Manstaaaaap.... Majuuuu teruuus Mang Emil, Bandung Icon-nya Jawa Barat n' Tatar 
Sunda baheula pernah jadi kota nu kamasyur ka jagat raya ayeuna pakusyuuuuut. 

Sudah waktunya bangkiiit lagi :). 

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.com

-----Original Message-----
From: "Krisen S. Emha" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 2 Apr 2013 00:29:21 
To: Sinergi itb<[email protected]>; Ia-Itb 
milis<[email protected]>; Ia ar itb 
milis<[email protected]>; 
Iaitbjakarta<[email protected]>; Senyum itb 
milis<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Senyum-ITB] Ridwan Kamil Untuk Bandung #16


Peran Ridwan Kamil dalam Kisah Sukses Surabaya Menata Kota

Banyak orang Bandung skeptis dan apatis terhadap pembenahan kota Bandung dengan 
segala carut marut problematikanya. Padahal kalo mau sedikit saja belajar dari 
kota tetangga, kita bisa melihat contoh sukses Surabaya bebenah dibantu Ridwan 
Kamil. Hal ini dipapar jelas dalam buku “Bambang DH Membangun Surabaya“  
karangan Ridho Saiful Ashadi yang terbit awal 2013

Menjadi Bambang D.H pada periode 1999-2002 Sungguh tak mudah. Mendapat tekanan 
dari partai sendiri , di jauhi wakil kotanya sendiri, mendapat serangan dari 
DPRD-nya sendiri, dan di tentang birokrasinya sendiri. Situasinya menjadi salah 
satu cobaan paling sulit yang pernah diterima oleh politisi Indonesia manapun.

Sekda yang membangkang , kultur birokrasi yang lamban dan ogah-ogahan, tata 
kota yang rusak berat, sampah yang tercecer di mana-mana, banjir yang sampai 
menelan korban jiwa, aparat pemerintahan yang bahkan sampai disebut ” Kumpulan 
Maling Surabaya” . Kumpulan hal ini menjadikan Surabaya sebagai salah satu 
tantangan paling berat bagi wali kota manapun di Indonesia.

Tapi, Bambang D.H membuktikan telah mampu melewati salah satu ujian politik dan 
reformasi birokrasi paling berat di Indonesia. Padahal, awalnya Bambang D.H 
sempat diragukan.Bertampang jalanan, track record yang hanya menjadi aktivis 
reformasi 98 bawah tanah, karir PNS hanya sebagai dosen dan guru matematika, 
serta tidak berlatar belakang birokrasi.

Bambang D. H memilih kerja, dan tujuh setengah tahun kemudian hasilnya 
terlihat. Surabaya berubah wajah. Beberapa kali mendapat penghargaan layanan 
publik, meraih kembali Adipura, mempunyai banyak kampung dengan pengelolaan 
sampah luar biasa, banjir yang sudah bisa ditekan, dan tahun ini akan mempunyai 
salah satu sistem pengolahan sampah yang tercanggih di Dunia. Mantan Aktivis 
jalanan dengan tongkrongan tak meyakinkan itu kini menjadi salah satu pemimpin 
paling sukses di Indonesia. Dan mencatatkan dirinya dalam sejarah Surabaya 
sebagai salah satu Wali Kota Terhebatnya

dikutip dari deskripsi buku  Bambang D.H Mengubah Surabaya | Ridho Syaiful 
Ahadi | Indonesia Berdikari.

Yang banyak orang Bandung juga tidak tahu adalah adanya peran besar Ridwan 
Kamil dalam membantu Walikota Surabaya membenahi kota Surabaya itu. Tapi kini 
hal itu secara gamblang diungkap di buku tersebut dalam satu bab tersendiri 
“Menuju Tata Kota Kelas Dunia” halaman 39-51

Pada pertengahan 2004, Ridwan Kamil bertemu Bambang di rumah dinas Wali Kota di 
Jalan Sedap Malam. Ridwan meminta Bambang D.H. yang saat itu ditemani Djamhadi 
mendengarkan konsep besarnya dalam menata sebuah kota. Paparan selama satu 
setengah jam itu langsung disambut anggukan setuju.

Kesepakatan terjadi. Ridwan Kamil meminta Bambang yang sudah berkomitmen menata 
kota itu untuk tak tanggung-tanggung menjadikan Surabaya hanya apik secara 
nasional. Tapi juga harus ada visi menjadikannya menawan di tingkat 
intennasional.

