Maca opini dina detik.com dihandap ieu (artikelna geus rada heubeul) teuing 
kuring bet hayang jadi seuri, ngan seurina duka seuri koneng atawa seuri maur. 
Komo ras inget kana perkara jilbab mah, nu paling sukses dina perkara jilbab 
geuningan KPK, mangga we ti Maharani nu ngilu kacerek di Hotel jeung AF tepika 
Neneng Sri Wahyun sadayana ngadadak dikarurudung, malah aya nu make cadar 
sagala ...hehehe


Kamis, 21/02/2013 20:31 WIB
Opini
Salehnya Politisi Kita
Raja Juli Antoni - detikNews

Jakarta - Hati saya sedang berbunga-bunga. Sebagai mantan aktivis sebuah 
organisasi pelajar Islam, alhamdulillah wa syukurulillah, sebulan terakhir 
meskipun bukan bulan puasa, politisi kita terasa semakin `saleh' dan 
`religius'. Terima kasih juga kepada media yang telah bersedia menjadi panggung 
unjuk kesalehan para politisi.

Repotnya, sekarang saya mengalami kesusahan membedakan ustadz, mubaligh, dan 
kyai dengan politisi. Semuanya mirip. Perilaku keberagamaan mereka sama. 
Mungkin fenomena ini mesti dilihat sebagai keberhasilan pada level praktis dan 
kongkret ajaran tentang Islam itu adalah agama dan sekaligus negara (Al-Islam 
huwa Ad-din wa Ad-daulah). Ustadz Yes; Politikus Yes. Atau, mubaligh OK, 
presiden lebih OK dong!

Coba simak rangkain kejadian di bawah ini! Insya Allah, Anda (tidak) akan 
sepakat bahwa politisi kita kini tambah religius.

Agama Para Politisi

Lihatlah kesalehan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), mantan Presiden Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS). Seketika sebelum masuk 'mobil jemputan' Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK) seraya membantah bahwa ia terlibat dalam kasus impor sapi, LHI 
menyempatkan diri mengutip dzikir dari ayat Al-Qur'an: `hasbunallah wa anni'ma 
al-wakil, ni'ma al maula wa ni'ma annashir' (cukuplah Allah menjadi penolong 
kami dan Allahlah sebaik-baiknya pelindung dan penolong). Kapan lagi kita bisa 
menyaksikan politikus yang dari mulutnya meluncur ayat-ayat Tuhan.

Selain itu LHI juga terkenal seorang yang taat beragama. Seorang koleganya di 
DPR memberikan kesaksian bahwa LHI adalah sosok yang alim, religius dan khusuk 
(Kompas 31/01/2013). Di hari yang sama, tetangga LHI di malang juga 
mengeluarkan testimoni yang hampir sama bahwa LHI adalah orang yang baik hati, 
sederhana dan dermawan. Ia rajin menyantuni anak yatim piatu dan fakir miskin 
(Kompas 31/01/2012). Uswah hasanah (teladan) yang hampir sempurna!

Tidak kalah saleh dari mantan presiden partai dakwah di atas, Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY), Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat (PD), mempertontonkan 
kesalehannya kepada publik dengan cara yang lain. Tepat di depan Ka'bah, Masjid 
Haram Makkah Al-Mukarramah, SBY menularkan religiusitasnya dengan mengirim 
pesan singkat (SMS) kepada kader demokrat di seluruh Indonesia untuk berdoa 
agar kemelut yang menerpa partai ini segera berakhir (detik.com 06/02/2013 ).

Ajaibnya, ternyata doa SBY langsung dikabulkan Tuhan. Usai shalat subuh di 
Makkah dan Madinah SBY mendapatkan petunjuk bagaimana cara menyelesaikan 
problem internal demokrat yang menyebabkan perolehan partai ini jeblok di 
berbagai survei (detik.com 08/02/2013). Dengan rangkaian unjuk kesalehan ini, 
sebagai partai "nasionalis-religius" kader demokrat nampaknya paham bahwa 
tindakan penyelamatan yang dilakukan SBY setibanya di Jakarta bukan sekedar 
langkah politis, pragmatis dan profan melainkan sebuah "divine intervention" 
yang harus ditaati. Saya berani bertaruh, SBY adalah presiden Indonesia yang 
paling saleh dibanding Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Gus Dur dan Megawati!

Tidak kalah saleh dari seniornya yang berada di Makkah, Anas Urbaningrum (Ketua 
Umum PD) juga memperlihatkan kesalehan par excellence. Di tanah air, di 
rumahnya di kawasan Duren Sawit, Anas menggelar khataman Al-Qur'an. Para 
pembaca Al-Qur'an sengaja didatangkan dari sebuah pesantren Nahdlatul Ulama 
(NU) di Yogyakarta yang dipimpin mertuanya, K.H. Attabik Ali. Tidak 
tanggung-tanggung, mereka menamatkan Al-Qur'an yang sebegitu tebal dua kali 
dalam sehari (Kompas, 08/02/2013).

