http://nasional.kompas.com/read/2012/06/13/06504850/Saya.Dipaksa.Ngaku.sebagai.Pencopet

Saya Dipaksa Ngaku sebagai Pencopet

Mulyana (5) menggelendot manja ke tubuh bapaknya, Jumhani (35), yang
sedang duduk di balai-balai bambu sebuah rumah di Kampung Juhut, Desa
Padasuka, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (12/6/2012).
Anak itu seolah ingin memuaskan rasa rindu kepada bapaknya yang sempat
”menghilang” selama sembilan hari, dari 30 Mei hingga 7 Juni 2012.

Dalam kurun waktu tersebut, Jumhani yang sehari-hari menjadi penjaja
gorengan di Kota Cilegon, Banten, harus merasakan pengalaman yang
menyakitkan raga dan menyedihkan hatinya. Dia dipaksa mengaku sebagai
pencopet oleh oknum polisi dari Kepolisian Resor (Polres) Serang.

Jumhani berkisah, Rabu (30/5/2012) sekitar pukul 14.00, dia berada di
Stasiun Cilegon menunggu kedatangan kereta dari arah Stasiun Merak
menuju Stasiun Besar Rangkasbitung, Lebak. Saat itu dia hendak pulang
ke rumahnya di Lebak.

Selama ini Jumhani terbiasa pulang ke rumah tujuh hingga 10 hari
sekali, membawa hasil berjualan gorengan di Cilegon kepada keluarganya
di Juhut.

Begitu kereta tiba di Stasiun Cilegon, suami dari Siti Mumun Munawarah
(22) itu segera naik dan duduk dekat pintu kereta. Semua berlangsung
biasa seperti selama ini dia pulang ke rumah.

Namun, begitu kereta berhenti sebentar di Stasiun Serang, tiba-tiba
ada dua petugas berpakaian preman yang menyergap, menarik, dan
memintanya turun. Jumhani sempat meronta, tetapi dia tetap saja
ditarik dan dimasukkan ke sebuah mobil.

”Di dalam mobil saya ditanya-tanya, disuruh mengaku copet. Sambil
mobil terus jalan, saya juga dipukuli, bahkan disetrum dua kali di
telinga pakai alat semacam penjepit yang ada kabelnya,” kata Jumhani.

Matanya pun kemudian ditutup dan dirinya diancam akan dibuang ke laut.
”Enggak kuat menahan siksaan, saya terpaksa mengaku. Duit Rp 1,3 juta
di dompet hasil usaha jualan dari keringat sendiri, KTP, dan HP saya
juga diambil,” katanya.

Setelah berputar-putar, mobil yang membawa Jumhani pun sore itu tiba
di Markas Polres Serang. Jumhani kemudian dimasukkan ke ruangan.
Tangannya diborgol. ”Selama sembilan hari di sana saya kadang
ditanya-tanya. Kadang ada saja yang memukul meski tidak seberat
seperti waktu di mobil,” kata Jumhani yang mengaku sangat ingat
wajah-wajah para petugas.

Selama berada di sana, dia meminta agar dapat menghubungi keluarganya.
Dia memohon kepada seorang petugas untuk meneleponkan nomor yang dia
berikan kalaupun dia tidak boleh menelepon sendiri. ”Namun, tetap
enggak dikasih sampai saya sudah mau pulang,” katanya.

Keluarga panik

Tidak adanya pemberitahuan itu membikin panik keluarga dan kerabat
Jumhani di Juhut. Begitu kehilangan kontak, Rubai, seorang teman masa
kecil Jumhani di Juhut, berikhtiar menanyakan kepada pihak Stasiun
Besar Rangkasbitung.

Rubai mencari tahu kemungkinan adanya penumpang yang ketinggalan di
kereta. ”Mereka juga ikut membantu kontak-kontak. Namun, ternyata dari
Stasiun Kota (Jakarta) sampai Stasiun Merak pada hari-hari itu tidak
ada kejadian orang tertinggal di kereta,” katanya.

Keluarga dan tetangga terus mencari ke arah lain dengan berbagai cara.
Meski tanpa kabar pasti, setiap malam keluarga tetap menggelar
pengajian di rumah Jumhani.

Mereka terus mencermati setiap kabar, termasuk ketika ada orang
linglung di suatu tempat. Bahkan, Sabtu (2/6/2012) pagi, Rubai dan
teman-temannya mengendarai delapan sepeda motor untuk mencari
keberadaan Jumhani begitu mendengar ditemukan karung berisi bangkai di
Cibeureum yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Juhut. ”Setelah kami
datangi, ternyata itu bangkai kambing. Kami saat itu sama sekali tidak
tahu di mana Jumhani berada,” katanya.

Isak tangis Siti Mumun Munawarah mengisi hari-hari tanpa kejelasan
nasib suaminya tersebut. ”Anak saya yang masih kecil kadang melamun,”
kata Siti dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya, Kamis (7/6/2012), Jumhani diperbolehkan pulang. Jumhani
menuturkan, dirinya sore itu diantar ke Stasiun Serang dalam kondisi
tanpa uang sepeser pun. Dia pun menumpang kereta untuk kembali ke
kontrakannya di Cilegon.

”Saya bertekad kalau ketemu kondektur di atas kereta saya akan bilang
mau numpang karena benar-benar enggak bawa uang. Pakaian pun dekil
karena belum sempat ganti dan juga enggak pakai alas kaki,” katanya.

Jumhani kemudian mengabari keluarganya di Juhut yang malam itu juga
segera menjemputnya. Senin (11/6/2012), Jumhani diantar keluarga dan
kerabatnya melaporkan kekejian yang dilakukan oleh oknum polisi Polres
Serang ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Kepolisian Daerah
Banten. Mereka meminta pihak Polda Banten menindak tegas oknum petugas
yang menangkap dan menganiaya Jumhani.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Banten Ajun Komisaris Besar
Gunawan, Selasa malam, menuturkan, polisi akan memproses laporan dari
Jumhani. ”Saat ini sedang dalam proses di Propam Polda Banten,
termasuk menyelidiki siapa anggota yang dilaporkan warga tersebut,”
katanya.

Kepala Bagian Operasional Polres Serang Komisaris Yudhis Wibisana
mengatakan, pihaknya menunggu proses dari Propam Polda Banten. ”Kalau
ada warga yang melaporkan seperti itu, ya, akan kami tunggu prosesnya
dari Propam. Karena nanti dari Propam, kan, akan dipanggil
saksi-saksinya,” kata Yudhis.


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke