ieu pan ampir sami sareng kasusna Sandrina Malakiano,  dilarang jadi penyiar di 
Metro TV gara-gara ngangge jilbab. Argumen KH. Hasyim Muzadi seukeut pisan dina 
perkara HAM, Ahmadiyah, diskriminasi sjb. Pola pikir siga kieu, sigana anu 
kedah sering diramekeun, tibatan polana FPI. Pami teu lepat, minggu-minggu 
kamari asana teh aya surelek (duka di milis ieu atanapi milis tatangga sapalih) 
ti KH Hasyim Muzadi oge, perkara kunaon masih narima azas Pancasila. 
Cuplikanana aya dihandap.

mrachmatrawyani


Akhirnya di Negara-negara Islam, penduduknya bertentangan
karena selisih
paham, saling bunuh-membunuh karena selisih aliran, dsb. Jadi, Islam yang
kaffah itu bukan Negara harus distempel Islam, namun unsur-unsur
ke-Islam-an yang harus diterapkan di Negara itu. Nah, sekarang itu,
golongan seperti Hizbut Tahrir, FPI, dsb. mengatakan bahwa Islam Kaffah
adalah kalau Indonesia yang dihuni oleh banyak orang Islam ini, distempel
Islam; ndak peduli apakah masyarakat di dalamnya itu menjadi maling atau
tidak. Padahal yang akan dihisab nanti adalah orang-perorang, bukan
institusi. Jadi yang harus bertanggung jawab adalah individu, bukan nation
state-nya. Baru pemahamannya saja, mereka sudah menceng dan tidak
karu-karuan. Mereka itu sebenarnya tidak kaffah, tapi merasa paling
kaffah. Kemarin saya didatangi oleh Redaktur Majalah Sabili;
saya dikritik karena saya kok masih mempertahankan Pancasila, kenapa kok
tidak setuju dengan Khilafah, berarti tidak kaffah. Lalu saya jawab: Lho,
yang dimaksud kaffah bukan simbolistik-simbolistik, melainkan hikmah-hikmah
Islam yang berserakan, kemudian dijadikan satu, itulah Islam kaffah.

Untuk mengerti bahwa shadaqah itu penting, kita cukup membaca Hadits. Akan
tetapi untuk menciptaan masyarakat yang mampu bersedekah, maka tidak cukup
hanya dengan menghafalkan Hadits-hadits, karena itu adalah proses
perjuangan ekonomi kerakyatan. Sementara sekolah-sekolah Islam yang di
Timur Tengah, isinya menghafal saja, sehingga berhenti sampai hafalan,
tidak pada aktualisasinya. Dino-dino omongane dalil (sehari-hari bicara
dalil. red), tapi dalil iku gak tahu dilakoni (tidak pernah dilakukan.
red).
(K.H. Hasyim Muzadi)




________________________________
 From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]> 
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]> 
Sent: Monday, March 11, 2013 7:52 PM
Subject: [kisunda] Pidato Hasyim Muzadi?
 

  
Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas
Tribunnews.com - Senin, 4 Juni 2012 10:12 WIB

TRIBUNNEWS.COM - Pidato mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 
KH HAsyim Muzadi beredar luas melalui pesan berantai BlackBerry Messenger dan 
media sosial seperti Facebook dan blog.

Pidato yang heboh itu berisi pandangan mantan pemimpin organisasi Islam 
terbesar di Indonesia itu mengenai sejumlah isu kontroversial seperti 
Ahmadiyah, toleransi antarumat beragama, Gereja Yasmin, Lady Gaga, Irshad 
Manji, dan perkawinan sejenis.

"Pidato itu beredar di seluruh jagad raya. Saya dapat (pesan berantai) dari 
mana-mana," kata Ali Mukhtar Ngabalin, Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan 
Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Senin (4/6/2012), kepada TRIBUNnews.com.

TRIBUNnews.com, yang menerima beberapa pesan berantai itu pagi ini, coba 
menelusuri di Google dengan kata kunci "pidato Hasyim Muzadi".

Beberapa halaman akun Facebook dan blog memuat pidato Hasyim tersebut, yang 
isinya persis sama dengan pesan berantai di BBM.

Hasyim Muzadi sendiri telah mengonfirmasikan isi pidato ini.

Berikut selengkapnya isi pesan BBM mengenai pidato Hasyim Muzadi:

KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & 
Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU 
 ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :

"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan 
INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn 
laporan dr dlm negeri Indonesia. Slm berkeliling dunia, saya blm menemukan 
negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.

Klau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang 
dr pokok ajaran Islam, namun sll menggunakan stempel Islam dan berorientasi 
Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk 
dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun 
tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah 
nasional & dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai.

Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan. Di Jawa pendirian 
gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid jg sangat sulit. Belum 
lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlkkan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya 
dirusak, kecuali mrk yg ingn menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan 
Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di iPapua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran 
tdk ada yg bicara HAM ?Indonesia lbh baik toleransinya dr Swiss yg sampai skrg 
tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan 
Jilbab, lbh baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tdk menghormati agama, krn 
disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan 
sejenis ?!

Akhir'a kmbl kpd bngsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg hrs sadar dan tegas, 
membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Weternisme".

http://www.tribunnews.com/2012/06/04/pidato-hasyim-muzadi-yang-menghebohkan-beredar-luas


 

Kirim email ke