di tatar sunda mah taya jalaran pangdam-na Ibrahim Adjie, atanapi struktur
masarakat sunda nu teu gampang kapangaruhan, atanapi masyarakat sunda anu
cape keneh ku pemberontakan di/tii

2012/10/3 Waluya <[email protected]>

> **
>
>
> Maca Majalah Tempo minggu ieu (Sanajan teu maca kumplit, kakara onlinena,
> can kaburu meuli majalahna), matak ngabirigid, horeng di taun 1965/1966 di
> Indonesia teh, geuning aya kajadian ngaharib-harib film "Killing Field" di
> Kamboja. Ciciren bangsa urang teh sarua telengesna kitu?
>
> Geura ieu sabgaian artikelna:
>
> Para Jagal dari Tahun yang Kelam
>
> TEMPO.CO , Jakarta--Ia dulu tukang catut karcis bioskop di Medan. Dalam
> film dokumenter The Act of Killing (Jagal) karya sutradara Amerika Serikat,
> Joshua Oppenheimer, yang diputar di Festival Film Toronto pada September
> lalu, blakblakan ia mengaku dengan sadis membantai orang-orang Partai
> Komunis Indonesia di Medan sepanjang 1965-1966.
>
> Majalah Tempo 1 Oktober 2012 menurunkan edisi khusus mengenai kesaksian
> para jagal. Meniru tokoh-tokoh gangster dalam film Amerika yang
> ditontonnya, ia memiliki teknik khusus menjerat leher orang yang ia tuding
> anggota PKI agar darah tak muncrat membanjiri lantai.
>
> Pembawaannya riang. Ia dikenal jago dansa. Penggemar Elvis Presley dan
> James Dean itu mengatakan sering membunuh sembari menari cha-cha. "Saya
> menghabisi orang PKI dengan gembira," katanya. Dalam sebuah adegan, bersama
> rekannya sesama algojo 1965, ia terlihat naik mobil terbuka menyusuri
> jalan-jalan di Medan. Mereka bernostalgia ke tempat-tempat mereka pernah
> membunuh--di antaranya sepotong jalan tempat ia menyembelih banyak warga
> Cina. "Setiap ketemu Cina, langsung saya tikam…."
>
> Pengakuan "jujur" preman bernama Anwar Congo dalam film yang bakal
> ditayangkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta pada Oktober tahun
> ini tersebut bisa membuat siapa saja terperangah. Ada heroisme di situ.
> Anwar mengesankan dirinya penyelamat bangsa. Satu versi menyebutkan hampir
> satu juta orang PKI terbunuh pasca-1965. Ini pelanggaran hak asasi berat.
> Anwar hanyalah salah satu pelaku pembunuhan. Di berbagai daerah, masih
> banyak "Anwar" lain.
>
> Tempo kali ini mencoba melihat peristiwa 1965 dari perspektif para algojo.
> Selengkapnya baca Majalah Tempo.
>
>  
>

Kirim email ke