Punten yeuh, bade berbagai info, manawi aya mangpaatna.

mrachmatrawyani

Tulisan ini terinspirasi ketika pada tanggal 18 Januari Djadja Suparman 
meluncurkan buku "Jejak Kudeta", di Hotel Sahid. Djadja Suparman tahun 1998 
menjabat sebagai Panglima Kodam Brawijaya, kemudian pindah tugas ke Kodam Jaya. 
Pada waktu sidang Umum MPR, Djadja bertugas sebagai asisten SBY yang kala itu 
menjabat sebagai komandan yang bertanggung jawab terhadap kelancaran sidang 
Umum MPR.
Kebetulan penulis hadir dan turut mendokumentasikan kegiatan tersebut. Tidak 
dinyana, pada acara tersebut ketemu dengan Muni yang menjadi salah seorang 
pembicara pda acara tersebut.  seseorang yang dulu waktu aksi-aksi demo di 
Kampus Salemba kerap bertemu. Kalau ketemu biasanya kita saling menatap dengan 
penuh waspada dan curiga.


Dalam buku itu diceritakan ada usaha-usaha yang dilakukan sekelompok orang yang 
ingin melakukan pergantian kepemimpinan nasional dengan cara-cara yang 
inkonstitusional. Di buku itu juga diceritakan ada seseorang yang memberikan 
informasi kepada Djadja bagaimana NKRI akan berubah sedemikian rupa, ada usaha 
beberapa daerah memisahkan diri, pengkerdilan ABRI atau demiliterisasi, tentara 
diarahkan kembali ke barak dan pemisahan Polisi dari TNI, dan supremasi sipil 
terhadap militer. Dalam cerita lisan kepada penulis Djadja juga bercerita 
bagaimana dia didekati seseorang (yang ternyata alumni UI) untuk melakukan 
kudeta. Karena dianggapnya Djadja cukup dekat dengan kalangan orang-orang Islam 
radikal dan dianggapnya bisa bergabung. Hal ini melengkapi informasi yang 
penulis dapatkan dari seorang perwira Marinir yang bercerita sewaktu dia 
bertugas sebagai paspamres. Sang marinir bercerita dia punya kenalan seorang 
sipil, aktivis salah satu LSM. Pada saat demo-demo
 reformasi dia selalu menenteng tas. Di dalam tas tersebut ternyata berisi 
gepokan uang. Katanya sih dari salah satu lembaga asing. 

Kalau tidak salah, demo di kampus Salemba UI dimulai oleh kelompok yang 
menamakan dirinya KB UI (Keluarga Besar UI). Perlu diketahui juga, bahwa 
demo-demo di yang dilakukan di UI dilakukan oleh beberapa kelompok yang 
berbeda-beda.  Ada Demo yang dilakukan Forkot UI, BEM UI dan bahkan ada juga 
demo yang dilakukan kelompok gabungan Dosen dan Karyawan UI. Satu saat penulis 
sempat mengikuti demo di Kampus Depok di bundaran dekat Fakultas Psikologi. 
Saat itu naik ke panggung Prof.Sri-Edi Swasono (mewakili kelompok dosen) dan 
Pendi karyawan FISIP UI. Mereka berdampingan melakukan orasi. Baru pertama kali 
itulah seorang gurubesar melakukan orasi bersama karyawan. Dalam kesempatan 
lain, penulis juga hadir di Balairung pada acara seminar dimana menghadirkan 
Prof. Kusnadi Hardjasoemantri (mantan Rektor UGM). Pada saat itu juga dia 
mengusulkan agar singkatan untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) diubah menjadi K2N, 
supaya tidak "saru" dengan istilah Korupsi, Kolusi dan
 Nepotisme (KKN) yang waktu itu marak dan dipakai oleh kalangan media. Prof. 
Kusnadi  adalah salah seorang pemrakarsa kegiatan K2N tahun 1950 an, ketika itu 
para mahasiswa bertugas ke daerah NTT untuk mengajar di sekolah menengah yang 
kekuranga tenaga guru. Di Balairung pula, Amin Rais bersama Faisal Basri 
melakukan orasi dalam satu panggung. Kemudian KB UI di lapangan rotunda depan 
Rektorat Kampus Depok melakukan acara malam renungan reformasi. Hadir antara 
lain Rendra dan Prof. Selo Soemardjan. Waktu itu orang sudah mulai 
bertanya-tanya, kalau seniman sekelas Rendra dan Guru Besar sekelas Selo 
Soemardja sudah tampil dalam aksi-aksi demo, berarti keadaan memang sudah 
"gawat". (040313) 

Kirim email ke