Konsep pertama penataan adalah menentukan komposisi pembangunan dan ruang 
terbuka hijau (RTH). Pembagiannya harus seimbang, yaitu 30 persen RTH dan 70 
persen sisanya untuk bangunan dan jalan. “ini merupakan harga mati 
keseimbangan. Daya dukung sebuah kota baru akan maksimal dengan komposisi 
seperti ini,” tandas Ridwan Kamil.

 Yang kedua, membangun kota itu juga berarti membangun gaya hidup. Ridwan 
mengatakan memang tak mungkin bisa memaksa seseorang untuk naik bis ketimbang 
naik sepeda motor. Tapi, pemerintah bisa memaksakan sebuah regulasi yang 
membuat orang lebih suka memilih transportasi umum daripada kendaraan pribadi. 
“Seperti di Eropa, parkir mobil mahal, pajak kendaraan pribadi mahal, namun 
diimbangi dengan transportasi massal yang murah, nyaman, serta bisa menjangkau 
ke mana-mana,” tutur Ridwan.

Konsep ketiga, pembangunan kota harus seimbang antara pembangunan ekonomi, 
sosial, dan lingkungan. Inilah yang disebut dengan pembangunan berkelanjutan. 
“Membangun kawasan ekonomi juga harus memperhatikan aspek sosial dan 
ekologinya. Tak bisa asal membangun saja,” tuturnya.

Kata Ridwan, ciri sebuah kota yang baik bagi warganya adalah kota yang mampu 
membuat wanganya di segala rentang usia sukarela keluar numah untuk bermain. 
“Kalau warga sebuah kota lebih suka di rumah ketimbang di jalanan untuk 
menikmati suasana kota, jelas kota itu adalah kota sakit,” ucap Ridwan.

Hal keempat, kota yang baik harus memberikan visi yang jelas kepada warganya. 
Maksudnya, warga kota tahu ke arah mana pengembangan sebuah kota. “Seperti di 
Tiongkok, pembangunan sebuah kawasan selalu dipamerkan dulu di tempat publik. 
Biasanya dalam bentuk maket. Kemudian publik bebas menyuarakan aspirasinya soal 
pengembangan tersebut melalui semacam kotak saran yang ada,” tandasnya.

Dengan cara itu masyarakat di sana paham apa yang akan dibangun di kawasan ini, 
atau bagaimana pemerintah merancang bentuk kota sepuluh tahun ke depan. 
“Sehingga warga kota bisa menyiapkan langkah-langkahnya dalam menyambut 
pembangunan tersebut,” terangnya.

Terakhir, sebuah kota yang sehat membutuhkan political will yang baik dan 
pemimpinnya. “ini yang biasanya menjadi penyakit di Indonesia. Seorang kepala 
daerah banyak yang money-oriented untuk mengembalikan modal waktu mencalonkan 
diri. Tak heran, daerah yang dipimpinnya kerap hanya membangun secara sporadis, 
tanpa perencanaan yang matang,” tutunnya.

Dengan lima dasar konsep yang ditawarkan itulah Bambang D.H. mantap mengontrak 
Ridwan Kamil menjadi konsultan penencanaan tata kota. Tujuan kerja sama itu 
adalah menjadikan Surabaya dengan tata ruang kelas dunia.

Ridwan juga tak tanggung-tanggung. Dia mengundang EDAW, sebuah lembaga 
konsultan tata kota dan AS, sebagai mitranya untuk merencanakan tata ruang 
Surabaya. Bersama Edaw, selama sebulan Ridwan menyurvei Surabaya.

 Kesimpulan survei itu menujukkan bahwa Surabaya tak berbeda dan kota-kota 
lainnya di Indonesia, sebuah kota sakit dengan pola pembangunan sporadis dan 
tak terencana. Yang menj adi tolok ukur adalah ketiadaan public sphere yang 
layak saat itu. Saat Ridwan Kamil melakukan survei, Taman Bungkul masih 
merupakan taman tak terurus: gelap, jadi tempat pacanan, lapangan berbatu 
dengan pagar yang tak jelas gunanya. PKL pun datang merajalela tanpa ada yang 
mengurus.

Satu-satunya alasan mendatangi tempat itu adalah untuk ziarah ke makam Sunan 
Bungkul. Pendek kata, kawasan yang berlokasi di salah satu jalan utama di 
Surabaya itu menjadi kartu mati. Tak jelas public sphere apa bukan, namun warga 
kota jelas enggan datang ke sana untuk berpelesir bersama keluarga.

Menurut Ridwan Kamil dan tim, Surabaya benan-benar tak mempunyai tempat publik 
yang membuat warganya sukarela keluar rumah. “Sekali lagi, saya tekankan bila 
warganya enggan untuk keluar rumah untuk berpelesir, maka jelas ada yang salah 
dalam penataan ruang di kota tersebut,” ucap Ridwan.

