Baraya,

Tetela geuningan aya dasar pikeun institusi naon wae mere ngaran ku ngaran
"Siliwangi" atawa "Pajajaran".  Sahenteuna kitu numutkeun ahli sejarah, DR
Mumuh Muhsin Zakaria, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat. Ieu
ahli sajarah teh nalungtik bukti-bukti ayana boh "Pajajaran", oge
"Siliwangi" dina sejarah, Sunda khususna. Memang ieu tulisan teh bisa oge
disebutkeun minangka ngalawan kana tuduhan yen anu disebut "Pajajaran"
sareng "Siliwangi" teh teu aya bukti historisna. Hanjakal karek dimuat dina
hiji blog nya ieu seratan teh. Atawa si kuring wae anu teu apal, yen
satemenna ieu tulisan kungsi dimuat dina publikasi resmi atawa, minimal
koran badag?

Mangga nyanggakeun seratanana dicutat sagemblengna di handap ieu tina
kintunan kang Ahsa ka milist.

manar

  ----- Forwarded Message -----
*From:* Ahsa <[email protected]>
*To:* apisejarah milis <[email protected]>
*Sent:* Tuesday, October 2, 2012 2:32 PM
*Subject:* [apisejarah] EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN DAN PRABU SILIWANG


 EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN DAN PRABU
SILIWANGI<http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/2011/04/10/eksistensi-kerajaan-pajajaran-dan-prabu-siliwangi/>
April
10th, 2011
EKSISTENSI KERAJAAN PAJAJARAN
DAN PRABU SILIWANGI
oleh DR Mumuh Muhsin Zakaria, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa
Barat
“…boh Prabu Siliwangi boh karajaan Pajajaran nepi ka kiwari henteu aya
buktina sacara historis” (“ … sampai sekarang kerajaan Pajajaran dan Prabu
Siliwangi tidak ada buktinya secara historis”) (Rosidi, 2011: 57 dan 98).
I. Pendahuluan
“Pajajaran” dan “Siliwangi” merupakan dua nama yang sangat melekat pada
emosi masyarakat di Tatar Sunda. Tidak banyak nama yang bernuansa sejarah
dipakai dengan penuh kebanggaan untuk nama kekinian. Pajajaran dan
Siliwangi adalah nama “yang tidak banyak itu”. Pajajaran menjadi nama
universitas terkenal di Jawa Barat, selain dijadikan nama Gelanggang Olah
Raga, jalan, plaza, dan nama-nama yang lainnya. Demikian juga dengan nama
Siliwangi, sebagai nama universitas di Tasikmalaya, kompleks kampus UPI
Bumi Siliwangi, Kodam III Siliwangi, dan stadion Siliwangi. Ketika muncul
pendapat yang menyoal keberadaan kedua nama itu secara historis, tak ayal
lagi muncul banyak reaksi.
Pernyataan Ayip Rosidi di atas disampaikan dalam Orasi Ilmiah
Penganugerahan Doktor Honoris Causa dalam Bidang Ilmu Budaya Fakultas
Sastra Universitas Padjadjaran pada tanggal 31 Januari 2011. Pernyataan di
atas sangat tegas, mendasar, dan bahkan terkesan bersifat vonistis.
Implisit di dalam pernyataan itu serangkaian pertanyaan:
1. Apakah kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi itu (pernah) ada atau
tidak ada? atau
2. Apakah kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi itu historis atau mitos?
Berkait dengan dua pertanyaan itu sebaiknya kita merujuk pada dalil: “ada
sumber ada sejarah, tidak ada sumber tidak ada sejarah”. Pernyataan yang
aksiomatik ini hampir tak terbantahkan lagi kebenarannya. Sekarang
pertanyaannya adalah adakah sumber (*sources, facts*) yang menunjukkan
eksistensi Pajajaran dan Prabu Siliwangi? Dalam makalah ini akan dibahas
terlebih dahulu mengenai Pajajaran.
