Setuju Pak... semoga Indonesia lebih baik lagi kedepan dengan korupsi semakin berkurang. Amiiiiin.
nuhuuuuns, mang kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: "Hisom" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 20 Mar 2013 20:48:58 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [Senyum-ITB] Fw: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot Dari banyak referensi yg saya baca, disimpulkan bahwa tidak ada suatu rumah tangga dngan seluruh anggotanya itu bahagia dan barokah, apabila cara-cara mencari penghidupan mereka diantaranya ada dengan jalan yg tidak halal, (ada beberapa atau bahkan banyak yg tdk dlm koridor aturan Tuhan). Semua jadi abu2, dan rumah tangga itu tidak bahagia, bahkan berantakan karena jadi ribet urusannya. Bagaimana dengan suatu negara ? Wassalam His®m -----Original Message----- From: Edy Surya <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 20 Mar 2013 06:50:15 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [Senyum-ITB] Fw: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot Seingat saya belum lama ini Lion Air & Malaysia National Aerospace and Defence Industries (NADI), membentuk aliansi membuat perusahaan Malindo Air, yg akan beroperasi di wilayah Asean( http://www.malindoair.com).Wah, makin jauh melorotposisiMaskapai kita nanti. EdySurya Sent from my Blackberry ________________________________ From: Hendry Harmen <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Wednesday, March 20, 2013 2:53 AM Subject: Re: [Senyum-ITB] Fw: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot Kang Erry, bung Hendri, Memang banyak yang tidak beres di negara kita ini. Ada peluang kok malah disia2kan ya? Banyak sekali persoalan bangsa kita skrg. Masalah kemandirian di sektor pertanian misalnya, tidak ada konsep dan strategi yg menyeluruh menuju pada kemandirian bangsa dibidang pangan (buah2an saja kita impor, apalagi beras). Tata kelola industri migas kita masih bermasalah, dan tidak ada niat yg kuat untuk mendorong supaya usaha migas nasional kita berkembang dan maju, termasuk support buat BUMN Pertamina yg masih belum keliatan (lihat kasus blok mahakam di kalimantan, sampai saat ini belum ada ketegasan dari pemerintah untuk mengalihkan pengelolaannya ke Pertamina setelah 50 tahun blok migas ini dikelola oleh perusahaan asing; dan juga undang2 migas yg belum berpihak dan belum mendorong kepada tumbuhnya industri migas nasional yg kompetitif). Pembangunan infrastruktur kawasan juga sangat lambat (jembatan selat sunda apa kabarnya ya?). Bayangkan, pengiriman barang dg kontainer dari jakarta ke bengkulu, masak lebih mahal biayanya dibandingkan dg pengiriman barang dari jakarta dg kontainer ke singapura? Entah apa yang dikerjakan oleh para petinggi negara ini beserta jajarannya selama hampir sepuluh tahun terakhir ini, khususnya dalam memajukan dan membuat ekonomi bangsa ini menjadi mandiri? Bicara tentang pencapaian di bidang makro, memang selalu indah. Kita tidak membantah berbagai propaganda pemerintah tentang capaian2 makro yg telah diraih, seperti pertumbuhan yg tetap terjaga cukup tinggi, inflasi yg terkendali, kurs rupiah yg stabil, dll. Tapi bukankah kesemua capaian makro itu merupakan kerja standar minimal yg harus dicapai oleh siapapun yg memerintah? Lagi pula, angka2 makro tersebut bisa menyesatkan. Apalagi kalau kita bicara lebih mendalam pada soal2 seperti; angka pengangguran yg masih tinggi, menurunnya daya beli buruh dan masyarakat yg berpenghasilan rendah, jumlah dan potensi rakyat miskin dan yg rentan menjadi miskin semakin tinggi, sulitnya mendapatkan perumahan bagi buruh dan masyarakat bawah khususnya yg tinggal di daerah perkotaan dan suburban, tingkat kematian ibu dan bayi yg masih tinggi, dan banyak masalah2 sosial lainnya yang dihadapi bangsa ini, yg menimpa masyarakat bawah yg berprofesi sbg buruh tani, nelayan, buruh pabrik, buruh bangunan, pekerja harian lepas, dan pekerja2 lainnya. Tapi, inilah sebuah pembelajaran yg hrs didapatkan dan dilalui oleh bangsa kita dalam berdemokrasi, khususnya dalam memilih pemimpinnya. Karena jika sekali salah dalam memilih, bisa membahayakan dan menyengsarakan ratusan juta rakyat indonesia. Kita tetap berharap, supaya ke depannya masyarakat indonesia tidak lagi terbuai dengan tampilan fisik calon2 pemimpinnya yang tampak gagah, dg retorika pidato yg hebat, dan gaya bicara dan lagak yg mempesona, tetapi ternyata sang pemimpin yg kita pilih adalah pemimpin "tong kosong yang nyaring bunyinya".... Salam, HH ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: Senyum itb email <[email protected]> Sent: Wednesday, March 20, 2013 2:00 PM Subject: Re: [Senyum-ITB] Fw: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot Perum Angkasa Pura I meminta bagian saham Lion Air sebanyak 51% ???....apa sudah gila !!! Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ________________________________ From: hendri ruslan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 19 Mar 2013 22:34:27 -0700 (PDT) To: [email protected]<[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: [Senyum-ITB] Fw: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot ----- Forwarded Message ----- From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, 19 March 2013, 7:45 Subject: [mediacare] Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot http://www.suatudunia.com/2013/03/wo...emerintah.html Lion Air Didekati Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot Suatudunia.com - Wow Lion Air Dicuri Malaysia, Pemerintah Kebakaran Jenggot - Kabar mengejutkan datang dari Lion Air, maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia. Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana mengatakan maskapai berlogo singa terbang itu akan memindahkan pangkalannya ke Malaysia. Gara-garanya, Lion Air kecewa berat dengan Perum Angkasa Pura I. Awalnya Lion Air ingin membuat hub di Manado yang akan menghubungkannya ke Jepang, China, Korea, dan Taiwan. Dana Rp 7 milyar sudah habis untuk pembelian dan pembebasan tanah. Peresmian peletakan baru pertama dilakukan langsung oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi. Eh, ujung-ujungnya Perum Angkasa Pura I meminta bagian saham Lion Air sebanyak 51%. Terang saja Rusdi Kirana marah besar. Malaysia jeli melihat peluang ini. Malaysia lantas menawari Lion Air untuk memindahkan hub-nya ke Johor Bahru di atas tanah seluas 2.5 hektar dengan sewa hanya $ 3600 perbulan (murah sekali!). Setelah 10 tahun kawasan itu akan sepenuhnya menjadi milik Lion Air. Dan tentu saja Lion Air tidak akan direcoki dengan permintaan aneh-aneh seperti yang dilakukan Perum Angkasa Pura I. Pemerintah kontan kebakaran jenggot. Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan, Bambang Ervan mengatakan pemerintah menyayangkan langkah Lion Air itu dan berjanji akan membujuknya supaya jangan memindahkan investasi dari Indonesia. Jelas saja pemerintah takut dan panik, karena Malaysia sejak lama sudah menjadi hub AirAsia, maskapai penerbangan murah terbesar di Asia. Jika Lion Air pindah kesana maka lengkaplah dominasi Malaysia dalam bisnis penerbangan. Belum lagi kita bicara tentang Malaysia Airlines yang jaringannya merambah ke lima benua dan memiliki codesharing partners dengan aliansi SkyTeam serta Star Alliance. Jangan-jangan semua maskapai penerbangan di Indonesia bisa gulung tikar digilas Malaysia, termasuk Garuda Indonesia. Jangan selalu menyalahkan Malaysia sebagai negara maling. Mereka hanya memanfaatkan hal-hal yang dibuang di Indonesia. Ketika lagu daerah tidak lagi dinyanyikan oleh anak-anak kita, Malaysia lantas memanfaatkannya dan kita marah-marah. Ketika Sipadan-Ligitan kita telantarkan, Malaysia mengundang investor untuk masuk kesana, dan hal inilah yang menyebabkan Pengadilan Internasional di Den Haag memenangkan klaim Malaysia. Ketika doktor-doktor kita tidak dihargai di negara sendiri, Malaysia dengan senang hati memunguti doktor-doktor cerdas itu. Dan ketika Lion Air dipermainkan oleh Perum Angkasa Pura I, Malaysia mengundangnya untuk berinvestasi di negara jiran itu. Siapa yang salah? Jelas Indonesia. Tapi kenapa kita selalu marah-marah ketika negara lain memanfaatkan kedunguan kita? Dari sejak jaman Bung Karno sampai sekarang kita selalu marah-marah dengan Malaysia. Apa hasilnya? Nol. Zero. Nil. Kosong. Yang terjadi malah sebaliknya: kita semakin miskin dan tetap marah-marah, mereka semakin kaya sambil tetap tersenyum! Sent from BlackBerry® on 3 ------------------------------------ Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ Group @ FB: http://www.facebook.com/groups/mediacare/ Yahoo! Groups Links required)
