Aya tulisan nu alus pisan. ngan hampura teu disundakeun..

Meredefinisi Kekayaan Sejati
Jurnal Nasional | Selasa, 19 Jun 2012
Ahmad Nurullah
Satrio Wahono
Magister Filsafat UI

DI TENGAH krisis ekonomi yang masih telak menghantam begitu banyak negara, dari 
Amerika hingga Uni Eropa, ada satu pelajaran menarik. Yaitu, negara-negara 
berpenghasilan besar--termasuk penduduk mereka--ternyata tak bisa dibilang 
kaya. Sebaliknya, krisis ekonomi kini justru membuat banyak warga mereka 
pengangguran dan jatuh miskin alias melarat.

Artinya, penghasilan mereka yang tergolong “besar‘ itu ternyata tidak 
berbanding lurus dengan apa yang kita sebut sebagai “kekayaan‘. Dengan kata 
lain, krisis ekonomi global telah meredefinisi atau mendefinisikan ulang makna 
dari konsep “kekayaan sejati‘. Ini diperkuat banyak studi yang menunjukkan 
bahwa orang-orang berpenghasilan paling banyak tidak mesti yang paling kaya. 
Sebab, kekayaan riil sejatinya dilihat dari neraca keuangan--aset dikurangi 
utang--, bukan laporan penghasilan.
Salah satu studi menarik itu misalnya temuan Thomas J Stanley dalam The 
Millionnaire Next Door (2004). Dalam buku itu, Stanley mengemukakan bahwa 
sebagian besar jutawan tidaklah mengendarai Lexus, memakai Rolex, memiliki 
rumah mewah, dan menjadi anggota janapada (country club) eksklusif. Hanya 
segelintir jutawan, itu pun yang memiliki harta bersih US$10 juta atau lebih, 
yang melakukan itu.

Sebaliknya, mayoritas jutawan alias orang dengan harta bersih minimal US$1 juta 
menjalani gaya hidup yang sepenuhnya berbeda. Sebagai contoh, mayoritas jutawan 
ini tidak punya rumah lebih dari satu, tidak punya perahu yacht, cenderung 
mengendarai Toyota ketimbang BMW atau Jaguar, dan membelanjakan hanya sedikit 
uang untuk merek-merek bergengsi dan mewah yang sekadar menonjolkan prestise.

Karena Berlagak Kaya

Mengapa begitu banyak barang mewah berseliweran di negara-negara kaya itu, 
padahal gaya hidup para jutawannya secara umum adalah moderat alias tidak 
berlebihan? Jawabannya sederhana: karena ada pembelinya. Merekalah orang-orang 
yang ternyata diketahui bertingkah kaya dan masih dalam taraf ingin kaya, tapi 
sebenarnya tidak kaya. Lugasnya lagi, mereka adalah orang-orang yang berlagak 
kaya.

Sejatinya, mereka adalah orang terdidik, berprofesi mapan, dan berpenghasilan 
tinggi. Namun dari segi neraca keuangan, mereka bukanlah orang kaya. Sebab, 
nyaris mustahil bagi sebagian besar pekerja--bahkan mereka yang bergaji 
tinggi--untuk berbelanja barang konsumsi secara berlebihan dan menabung banyak 
uang. Padahal, menabung adalah prasyarat kunci dan utama dalam berinvestasi.

Alhasil, terjadilah besar pasak daripada tiang (overspending) yang mewujud 
dalam bentuk pembiayaan pembelian lewat utang, utamanya utang mudah berbunga 
tinggi, seperti: kartu kredit dan kredit tanpa agunan (KTA). Tanpa disadari, 
inilah benih-benih bom waktu yang hasil menggemparkannya siap dituai dalam 
jangka menengah dan panjang. Yaitu, spiral utang yang tak mampu terbayarkan 
sehingga memerosotkan pertumbuhan, membangkrutkan banyak perusahaan, 
menciptakan pengangguran, meningkatkan kemiskinan, dan meluluhlantakkan 
perekonomian. Pendek kata, bom waktu yang membuahkan gempa finansial.