Sumber yang berkaitan dengan Pajajaran ini bukan sekedar ada, tapi banyak.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa eksistensi Pajajaran tidak perlu
diragukan. Kalau pun ada yang perlu didiskusikan, bukan lagi persoalan
“apakah Pajajaran pernah ada atau tidak” dan “adakah bukti historis
mengenai keberadaannya”, karena persoalan ini sudah sangat jelas dan sudah
menjadi fakta keras (*hard-fact*). Akan tapi yang masih menarik
didiskusikan adalah mengenai persoalan-persoalan lain seperti mana yang
lebih tepat di antara tiga nama yang disebut dalam sumber: Pakuan
Pajajaran, Pakuan, atau Pajajaran; apakah Pakuan Pajajaran itu nama
keraton, nama (ibu) kota atau nama kerajaan; siapa pendiri keraton Pakuan
Pajajaran, tahun berapa kerajaan itu didirikan, di mana letaknya, dan
sebagainya.
Sesungguhnya, persoalan-persoalan seputar Pajajaran dan Siliwangi ini sudah
hampir “tamat” dikaji oleh para peneliti terdahulu, baik peneliti asing
maupun dalam negeri. Sekedar menyebut beberapa saja, mereka adalah: ten Dam
(1957), Friederich (1853), Hageman (1867), Holle (1967; 1969) Noorduyn
(1959; 1962), Pleyte (1911; 1914; 1915), Poerbatjaraka (1921), Sutaarga
(1965), Atja (1968; 1970; 1972), Saleh Danasasmita (1975; 1983; 2003; 2006;
2006). Di antara peneliti-peneliti itu Saleh Danasasmita yang paling
kemudian. Keluasan penguasaannya terhadap sumber-sumber tradisional dan
kekritisannya yang sangat tajam, Saleh Danasasmita mendekonstruksi
pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para peneliti seniornya. Oleh
karena itu, dalam makalah ini penulis lebih banyak mendasarkan pemahaman
pada pendapat-pendapat Saleh Danasasmita, termasuk kutipan-kutipan
sumber-sumber tradisionalnya.
Dengan demikain, secara awal dapat dikatakan bahwa jangankan sekedar
eksistensinya (ada atau tidak ada secara historis), persoalan-persoalan
lainnya yang lebih rumit pun mengenai Pajajaran dan Siliwangi sudah
dibahas. Persoalan eksistensi, faktanya sudah “keras” dan
persoalan-persoalan lainnya bisa jadi masih lunak (*soft-fact*). Artinya,
masih terbuka kemungkinan-kemungkinan penafsiran baru seiring dengan
perkembangan teori, metodologi, dan temuan fakta baru.
II. Pakuan Pajajaran
2.1 Nama Pakuan Pajajaran
Mengenai nama dan keberadaan “Pakuan Pajajaran” terdapat pada sejumlah
sumber. Sumber-sumber yang memuat nama Pakuan Pajajaran bisa dikategorikan
otentik, orisinal, dan sezaman. Sumber tersebut tidak kurang dari enam
buah, terdiri atas lima lembar berupa prasasti tembaga (dari Desa
Kebantenan, Bekasi, dikumpulkan oleh Raden Saleh) dan prasasti batu yang
ada di lingkungan Batutulis, Kecamatan Kota Bogor Selatan. Prasasti tembaga
Kebantenan yang lima itu memuat tiga hal, dua lembar berupa piteket dan
tiga lembar berupa sakakala (Danasasmita, 2003: 44 - 45). Bunyi
sumber-sumber itu sebagai berikut:
Piteket I:
“*Pun, ini piteket nu séba ka Pajajaran*”.
Piteket II:
“*Pun, ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang Ratu
Déwata*”.
Sakakala:
“*Ong awignam astu, nihan sakakala Rahyang Niskala Wastu Kancana, maka
nguni ka Susuhunan di Pakuan Pajajaran pun*”.
Prasasti Batutulis:
“*Wangna pun, ini sakakala, Prebu Ratu purané pun, diwastu diya wingaran
Prebu Guru Déwataprana diwastu diya dingaran Sri Baduga Maharaja Ratu Haji
di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Déwata pun ya nu nyusuk na Pakwan *…”.
(Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, dilantik beliau memakai nama
Prabu Guru Dewataprana, dilantik (lagi) dengan nama Sri Baduga Maharaja
Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata).
Sumber-sumber lain yang mejadi petunjuk keberadaan Pakuan Pajajaran adalah:
1) *Carita Parahiyangan*:
“*Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka sriman sriwacana Sri
Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran, nu mikadatwan Sri Bima
(P) unta (Na) rajana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri
Ratudéwata*” (CP hal. 30 recto).
(Sang Susuktunggal, yaitu yang membuat tempat duduk bagi yang masyhur
keindahan gelarnya Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, yang
tinggal di kedaton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan
Sanghiyang Sri Ratudéwata). (Danasamita, 2003: …; cf. Danasamita, 2006: 31).
2) *Koropak 406 *atau *Fragmen Carita Parahiyangan*:
“*Datang ka Pakwan mangadeg di kadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura
Suradipati. Anggeus ta pahi dieusian urut Sripara Pasela Parahiyangan ku
Rakéyan Darmasiksa. Ti inya dibeukah kabwatan. Kacarita Rakéyan Darmasiksa
heubeul siya ngadeg ratu di Pakwan saratus sapuluh taun. Heubeul siya adeg
ratu di Pakwan Pajajaran pun. Telas sinurat bwana kapedem*”.
(Tiba di Pakuan Ilalu bertahta ddi keraton Sri Bima Punta Narayana Madura
Suradipati. Selesailah semua diisi bekas para leluhur penyelang oleh
Rakéyan Darmasiksa. Kemudian diperluas sampai selesai. Diceritakan Rakéyan
Darmasiksa lamanya berkuasa sebagau ratu di Pakuan 110 tahun. Beliau
berkuasa lama sebagai ratu di Pakuan Pajajaran. Selesai ditulis pada tahun
30) (Danasamita, 2003: …; cf. Danasamita, 2006: 30 – 31 dan 61 – 62).
3) Naskah *lontar MSA*. Naskah lontar (sebetulnya nipah) ditemukan di
Kabuyutan Ciburuy oleh Brandes. Naskah ini disebut juga Naskah MSA.
Pembukaan pada naskah ini berbunyi:
“*Awignamastu. Nihan tembey sasakala Rahyang Banga masa siya nyusuk na
Pakwan*”.
(Semoga selamat. Begini permulaannya peringatan Rahiyang Banga waktu beliau
nyusuk Pakwan).
4) *Carita Parahiyangan*:
“*Sang Haliwungngan, inya Sang Susuktunggal nu munar na Pakuan*”.
(Sang Haliwungan, yaitu Sang Susuktunggal yang ngabaru di Pakuan).
5) *Naskah 406*:
“*Di inya urut kadatwan. Ku bujangga Sédamanah ngaran Sri Kadatwan Bima
Punta Narayana Madura Suradipati. Anggeus ta tuluy diprebokta ku Maharaja
Tarusbawa jeung bujangga Sédamanah. Disiar ka hulu Cipakancilan. Katimu
Bagawat Sunda Majayajati ku bujangga Sédamanah, dibaan ka hareupeun
Maharaja Tarusbawa*”. (Danasamita, 2003: …; cf. Danasamita, 2006: 31).
(Di sana bekas keraton. Oleh bujangga Sédamanah diberi nama Sri Kadatwan
Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Selesai [dibangun] diberi berkah
oleh Maharaja Tarusbawa dan bujangga Sédamanah. Dicari ke hulu
Cipakancilan. Ketemu Bagawat Sunda Majayajati oleh bujangga Sédamanah,
dibawa ke hadapan Maharaja Tarusbawa).
6) *Prasati Kebantenan I*:
“*Pun ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang
Ratudéwata*”.
7) *Prasasti Kabantenan II*:
“*Pun ini piteket Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sri Sang
Ratudéwata*”.
8′) *Piagem Kabantenan V*:
“*Pun, ini piketet nu seba ka Pajajaran, miteketan kabuyutan di Sunda
Sembawa *.”
9) *Prasasti Kebantenan I – III*:
“*Ong Awignamastu nihan sakakala ra Rahyang Niskala Wastu Kancana, maka
nguni ka Susuhunan ayeuna di Pakuan Pajajaran*”.
Dari sumber-sumber di atas ada tiga nama yang digunakan: Pakuan, Pajajaran,
dan Pakuan Pajajaran. Ketiga nama itu menunjuk pada maksud yang sama untuk
identitas yang sama pula. Dengan demikian, Pakuan/Pajajaran/Pakuan
Pajajaran sebagai nama diri atau nama identitas eksistensinya dapat
dipertanggungjawabkan secara historis.
