http://bantenesia.com/index.php/banten/item/1402-refleksi-12-tahun-provinsi-banten-1
Serang (2/10), Bantenesia - Tanggal 4 Oktober 2012, Provinsi Banten
akan memperingati hari jadinya yang ke-12. Untuk mengukur seberapa
jauh keberhasilan Pemprov Banten membangun dan meningkatkan
penghasilan penduduknya bisa dilihat dari wajah Kota Serangyang
semrawut seperti sekarang ini.
Menurut pengamat masalah sosial, keberhasilan pembangunan Kota
Serang merupakan indikasi keberhasilan pemimpin di daerah itu dalam
mengelola pemerintahannya. Sebaliknya gagalnya membangun kota bisa
menjadi penilaian betapa buruknya kinerja pemimpin bersama jajarannya,
termasuk pula para wakil rakyat yang duduk di DPRD. Kalau mengutip
omongan warung kopi “Gubernurnya yang bodoh atau rakyatnya yang susah
diatur”.
Waktu 12 tahun merupakan masa yang cukup panjang untuk membangun
suatu daerah. Apalagi masa yang relatif panjang itu dipimpin oleh
orang yang sama, di mana Ratu Atut Chosiyah menjadi kepala daerahnya.
Coba saja simak, ketika Pemprov Banten terbentuk tahun 2000, Hakamudin
menjadi pejabat Gubernur Banten. Setahun kemudian terpilih pasangan
Djoko Munandar-Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur
Banten.
Tidak sampai 5 tahun, Djoko terlibat kasus korupsi dana perumahan
DPRD Banten, lalu digantikan oleh Atut Chosiyah. Pada Pilkada tahun
2006, Atut terpilih sebagai Gubernur Banten periode tahun pertama
Kemudian pada Pilkada tahun 2011, Atut terpilih kembali menjadi
Gubernur Banten untuk kedua kali.
Etalase Banten
Kota Serang sebagai Ibukota Provinsi Banten boleh dibilang
etalasenya Provinsi Banten. Kalau Kota Serang bersih, indah dan
tertib, maka wajah Provinsi Banten juga sempurna. Sebaliknya bila kota
ini terlihat bopeng, kotor dan penuh sampah, mudah ditebak wilayah
Provinsi Banten juga tidak jauh berbeda.
Menurut masyarakata awam, seperti dikutip dalam obrolan warung
kopi,”Kalau membangun Kota Serang saja tidak becus, bagaimana
membangun daerah Banten yang luas,”katanya.
Coba saja tengok, infrastruktur jalan di dalam kota acak-acakan,
tidak ada yang aspalnya mulus. Kemudian hampir semua ruas jalan
berlubang dan bergelombang yang membahayakan pengguna jasa jalan raya.
Kalau musim hujan banjir dan musim kemarau berdebu, karena petugas PU
tidak memiliki alat penghisap debu.
Lalu lintas kendaraan bermotornya juga terlihat semrawut, umumnya
tidak mengindahkan rambu-rambu lalu lintas, lampu pengatur lalu lintas
dan marka jalan. Rambu-rambu lalu lintas dilanggar, bahkan lampu
merahpun diterobos. Pedagang kaki lima juga dibiarkan berdagang di
sembarang tempat, di sepanjang trotoar, di badan jalan dan juga di
alun-alun.
Demikian pula dengan sampah yang berceceran dimana-mana. Sampah
rumah tangga yang seharusnya dibuang di tempat pembuangan sampah dan
diangkut setiap pagi oleh petugas kebersihan, dibiarkan menumpuk
hingga berhamburan ke jalan raya. Bahkan warga yang tinggal tak jauh
dari sungai Cibanten membuang sampah rumah tangganya ke sungai.
Ini semua menjadi pemandangan sehari-hari yang tak sedap dipandang
mata. Pasar radisional seperti Pasar Lama dan Pasar Induk Rau juga tak
pernah bersih, tertib dan nyaman buat pengunjung.(Boy-Btn)
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/