Maka itu, pangkal krisis ekonomi di berbagai negara besar itu sebenarnya adalah 
sikap konsumtif berlebihan akibat kepercayaan diri rendah (low self-esteem) 
dalam diri para konsumen. Maksudnya, para pembelanja itu meyakini adagium 
periklanan klasik, “Anda adalah apa yang Anda beli‘, sehingga konsumen merasa 
perlu berbelanja lebih rakus dan memamerkan produk-produk bergengsi serta 
bermerek lebih banyak ketimbang orang lain. Tujuannya, supaya mereka bisa 
tampil istimewa, memesona, dan tampak sukses di depan khalayak banyak. Buah 
dari pola pikir seperti ini adalah mereka beranggapan bahwa orang-orang yang 
tidak memiliki merek-merek bergengsi bukanlah pribadi sukses.

Padahal, di sisi lain, para jutawan (multimillionaire) memiliki resep berbeda 
dalam mengumpulkan harta. Sebagian besar mereka mendapatkan kekayaan bukan dari 
menang undian atau mendapatkan warisan. Melainkan, dari ketekunan dan kesabaran 
mereka dalam memaksimalkan penghasilan, meminimalkan pengeluaran, giat 
menabung, dan aktif berinvestasi. Singkat kata, para jutawan itu bukan 
pembelanja yang berlebihan.

Resep Jutawan Sejati

Lihat saja, survei Stanley dalam bukunya yang lain, The Millionnaire Mind 
(2000), menunjukkan kebiasaan-kebiasaan umum para jutawan adalah bersosialisasi 
dengan anak-cucu (95 persen), merencanakan investasi (94 persen), menjamu teman 
dekat (87 persen), mengunjungi museum (83 persen), menggalang dana amal (75 
persen), menonton pertandingan olahraga (69 persen), berpartisipasi dalam 
kegiatan-kegiatan warga (69 persen), mempelajari kesenian (63 persen), 
berpartisipasi dalam kegiatan asosiasi dagang/profesi (56 persen), berkebun (55 
persen), mengikuti kegiatan keagamaan (52 persen), jogging/berolahraga (48 
persen), dan mengikuti kuliah atau kursus (44 persen)

Selain itu, mereka tidak pelit, apalagi soal mendidik anak atau menyumbang 
untuk tujuan-tujuan mulia. Menurut Badan Pajak Amerika (Internal Revenue 
Service/IRS), 1 persen teratas peraih penghasilan terbesar di Amerika membayar 
37 persen dari seluruh rekening pajak penghasilan negara. Lima persen teratas 
membayar 57 persen, sementara 10 persen teratas membayar 68 persen.

Jadi, resep sejati para jutawan bisa diperas menjadi empat kata kunci: 
frugalitas (sikap hemat), kesederhanaan, kematangan budaya, dan kedermawanan. 
Para jutawan adalah para penabung dan investor penuh disiplin, penuh rasa 
syukur atas penghasilan mereka, dan hidup bahkan di bawah standar kebutuhan 
mereka sendiri.

Orang-orang ini tidak terdorong oleh sikap hidup konsumtif. Mereka justru lebih 
terdorong oleh prestasi pribadi, hasil kerja keras, pengakuan, manfaat mereka 
bagi orang lain, dan keberhasilan generasi penerus atau anak-anak mereka. 
Singkat kata, cara kita membelanjakan diri kitalah, dan bukan membelanjakan 
uang, yang membuat kita menjadi jutawan sejati tanpa perlu mengorbankan 
pertumbuhan ekonomi.

Sungguh suatu pelajaran yang patut diteladani oleh kita yang hidup di negeri 
yang masih marak dengan korupsi tapi penuh dengan manusia yang gemar memamerkan 
pernak-pernik materi. Sekaligus, peringatan bahwa jika kita di Indonesia tidak 
waspada, barangkali giliran kita yang bakal menderita lebih parah di kemudian 
hari. Karena itu, mari kita praktikkan bersama-sama redefinisi konsep kekayaan 
sejati ini!

Kirim email ke