Profil Abdul Kodir, 'Pendekar' Konservasi dari Condet Written by Safari Sidakaton Thursday, 01 March 2012
*Semangatnya untuk menjaga lingkungan begitu besar, terutama kawasan konservasi Condet yang dialiri Sungai Ciliwung. Bersama rekan-rekannya, Kodir pun bak 'pendekar' yang selalu siaga... * [image: Abdul Kodir menjadi penggagas konservasi kawasan Condet/ Foto-foto: Safari TNOL]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/Khodir.jpg>Abdul Kodir menjadi penggagas konservasi kawasan Condet/ Foto-foto: Safari TNOL BANYAK hal positif yang diperoleh jika melestarikan lingkungan dan menghindarkannya dari berbagai macam kerusakan. Diantaranya adalah hidup nyaman, tanpa harus ketakutan akan terkena berbagai bencana seperti banjir atau polusi udara. Selain itu, lingkungan yang terpelihara juga bisa menjadi ajang belajar bagi siapapun. Karena, akan terdapat banyak makhluk hidup seperti satwa, tanaman dan lainnya yang hidup di lingkungan tersebut yang bisa dipelajari. Berbagai macam manfaat inilah yang membuat Abdul Kodir (42), lelaki asli Betawi yang melestarikan kawasan Condet sebagai konservasi alam. Bersama kawan-kawannya, ia juga membentuk komunitas pelestari lingkungan dengan nama Komunitas Ciliwung Condet (KCC) yang dibentuknya pada tahun 2005 lalu. Dan, hingga saat ini, sedikitnya sudah sepuluh komunitas yang peduli dengan lingkungan bergabung dengan KCC untuk menggelar berbagai kegiatan agar mencintai lingkungan. [image: Menjaga lingkungan menjadi bagian hidupnya]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/Khodir1.jpg>Menjaga lingkungan menjadi bagian hidupnyaSetiap harinya, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini juga selalu bersentuhan dengan berbagai macam tanaman dan buah-buahan yang ada di kawasan Condet yang memiliki luas satu hektar tersebut. Kesibukannya diisi dengan membudidayakan tanaman seperti menanam dan merawat Salak Condet yang pernah menjadi ikon Jakarta. Ia juga membudidayakan buah duku asli Condet yang mempunyai rasa yang berbeda dengan duku pada umumnya. Buah tersebut memiliki rasa manis yang mencolok, sehingga terasa lezat ketika sampai di lidah. Pohon lain yang dirawatnya adalah pohon pucung yang sudah masuk kategori sebagai pohon langka. Pohon pucung ini, buahnya dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat berbagai macam masakan pindang. Selain itu, kegiatan lain yang dilakukannya setiap hari adalah memunguti sejumlah sampah yang berserakan di sungai Ciliwung. Biasanya, ketika memunguti sejumlah sampah ia ditemani oleh kawan-kawannya. Dengan menggunakan rakit bambu, setidaknya setiap hari ia bisa mengumpulkan enam kantong sampah yang tertambat dan berserakan di pinggiran sungai Ciliwung. [image: Mengembangkan tanaman Salak Condet]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/Khodir2.jpg>Mengembangkan tanaman Salak Condet"Kita melestarikan kawasan Condet karena apa yang menjadi gagasan, isu atau persoalan di dunia semua ada di sini," ujar Abdul Kodir kepada *TNOL*, kemarin. Kodir mengakui, sangat mencintai kawasan Condet karena mewarisi ayahnya Haji Muhammad Nuh (almarhum). Oleh karena itu, ia bersama kakaknya Abdul Basit mengupayakan kawasan Condet harus tetap dilestarikan agar bermanfaat untuk orang lain. Apalagi, tanaman yang ada di kawasan Condet juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi untuk masyarakat sekitar. Dari kesepuluh saudaranya, hanya ia dan Abdul Basitlah yang mewarisi profesi ayahnya sebagai tukang