Kang Zen jigana mah dugi rek datangna kiamat oge bakal terus aya anu ngewa ka Syiah teh...
 
=> http://www.kompasiana.com/ahsa


Dari: Mohammad zen <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Dikirim: Selasa, 14 Agustus 2012 2:17
Judul: Re: Bls: [kisunda] Fwd: FW: Syiah dan Ukhuwah ? (pernyataan tokoh --syiah)

anu kadua tulisan ini tidak saya temukan di website Nu,
dan sedikit mengandung fitnahan:
1. Syiah tidak mencela para sahabat, kecuali muawiyah dan yazid sudah jelas
adapun masalah buku2 kajian seperti dialog suni syiah itu adalah bukti sejarah untuk kajian ilmiah bukan celaan
2. kandungan hadits yg dilontarkan syiah dengan kitab2 suni itu benar2 maknnya, tidak diselewengkan, sebab bukti sejarah dan kebenaran ada pada kedua belah pihak, makanya syiah menggunakan kitab yg pihak lain yakini
3. syiah melakukan pembelaan biasanya terhadap fitnahan orang2 wahabi... itu saja,...
disinis saya lampirkan pernyataan tokoh mengenai syiah
Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syiah ?

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU):
“Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk
Islam seperti halnya Sunni. Di universitas
di dunia manapun tidak ada yang
menganggap Syiah sesat.“ (tempo.co)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP
Muhammadiyah):
“Tidak ada beda Sunni dan Syiah. Dialog
merupakan jalan yang paling baik dan
tepat, guna mengatasi perbedaan aliran
dalam keluarga besar sesama muslim.” (republika.co.id)

Buya Syafi’i Ma’arif (Cendikiawan
Muslim, Mantan Ketua PP
Muhammadiyah):
“Kalau Syiah di kalangan mazhab,
dianggap sebagai mazhab
kelima.” (okezone.com)

Amin Rais (Mantan Ketua PP
Muhammadiyah):
“Sunnah dan Syiah adalah mazhab-
mazhab yang legitimate dan sah saja
dalam
Islam.“ (satuislam.wordpress.com)

Marzuki Alie (Ketua DPR RI):
“Syiah itu mazhab yang diterima di
negara manapun di seluruh dunia, dan
tidak ada satupun negara yang
menegaskan bahwa Islam Syiah adalah
aliran sesat.“ (okezone.com)

Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI):
“Harus ada toleransi terhadap
perbedaan karena perbedaan adalah
rahmat.” (tempo.co)

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
(Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah
Pasca Sarjana UIN Jakarta):
“Syiah adalah bagian integral dari umat
Islam dan tidak ada perbedaan yang
prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah
kepemimpinan politik.”
“Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak
diperlukan, baik secara teologis, ibadah
dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah
Islamiyah di Indonesia.” (republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta):
“Syiah merupakan bagian dari sejarah
Islam dalam perebutan kekuasaan, dari
masa sahabat, karenanya akidahnya
sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama.” (republika.co.id)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia):
“Dengan tergabungnya Iran yang
mayoritas bermazhab Syiah sebagai
negara Islam dalam wadah OKI tersebut,
berarti Iran diakui sebagai bagian dari
Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang
tergabung dalam 60 negara menerima
Iran sebagai negara
Islam.” (tempointeraktif)

Rhoma Irama (Seniman dan Mubaligh):
“Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat
kita sama, sholat kita sama, puasa kita
sama, zakat kita sama, haji kita sama,
kenapa harus saling
mengkafirkan.” (tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU):
“Caranya terus menjaga persamaan
sesama Umat Islam, bukan mencari
perbedaannya.” (republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK):
“Kalau saya mengatakan semua
keyakinan itu tidak boleh diintervensi
oleh negara. Keyakinan itu tak boleh
diganggu orang lain, kecuali dia
mengganggu keyakinan orang lain.” (okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat):
“Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni
maupun Syiah tetap diakui Konferensi
Ulama Islam International sebagai bagian
dari Islam.” (rakyatmerdekaonline.com)

Alm. Buya Hamka (Mantan Ketua Umum
MUI Pusat) Mengutip pernyataan Imam
Syafi’i:
“Jika saya dituduh Syiah karena
mencintai keluarga Muhammad Saw,
maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika
dituduhkan kepada saya bahwa saya
Syiah karena membela Imam Ali, saya
bersaksi bahwa saya
Syiah.” (majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro
PPP):
“Kami sangat menghargai kaum
Muslimin Syiah.” (inilah.com)


From: Mohammad zen <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Monday, August 13, 2012 6:42 PM
Subject: Re: Bls: [kisunda] Fwd: FW: Syiah dan Ukhuwah ?

----- Forwarded Message -----

Boxbe This message is eligible for Automatic Cleanup! ([email protected]) Add cleanup rule | More info
ceuk fatwa syiah mah cing penting syahadatain we lah --- ulah ngakafirkeun ,,, keun wae debat jeung diskusi mah...
eta kuncinya Syahadatain....


