Piraku tulisan jiga kitu disebut karya sastra, Bah Abbas. Ku aya-aya wae. Hehehe
2013/4/1 Abbas Amien <[email protected]> > ** > > > Hahaha, di na masalah kritik sastra kalebet hebaat oge kang yaani. salut. > > --- On *Mon, 1/4/13, MRachmat Rawyani <[email protected]>* wrote: > > > From: MRachmat Rawyani <[email protected]> > Subject: Re: [Urang Sunda] PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT > To: [email protected] > Received: Monday, 1 April, 2013, 3:13 AM > > > > > Heunteu aya katerangan, kunaon mang Ohle dikopeah, jeung make dasi. > Pastina aya siloka dina cara-cara papakeanana. Siga gambar rubrik "lempa > lempi lempong" di majalah Mangle.Penjelasan ieu penting, sabab didinya aya > pesan karikaturisna. > > mrachmatrawyani > > > --- On *Sat, 3/30/13, Ki Hasan <[email protected]>* wrote: > > > From: Ki Hasan <[email protected]> > Subject: [Urang Sunda] PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT > To: "Ki Sunda" <[email protected]> > Cc: "Baraya Sunda" <[email protected]>, "Urang Sunda" < > [email protected]> > Date: Saturday, March 30, 2013, 8:05 AM > > > > PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN > RAKYAT<http://era90.blogspot.com/2010/07/profil-kartunis-mang-ohle-koran-pikiran.html> > > <http://4.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnvpyv9JII/AAAAAAAABRg/-EZsWtM9HEY/s1600/MANG+OHLE.gif> > Bagi rakyat Jawa Barat yang terbiasa dengan kartun Mang Ohle dalam surat > kabar Pikiran Rakyat yentunya ingin mengenal siapa kartunisnya. Dalam > artikel ini saya menulis *Profil Kartunis Mang Ohle - Koran Pikiran Rakyat > * adalah untuk mengenang keberadaan kartun ini yang turut mewarnai dunia > kartun Jawa Barat. > > > Sekitar tahun 1950, sosok *Didin D. Basoeni* adalah anak yang senang > menggambar. Saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Seusai sekolah, > biasanya ia lalangiran di teras rumah dan menggambarkan apa yang terbesit > di pikirannya. Ditemani angin yang menyapa rambutnya, sesekali ia memegangi > dagunya sambil melamun apa yang akan dilukisnya. > Kebiasaan itu terus dilakukannya hingga memasuki usia SMA. Saat itulah, > sekitar tahun 1960 Didin mendengar kabar bahwa HU Pikiran Rakyat mengadakan > lomba menggambar sketsa menyambut HUT RI. Tentu saja Didin merasa > terpanggil. Berbekal darah seni yang ia asah semenjak kecil, ia mengikuti > lomba itu. > > Setelah mendaftar, kemudian ia pulang dan beberapa saat Didin melamun. > Akhirnya, Didin memutuskan untuk melukiskan situasi masyarakat sedang > membuat gapura (pintu gerbang) dengan berbagai hiasan. Ia kirimkan gambar > itu. Ternyata, gambar itu dimuat di Lembaran Minggu dalam rubrik remaja > “Kuntum Mekar”. > > Ia melonjak kegirangan, kesenangannya menggambar akhirnya bisa dinikmati > orang banyak. Didin pun semakin tekun menggambar. > > <http://1.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnwHrRn-OI/AAAAAAAABRo/z4jQpEirI7Y/s1600/DIDIN-MANG-OHLE.jpg> > Suatu hari, Didin membuat sketsa situasi pesisir atau pantai. Ia > menggambar dengan semangat hingga sketsa itu rampung dengan cepat. > Kemudian, dengan penuh harapan ia kirimkan sketsa itu ke “PR”. Tapi, sketsa > pantainya tak kunjung dimuat. Didin tak putus asa, Ia ulangi sketsa pantai > itu, ia kirimkan lagi. Ironisnya, sketsa itu pun tak kunjung dimuat. Didin > pun mengulanginya hingga sketsa pantai ke-60. Sketsa ke-60 itulah yang > akhirnya berhasil dimuat di “PR”. > > Didin terus berkreasi, gambar yang ia buat di “PR” Lembaran Minggu itu > tidak hanya