Kelemahan lain Surabaya yang paling terlihat adalah pembangunannya tidak merata 
dengan disparitas antar daerah yang sangat senjang. Ridwan Kamil menunjukkan 
bahwa Surabaya Barat sangat bagus, sementara Surabaya Utara begitu kumuh dan 
tertinggal. Satu ciri lagi yang menunjukkan bahwa Surabaya kebingungan dengan 
visi pembangunannya adalah ia melupakan dan meninggalkan Kalimas.

Padahal, di kota-kota besar dunia, sungai merupakan landmark sebuah kota. 
Sungai Thames di London, Sungai Liffey di Dublin, Sungai Amstel di Amsterdam, 
atau Sungai Potomac di Washington D.C. “Sementara Surabaya yang punya Kalimas 
malah melupakannya. Menjadi tempat sampah besar,” paparnya.

Hanya satu hal positif yang dicatat oleh Ridwan Kamil saat itu. Apa itu? 
Political will pemimpinnya luar biasa besar. “Surabaya adalah kota pertama yang 
benar-benar berniat menggunakan jasa saya untuk melakukan penataaan kotanya. 
Dan inisiatif justru datang dari wali kotanya,” katanya.

Ridwan Kamil kemudian membantu PemKot Surabaya menyusun vision plan.

Setelah melakukan penelitian dan survei, keluarlah apa yang dinamakan “Surabaya 
Vision Plan”. Dalam presentasinya, Ridwan Kamil membagi Surabaya ke dalam 
sejumlah cluster. Menyesuaikan dengan potensi daerahnya, Ridwan Kamil 
menyarankan agar ada spesialisasi untuk masing—masing daerah.

Misalnya, kawasan Surabaya Utara, dimaksimalkan untuk kegiatan pelabuhan. 
Wilayah itu juga bisa memberi sumbangsih dengan menjadikan Surabaya sebagai 
salah satu port city terbesar dan hub untuk kawasan Indonesia Timur. Dengan 
demikian, di kawasan itu harus ada penataan yang bagus untuk wilayah peti kemas 
dan perindustrian yang berbasis perkapalan. Pemerintah juga harus menyediakan 
infrastruktur yang maksimal supaya bisa mendukung kegiatan shipping di kawasan 
tersebut.

Sementara Surabaya Pusat akan difokuskan menjadi kawasan CBD (central business 
district). Adapun kawasan Surabaya Selatan di-plot menjadi arena rekreasi, 
kawasan pendukung bisnis, menjadi landmark atau tetenger kota, dan menjadi 
pusat hub transportasi massal.

“Jangan sampai Surabaya menjadi Jakarta kedua dalam hal transportasi. Yakni, 
ketiadaan transportasi massal yang murah dan nyaman, serta mengalami kemacetan 
yang luar biasa,” terangnya. Di Jakarta, Ridwan Kamil menyatakan dan studi yang 
pernah dilakukannya diketahui bahwa kerugian potensial akibat terhalangnya 
mobilitas mencapai Rp 43 triliun setahun. Itu setara dengan empat kali lipat 
APBD Jatim 2011. Belum lagi social cost akibat stres di jalan.

Vision Plan Surabaya dibagi Ridwan Kamil menjadi dua

“Namun, inti utama Surabaya Vision Plan ada dua. Yang pertama adalah menjadikan 
Surabaya sebagal kota waterfront. Artinya, kota yang menjadikan sungai utamanya 
sebagai wajah muka, bukan wajah belakang.”

“Visi kedua adalah menciptakan lebih banyak ruang terbuka hijau yang 
berorientasi pada ruang publik dan penyelamatan ekologi sekaligus. “Di benak 
saya, Surabaya mempunyai banyak ruang publik tempat warganya meluangkan waktu 
untuk berpelesir bersama keluarga. Kalau itu bisa terjadi, maka Surabaya secara 
sosial dan psikologis sudah sehat,” paparnya.”

Implementasi itu rencana itu tidak mudah namun berhasil dilaksanakan Bambang DH

Maka, dalam lima tahun berikutnya Surabaya berbenah dan melakukan tugas 
raksasanya menjadikan Kalimas sebagai wajah muka. Yang pertama dilakukan adalah 
membangun Taman Ketabang, lengkap dengan patung Sura dan Baya (ikan hiu dan 
buaya lambang kota Surabaya) yang ada air mancurnya persis di belakang 
Monkasel. Tak bisa disangkal, konsep Taman mi mengacu pada patung Merlionnya 
Singapura. 

Yang kemudian benar-benar menjadikan Surabaya terkenal adalah dibangunnya 
banyak taman.Total, sekarang ada 18 taman kota yang mampu menjalankan fungsi 
sebagai ruang publik. Sebut saja Lapangan Sawunggaling di kawasan Joyoboyo yang 
bahkan mempunyai lapangan futsal gratis; taman lansia tempat para lansia untuk 
berjalan-jalan sekaligus refleksi, yang dilengkapi landasan bebatuan yang 
didesain khusus untuk refleksi kaki; dan yang paling utama adalah taman yang 
menjadi landmark Surabaya, yaitu Taman Bungkul.

Ketegasan Bambang D.H. juga terlihat soal penyediaan ruang terbuka hijau. Pada 
12 Juni 2002, Bambang D.H. menyatakan bahwa 14 SPBU yang berada di lahan yang 
sebenarnya diperuntukkan sebagai ruang terbuka hijau harus tutup. Ini bukan 
pekerjaan ringan. Para pernilik SPBU itu kebanyakan mempunyai orang kuat 
sebagai backing. Selain itu, 14 SPBU tersebutjuga mengantongi izin resmi dan 
instansi terkait. Ini merupakan warisan dan pemerintahan terdahulu yang 
mengobral izin dan menabrak aturan mengenai peruntukan lahan di tempat itu 
untuk jalur hijau.

Bambang D.H. kemudian mengajukan raperda mengenai ruang terbuka hijau yang 
selesai diketok di dewan pada akhir 2002. Namun demikian, perda ini mesti 
menunggu waktu setahun untuk diterapkan. Sesuai dengan peraturan perundangan, 
harus ada waktu setahun untuk menyosialisasikan perda. Artinya, masa 
sosialisasi habis pada 31 Desember 2003, dan per 1 Januari 2004 para pemilik 
SPBU itu harus menutup usahanya. Untuk memberikan contoh, Bambang D.H. mdnutup 
sendiri SPBU milik koperasi karyawan pemkot di Jakgung Suprapto.

Dapat diduga, resistensi keras bermunculan dan pemilik dan para karyawan SPBU. 
Para karyawan sempat menggelar aksi unjuk rasa hingga ke DPRD Surabaya. Bukan 
itu saja, para pemilik SPBU juga mengajukan tuntutan pra peradilan ke PN 
Surabaya. Sidang yang digelar memutuskan untuk menolak tuntutan pencabutan 
perda itu. Akhirnya, setelah proses hukum hingga ke MA, dalam waktu tak lebih 
dan dua tahun ke-14 SPBU tersebut kini telah berganti menjadi jalur hijau.

Selain menertibkan SPBU, Pemkot juga menertibkan pemasangan reklame. Mereka 
tidak akan lagi memproses perizinan reklame di seluruh jalur hijau di 
jalan-jalan utama Surabaya, mulai Jalan A. Yani, Jalan Raya Darmo,Jalan Mayjen 
Sungkono, dan Jalan Kertajaya. Selain itu, supaya tidak semrawut, pemkot 
melarang pemasangan reklame dengan bentuk melebar. Tapi harus meninggi, 
sehingga tidak menghalangi dan merusak ruang terbuka hijau yang ada.

Penataan kota di sejumlah cluster Surabaya mulai terlihat bentuknya. 
Pengembangan kawasan Surabaya Timur juga sedang dan akan dilaksanakan. Yang 
pertama adalah wisata ekologis hutan mangrove di Wonorejo. Begitu pula, di 
kawasan Surabaya Utara pun juga sudah dilakukan sejumlah pembenahan.

Untuk pantai timur Surabaya, jauh-jauh hari Bambang D.H. menetapkan sekitar 
1.500 hektar kawasan timur Surabaya sebagai konservasi hutan lindung mangrove. 
Tujuannya untuk mengembalikan daerah Timur sebagai penyangga kawasan konservasi 
pantai.

Dasar pemikiran perubahan kewenangan itu adalah yang paling mengetahui mengenai 
keadaan dan kebutuhan suatu daerah adalah daerah itu sendiri. Artinya, yang 
paling tahu mengenai apa yang baik bagi suatu daerah ya daerah itu sendiri. 
Dengan begitu, pengelolaan Pamurbaya (pantai timur Surabaya) merupakan 
kewenangan Surabaya. Seperti dalam penutupan SPBU, sempat muncul resistensi 
dalam pembatalan izin lokasi. “Tapi setelah dijelaskan mengenai vitalnya 
wilayah pantai timur sebagai kawasan konservasi, mereka (para pengembang) bisa 
paham,” terangnya.

“Begitu saya tetapkan pada 2005, saya membatalkan banyak izin lokasi,” 
terangnya. Izin lokasi merujuk pada izin yang telah dikantongi pengembang untuk 
menjadikan sebuah kawasan sebagai perumahan.

Dijelaskan Bambang D.H., rupanya banyak pengembang yang sudah memblok-blok 
kawasan hutan lindung untuk dijadikan perumahan. Para pengembang itu tak bisa 
disalahkan begitu saja karena sebelumya, wewenang mengeluarkan izin lokasi 
memang ada di PemprovJatim. “Tapi kemudian diubah oleh Kemendagri, yang berhak 
mengeluarkan izin lokasi adalah Pemkot/Pemkab,” jelasnya.

Daripada membuat perumahan begitu saja, namun beberapa tahun kemudian diprotes 
para penghuninya. Atau malah tak laku karena air laut menggenang dan air 
sumurnya menjadi asin, maka para pengembang memilih membatalkan rencana mereka. 
“Belum lagi ancaman banjir rob dan kerusakan ekologis yang tak bisa 
dipulihkan,” ucap Bambang.

Sekarang ini, Surabaya mempunyai ruang terbuka hijau lebih dan 30 persen. 
Surabaya juga menjadi kota dengan visi dan panduan pembangunan yang jelas. 
Meski belum mencapai standar kota kelas dunia yang lengkap dengan transportasi 
massal nan murah, nyaman, dan menjangkau ke mana-mana, Surabaya kini berada di 
track yang tepat untuk menjadi kota dengan penataan ruang berkelas dunia.

Ridwan Kamil angkat topi atas kesuksesan Bambang DH dalam merealisasikan desain 
yang dirancangnya.

Ridwan Kamil terakhir berkunjung ke Surabaya pada 2011. Dan dia benar-benar 
terharu melihat Taman Bungkul. “Seperti itulah ruang publik yang ada dalam 
benak saya,” katanya. Warga kota berduyun-duyun datang, taman yang ramah dan 
selalu ramai 24 jam, adalah pemandangan yang tak bisa dilihat di tempat lain di 
Indonesia. “Memang ada Monas di Jakarta, tapi bukan pure taman dan kurang 
ramah,” tambahnya.

Meski dan awal dia memang yakin Bambang D.H. akan mengaplikasikan konsep 
penataan ruangnya, tapi tak urung percepatan pembangunan yang dilakukan oleh 
Pemkot Surabaya mengejutkannya. Dalam waktu tak terlalu lama, Pemkot berhasil 
menggusur bangunan liar di sejumlah titik bantaran sungai, menertibkan pedagang 
Pasar Keputran yang meluber, sekaligus melakukan penertiban terhadap biro 
reklame dan pemilik SPBU.
----------------------->
http://bit.ly/RKdiSBy


--------------------------------------------------------
Wassalam,

AR~'86 | Krisen S. Emha •
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

------------------------------------

***

Senyum-ITB wow! Hatur nuhun, anggota sudah 9.000. Klik http://bit.ly/p8cD25
Mudah kok! Manajemen email di milis Senyum-ITB ada di bawah. Dicoba deh :)
 

Anggota: 9.000                          Diperbarui: 2 Maret 2013
============================================================
                     *** Senyum-ITB ***
            - Kerjasama merajut Prestasi Dunia -
          Interaksi akrab Masyarakat dan Alumni ITB
   Persahabatan, Ide, Iptek, Desain, Seni, Bisnis, & Kerjasama
        Milis: http://groups.yahoo.com/group/Senyum-ITB 
             Portal: http://Senyum-ITB.blogspot.com

 Managed by: Senyum-ITB & 99Venus International ( http://yhoo.it/fYDB7B )
          Facebook: Senyum-ITB      Twitter: Senyum-ITB
============================================================


Mengatur mode terima email dengan ganti-ganti 3 cara terima berikut : 
1. [email protected] = email terima normal (individual emails)
2. [email protected] = email terima ringkasan (daily digest)
3. [email protected] = cuti sementara / baca di web Senyum-ITB

Ganti email / Cara berlangganan :
1. [email protected] = email berlangganan milis Senyum-ITB
Untuk ganti email, silahkan kirim dari alamat email baru Anda
2. [email protected] = email berhenti dari milis Senyum-ITB
Untuk ganti email, silahkan kirim dari alamat email lama Anda

Manajemen email di milis Senyum-ITB yang lengkap di http://bit.ly/och0xkt 



Yahoo! Groups Links





------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke