adalah penting sehingga kelas ini cenderung menyukai barang-barang yang
dapat mengangkat prestise, dan menyenangi variasi dalam penggunaan waktu
luangnya.

Kelompok profesional muda dari kelas menengah atas yang berusia di bawah 30
tahun menjadi pengunjung paling aktif pusat perbelanjaan. Mereka mendatangi
mal beberapa kali dalam seminggu.

Sementara itu, kelas menengah atas yang berusia 46-55 tahun turut andil
dalam menyumbang kemacetan di jalur-jalur wisata. Mereka menikmati hidup
dengan rekreasi ke luar kota beberapa kali dalam sebulan. Kelompok usia ini
pula yang paling banyak membaca koran setiap hari dengan cara berlangganan.
Sebaliknya, kelompok muda 22 tahun ke bawah dari kelas ini hampir-hampir
tidak suka mencari informasi dari televisi, tetapi mereka sangat aktif
menelusurinya melalui internet.

Meskipun tampak menikmati kemewahan hidup dan rakus dalam mengonsumsi
barang-barang penunjang gaya hidup kelas atas, pandangan politik kelas
menengah dan menengah atas cenderung konservatif, menghargai otoritas dan
"status quo". Terhadap berbagai permasalahan bangsa, mereka kritis menilai
baik atau buruknya keadaan, tetapi belum tergerak untuk mengorganisasi diri
untuk mengubahnya.

Kelas menengah dan menengah atas lebih menggantungkan harapan kepada
kewenangan negara untuk memperbaiki apa yang buruk, mengambil jarak dengan
problem-problem sosial, dan menempatkan dirinya sebagai "penonton" berbagai
peristiwa.

Kedua kelas ini hanya sebatas sebagai "kelas penceloteh" yang ramai
menanggapi sejenak tetapi ragu bertindak. Mereka adalah kelas pencinta
sinetron yang selalu mengejar sensasi dan komedi. (Litbang Kompas) 

http://nasional.kompas.com/read/2012/06/08/02212693/Makin.Konsumtif.Makin.Ko
nservatif 



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke