Moehammad Sanoesi

Moehammad Sanoesi. (Cimaragas, Banjar Patroman, Ciamis 1889–Jakarta 8 Okt
1967). Pejuang kemerdekaan, wartawan, dan pengarang. Ayahnya, Radén
Wiradinata, pernah menjadi camat di Warungkiara, Pelabuhan Ratu, Sukabumi.
Setelah menamatkan sekolah dasar, ia melanjutkan ke sekolah guru (HIK) di
Bandung sampai tamat. Setelah lulus ia mungkin sempat mengajar, tetapi yang
jelas perhatiannya lebih terpusat pada jurnalistik dan pergerakan nasional.
Ia aktif sebagai anggota dan kemudian pengurus Sarekat Islam cabang Bandung.

Tahun 1919 terkena persdelict karena tulisannya berupa dangding ”Garut
Génjlong” (Garut gempar) dimuat dalam suratkabar Pajajaran yang isinya
mengeritik keserakahan dan perbuatan tercela Radén Musa (Moesa) Kartalegawa
bupati Garut. Ia ditahan beberapa bulan. Tapi hal itu tidak membuatnya
kapok.

Tahun 1920 ia memimpin Sora Merdéka ”dieusi kaperluan Sarekat Islam jeung
karangan-karangan perkara umum” (diisi keperluan Sarekat Islam dan
karangan-karangan bersifat umum). Dalam kongres Sarekat Islam tahun 1921 di
Semarang, ketika terjadi perpecahan karena kelompok yang dekat dengan
golongan komunis hendak mengangkangi partai tersebut, Muh. Sanusi termasuk
golongan yang dipecat.

Tahun 1923-1926 ia menerbitkan dan memimpin tengah bulanan (kemudian
mingguan) Surapati dalam bahasa Sunda.

Tahun 1926 ia termasuk orang yang dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke
Digul Hulu di Irian yang sangat mengerikan itu. Dibebaskan tahun 1931, Muh.
Sanusi di Bandung kembali aktif dalam dunia jurnalistik dan pergerakan.
Pada waktu itulah ia kelihatan dekat dengan Bung Karno yang baru bebas dari
penjara Sukamiskin.

Dalam dunia karang-mengarang Muh. Sanusi terkenal karena romannya Siti
Rayati (1923) yang terdiri dari tiga jilid buku yang tipis-tipis. Buku itu
mengalami cetak ulang berkali-kali dan besar pengaruhnya kepada para
pengarang Sunda lain seperti Yuhana, walaupun sebenarnya cerita itu masih
sangat sederhana dan mentah. Selama hidupnya Sanusi menikah tiga kali. Yang
pertama dengan sesama lulusan HIK dan ketika dibuang ke Digul ia menikah
lagi karena isteri pertama tidak mau mengikutinya ke pembuangan. Sekembali
dari Digul, ia menikah lagi untuk ketiga kalinya. Dari isteri pertama ia
mempunyai seorang anak bernama Hasan Sanusi yang cukup dikenal dalam dunia
perfileman nasional. --- (Ensikloped Sunda)

Kirim email ke