2.2 Kerajaan Pakuan Pajajaran
Dalam sumber-sumber di atas, memang, tidak ada yang secara eksplisit
menyebutkan bahwa Pakuan/Pajajaran/Pakuan Pajajaran sebagai nama kerajaan.
Bukti-bukti sejarah yang ada, hampir bisa dipastikan, semuanya menunjuk
pada nama pusat kerajaan atau ibu kota. Kerajaannya sendiri dikenal dengan
nama Kerajaan Sunda. Nama inilah yang digunakan terutama oleh “orang luar”
ketika menyebut kerajaan yang ada di Tatar Sunda.
Namun demikian, harus diakui bahwa tidak jarang nama kerajaan lebih dikenal
melalui nama ibu kotanya. Dalam hal ini, istilah “Kerajaan Pajajaran”
berarti “Kerajaan Sunda yang ibu kotanya bernama Pajajaran”. Bahwa nama
keraton kemudian meluas menjadi nama ibu kota dan nama kerajaan adalah hal
yang biasa. Sebagai contoh, dalam prasasti Putih di Lampung Kesultanan
Banten dinamakan ‘Nagara Surasowan”, padahal Surasowan itu nama keraton
Banten. Saunggalah adalah nama keraton, tapi kemudian menjadi nama kota.
Yogyakarta pun sebenarnya nama keraton, Ngayogyakarta Hadiningrat, tapi
kemudian jadi populer sebagai nama kesultanan/kerajaan (Danasasmita, 1975:
59). Dengan demikian, melalui konstruksi bernalar seperti itu Kerajaan
Pajajaran sebagai sebuah eksistensi bisa diakui keberadaannya secara
historis.
Tentang asal-usul dan arti kata Pakuan Pajajaran sendiri terdapat banyak
pendapat (Sumadio, 1974: 383), yaitu:
1) Menghubungkan kata pakwan dengan paku (sejenis pohon, cycas circinalis),
sedangkan kata pajajaran diartikan sebagai tempat yang berjajar. Pakuan
pajajaran diartikan sebagai tempat dengan pohon paku yang berjajar
2) Menghubungkan kata pakwan dengan kata kuwu. Dengan menunjukkan bukti
bahwa sebutan pakuwan dan kuwu terdapat dalam Nagarakertagama.
3) Kata pakwan berasal dari kata paku (pasak). Kata paku dapat dihubungkan
dengan lingga kerajaan yang terletak di samping prasasti Batutulis. Paku
(lingga) berarti pusat atau poros dunia serta sangat erat hubungannya
dengan kedudukan raja sebagai pusat jagat.
Ketiga pendapat di atas dibantah oleh Saleh Danasasmita (2003: 18-19).
Dengan berdasar pada Carita Parahiyangan dan Koropak 406 yang disebut juga
Fragmen Carita Parahiyangan , beliau bersimpulan bahwa Pakuan Pajajaran
berarti “keraton yang berjajar”. Dikatakan “berjajar” karena jumlah
bangunan keratonnya ada lima yang masing-masing diberi nama: Bima, Punta,
Narayana, Madura, dan Suradipati.
Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang berbentuk “federal” yang membawahi
kerajaan-kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja-raja “kecil”. Di antaranya
adalah Sangiang, Saunggalah, Sindangkasih, Banten, Cirebon, Galuh, Kawali,
dan Pakuan. Hanya tiga kerajaan yang disebut terakhir inilah yang pernah
menjadi pusat atau ibu kota Kerajaan Sunda. Pusat atau ibu kota Kerajaan
Sunda memang berpindah-pindah.
Mengenai kerjaan Pakuan Pajajaran sendiri sudah berdiri sejak awal abad
ke-8. Pendirinya adalah Maharaja Tarusbawa (identik dengan nama Tohaan di
Sunda) . Keterangan ini didasarkan pada sejumlah sumber, yaitu Koropak 406,
Carita Parahiyangan, Pransasti Canggal, dan naskal lontar MSA.
III. Prabu Siliwangi
3.1 Nama Prabu Siliwangi
Nama Prabu Siliwangi pun bukan nama imajinatif, bukan nama mitos tapi nama
yang historis. Artinya nama ini memiliki pijakan historis. Dengan demikian,
diskusi kita pun tidak lagi pada persoalan “apakah Prabu Siliwangi itu ada
atau tidak ada secara historis” karena keberadaannya didukung oleh fakta
yang kuat (*hard-fact*), setidaknya fakta mental dan fakta sosial (*mentifact
*dan *socifact*). Yang menarik didiskusikan adalah apakah Prabu Siliwangi
itu nama sejati atau nama alias/julukan/gelar. Kalau itu nama
alias/gelar/julukan, nama itu identik dengan nama tokoh yang mana. Juga,
apakah gelar ini untuk seorang tokoh atau beberapa toloh? Kunci untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan itu adalah sumber/fakta. Adakah sumber/fakta
sejarah yang bisa menelusuri eksistensi Prabu SIliwangi?
Keberadaan Prabu Siliwangi bisa ditelusuri pada sejumlah naskah kuna, di
antaranya: Naskah *Carita Parahiyangan *episode XVI (di Perpustakaan
Nasional RI Jakarta), Naskah *Bujangga Manik *(di Perpustakaan Oxford
Inggris), Naskah *Sanghyang Siksa Kandang Karesian* (naskah lontar abad
XVI, koropal 421), Naskah *Carita Purwaka Caruban Nagari*, dan naskah yang
masih kontroversial Naskah *Wangsakerta* (di Museum Sribaduga Bandung).
Pada awal abad ke-16 pun nama Siliwangi sudah dikenal sebagai salah seorang
tokoh dalam cerita pantun. Muncul pertanyaan: nama Prabu Siliwangi itu
identik dengan nama siapa? Pertanyaan ini muncul mengingat dalam daftar
nama raja Pajajaran tidak ditemukan nama ini. Pertanyaan berikutnya adalah
apakah Prabu Siliwangi merupakan raja terbesar Kerajaan Pajajaran?
Pertanyaan ini muncul mengingat betapa populernya nama ini, bahkan hampir
menenggelamkan keberadaan nama-nama raja yang lain. Secara asumsi, tidak
mungkin nama ini muncul, bahkan populer bila nama ini “euweuh di kieuna”,
atau menurut istilah Ayip Rosidi “henteu aya buktina sacara historis”!
Konkretnya, di antara sumber yang memuat nama Siliwangi adalah sebagai
berikut.
1) *Carita Parahiyangan*:
“Manak deui Prebu Maharaja, tawasniya ratu tujuh tahun, kéna kabawa ku
kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung
dipipanumbasna. Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakiyan di
Sunda. Pan prangrang di Majapahit. Aya na seuweu. Prebu Wangi ngaranna,
inyana Prebu Niskala Wastu Kancana nu surup di Nusalarang ring giri
Wanakusuma”.
2) *Carita Purwaka Caruban Nagari*:
“Hana ta sira natha gung ng siniwi Pakwan Pajajaran Sang Prabu Siliwangi
ngaranira, anak Sang Prabu Anggalarang, ring Galuh wangsa nira, ikang
rumuhun paradyéng Surawisésa kadatwan ng parahyangan kapernah wétan mandala
nira. … Datan lawas pantaraning inabhisekan ta Sang Prabu Siliwangi
dumadyakna Naradhipa hing Pakwan Pajajaran déning uwa nira, irika ta sira
lawan winastwan Sang Prabu Dewatawisésa paradyéng Pakwan kadatwan yatika
Sang Bima wastana”.
3) Naskah *Sang Hyang Siksa Kandang Karesian*:
“Hayang nyaho di pantun ma: Langgalarang, Banyakcatra, Siliwangi,
Haturwangi, prépantun tanya”.
3.2 Identifikasi Prabu Siliwangi
Yang sudah jelas dari persoalan ini adalah Prabu Siliwangi itu bukan nama
sejati tapi nama alias/julukan/gelar. Poin yang menarik ketika membicarakan
Prabu Siliwangi adalah menyoal tokoh ini identik dengan raja yang mana?
Mengenai hal ini setidaknya muncul dua pendapat. Pertama, tokoh Prabu
Siliwangi itu banyak. Undang A. Darsa (2011: 32) berpendapat bahwa dari 32
raja Kerajaan Sunda ada empat yang mendapat gelar Prabu Siliwangi. Mereka
adalah raja yang saat memerintah Kerajaan Sunda ditandai dengan geopolitik
yang guncang yang terjadi pada abad ke-15 dan 16, yaitu saat Barat masuk,
saat Majapahit runtuh, dan saat masyarakat agraris mulai berkenalan dengan
ekonomi dagang. Sayang, Undang A. Darsa tidak menyebutkan keempat raja itu
siapa saja namanya. Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa tokoh Prabu
Siliwangi itu tujuh, bahkan sampai dua belas orang. Tampaknya ada anggapan
bahwa Siliwangi itu gelar resmi raja sehingga setiap raja Pajajaran disebut
Siliwangi (Danasasmita, 2003: 142)
Pendapat kedua menyebutkan bahwa Prabu Siliwangi itu hanya satu. Tokoh itu
identik dengan Prabu Jayadewata. Terhadap pendapat ini, Ayat Rohaedi (?)
(dalam Sumadio, 1993: 394) memberi tanggapan bahwa mengidentikkan Prabu
Siliwangi dengan tokoh Prabu Jayadewata (Sri Baduga Maharaja, 1482 – 1521)
sebagaimana disebut dalam *Carita Parahiyangan *dianggap terlalu berani.
Mengapa? Raja yang masih memerintah atau baru beberapa tahun meninggal
dunia sudah disebut-sebut namanya sebagai tokoh ceritera patun (pada tahun
1518 atau sebelumnya) dianggap sebagai “pamali”. Tanggapan di atas dikritik
oleh Saleh Danasamita, bahwa mengangkat tokoh yang masih hidup dalam sebuah
cerita (pantun atau kakawen, misalnya) sudah lumrah. Terdapat sejumlah
contoh kasus mengenai hal ini. Empu Kanwa mengangkat lakon raja Erlangga
dalam *Kakawen Arjuna Wiwaha*; Empu Darmaja mengangkat lakon perkawinan
Raja Kameswara dalam *Kakawen Smardahana*, Empu Sedah dan Empu Panukuh
mengangkat lakon Raja Jayabaya dalam Kakawen *Bharatayuddha*. Lakon cerita
dan sang tokoh hidup sezaman.
Hasil dari koroborasi sejumlah sumber (*Purwaka Caruban, Naskan Pamarican,
Waruga Jagat, Babad Pajajaran, Carita Parahiyangan, dan Babad Siliwangi*)
yang dilakukan oleh Saleh Danasasmita tampaknya pendapat yang lebih kuat
adalah Prabu Siliwangi itu hanya satu dan identik dengan tokoh raja yang
bernama Prabu Jayadewata atau Sri Badugamaharaja yang berkuasa sebaga raja
Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran pada 1482 – 1521.
3.3 Arti Siliwangi
Siliwangi berasal dari kata *asilih wewangi *yang berarti ganti nama atau
ganti ngaran. Dalam bahasa Sunda (kuna), nama (*ngaran*) sering disebut
juga *wawangi*. Istilah *wawangi* hanya digunakan untuk seorang tokoh,
terkenal, dan punya nama harum.
Secara historis tokoh ini (Prabu Jayadewata) memang berganti nama (*asilih
wewangi, silihwangi, siliwangi*). Pergantian nama ini terjadi ketika
pelantikan yang kedua kalinya. Semula beliau bernama/bergelar Prebu Guru
Dewataprana, ketika dilantik jadi raja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran
diganti menjadi Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang
Ratu Dewata. Pada Prasasti Batu Tulis disebutkan:
“Ini sasakala. Prebu Ratu purane pun diwastu diya wi ngaran Prebu Guru
Dewataprana diwastu diya di ngaran Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan
Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata”.
(Ini tanda peringatan, Prabu Ratu almarhum, beliau dilantik menggunakan
nama Prabu Guru Dewataprana, dilantik lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja
Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata”).
Nama resmi raja dalam bahasa Sunda disebut *wawangi*. Arti harfiyahnya
adalah wewangi (*seuseungit*). Disebut demikian karena harum dan masyhurnya
raja tampak dalam nama resminya. Keterangan *Babad Siliwangi *yang
menyebutkan nama “siliwangi” berarti *asilih wewangi *(mengganti nama)
cocok dengan keterangan yang ada pada Prasasti Batutulis. Atas dasar alasan
ganti nama atau ganti gelar itulah, Sri Baduga Maharaja menjadi terkenal
dengan julukan Siliwangi (Danasasmita, 2003: 67).
IV. Simpulan
1. Keberadaan kerajaan Pajajaran adalah historis, bukan mitos, bukan
dongeng. Keberadaannya didukung oleh fakta historis. Nama kerajaan
Pajajaran harus dibaca sebagai Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan
Pajajaran. Kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Pajajaran.
