10 Hari di Yaman

Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan bersama Tim Delegasi
Indonesia untuk evakuasi santri dan pelajar asal Indonesia di Ma’had
Darul Hadis, Dammaj, Yaman tanggal 16 s.d 25 Desember 2011. Selama di
Yaman ada banyak yang hal yang menarik, antara lain:

1.    Negeri Yaman adalah tempat yang sangat menarik minat santri,
pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk menuntut dan memperdalam ilmu
agama. Daya tarik tersebut disebabkan oleh hubungan antara Yaman
(terutama Hadhramaut) dengan Indonesia sudah lama terjalin. Menurut
penelitian Prof. L.W.C van der Berg ( Belanda), orang-orang Arab yang
bermukim di nusantara umumnya berasal dari Hadhramaut. Bahkan menurut
Prof. Said Aqil Husin al-Munawwar, jumlah warga Indonesia yang
berketurunan Arab Hadhramaut sekitar lima jutaan. Di samping itu,
tradisi keilmuan Islam di Yaman terutama di Tarim, Hadhramaut mirip
dengan tradisi pesantren di Indonesia, seperti tradisi tahlilan,
sema’an al-Qur’an, membaca ratib dan wirid-wirid tertentu. Mungkin
itulah sebabnya, sehingga para Kyai di
2.    Indonesia mengirim putera-puterinya serta santrinya ke Yaman
yang dari segi fiqih juga menganut fiqih Syafi’iyah. Para Kyai
berkeyakinan bahwa dengan belajar di Yaman, tradisi keilmuan yang
dikembangkan selama ini akan bisa berkesinambungan. Dari sini, Yaman
berbeda dengan tradisi keilmuan di Mesir yang sangat terbuka dan
liberal, sehingga semua aliran pemikiran dan mazhab diajarkan.

3.    Ditambah lagi dengan banyaknya ma’had (pesantren) dan
universitas di Yaman. Di Tarim, Hadhramaut ada Jami’ah Ahqaf (al-Ahqaf
University), Ma’had Ribath dan Ma’had Darul Musthafa yang memiliki
santri yang sangat banyak. Di desa Tarim sendiri terdapat 360 masjid
yang juga merupakan tempat belajar santri. Di Zabid, Hudaidah, Yaman
Selatan, terdapat sejumlah ma’had yang ditempati santri asal Indonesia
menuntut ilmu agama. Daya tarik Zabid, meskipun wilayah ini termasuk
panas pada bulan-bulan tertentu adalah ketokohan dan kharisma para
syekhnya. Keikhlasan, dan kesungguhan para syekh inilah yang membuat
para santri tekun menuntut ilmu. Terdapat syekh tertentu yang sama
sekali tidak memungut biaya dalam proses belajar mengajar termasuk
ketika para santri mengadakan upacara selamatan menamatkan satu buah
kitab. Seorang syekh sama sekali tidak mau menerima pemberian
santrinya, baik berupa makanan (berkat), apalagi uang. Seorang syekh
hanya makan secukupnya di tempat acara, dan tidak membawa apa-apa ke
rumah mereka. Santri di mata syekh hanyalah seorang “thalib” ( orang
yang sedang menuntut ilmu) jauh dari kampung halaman, sehingga mereka
patut untuk dibantu.

4.    Di Provinsi Sa’dah terdapat kecamatan Dammaj tempat berdirinya
Ma’had Darul Hadis Salafy pimpinan Syekh Yahya al-Hajury. Di Darul
Hadis Dammaj ini terdapat 150-an santri asal Indonesia, 5 orang
diantaranya sudah tewas tertembak oleh pasukan Abdul Malik al-Houthy.
Ma’had Darul Hadis Pimpinan Syekh Yahya al-Hajury menurut data yang
disampaikan Eric Marclay, Direktur ICRC, Palang Merah Internasional
mengenai perkembangan dan upaya evakuasi di Dammaj, 3.000-an
diantaranya berstatus santri, 4.000-an penduduk setempat, dan 3.000-an
lainnya masyarakat pekerja, seperti sopir Taxi. Para santri asal
Indonesia, dengan santri lainnya dari Prancis, Swiss, Rusia, Malaysia,
dan Amerika Serikat cenderung tidak mau meninggalkan Ma’had Darul
Hadis karena pengaruh fatwa Syekh Yahya Al-Hajury. Mereka berkeyakinan
bahwa tetap tinggal dalam pesantren adalah bentuk jihad mempertahankan
diri dari musuh (dalam hal ini al-Houthy yang Syi’ah Zaidiyah itu).
                                   5. Di Shana’a, ibu kota Yaman
paling banyak perguruan tinggi dibanding dengan kota lainnya di Yaman,
antara lain:
a.    Universitas al-Iman,
b.    Universitas al-Yemeniyah,
c.    Universitas Azal,
d.   Universitas Saba’,
e.    Universitas al-Wathaniyah,
f.     Universitas Yaman,
g.    Universitas Sains dan Teknology,
h.    Universitas al-Andalus.
i.      Dll
     Universitas al-Iman adalah salah satu perguruan tinggi yang tidak
direkomendasikan oleh pemerintah Yaman. Sebab, rektornya: Dr Zindany
adalah salah seorang mantan kepercayaan Osamah bin Laden, pemimpin
tertinggi al-Qaedah. Dr. Zindany juga termasuk DPO Dewan Keamanan PBB.
Menurut laporan, ketika terjadi revolusi Yaman, para mahasiswa di
al-Iman University juga diberi pembekalan latihan militer dalam
kampus. Terdapat beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di
al-Iman University ini. Dan Tim delegasi sudah bertemu dengan mereka
(keterangan nama-nama mahasiswa terlampir).


6.      Mengingat jumlah santri, pelajar dan mahasiswa asal Indonesia
yang jumlahnya berkisar lebih 2.000-an—bahkan ada sebuah menyebutkan
sekitar 2.700-an orang (terbanyak kedua setelah Mesir), maka Tim
mengusulkan agar Kementerian Agama RI menginisiasi usul pentingnya
pembentukan Atase Pendidikan Agama di KBRI Shana’a Yaman. Atase
Pendidikan Agama ini akan menangani santri, pelajar, mahasiswa dan
mengarahkan tempat studi mereka serta masalah-masalah yang mereka
hadapi selama menempuh studi di Yaman agar mereka terhindar dari
kelompok Islam garis keras.

Sewaktu Tim delegasi Indonesia merapat dan melobby Syekh al-Imam, saya
memndapatkan buku kecil yang berisi doktrin teologis bagi santri di
Darul Hadis Salafy, Ma’bar. Ada banyak karya lainnya yang dihadiahkan
oleh pimpinan Darul Hadith Ma’bar tersebut. Kitab-kitab tersebut kami
boyong ke Indonesia, sebagian yang lainnya untuk koleksi di KBRI
Shana’a, Yaman. Saya membeli khusus kitab tafsir Taisir al-Karim
al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan karya Abd al-Rahman ibn Nashir
al-Sa’dy yang merupakan bacaan wajib santri Ma’bar, ada juga beberapa
karua Syekh al-Imam, seperti Rawafidh al-Yaman yang memuat sejarah
perkembangan syi’ah di Yaman. Ada juga buku kecil yang berjudul:
Ma’rakat al-Hijab, khusus panduan etika memakai cadar bagi perempuan
muslim Yaman. Syekh al-Imam membela cadar. Menurut beliau cadar sama
sekali tidak menghalangi seorang perempuan muslim untuk berkarier dan
mengerjakan pekerjaan domestik  di rumahnya. Orang yang meamaki cadar
akan lebih lincah menyelesaikan pekerjaan ketimbang wanita lainnya.
Perempuan bercadar hanya menghabiskan sedikit waktunya untuk
berdandan. Coba bandingkan dengan wanita pesolek, tentu lebih banyak
waktu untuk memakai bedak, gincu, bercermin, dan lain sebagainya.
Bahkan pada akhir bukunya itu, Syekh al-Imam mengutip pandangan Umar
ibn al-Khattab yang menfatwakan agar perempuan berjalan dengan
jalannya sendiri, dan dilarang untuk berjalan di jalanan yang dilewati
kaum pria.
Karena penasaran, maka pada suatu malam sebelum kembali ke tanah air
saya menyelinap menembus keheningan malam di Sumailah. Saya mencari
Masjid al-Khair yang terkenal sebagai markas “Islam Garis Keras” atau
penganut salafy. Setiba di tempat, saya langsung mencari perpustakaan
mereka yang berada di hadapan Mesjid al-Khair tersebut. Ada beberapa
toko buku di samping kiri-kanannya, tapi toko buku yang satu itulah
yang termasuk menjual buku-buku karya Syekh Muqbil Hadi al-Wadi’y (
maha guru Ja’far Umar Thalib, pemimpin tertinggi Laskar Jihad di
Indoensia), seperti al-Shahih al-Musnad Mimma laisa fi al-Shahihain (
dua jilid), dan al-Fatawa al-Hadithiyah). Ada juga karya Syaikh
al-Islam Ibnu Taimiyah seperti Majmu’ Fatawa ibnu Taimiyah.
Karya-karya Sayyid Quthub juga banyak dijumpai di took buku ini
seperti Tafsir Fi Zilal al-Qur’am, Ma’alim fi al-Thariq yang
controversial itu, dll. Ada lagi karya-karya Dr Nashiruddin al-Albany,
seperti Silsilat al-Ahadith al-Shahihah. Dan tentu saja ada banyak
kitab turath lainnya yang juga dipajang sepanjang rak-rak took buku
tersebut, seperti karya Ibnu Jarir al-Thabary, Tarikh al-Umam wa
al-Muluk, tafsir Iami’ al-Bayan ‘an takwil Ayi al-Qur’an. Ada juga
kitab al-Maghazy, karya al-Waqidy, dan ada banyak kitab khusus ditulis
untuk mengutuk kaum syi’ah, dll.
Walhasil, Yaman di tengah revolusipun masih tetap seksi untuk diamati.
Yaman masih saja memiliki daya tarik para pelajar asal Indonesia dan
Negara lainnya untuk belajar. Padahal di Yaman sejak tahun 2004 sudah
tidak ada lagi program pascasarjana. Itu berarti, tradisi keilmuan dan
akademik Yaman sudah mulai pudar. Lalu, mengapa masih banyak orang
Indonesia yang mengirim putra-puterinya ke sana? Bukankah di Indonesia
sudah banyak lembaga pendidikan pesantren yang jauh lebih maju?
Bukankah di negeri sendiri sudah banyak universitas Islam yang
berstandar internasional? Apa daya tariknya? Apakah betul di Yaman
tanah penuh berkah?
Wa Allah a’lam.
http://afikrizain.blogspot.com/2012/02/10-hari-di-yaman.html
-- 
http://www.kompasiana.com/ahsa


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke