Suriah teh sekutu Iran, Iran teh musuh besar na Barat n Saudi Arabia + sebagian 
besar negara-negara teluk, lamun pemimpin suriah nu ayeuna berhasil 
digulingkeun diganti kunu pro barat, otomatis Iran kaleungitan sekutu anu 
penting di kawasan timur tengah, atuh Israel anu sieun ku program nuklir Iran 
babari pisan mun dek nyerang Iran, sabab antara Israel jeung Iran secara 
geografis kahalangan ku Suriah.

Mun tea mah suriah jadi pro-barat, israel bakal gampang pisan ngerahkeun jeung 
nempatkeun pasukan na jeung senjata di wilayah suriah nu memang berbatasan 
langsung jeung iran.

Kabehana konflik di timur tengah siga na bakal lila ti tuntas sabab geus jadi 
ajang tarung politik internasional.

Hiji deui mun enya rezim suriah ganti, israel bakal gampang pisan ngancurkeun 
Hezbollah di lebanon selatan nu sok ngaganggu ku bom roket ka israel kaler nu 
salila lieu didukung ku suriah jeung iran.


Punten ah bilih sok tau, ieu mah analisa kuring we nu bodo :D




Sent from BlackBerry® on 3

-----Original Message-----
From: Ahsa <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 12 Sep 2012 14:38:22 
To: Abbas Amin<[email protected]>; Bu-Yoosie 
guru-SCM<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>; Ki 
Sunda Milis<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kisunda] KONFLIK SURIAH BUKAN PERTARUNGAN SUNNI-SYIAH:Sebuah Momen 
Simpul Menuju Tatanan Dunia Baru?



 KONFLIK SURIAH BUKAN PERTARUNGAN SUNNI-SYIAH:Sebuah Momen Simpul Menuju 
Tatanan Dunia Baru?


Agaknya kita mesti kritis dan berhati-hati menyikapi konflik Suriah yang telah 
menjadi sebuah isu global yang panas dalam 17 bulan terakhir.  Hendaknya kita 
jangan sampai turut bermain dalam gendang yang dimainkan oleh 
musuh-musuh peradaban Islam dan kemanusiaan, yang sejak awal 
mengarahkannya ke konflik sektarianisme antara Sunni dan Syiah atau 
bahkan Islam versus
Kristen. Inilah yang dikehendaki Zionis dan AS/Barat, yakni mengadu 
domba umat Islam atau sesama umat beragama.


Apa yang terjadi di Suriah secara genealogis sama sekali tidak ada 
hubungannya dengan isu Sunni-Syiah. Fakta yang sangat nyata adalah 
pendukung Assad berasal dari kaum Sunni (komponen terbesar), Alawiyyin, 
Syiah, Kristen Ortodoks, dan minoritas lainnya. Sementara penentang 
Assad awalnya juga beragam meski kemudian ketika mereka bersenjata 
didominasi oleh jaringan jihadis global kaum ekstrimis Salafi-Wahabi. 
Setelah 17 bulan berlalu, Barat dan antek-antek regionalnya (Arab Saudi, Qatar, 
Turki) gigit jari, gemas, dan akhirnya putus asa karena 
ekspektasi mereka gagal total. 

Pertama, mereka berharap terjadi 
defeksi/pembelotan besar-besaran tentara Suriah yang 80% adalah penganut
 Sunni. Kedua, mereka meramal, sebagaimana dugaan pemberontak, Aleppo 
bisa menjadi "Bengazi" nya Suriah, yi, menjadi pusat gerakan 
pemberontakan mengingat 90% penduduknya adalah Sunni atau 
kabilah-kabilah Arab yang Sunni. Ternyata, di luar ekspetasi mereka, 
banyak penduduk Aleppo yang menentang pemberontak, tidak hanya secara 
politis tapi juga secara militer. Alhasil, kedua ekspektasi ini tak 
kunjung datang dan sirna. Hal itulah diantaranya yang membuat Presiden 
Perancis Hollande sampai kehilangan akal sehat dengan mengeluarkan 
kata-kata kasar yang seakan masih memperlakukan Suriah sebagai 
koloninya.

Jadi, bukti di lapangan tidak menunjukkan secara substansial adanya peran 
Sunni-Syiah dalam menggelorakan kerusuhan di Suriah. Saya katakan 
'secara substansial' karena secara aksidental, kaum pemberontak Salafi 
dan majikan mereka (Arab Saudi, Qaar, Turki, AS/Inggris/Perancis) yang 
menggaji dan mempersenjatai mereka berusaha menggunakan isu Sunni-Syiah 
untuk memprovokasi kaum Sunni Suriah, dan juga sekaligus digunakan oleh 
jaringan global Wahabi untuk merusak persaudaraan Islam seperti yang 
terjadi di tanah air kita (catatan: saya kerap menemukan orang-orang yang
memaki Syiah dengan alasan apa yang mereka
imajinasikan sebagai
'pembantaian Sunni oleh Syiah' di Suriah). 

Jadi, 
provokasi Wahabi ini telah berdampak buruk di negeri kita; sementara 
rakyat Suriah sendiri, yang mengalami langsung konflik yang terjadi, 
hampir tak terpengaruh oleh agitasi Wahabi ini. Kita berharap 
mudah-mudahan rakyat Suriah -apapun mazhab dan agamanya- tetap tak 
terpengaruh oleh hasutan ini dan berdoa semoga mereka segera keluar dari
 penderitaan yang berkepanjangan ini.


Lalu, apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah? Jenis konflik apa yang 
berlangsung di negeri klasik, yang merupakan tempat pertemuan sejumlah 
peradaban dan agama-agama dunia
ini?

Memang sulit mengidentifikasi dan membuat kategorisasi mengenai kerusuhan di 
Suriah. Ia jelas bukan konflik Sunni-Syiah. Ia juga bukan konflik 
pro-demokrasi dan pro-kerajaan (seperti di Bahrain) mengingat pendukung 
pemberontak Suriah adalah justru monarki-monarki absolut, yang sama 
sekali tidak punya legitimasi untuk berbicara tentang demokrasi. 
Sejumlah pemimpin Iran membaca kerusuhan Suriah ini sebagai skenario 
yang diciptakan oleh AS/Barat untuk menyelamatkan eksistensi Zionis 
Israel yang kini dicekam ketakutan menyusul lahirnya Islamic Awakening (istilah 
Iran) atau Arab Spring (istilah Barat). 

Mungkin
 kita bisa juga membuat kategorisasi lain; semisal bahwa konflik Suriah 
adalah pertarungan nasionalisme-sosialisme Arab (Suriah kini menjadi 
satu-satunya negara Arab yang berdaulat, tidak tunduk kepada Barat) 
melawan sekutu kapitalisme
global. Rusia (pewaris komunisme Uni Soviet) dan China 
(komunisme-nasionalis) hingga detik ini masih sangat kuat mendukung 
pemerintah Suriah.  Atau dimungkinkan juga untuk mengidentifikasi bahwa konflik 
Suriah merupakan sebuah titik balik kurva perubahan dari tatanan dunia 
lama (paradigma mekanistik) ke tatanan dunia baru (paradigma holistik) 
yang ditandai oleh kesalinghubungan yang organis di antara titik-titik 
kejadian di planet ini.


Apapun identifikasi dan kategorisasi yang dibuat, yang harus ditegaskan adalah 
bahwa "konflik di Suriah" (bedakan dengan "konflik Suriah")
tidak terkait dengan pertarungan Sunni-Syiah. Ini yang paling penting 
kita garisbawahi. "Konflik di Suriah" artinya sebuah peristiwa konflik 
yang melibatkan kepentingan semua kelompok di dunia dengan menggunakan 
tanah Suriah. 


Tentu saja, istilah Sunni-Syiah yang
saya pakai di sini mengacu kepada pengertian sebagai identitas
kelompok, sebagai kata benda, sebagaimana umumnya dipahami. Akan berbeda halnya 
bila istilah Sunni-Syiah dimaknai sebagai kata kerja/sifat. Shah Iran Pahlevi 
dan para pengikutnya yang kini tinggal di AS tercatat 
sebagai penganut Syiah dalam pengertian identitas dan kata benda, akan 
tetapi mereka penentang keras gagasan keadilan dan peradaban Islam. 
Sebaliknya, tak sedikit kaum Sunni atau bahkan umat beragama lain, yang 
menyuarakan keadilan dan perlawanan terhadap arogansi dan dominasi 
kapital. 


Nah, sekalipun identitas Bashar Assad tidak diketahui persis apakah Sunni 
atau Syiah (dan menurut saya, ini tidak relevan), kita
bisa membacanya dalam kategorisasi kata kerja
melalui
pertanyaan berikut: Apa yang telah dia lakukan selama ini dalam 
perlawanan bersama rakyat Palestina dan Lebanon terhadap kepongahan dan 
penindasan Zionis/Barat?


La hawla wa la quwwata illa billah

WassalamHusain Heriyanto
=> http://www.kompasiana.com/ahsa

Kirim email ke