gambar sketsa. Didin mencoba gambar cerpen dan gambar ilustrasi > cerita bersambung yang muncul setiap hari di halaman terakhir “PR”. > > Dari honor menggambar itulah, biaya SMA Didin dapat terpenuhi. Setelah > lulus SMA, Didin duduk di bangku kuliah di ITB. Itupun dari honor > menggambar. Hingga pada tahun 1969 ia keluar dari ITB karena kesulitan > membayar biaya kuliah. > > Beban ekonomi tak menyurutkan semangat Didin menggambar. Di balik > keterpurukannya, Didin memperluas media tempat menyalurkan gambarnya. Ia > mencoba di berbagai surat kabar dan majalah nasional. Berkat ketekunan dan > kerja keras, gambarnya terpampang di beberapa media diantaranya, “Merdeka”, > “Duta Masyarakat”, “Pemuda”, “Gelora Indonesia”, “Varia”, “Selecta”, > “Karya”, “Berdikari”, “Kujang”, “Mandala”, “Gondewa”, “Galura”, “Mangle”, > “Langensari”, “Campaka”, “Kancil” (majalah anak-anak), “Sunda”, > “Harapan”(Koran Kodam VI Siliwangi) dll. > Perkenalan Didin dengan surat kabar dan majalah itulah yang membawanya ke > dunia Jurnalistik. Didin menjadi wartawan ”PR” semenjak tahun 1973. > > Selama menjadi wartawan, Didin tak meninggalkan hobi menggambarnya. > Kemampuan menggambar itu pula yang menjadi awal perkenalannya dengan mang > ohle, maskot “PR”. > Begini kisahnya, gambar karikatur “*Mang Ohle*” sudah muncul di “PR” > sejak tahun 1955. Ada beberapa kartunis “Mang Ohle”, yaitu Teddy M. D. > (1957-1964), Soewardi Nataatmadja (1964-1982), T. Sutanto (1982-1984). > Pada tahun 1984 ada kebijakan dari salah seorang pimpinan “PR” untuk > mengganti kartunis “Mang Ohle”. Caranya, dengan membuka kesempatan kepada > sejumlah tukang gambar. Namun, hasil seleksi itu tidak ada yang diterima. > Akhirnya karena terdesak waktu terbit, Didin yang saat itu bekerja sebagai > wartawan diminta untuk menggambar “Mang Ohle”. Teks gambar “Mang Ohle” > dibuat oleh Bram M.D., Redaktur Pelaksana “PR” sedangkan gambarnya oleh > Didin. > Melihat bakat Didin, gambar karikatur “Mang Ohle” sejak saat itu > dipercayakan kepada Didin. Tidak hanya gambar, penulisan teks pun > dikerjakan Didin. > 24 tahun Didin menggambar Mang Ohle sampai menembus babak Reformasi. > Artikulasi Didin yang mendominasi citra Mang Ohle kini. Didin mengubah dari > yang naturalis menjadi garis. Ia menggambar Mang ohle berkarakter lugu > tetapi cerdas, seperti tokoh fiktif Sunda yang sangat merakyat, yakni > Kabayan. Sedangkan sifat karikaturnya kritis, menyindir, tetapi tidak > membuat orang marah. > Didin berprinsip, “Herang caina beunang laukna” , yang berarti “jernih > airnya dapat ikannya”. Maksudnya, membuat kritik yang menghindari konflik. > Dengan sentuhan itu, Mang Ohle karya Didin ini termuat dalam *seri > prangko Indonesian Cartoon Characters*. Karya Didin dimuat bersama > tokoh-tokoh kartun lainnya, yaitu Panji Koming (Harian Kompas), Pak Tuntung > (Harian Analisa Medan), Pak Bei dan I Brewok dari Bali, pada tanggal 13 > Maret tahun 2000. > Perjalanan hidup Didin berhasil mempertemukan antara hobi, pekerjaan, dan > prestasi. Piramida itulah yang membuat Didin berkesimpulan, “Pada dasarnya > media massa adalah seni.” > > <http://2.bp.blogspot.com/_KtvFYFCh0wk/TDnxawV7_ZI/AAAAAAAABRw/oLIbpB752i8/s1600/PERANGKO+KARTUN.jpg> > > > > Anda telah membaca artikel dengan kategori *Galery* yang berjudul *PROFIL > KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT*. Silahkan copy paste dengan > mencantumkan link URL * > http://era90.blogspot.com/2010/07/profil-kartunis-mang-ohle-koran-pikiran.html > * Terima kasih! > > >