Sehari sebelumnya, didera `pengkhiatan para sengkuni', di depan kader Demokrat, 
Anas yang diduga terlibat bisnis haram bersama Nazaruddin (mantan Bendahara 
Umum PD), menyitir sirah nabawiyah tentang pentingnya loyalitas dan soliditas 
para sahabat bagi kemenangan dan kejayaan Islam pada masa Rosulullah (detik.com 
07/02/2013). Bahkan, setelah kekuasaannya dipreteli di Cikeas, setibanya di 
rumah, hal pertama yang dilakukan anas adalah menunaikan salat, menghadap ilahi 
rabbi (beritasatu.com 09/02/2013). Adakah Ketua Umum partai yang se-saleh Anas 
Urbaningrum? Rasanya tidak ada!

Lain PKS, lain Demokrat, lain pula Golkar. Rusli Zainal, Ketua DPP Partai 
Golkar dan juga Gubernur Riau yang kini menjadi tersangka dua kasus korupsi 
sekaligus, juga orang yang kadar kesalehannya tidak boleh diragukan. Kalau Anda 
berkunjung ke Riau petang menjelang maghrib, sempatkan menonton adzan maghrib 
di TV lokal (Riau TV). Suara muadzin-nya merdu dan mendayu-dayu membuat orang 
ingin lekas-lekas wudhu' dan sembahyang. Anda tahu, sang muadzin yang bersuara 
merdua itu adalah Bapak Gubernur Riau!

Sekitar sepuluh tahun lalu ketika saya menyempatkan diri bersilaturahim dengan 
orang tua di Pekanbaru, Rusli Zainal sedang digadang-gadang untuk menjadi 
gubernur. Tetangga saya banyak yang kagum kepadanya. "Sosok muda visioner!" 
begitu kata mereka. Dan yang lebih penting, lanjut tetangga saya, Rusli Zainal 
adalah orang yang taat beragama. Biasa mengisi khutbah Jum'at bahkan pernah 
menjadi juara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat kabupaten. "Kapan lagi 
kita punya gubernur seorang qori?" tanya tetangga saya menjajakan gubernur 
jagoannya. Memang, saya kira tidak ada gubernur di Indonesia yang bisa 
mendendangkan ayat-ayat suci sefasih Rusli Zainal!

Cerita tentang kesalehan politisi kita tidak sampai di sini. Bila beri salam 
sama dengan berjilbab maka kita tidak perlu lagi ada ormas Islam seperti NU dan 
Muhammadiyah. KPK lebih canggih dalam berdakwah untuk menjilbabkan para 
muslimah. Lihatlah Maharani Suciono yang tampil pada konferensi pers pasca 
penangkapannya bersama Ahmad Fathoni di sebuah kamar hotel mewah di Jakarta. 
Tubuhnya tertutup rapat dengan kerudung yang menempel di kepalanya. Dipta 
Anindita, istri muda Irjen Djoko Susilo yang terlilit kasus simulator SIM, 
datang ke KPK juga mengenakan busana muslimah (13/02/2013). Ia terlihat seperti 
santri pulang liqo. Sulit membedakan Maharani dan Dipta dengan ibu-ibu Majelis 
Taklim Al-Mansyuroh dekat rumah saya di Bekasi selain memang keduanya pasti 
terlihat lebih cantik.


Reorientasi Keberislaman?

Keriang-gembiraan saya akan semakin salehnya politisi tertunda ketika seorang 
kawan mengingatkan bahwa beragama tidak boleh berhenti pada ritual dan simbol. 
Agama tidak hanya di `kulit' tapi harus merasuk ke `daging' dan `tulang'. 
Bahkan dia dengan berani menuduh para politisi yang saya ceritakan di atas 
sedang melakukan malpraktik keberagamaan. "Apakah praktik keberagamaan yang 
serba simbolik seperti itu tidak akan membuat orang eneg dan mules terhadap 
Islam?" tanya kawan saya itu. Saya mengangguk lemes mengiyakan. Hati saya layu, 
tidak berbunga-bunga lagi.

Tapi mau bagaimana lagi. Al-Qur'an adalah kitab suci seluruh ummat Islam tanpa 
melihat mereka berjanggut, berkumis atau plontos. Ka'bah juga tidak saja milik 
penguasa alim tapi juga kepunyaan penguasa lalim. Tuhan Yang Maha Pengasih dan 
Pengampun menurunkan Islam tidak hanya untuk rakayat jelata yang papa tapi juga 
bagi para politisi (tersangka) korup(si)tor. Wallahua'lam.

*) Raja Juli Antoni, Peneliti Senior MAARIF Institute, Jakarta. Tutor di School 
of Languages and Comparative Cultural Studies, the University of Queensland, 
Australia. Dapat dihubungi di [email protected]




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke