Milad Kang Jalal: Luncurkan Dua Buku
Oleh AHMAD SAHIDIN
Salam wa rahmah. Tadi malam saya ikut menghadiri Pengajian
Keluarga IJABI dan Milad Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat). Setiba di lokasi,
ternyata sudah banyak orang dan sedang membaca surah yasin. Dilanjutkan dengan
sambutan dari pengurus IJABI Jawa Barat dan dari Ustadz Jalal—saya menyebutnya
demikian karena Beliau adalah guru. 
Ustadz Jalal menyampaikan bahwa pada ulang tahunnya yang
ke-64 ini mengeluarkan dua buku. Pertama, Tafsir Sufi Al-Fathihah. Buku
ini merupakan buku lama yang dicetak kembali dengan revisi format buku saku.
Buku ini juga pernah dilarang beredar di Malaysia karena dinilai memiliki
muatan ajaran-ajaran Islam Syiah. Saya sendiri memilikinya dan sudah
membacanya. Isinya luar biasa banyak menambah pengetahuan tentang tafsir, 
ta’wil,
dan isti’adzah sebelum membaca Al-Quran. Disisipi juga dengan kisah-kisah
sufistik dan syair-syair Maulana Rummi. Setahu saya, pengetahuan yang berkaitan
dengan Syiah atau Ahlulbait tidak dominan. Karena itu, kalau disebut buku Syiah
kurang mengena. Itu pendapat saya. Bisa jadi Anda tidak demikian kalau sudah
baca. Karena itu bacalah dan berkomentar.
Kedua, Life After Death. Buku ini belum terbit dan
direncankan akhir tahun ini terbit. Isinya berkaitan dengan tinjauan filsafat
klasik sampai modern terhadap kematian dan makna kematian. Mulai dari uraian
Socrates sampai filsuf eksistensialis seperti Heidegger. Kemudian juga
menguraikan pengalaman-pengalaman orang yang mati suri dan penjelasan dari
tradisi Tibet yang menguraikan tentang kematian. Ditambah dengan kajian
kematian dan kehidupan barzah berdasarkan kitab-kitab Sunni dan Syiah. 
Selain Ustadz Jalal, yang berbicara adalah adiknya, Pak
Dedi, yang kini mengelola dan mengurus Pesantren Muthahhari di Rancaekek,
Kabupaten Bandung.
Menurut Pak Dedi, Ustadz Jalal sejak kecil doyan baca. Segala
kertas yang ada tulisan yang ditemukan dijalan selalu dibaca. “Pernah suatu
ketika mengambil kertas dijalan yang bekas mengambil kotoran. Kontan saja pas
diambil dan dibaca, bau…,” kata Pak Dedi yang diiringi gelak tawa hadirin.
Pak Dedi juga menyampaikan, ia dan Ustadz Jalal saat kecil
diasingkan masyarakat karena keluarganya termasuk orang-orang Darul Islam.
Maklum ayahnya, Rakhmat Sujai’ adalah aktivis Darul Islam yang dikejar-kejar
pemerintah orde baru karena dinilai makar. 
“Saat kecil Ustadz Jalal juga termasuk anak nakal, doyan
main bola, dan main kelereng,” ujarnya.
Dari pengajian tersebut, saya menemukan informasi bahwa guru
saya masa kecilnya sama juga dengan anak-anak lainnya. Bedanya dari doyan baca
dan belajarnya sehingga dapat beasiswa terus sampai doktor. Pantas saja kalau
sekarang guru saya meraih prestasi yang gemilang dan termasuk tokoh Islam
Indonesia yang berpengaruh dan memiliki kontribusi dalam khazanah peradaban
Indonesia. 
Wilujeng Milangkala Ustadz Jalal. Bihaqqi Muhammadin wa aali
Muhammad: mugia barokah, luhung ku elmu, jembar manah, sarta terus
berkontribusi, dan sehat wal afiat. (Ahmad Sahidin, tinggal di kabupaten
bandung)     
 
 
=> http://www.kompasiana.com/ahsa

Kirim email ke