2. Keberadaan Prabu Siliwangi pun adalah historis, bukan mitos, bukan
dongeng. Keberadaannya didukung oleh fakta historis. Raja Pajajaran yang
dijuluki Prabu Siliwangi hanya satu . Prabu Siliwangi identik dengan Sri
Baduga Maharaja.
V. Daftar Sumber:
Ali, R. Moh. Et al. 1975.
*Sejarah Jawa Barat; Pandangan Filsafat Sejarah*. Bandung: Proyek Penunjang
Peningkatan Kebudayaan Nasional Provinsi Jawa Barat.
Asmar, Teguh et al. 1975.
*Sejarah Jawa Barat dari Masa Pra-Sejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam
*. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Provinsi Jawa
Barat.
Dana, Sasmita. 1975.
“Latar Belakang Sosial sejarah Kuno Jawa Barat dan Hubungan antara Kerajaan
Galuh dengan Pajajaran”, dalam Asmar, Teguh et al. 1975. *Sejarah Jawa
Barat dari Masa Pra-Sejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam*. Bandung:
Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Provinsi Jawa Barat; hlm
40 – 81.
…….. 1983.
*Sejarah Bogor*. Bogor: Pemerintah Daerah Kotamadya DT II Bogor.
…….. 2003.
*Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi*. Bandung:
Girimukti.
…….. 2006.
“Ya nu Nyusuk na Pakwan”, dalam *Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya
mengenai Budaya Sunda*. Bandung: Pusat Studi Sunda; hlm. 11 – 41.
…….. 2006. “Mencari ‘Gerbang Pakuan’”, dalam *Mencari Gerbang Pakuan dan
Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda*. Bandung: Pusat Studi Sunda; hlm. 91
– 123.
Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati. 2003.
“Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan”, dalam *Tulak Bala;
Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian lainnya megenai
Budaya Sunda*. Bandung: Pusat Studi Sunda; hlm. 173 – 208.
Darsa, Undang A. 2011.
“Prabu Siliwangi Ada”, *Pikiran Rakyat*, 26 Maret 2011, hlm. 32.
Iskandar, Yoseph. 2005.
*Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa)*. Bandung: Geger Sunten.
Lubis, Nina Herlina et al. 2003.
*Sejarah Tatar Sunda*. Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas
Padjadjaran.
…….. 1991.
“Prabu Siliwangi sebagai Leluhur Elit Politik Priangan”,
*Makalah*disampaikan pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan
Pajajaran,
Bogor 11 – 13 November.
Noorduyn, J. dan A. Teeuw. 2009.
*Tiga Pesona Sunda Kuna*. Diindonesiakan oleh Hawe Setiawan. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Permana, Aan Merdeka. 2011.
“Siapa Bilang Pajajaran Fiktif Belaka”, dalam *Pikiran Rakyat*, 12
Februari; hlm 29.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto (ed.). 1993.
*Sejaran Nasional Indonesia II*. Edisi ke-4. Cetakan ke-8. Jakarta: Balai
Pustaka.
Purwanto, Bambang. 2011.
“Visual Masa Lalu dan Tradisi Historiografis di Tatar Sunda; sebuah Kajian
Awal”, *Makalah* disampaikan pada seminar internasional “Reformulasi dan
Transformasi Kebudayaan Sunda”, diselenggarakan oleh Fakultas Sastra
Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata, Jatinangor 9 – 10 Februati; hlm. 1 – 9.
Romli HM, H. Usep. 2011.
“Mapay Raratan Pajajaran”, dalam *Mangle*, No. 2311, 24 Februari – 2 Maret,
hlm. 8 – 9.
Rosidi, Ayip. 2011.
*Urang Sunda di Lingkungan Indonesia; Biantara Panampian Gelar Honoris
Causa dina Widang Elmu Budaya Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran*.
Bandung: Kiblat Utama.
Sumadio, Bambang (ed.). 1993.
“Jaman Kuna”, dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho
Notosusanto. *Sejaran
Nasional Indonesia II*. Edisi ke-4. Cetakan ke-8. Jakarta: Balai Pustaka.

SUMBER: http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/
-- 
=> http://www.kompasiana.com/ahsa


 

Kirim email ke