From: Sp Saprudin <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Monday, August 13, 2012 5:32 AM
Subject: Bls: [kisunda] Fwd: FW: Syiah dan Ukhuwah ?

----- Forwarded Message -----

Boxbe This message is eligible for Automatic Cleanup! ([email protected]) Add cleanup rule | More info
Ibarat duri (cucuk) dalam (dijero) sekam (huut)
Ibarat cucuk dijero huut? Kumaha tah maksudna nyah. Meureun budak gendut diuk dina karung huut, dina sungut samutut bari jeung hitut! Luak lieuk beunget moncrong ka batur, jiga hanteu ngarasakeun manehna sorangan anu hitut.  
Mun noong ushul na beda komo deui kana masalah furuna
Anu pikasebelen teh nyaeta "Yang lebih menyinggung perasaan kaum Suni adalah banyaknya buku-buku Syiah yang mendekonstruksi ajaran-ajaran dasar Suni, tetapi menggunakan sumber-sumber kaum Suni"
Tah eta anu pikasebseb oge. Mun adu omong kadesek, eh ngaguaran sumber-sumber Sunni pikeun memperkuat argumentasina. Padahal Syiah bogaeun kitab-kitabna sabage sumber sagala hukum nyaeta :
1. Kitab Al Kafi ditulis ku Al Kulaini, Muhammad bin Ya'quh bin Ishaq
2. Tahdzib Al-Ahkam dikarang ku Abu Ja'far At-Thusi, Muhammad bin Ya'qub bin Ishaq
3. Al-Istibshar dikarang ku At-Thusi
4. Man La Yadhuruhul Faqih ditulis ku Abnu Babawaih Al Qummi, Abu Ja'far, Muhammad bin Ali bin Husain Bin Musa.
 
Eta opat kitab ku Syiah dianggap kitab anu pang mulyana.
Tapi ku naon mun Syiah jeung Islam Sunni dialog, eta opat kitab sok tara jadi rujukan, malahan ngaguaran anu aya di Sunni? Model Jalaludin Rahmat kurah koreh dina kitab Sunni.
 
Ah pipaseaeun, lain saeutik di milis Ki Sunda anu nyekel paham Siah!
 
Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Dikirim: Minggu, 12 Agustus 2012 15:51
Judul: [kisunda] Fwd: FW: Syiah dan Ukhuwah ?

 


---------- Forwarded message ----------
From: Suarsa, Roni <[email protected]>
Date: 2012/8/12
Subject: FW: Syiah dan Ukhuwah ?
To:


 
 
RONI RA SUARSA
OPERATOR, YEP PP WET END
Saudi Yanbu Petrochemical Company
A SABIC Affiliate
Yanbu Industrial City 41912
Saudi Arabia
T +966 (4) 321 4276-4276
F  
From: satriyo

