hahaha ... KH ge tukang kritik tah, malah kritikna sok cespleng samodel kritik 
ka na CERSIL.Soal Ngaran lembur, Pan sakedet netraa. Bari memang bener.


--- On Mon, 1/4/13, Ki Hasan <[email protected]> wrote:

From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: [kisunda] Re: [Urang Sunda] PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN 
RAKYAT
To: "Urang Sunda" <[email protected]>
Cc: "Ki Sunda" <[email protected]>, "Baraya Sunda" 
<[email protected]>
Received: Monday, 1 April, 2013, 7:08 AM
















 



  


    
      
      
      Piraku tulisan jiga kitu disebut karya sastra, Bah Abbas. Ku aya-aya wae. 
Hehehe


2013/4/1 Abbas Amien <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      Hahaha, di na masalah kritik sastra kalebet hebaat oge kang yaani. salut.

--- On Mon, 1/4/13, MRachmat Rawyani <[email protected]> wrote:


From: MRachmat Rawyani <[email protected]>
Subject: Re: [Urang Sunda] PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT

To: [email protected]
Received: Monday, 1 April, 2013, 3:13 AM
















 



    
      
      
      Heunteu aya katerangan, kunaon mang Ohle dikopeah, jeung make dasi. 
Pastina aya siloka dina cara-cara papakeanana. Siga gambar rubrik "lempa lempi 
lempong" di majalah Mangle.Penjelasan ieu penting, sabab didinya aya pesan 
karikaturisna.


mrachmatrawyani


--- On Sat, 3/30/13, Ki Hasan <[email protected]> wrote:


From: Ki Hasan <[email protected]>
Subject: [Urang Sunda] PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT
To: "Ki Sunda" <[email protected]>

Cc: "Baraya Sunda" <[email protected]>, "Urang Sunda" 
<[email protected]>

Date: Saturday, March 30, 2013, 8:05 AM
















 



    
      
      
      PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT




Bagi
 rakyat Jawa Barat yang terbiasa dengan kartun Mang Ohle dalam surat 
kabar Pikiran Rakyat yentunya ingin mengenal siapa kartunisnya. Dalam 
artikel ini saya menulis Profil Kartunis Mang Ohle - Koran Pikiran Rakyat 
adalah untuk mengenang keberadaan kartun ini yang turut mewarnai dunia kartun 
Jawa Barat.





Sekitar tahun 1950, sosok Didin D. Basoeni
 adalah anak yang senang menggambar. Saat itu dia masih duduk di bangku 
SMP. Seusai sekolah, biasanya ia lalangiran di teras rumah dan 
menggambarkan apa yang terbesit di pikirannya. Ditemani angin yang 
menyapa rambutnya, sesekali ia memegangi dagunya sambil melamun apa yang
 akan dilukisnya.

Kebiasaan
 itu terus dilakukannya hingga memasuki usia SMA. Saat itulah, sekitar 
tahun 1960 Didin mendengar kabar bahwa HU Pikiran Rakyat mengadakan 
lomba menggambar sketsa menyambut HUT RI. Tentu saja Didin merasa terpanggil. 
Berbekal darah seni yang ia asah semenjak kecil, ia mengikuti lomba itu.

Setelah mendaftar, kemudian ia pulang dan 
beberapa saat Didin melamun. Akhirnya, Didin memutuskan untuk melukiskan
 situasi masyarakat sedang membuat gapura (pintu gerbang) dengan 
berbagai hiasan. Ia kirimkan gambar itu. Ternyata, gambar itu dimuat di 
Lembaran Minggu dalam rubrik remaja “Kuntum Mekar”.

Ia melonjak kegirangan, kesenangannya menggambar akhirnya bisa dinikmati orang 
banyak. Didin pun semakin tekun menggambar.



Suatu hari, Didin
 membuat sketsa situasi pesisir atau pantai. Ia menggambar dengan 
semangat hingga sketsa itu rampung dengan cepat. Kemudian, dengan penuh 
harapan ia kirimkan sketsa itu ke “PR”. Tapi, sketsa pantainya tak 
kunjung dimuat. Didin tak putus asa, Ia ulangi sketsa pantai itu, ia 
kirimkan lagi. Ironisnya, sketsa itu pun tak kunjung dimuat. Didin pun 
mengulanginya hingga sketsa pantai ke-60. Sketsa ke-60 itulah yang 
akhirnya berhasil dimuat di “PR”.

Didin terus berkreasi, gambar yang ia buat 
di “PR” Lembaran Minggu itu tidak hanya gambar sketsa. Didin mencoba 
gambar cerpen dan gambar ilustrasi cerita bersambung yang muncul setiap 
hari di halaman terakhir “PR”.

Dari honor menggambar itulah, biaya SMA 
Didin dapat terpenuhi. Setelah lulus SMA, Didin duduk di bangku kuliah 
di ITB. Itupun dari honor menggambar. Hingga pada tahun 1969 ia keluar 
dari ITB karena kesulitan membayar biaya kuliah.

Beban ekonomi tak menyurutkan semangat 
Didin menggambar. Di balik keterpurukannya, Didin memperluas media 
tempat menyalurkan gambarnya. Ia mencoba di berbagai surat kabar dan majalah 
nasional. Berkat ketekunan dan kerja keras, gambarnya terpampang di beberapa 
media diantaranya, “Merdeka”,
 “Duta Masyarakat”, “Pemuda”, “Gelora Indonesia”, “Varia”, “Selecta”, 
“Karya”, “Berdikari”, “Kujang”, “Mandala”, “Gondewa”, “Galura”, 
“Mangle”, “Langensari”, “Campaka”, “Kancil” (majalah anak-anak), “Sunda”, 
“Harapan” (Koran Kodam VI Siliwangi) dll.Perkenalan Didin dengan surat kabar 
dan majalah itulah yang membawanya ke dunia Jurnalistik. Didin menjadi wartawan 
”PR” semenjak tahun 1973.



Selama menjadi wartawan, Didin tak 
meninggalkan hobi menggambarnya. Kemampuan menggambar itu pula yang 
menjadi awal perkenalannya dengan mang ohle, maskot “PR”.Begini kisahnya, 
gambar karikatur “Mang Ohle” sudah muncul di “PR” sejak tahun 1955. Ada 
beberapa kartunis “Mang Ohle”, yaitu Teddy M. D. (1957-1964), Soewardi 
Nataatmadja (1964-1982), T. Sutanto (1982-1984).

Pada
 tahun 1984 ada kebijakan dari salah seorang pimpinan “PR” untuk 
mengganti kartunis “Mang Ohle”. Caranya, dengan membuka kesempatan 
kepada sejumlah tukang gambar. Namun, hasil seleksi itu tidak ada yang 
diterima. Akhirnya karena terdesak waktu terbit, Didin yang saat itu 
bekerja sebagai wartawan diminta untuk menggambar “Mang Ohle”. Teks gambar 
“Mang Ohle” dibuat oleh Bram M.D., Redaktur Pelaksana “PR” sedangkan gambarnya 
oleh Didin.
Melihat
 bakat Didin, gambar karikatur “Mang Ohle” sejak saat itu dipercayakan 
kepada Didin. Tidak hanya gambar, penulisan teks pun dikerjakan Didin.24
 tahun Didin menggambar Mang Ohle sampai menembus babak Reformasi. 
Artikulasi Didin yang mendominasi citra Mang Ohle kini. Didin mengubah 
dari yang naturalis menjadi garis. Ia menggambar Mang ohle berkarakter 
lugu tetapi cerdas, seperti tokoh fiktif Sunda yang sangat merakyat, 
yakni Kabayan. Sedangkan sifat karikaturnya kritis, menyindir, tetapi 
tidak membuat orang marah.Didin 
berprinsip, “Herang caina beunang laukna” , yang berarti “jernih airnya 
dapat ikannya”. Maksudnya, membuat kritik yang menghindari konflik.Dengan 
sentuhan itu, Mang Ohle karya Didin ini termuat dalam seri prangko Indonesian 
Cartoon Characters.
 Karya Didin dimuat bersama tokoh-tokoh kartun lainnya, yaitu Panji 
Koming (Harian Kompas), Pak Tuntung (Harian Analisa Medan), Pak Bei dan I
 Brewok dari Bali, pada tanggal 13 Maret tahun 2000.Perjalanan
 hidup Didin berhasil mempertemukan antara hobi, pekerjaan, dan 
prestasi. Piramida itulah yang membuat Didin berkesimpulan, “Pada 
dasarnya media massa adalah seni.”










Anda telah membaca artikel dengan kategori Galery
 yang berjudul PROFIL KARTUNIS MANG OHLE - KORAN PIKIRAN RAKYAT. Silahkan copy 
paste dengan mencantumkan link URL 
http://era90.blogspot.com/2010/07/profil-kartunis-mang-ohle-koran-pikiran.html 
Terima kasih!




    
     











    
     











    
     

    
    






  










    
     

    
    






  








Kirim email ke