Pada tanggal 12/12/12, Eko Prasetyo <[email protected]> menulis:
> Nasi Geghog
>
> Catatan Must Prast
> editor Jawa Pos
>
> Kota
> Jogjakarta kerap menjadi destinasi wisata buat saya dan keluarga. Tiap
> berkunjung ke kota pelajar tersebut, saya hampir selalu menyempatkan
> cangkruk (nongkrong) di warung
> angkringan. Menu yang jadi pilihan adalah menu-menu ringan seperti sego
> (nasi) kucing dan teh hangat.
>
> Nah, tadi
> siang (12/12/12) saya janjian bertemu dengan beberapa rekan di Universitas
> Negeri Surabaya (Unesa) kampus Ketintang. Di antaranya, Hartoko dari Puspa
> Agro
> Jatim, Much. Khoiri (dosen bahasa Inggris Unesa), dan Abdur ”Roy” Rohman
> (fotografer majalah kuliner). Saya dan Mas Hartoko sepakat untuk
> mengunjungi
> acara gelar kewirausahaan yang diadakan mahasiswa tata boga Unesa. Tempatnya
> di gedung A3 fakultas teknik, sebelah
> selatan kantor rektorat.
>
> Di sana
> banyak stan makanan yang digelar para mahasiswa tata boga yang kompak
> memakai
> kostum batik warna cokelat terang. Tema acara adalah Cangkru'an Jawa Timur.
> Kegiatan ini menyajikan aneka makanan khas dari berbagai daerah di Jawa
> Timur.
>
> Banyak
> menu yang disajikan. Di antaranya, nasi boranan, nasi krawu (Gresik), nasi
> goreng khas Kota Batu, nasi jagung, bakso bakar, dawet khas Pleret, dan
> banyak
> lagi. Mas Hartoko yang asli Gresik itu langsung menyambar menu sego krawu.
> Untuk
> hidangan penyegarnya, ia memilih es siwalan.
>
> Saya
> sendiri memilih menu nasi goreng khas Batu. Bentuknya hampir sama dengan
> nasi
> goreng pada umumnya. Yang membedakan hanya tambahan telur dadar tipis
> berbentuk
> bundar rapi dan mendol (penganan khas dari tempe yang dikepal dan berbumbu
> pedas). Rasanya cukup bikin lidah bergoyang. Lumayan.
>
> Harga
> seporsi nasi krawu dipatok Rp 8 ribu, sedangkan es siwalan RP 2 ribu. Untuk
> nasi gorengnya, seporsi hanya Rp 6 ribu. Tak lama kemudian Mas Roy datang
> dan
> mentraktir kami dengan menu nasi geghog. Di tempat asalnya, Trenggalek,
> menu
> ini cukup diminati.
>
> Nasi
> geghog mirip nasi kucing di Jogja. Dengan dibungkus daun pisang, prosi nasi
> geghog
> cukup mini. Sekitar tujuh tujuh kali suapan saja. Nasi ini diberi nama
> geghog
> karena bisa bikin perut mengghag-mengghog alias melilit karena tekstur
> pedasnya. Ya, dengan lauk hanya ikan teri jengki,
> nasi geghog menawarkan sensasi pedas. Dari seorang mahasiswi yang saya
> tanyai,
> cabe untuk bumbunya memang diperbanyak. Tak ayal, meski hanya porsi kecil,
> cukup bisa bikin kenyang dan mengghag-mengghog.
>
> Di sesi
> terakhir, Much. Khoiri yang tampil modis dengan celana jins biru dan kemeja
> warna terang datang. Ia mengaku sempat pusing setelah salah satu acara yang
> melibatkannya batal diselenggarakan. Namun, toh siang itu kami cukup
> terhibur
> dengan berbagai menu yang kami santap berempat.
>
> Yang
> tak kalah asyik, ada hiburan organ tunggal. Beberapa mahasiswa urun
> menyumbangkan suara mereka. Rata-rata memilih lagu dangdut. Saya dan Pak
> Khoiri
> berkali-kali menimpali suara fals dari seorang mahasiswa. Tapi, toh kami
> tetap
> gembira. Dengan keringat ndromos sehabis menyantap nasi geghog, saya ikut
> menggoyangkan kepala seiring lagu
> dangdut yang diperdendangkan. Apalagi, salah satu biduannya berparas manis
> dan
> berbodi 4 sehat 5 sempurna. Benar-benar geghog...!
>
>
>
> Eko Prasetyo
> http://mustprast.wordpress.com


-- 
http://www.kompasiana.com/ahsa


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke