Panganteur: Kompas tgl 8 Juni 2012, nurunkeun artikel hasil survei Litbang 
Kompas perkara Kelas Menengah Indonesia. Saha kelas menengah Indonesia teh? 
Sigana kaasup urang-urang di ieu millis. Jadi hasil survei kompas ieu, lumayan 
keur "ngeunteung". Hanjakal artikel dina versi digitalna teu dilengkepan ku 
hasil surveina, ayana di Kompas cetak. Ku kuring disalin sabagian hasil 
surveina kumaha konservatifna kelas menengah Indonesia ayeuna:

1. 69.6% responden berpendapat masalah pornografi harus diatur undang-undang
2. 65.8% responden berpendapat Agama seharusnya menjadi prinsip yang melandasi 
negara Indonesia
3. 73.8% responden berpendapat pelarangan aliran Ahmadiyah di Indonesia 
tindakan yang tepat
4. 77.1% responden berpendapat Organisasi massa atau partai yang berhaluan kiri 
sebaiknya dilarang di Indonesia
5. 52.6% responden berpendapat laki-laki lebih mampu menjadi pemimpin negara.

Artikelna:

SOSOK KELAS MENENGAH
Makin Konsumtif, Makin Konservatif

Oleh BAMBANG SETIAWAN

Kelas menengah Indonesia saat ini merupakan lapisan masyarakat yang gigih 
mengejar identitas kelas lewat gaya hidup, tetapi konservatif dalam ideologi 
dan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap peran negara. 

Kebangkitan kelas menengah dalam politik sempat menjadi kalimat penanda ketika 
Soeharto berhasil ditumbangkan dari tampuk kekuasaannya lewat demonstrasi besar 
tahun 1998. Terlebih, ketika demokrasi liberal kemudian diterapkan di Indonesia 
dengan pemilihan umum yang bebas tahun 1999, lalu diikuti pemilu langsung 
anggota parlemen dan presiden sejak tahun 2004, dan berikutnya pemilihan kepala 
daerah secara langsung sejak tahun 2005. Pengadopsian demokrasi dengan 
menerapkan prosedur-prosedur yang menjamin kebebasan memilih seolah 
menggambarkan pesatnya perubahan ideologi kelas menengah dari konservatif 
menjadi liberal.

Namun, 14 tahun setelah reformasi, pertanyaan sebaliknya justru layak diajukan. 
Apa yang terjadi dengan kelas menengah kita saat ini? Di tengah ketegangan 
sosial yang memburuk dan banyaknya pejabat yang korup, kelas menengah lebih 
suka antre mengejar diskon telepon genggam merek Blackberry daripada membentuk 
barisan menegakkan pilar demokrasi.

Survei Litbang Kompas yang dilakukan Maret-April 2012 memperlihatkan, semakin 
tinggi kelas sosial, semakin banyak mereka mengoleksi semua ornamen dan 
aktivitas gaya hidup. Di satu sisi, masyarakat berlomba menaikkan citra 
kelasnya dengan berusaha mengadopsi gaya hidup konsumerisme. Di sisi lain, 
mereka cenderung menanggalkan nilai-nilai demokrasi dan kembali menarik bandul 
politik ke arah otoritarianisme.

Membandingkan kelas menengah saat ini dengan hasil survei sejenis yang pernah 
dilakukan Litbang Kompas tahun 1997, gambaran yang tertangkap sungguh 
mengejutkan. Pada survei yang dilakukan setahun menjelang kejatuhan Soeharto 
tersebut, gambaran tentang demokrasi begitu menggembirakan. Semua kelas, 
termasuk kelas menengah, cenderung memandang pentingnya demokrasi.

Namun, sekarang gambaran yang tertangkap adalah masyarakat yang antidemokrasi 
yang mengharapkan negara lebih berperan dalam mengendalikan "keliaran" 
demokrasi. Tirani mayoritas tumbuh subur di semua kelas, mengesampingkan 
minoritas.

Kecenderungan melakukan simplifikasi nilai demokrasi dengan hanya berpegang 
pada makna "mayoritas" menang melawan "minoritas" ekuivalen dengan perkembangan 
yang terjadi sejak reformasi bergulir hingga hari ini. Masyarakat, termasuk 
kelas menengah, kian tak peduli terhadap orang-orang yang termarjinalkan, 
minoritas yang tersingkirkan dalam tata kehidupan kenegaraan. Terhadap penganut 
Ahmadiyah yang dikejar-kejar dan dimusnahkan, mereka cenderung tidak ambil 
pusing. Mereka lebih suka berlindung aman di balik ideologi "mainstream".

Kelas menengah merupakan strata sosial dengan anggota terbesar saat ini yang 
terbentuk oleh mobilitas ke atas yang cukup besar, yakni berupa naiknya status 
sosial sejumlah orang yang tadinya berasal dari kelas bawah menjadi kelas 
menengah. Komposisinya juga dilengkapi oleh turunnya sejumlah orang dari 
kalangan atas dan menengah atas ke kelompok menengah.

Kelas menengah mencerminkan sebuah strata yang secara sosial ekonomi belum 
cukup kuat. Mereka dicirikan oleh rata-rata pendidikannya yang setingkat SMA 
dengan penghasilan sekitar Rp 1,9 juta dan pengeluaran Rp 750.000-Rp 1,9 juta 
per bulan.

Mereka juga dicirikan oleh luasnya variasi pekerjaan, mulai dari wirausaha 
perseorangan, pedagang, pegawai negeri rendahan, pegawai swasta setingkat 
supervisor dan karyawan biasa, serta mereka yang memilih profesi sebagai ibu 
rumah tangga, pelajar/mahasiswa, dan pensiunan. Jumlah mereka diperkirakan 
berada di kisaran 50 persen dari jumlah penduduk perkotaan yang disurvei.

Kelas menengah juga dicirikan sebagai kelas yang mulai melek teknologi dan 
lebih banyak pergi ke mal dibandingkan dengan kelas bawah. Mereka memiliki 
waktu luang lebih banyak dibandingkan dengan kelas menengah atas. Rata-rata 
pencari nafkah dari kelas ini bekerja 8 jam per hari, sedangkan kelas menengah 
atas bekerja 10 jam sehari.

Meskipun memiliki kecenderungan mengejar materi dan berusaha tampil modis demi 
mempertahankan identitas kelasnya, sesungguhnya kelas menengah lebih 
menampakkan gambaran psikologis tipe pemeluk teguh (believer) yang 
konvensional, memiliki kepercayaan tebal pada tradisi dan nilai-nilai keluarga, 
agama, masyarakat, serta kehidupan bernegara.

Kelas ini cenderung tidak berani mencoba sesuatu yang baru tanpa melihat 
terlebih dahulu bagaimana kelompok menengah ke atas melakukannya. Demikian juga 
dalam pembelian barang-barang, mereka cenderung memakai merek-merek yang sudah 
terkenal, dan baru mau coba-coba setelah betul-betul yakin banyak yang 
memakainya.

Gila karier

Sifat-sifat progresif dan keinginan untuk meraih kemajuan baru muncul di kelas 
menengah atas, tetapi sayangnya jumlahnya masih terlalu sedikit untuk dapat 
menjadi kekuatan pendorong perubahan sosial. Kelas menengah atas-lah yang 
sesungguhnya memiliki ciri-ciri paling menonjol dari sebuah kelas yang jauh 
berbeda dibanding kelas bawah, dan memiliki karakter khusus yang dapat 
dibedakan dengan kelas-kelas lainnya.

Kelas ini jumlahnya 1,7-5,5 persen, dan memiliki gaya hidup lebih mewah, 
menikmati kemakmuran setelah berjuang keras. Mereka adalah para pemilik usaha 
dengan jumlah karyawan 1-10 orang, para manajer, atau pegawai swasta setingkat 
supervisor tetapi bergaji besar. Pendidikan mereka rata-rata setingkat sarjana 
dan memiliki dorongan untuk selalu maju dalam karier.

Rata-rata kelas menengah atas termasuk ke dalam kelompok "gila karier" 
(achiever). Tipe ini dicirikan oleh keinginan yang kuat untuk meraih kemajuan, 
berorientasi pada hasil, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap keluarga. 
Dengan kemauan dan kebutuhan yang besar, mereka aktif berada di pasar 
barang-barang konsumsi kualitas atas. Bagi mereka, citra adalah penting 
sehingga kelas ini cenderung menyukai barang-barang yang dapat mengangkat 
prestise, dan menyenangi variasi dalam penggunaan waktu luangnya.

Kelompok profesional muda dari kelas menengah atas yang berusia di bawah 30 
tahun menjadi pengunjung paling aktif pusat perbelanjaan. Mereka mendatangi mal 
beberapa kali dalam seminggu.

Sementara itu, kelas menengah atas yang berusia 46-55 tahun turut andil dalam 
menyumbang kemacetan di jalur-jalur wisata. Mereka menikmati hidup dengan 
rekreasi ke luar kota beberapa kali dalam sebulan. Kelompok usia ini pula yang 
paling banyak membaca koran setiap hari dengan cara berlangganan. Sebaliknya, 
kelompok muda 22 tahun ke bawah dari kelas ini hampir-hampir tidak suka mencari 
informasi dari televisi, tetapi mereka sangat aktif menelusurinya melalui 
internet.

Meskipun tampak menikmati kemewahan hidup dan rakus dalam mengonsumsi 
barang-barang penunjang gaya hidup kelas atas, pandangan politik kelas menengah 
dan menengah atas cenderung konservatif, menghargai otoritas dan "status quo". 
Terhadap berbagai permasalahan bangsa, mereka kritis menilai baik atau buruknya 
keadaan, tetapi belum tergerak untuk mengorganisasi diri untuk mengubahnya.

Kelas menengah dan menengah atas lebih menggantungkan harapan kepada kewenangan 
negara untuk memperbaiki apa yang buruk, mengambil jarak dengan problem-problem 
sosial, dan menempatkan dirinya sebagai "penonton" berbagai peristiwa.

Kedua kelas ini hanya sebatas sebagai "kelas penceloteh" yang ramai menanggapi 
sejenak tetapi ragu bertindak. Mereka adalah kelas pencinta sinetron yang 
selalu mengejar sensasi dan komedi. (Litbang Kompas) 

http://nasional.kompas.com/read/2012/06/08/02212693/Makin.Konsumtif.Makin.Konservatif
 



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke