Manstaaaaap article-nya.... Di share lagi ingponya Om :). 

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: ichal amq <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 10 Feb 2013 02:59:07 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [4wheeler] masih tentang kecanduan gadget

 “Ayah-Ibu, sms-an nya udah dong. Aku lagi cerita nih!”
KENAPA ORANG DEWASA BISA TERANCAM KECANDUAN GADGET

Seorang anak protes kepada ayah-ibu nya karena pada saat ia bercerita
tentang balok yang sedang disusunnya, mereka selalu sibuk dengan gadget di
tangannya. Si ayah-ibu melirik sebentar ke anak, seakan mendengarkan si
anak bicara sambil tetap memencet tombol-tombol di gadget nya. Setelah si anak
selesai bercerita, ayah-ibu berkata “ohh…begitu. Hebat..bagus”, dan mereka
kembali sibuk dengan gadget nya.

Kenapa orang dewasa juga terancam kecanduan gadget? Ini adalah karena otak
kita sudah mendapat kenikmatan. Para ahli mengatakan bahwa seringnya orang
dewasa mengecek email, telpon masuk, twitter, fb, dan informasi lainnya
yang masuk melalui gadget, dapat mengubah bagaimana orang berpikir dan
berprilaku. Mereka mengatakan bahwa kemampuan kita untuk fokus sedang
dirusak oleh luapan informasi. Kegiatan bergulat dengan luapan informasi
ini berkaitan dengan impuls otak untuk merespon segera akan kesempatan dan
ancaman. Stimulasi ini menimbulkan kenikmatan di otak – otak kita
menyemburkan dopamine – para peneliti mengatakan bahwa ini dapat
menyebabkan kecanduan. Jika tidak ada semburan ini, orang akan merasa
bosan. Dari beberapa hasil penelitian tentang anak-anak yang kecanduan
games dan pornografi, efek dopamine ini juga yang menjadi penyebab
terjadinya kecanduan tersebut.

Hasil dari distraksi ini dapat berakibat fatal, sama seperti penggunaan
telepon genggam sambil berkendara yang dapat menyebabkan tabrakan. Bagi
kehidupan keluarga, hasil penelitian diatas dapat menyebabkan
goresan-goresan pada kreativitas dan kemampuan berpikir lebih dalam,
menginterupsi kehidupan kerja dan keluarga.

Banyak orang berpendapat bahwa multasking (mengerjakan banyak hal dalam
satu waktu), membuat mereka lebih produktif, Berbeda dengan jaman dimana
tehnologi masih terbatas, multitasking di era tehnologi melibatkan
penggunaan gadget, bahkan lebih dari satu gadget dalam satu waktu. Para
ilmuwan dan peneliti mengatakan bahwa pelaku multitasking sebenarnya lebih
bermasalah pada fokus dan kesulitan menghentikan informasi yang tidak
penting, dan mereka lebih sering mengalami stress. Selain itu, ilmuwan juga
menemukan bahwa bahkan setelah multasking selesai, para pelaku multitasking
ini tetap mengalami berpikir patah (seperti pada patah tulang) dan
kesulitan untuk fokus. Dengan kata lain, ini juga terjadi pada saat otak
kita lepas dari gadget.

“Tehnologi mengubah susunan otak kita,” kata Nora Volkow, direktur National
Institute of Drug Abuse, dan juga seorang ilmuwan dunia yang terkenal dalam
penelitian tentang otak. Ia dan beberapa peneliti menunjukkan bahwa efek
stimulasi digital memang tidak separah kecanduan narkoba dan alkohol, tapi
tetap saja berimbas pada kehidupan keluarga yang kontraproduktif.

Bagaimana dengan interaksi orangtua-anak dimana orangtua nya tidak bisa
lepas dari gadget? Smartphone ternyata berdampak pada kualitas bahasa pada
anak, terutama anak usia dini. Dr Diana Suskind, seorang peneliti dan
dokter bedah di University of Chicago, melakukan penelitian dengan merekam
pembicaraan orangtua-anak di 6 rumah di Chicago, dimana orangtua mengatakan
bahwa mereka sering melihat smartphone mereka. Dr Suskind merekam setiap
keluarga setidaknya 2 kali – satu kali dengan smartphone dan komputer
menyala dan yang kedua alat tersebut dalam keadaan mati. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa mematikan smartphones dan laptop memiliki dampak kuat
pada interaksi verbal antara orangtua-anak dirumah. Anak dengan orangtua
yang meminimalkan penggunaan gadget pada saat berinteraksi dengan anak,
memiliki jumlah kata yang diucapkan jauh lebih banyak daripada anak yang
berinteraksi dengan orangtua yang selalu “menatap layar” gadget. Penting
bagi orangtua untuk mengetahui pada saat mereka berbicara pada anak, mereka
sedang mentransfer perasaan sayang dan juga kata-kata. Ketika kita bicara
pada orang, selalu ada pesan yang bisa dirasakan, “Aku suka berbicara
denganmu” atau “aku tidak suka berbicara denganmu.”

Meredith Sinclair, seorang ibu dan blogger, mengatakan bahwa dia tidak
pernah menyangka bagaimana kegiatannya yang ia sebut “kecanduan email dan
website sosial media” ternyata mengganggu anaknya sampai ia membuat
peraturan “jam tanpa email dan internet” antara jam 4 sore – 8 malam.
Anaknya pun merespon dengan perasaan gembira. “Ketika aku mengatakan
peraturan itu, anakku yang berusia 12 tahun, langsung berkata “YES!”.

“Kita tidak bisa melakukan keduanya,” ia menambahkan. “Jika aku selalu
terhubung dengan internet, itu sangat menggoda. Aku butuh untuk membuat
pilihan yang jelas.”

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah membuat pilihan yang jelas?

Disadur dari
YOUR BRAIN ON COMPUTERS
Attached to Technology and Paying a Price
dan The Risks of Parenting While Plugged In
 —


Semoga Bermanfaat buat saya dan kita semua

Ichal

Kirim email ke