 
  Syiah dan Ukhuwah
 
Prof Dr Mohammad Baharun
Pengurus MUI Pusat/Guru Besar Sosiologi Agama
 
Sejauh pengamatan saya, isu Syiah dan Ahlussunnah wal Jamaah (selanjutnya disebut Sunah) di Indonesia selama ini, sebenarnya tidak dipengaruhi secara langsung kondisi objektif ketegangan Sunah-Syiah di Timur Tengah. Kasus-kasus Indonesia hakikatnya dipicu oleh provokasi buku-buku dan ceramah.
Seperti sudah dipahami bahwa karakter Syiah sangat identik dengan kritikan terhadap para pembesar sahabat (Amirul Mukminin) dan istri Nabi SAW (Ummul Mukminin) — yang secara terbuka sering dicerca. Prinsip doktrin yang menganggap para sahabat Nabi yang agung sebagai pe rampas hak kekhilafahan Ali, kemudian berujung dan berlarut-larut mene ruskan tradisi kritik, kecaman, bahkan hinaan terhadap para sahabat dan istri Nabi SAW.
Kondisi alami “Syiah” seperti ini perlu dipahami, agar solusi yang diberikan pun bukan bersifat basa-basi. Apalagi, dunia semakin terbuka. Informasi semakin bebas beredar. Ketersinggungan pihak Suni saat ajaran-ajaran dasar dan tokoh-tokohnya dicerca juga perlu dimaklumi. Bukan hanya melihat dari aspek kebebasan beragama dan berpendapat saja. Apalagi ini berkaitan d e ngan masalah agama, yang bagi kebanyakan masyarakat Muslim sudah dianggap sebagai perkara hidup-mati.
Dalam pencermatan saya yang sudah puluhan tahun mengamati dan menulis masalah Syiah di Indonesia, hampir semua kasus konflik dipicu oleh peredaran buku dan ceramah dari kalangan Syiah. Sebutlah penerbitan buku “Dialog Sunnah-Syiah“ karangan Abdul Husain al-Musawy, yang merupakan terjemahan dari buku aslinya “AlMuraja'at“. Buku ini dianggap sebagai buku lama yang populer dan konon dianggap sebagai buku yang ampuh untuk `menaklukkan' Ahlu Sunnah. Ada juga buku berjudul “Sudah Kutemukan Kebenaran“ (terjemahan) dan “Saqifah: Awal Perselisihan Umat“, yang menyerang keyakinan kaum Suni.
Yang lebih menyinggung perasaan kaum Suni adalah banyaknya buku-buku Syiah yang mendekonstruksi ajaran-ajaran dasar Suni, tetapi menggunakan sumber-sumber kaum Suni.
Hanya saja, setelah diperiksa, memang ditemukan daftar pustakanya, namun setelah dicermati lebih jauh, ternyata sumber-sumber itu diselewengkan isi dan maknanya. Inilah yang membuat kaum Suni terus menjadi cemas dan masalah ini menjadi semacam “bara dalam sekam“ yang suatu ketika bisa meledak seperti kasus di Sampang, pada akhir 2011.
Setelah kasus Sampang tersebut, semua pihak, baik Suni maupun Syiah harus berusaha mencari solusi, agar kasus serupa itu tidak terjadi. Apalagi, As'ad Said Ali (wakil ketua umum PBNU), menulis banyaknya lulusan Qum Iran, yang pulang ke Indonesia, dan kemudian mendirikan yayasan-yayasan Syiah, melakukan mobilisasi opini publik, penyebaran kader ke sejumlah partai politik, dan upaya membuat lembaga Marja’iyati Taqlid seperti di Iran menjelang revolusi. (http://www.nu.or.id/, judul “Gerakan Syiah di Indonesia”, 30/05/2011).
Saat mengikuti kursus PPSA XVII Lem han nas RI, ada seorang peserta diskusi yang meng ajukan pertanyaan, apakah benar Syiah bisa me nerima Pancasila dan NKRI seperti Ahlu Sun nah (Aswaja) yang diwakili dua ormas be sar, yakni NU dan Muhamma diyah? Itu mengingat konsep imamah yang absolut tidak memungkinkan penerimaan ideologi apa pun di dunia ini, kecuali menerima keniscayaan pemerintahan model imamah?
Perlu dipahami, bahwa untuk menyelesaikan atau mendamaikan masalah Syiah di Indonesia tidaklah mudah. Itu terkait dengan adanya perbedaan mendasar dalam ajaran Suni dan Syiah. Dalam disertasi saya di IAIN Sunan Ampel Su rabaya – sudah diterbitkan menjadi buku berju dul “Dari Imamah Sampai Mut’ah” (2004), saya mengingatkan perlunya Indonesia belajar dari kasus Suni-Syiah yang terjadi di berbagai negeri Muslim lainnya. Pada 4 Juli 2003, di Pakistan, terjadi serangan bom yang menewaskan 47 orang dan mencederai 65 orang lainnya. Berikut nya pada 2 Maret 2004, terjadi serangan yang menewaskan 271 warga Syiah dan melukai 393 lainnya. Kasus-kasus seperti ini juga terjadi di negara-negara Muslim lainnya.
Di samping adanya perbedaan dalam berbagai ajaran dalam soal akidah, satu masalah yang akan menjadi problema pelik di tengah masyarakat adalah disahkannya perkawinan mut’ah (nikah temporal).
Dalam nikah jenis ini, seorang wanita bisa berpasangan mut’ah dengan berbagai laki-laki. Status anak-anak dalam perkawinan jenis inipun bisa bermasalah. Biasanya pihak Syiah akan menyalahkan Umar bin Khattab karena telah berani melarang nikah mut’ah yang pernah dihalalkan oleh Nabi SAW.
Padahal, faktanya tidak demikian. Umar bin Khattab justru melaksanakan ketetapan dari Nabi sendiri. Keputusan Umar itu pun juga disetujui oleh Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali adalah mustasyar (penasihat) pada pemerintahan Umar. Sampai-sampai Umar pernah menyata kan, “Tan pa keterlibatan Ali, gagallah Umar.” Nikah jenis ini mutlak haram bagi kaum Suni dan sebagian kelompok Syiah (Zaidiyah) yang mendekati Suni.
Begitulah, jika kita ingin membangun ukhu wah, maka perlu diperhatikan benar masalah-masalah mendasar dalam soal keagamaan ini. Hal-hal yang menimbulkan sensitivitas pihak lain, perlu dihindari.
Sebaiknya, kaum Syiah sebagai minoritas di negeri Indonesia, bisa menahan diri untuk tidak bersifat agresif dalam menyebarkan ajaran mereka, disertai dengan menyerang dan melecehkan ajaran-ajaran pokok kaum Suni. Faktanya, kita tidak hanya bisa mendasarkan pada aspek kebebasan semata.
Mudah-mudahan umat Islam Indonesia mampu mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi, baik masalah eksternal maupun internal mereka. Amin. ■





--------------------------------
This e-mail and any attachments are for authorized use by the intended recipient(s) only. They may contain proprietary material or confidential information and/or be subject to legal privilege. They should not be copied, disclosed to, or used by any other party.
If you have reason to believe that you are not one of the intended recipients of this e-mail, please notify the sender immediately by reply e-mail and immediately delete this e-mail and any of its attachments. Thank you.









Kirim email ke