kebun. "Banyak motif kalau kawasan Condet ini kita lestarikan. Ini bisa menjadi upaya menghidupkan pola-pola bersilatuhrami di masyarakat. Seperti silaturahmi lingkungan sebagai anggota masyarakat. Makanya, ayo kita bangun bareng agar bermafaat untuk semua orang. Karena dari flora dan fauna semuanya ada di sini," jelas lelaki peraih gelar Sarjana Pertanian dari Universitas Borobudur ini berharap. [image: Bersama rekan-rekan aktif menjaga lingkungan dan kawasan Condet dari sampah dan kerusakan]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/khodir3.jpg>Bersama rekan-rekan aktif menjaga lingkungan dan kawasan Condet dari sampah dan kerusakanSelain itu, sambung Kodir, berbagai makhluk hidup di kawasan Condet jika dikonversikan ke dunia pengetahuan juga akan menjadi bahan kajian tersendiri. Jika ditarik benang merahnya, Condet atau Sungai Ciliwung yang mengalir di kawasan Condet akan mengundang banyak pihak yang ingin mengetahuinya, baik dari sejarah, keilmuan, flora-fauna, lingkungan dan aspek tata air. Karenanya, berbagai macam mahluk hidup yang berada di kawasan Condet harus diketahui oleh masyarakat umum dan bagaimana mengorientasikannya untuk masa mendatang. Hal itu, diperlukan mengingat kawasan Condet juga merupakan penopang infrastruktur bagi Ibu Kota Jakarta. Upaya yang dilakukannya juga sebagai upaya agar masyarakat lebih bersifat adil, obyektif dalam masing-masing segmen masyarakat. "Istilahnya kalau kita sudah punya dasar-dasar yang kuat untuk berbicara tentang pengetahuan silakan diberikan ke masyarakat sebagai bentuk edukasi. Kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya advokasi lingkungan. [image: Pohon Pucung, ikut dibudidayakan]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/khodir4.jpg>Pohon Pucung, ikut dibudidayakanKita memberikan informasi tentang kondisi sungai, flora fauna yang butuh perhatian siapapun untuk mencari tahu. Kalau dari kalangan akademisi, daya pendukungnya apa yang bisa kita gunakan untuk mengelola itu,” jelas lelaki kelahiran Jakarta, 9 September 1970 ini. Oleh karena itu, jika sudah mengetahui konsepnya, maka masyarakat Jakarta yang sangat heterogen tersebut bisa saling melengkapi. Jadi, semuanya harus berorientasi ke lingkungan secara menyeluruh dan dinamis. Sehingga diperlukan keterpaduan, karena dari keterpaduan tersebut nantinya bisa menjadi basis bentuk pengelolaan lingkungan. Padahal, banyak manfaat jika mengkonservasi kawasan Condet, seperti bisa memberikan berbagai informasi kepada pihak lainnya. Kawasan Condet juga bisa digunakan sebagai ajang saling belajar, karena berbagai pihak yang datang ke kawasan Condet juga akan membawa informasi. Dari informasi tersebut akan dibawa ke luar dengan kemampuan intelektualnya, sehingga, ketika nantinya datang kembali, akan membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. [image: Kodir juga mengembangkan tanaman Duku Condet]<http://www.tnol.co.id/images/stories/2012/Profil/Abdul_Kodir/khodir5.jpg>Kodir juga mengembangkan tanaman Duku CondetSelain itu, tambahnya, anak-anak dari tingkat pendidikan dasar juga bisa menikmati kawasan Condet dengan bermain, membaca buku dan meriset berbagai tanaman atau makhluk lainnya yang hidup di kawasan Condet. "Banyak yang kita gagas. Nantinya di kawasan Condet akan membawa manfaat dan saling bersinergi dalam gagasan keilmuan," tandas Kodir sembari berpesan untuk menyempurnakan hari dengan menanam, menyempurnakan hari dengan lingkungan dengan cara menyiram tanaman*. (Sbh) *
