Sanes melupaken atawa mopohokeun sejarah ! Geus teu paduli we ka na Sajarah; 
mun bisa mah dipiceun sing jaauh! nu penting DUIT ! Ke ge ku KORPS bakal 
dibela; da bisi era sarerea ! Mun Korps geus maju, moal ayaa nu wani komo ka 
KORPS Militer mah !@

Hayang di MUNIRKEUN siah !?

--- On Wed, 3/4/13, mang kaby <[email protected]> wrote:

From: mang kaby <[email protected]>
Subject: [kisunda] Re: Nenek Moyang KITA Bangsa yang Besar dan Berjaya
To: "Alumni IPB" <[email protected]>, "Senyum-ITB" 
<[email protected]>, "UrangSunda" <[email protected]>, 
"Kisunda" <[email protected]>, "Baraya_Sunda" 
<[email protected]>, "Kota Bogor" <[email protected]>
Received: Wednesday, 3 April, 2013, 12:24 AM
















 



  


    
      
      
      












Jawabannya satu Pak De karena bangsa kita sudah melupakan Sejarah dan Budaya 
Bangsa kita sendiri. 

Ajaran leluhur mah sederhana n' mudah dilakukan asalkan kita mau tidak boleh 
mencuri, menipu, merusak lingkungan, menjaga nilai-2 aturan. 

Contoh Pikukuh Karuhun ya:
"Gunung Teu Meunang dilebur : Gunung tidak boleh dihancurkan"
"Lebak teu meunang diruksak : saluran air/ sungai/ selokan tidak boleh dirusak"
"Buyut teu meunang dirempak : Buyut/ Kabuyutan/ Aturan/ Nilai-nilai/ Norma-2 
tidak boleh dilanggar".

Coba deh itu Gunung sekarang babak belur ditebangin jadi aja longsor :((.

Lebak/ Saluran Air/ Sungai dlsb tidak dipelihara n' dijaga jadi aja banjiiiir.

Buyut~Aturan~ Norms n' Values ~ Rule of The Game pemerintah n' penjaga 
aturannya sendiri yg ngajarin rakyatnya melanggar. Pejabatnya maling, istilah 
korupsi kan menghaluskan makna maling/ rampok saja sebenernya. Kalo maling kan 
sudah jelas Kapolsek aja yg dituduh/ diteriaki maling rakyat otomatis langsung 
menggebukinya sampai mati. Nah koruptor itu identik dengan tajir / kaya. 
Padahal coba hilangkan istilah koruptor ganti dengan maling/ rampok mungkin 
rakyat kalo ketemu maling/ rampok pengen ngegebukin.

Aparat penegak hukum juga lihat di media issue-nya serem-2, kita sebagai rakyat 
jadi berfikir kenapa kok jadi begini, kemana rasa aman yg dulu ada :((. Dulu di 
Kampung Mamang nyimpen sendal di depan rumah aman tentram. Sekarang seeng dari 
tembaga disimpan di dapur saja dicuri :((. Buseeeeet deh. Belom lagi mobil, 
motor, penipuan secara online, elektronik, dlsb. Sudah mulai pudar rasa n' jiwa 
silih asah, silih asuh, n' silih asih yg kemudian menumbuhkan rasa Sabilulungan 
sehingga memperkuat persatuan n' kesatuan masyarakat sebage bangsa yg merdeka.

Semangat utk melakukan "DARMA" ato Bakti pun sudah pudar yg ada spirit Jangka 
Imah justru :((. Coba perhatikan dalam pembangunan infrastruktur aja bikin 
Jalan ngak beres-2 deh :((. Belum ada spirit melakukan pekerjaan yg terbaik 
sehingga selain mendapatkan gaji dari tugasnya tetapi juga mendapatkan barokah 
dari amal yg sudah ditanamkannya. Sekarang Jalan baru berapa bulan ancur 
berlobang malah mendzolimi penggunanya n' mengakibatkan kecelakaan n' kematian. 
Ngak ada rasa berdosa / bersalah, ini kesalahan sy selaku pembuat jalan yg 
menyebabkan hilangnya nyawa orang lain :((.  
 
Kemarin Mamang nonton CeuEen eeeh CNN ato BBC poho euy xixixi BBC yg media 
berita bukan Buah Batu Corps wkkkk. Nah di media itu Amerika dikritik habis-2an 
dengan mengedepankan skor-2 index-2 dari mulai Corruption Perception Index, 
Index Kemudahan Berusaha, dlsb. Pokoknya Amrik turun n' Juaranya ternyata 
Negara-2 Skandinavia seperti DENMARK, SWEDIA, ICELAND, dlsb. Nah si pembaca 
berita bilang ternyata si Skandinavia ini mengutamakan PENDIDIKAN sebagai 
tulang punggungnya :). Disana juga katanya Capitalism berjalan tetapi Tax-nya 
juga Naudzubillah xixixi. Nah si pembaca berita mempertanyakan apakah Amerika 
perlu seperti Skandinavia utk mengatasi berbagai masalah yg ada?

Kalo di Indonesia sekarang Pendidikan rasanya masih jeblok ya :((. Mamang pikir 
bukan hanya tolak ukurnya nilai akademis yg baik tetapi juga nilai etika/ 
moralnya yg diukur dan tentunya tanggung jawab semua dari mulai keluarga, 
lingkungan, sampai ke sekolah.    
PR-nya banyak memang seperti mengurai benang kusyut :((. Yg jelas tadi kalau 
masing-2 elemen bangsa ini mau kembali sesuai DARMA-nya masing-2 insya Alloh 
negara ini bisa maju kembali. Pejabat penegak hukum bekerja sesuai darmanya 
menegakan keadilan tanpa pandang bulu. Pejabat pembuat jalan membuat jalan yg 
kuat bagus n' tahan lama. Pejabat pembuat transportasi membuat n' membikin 
sistem transportasi masal yg aman, nyaman, tepat waktu, n' terjangkau. Pejabat 
penjaga Lingkungan membuat sistem n' menjaga lingkungan alam tetap lestari. 
Pejabat pertanian membuat bangsa ini merdeka secara pangan tidak tergantung 
negara lain. Pejabat Energi juga membuat bangsa ini berdaulat / merdeka secara 
energi dengan mengembangkan renewable energi tidak tergantung pasokan dari 
import,dlsb. Pejabat pendidikan bekerja sesuai darmanya mendidik siswa siswi 
mahasiswa mahasiswi menjadi generasi penerus bangsa yg punya harga diri n' jati 
diri yg kuat sebagai bangsa yg bermartabat,
 dlsb.

Pun sapun kaluluhuran, semoga Indonesia menjadi negara yg bisa mensejahterakan 
rakyatnya. Amiiin ya Alloh ya robbal alamin.
nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.comFrom:  Gun Soetopo <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Wed, 3 Apr 2013 06:42:15 +0700To: alumni-ipb<[email protected]>; 
Linkers<[email protected]>; Genksi ni 
yee<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Subject: [alumni-ipb] Nenek Moyang KITA Bangsa yang Besar dan Berjaya

 



    
      
      
      
Kenapa keturunannya sebagai (katanya) Bangsa Indonesia ini melahirkan Koruptor 
Besar dan bersembunyi di Jabatan formal buatan mereka sendiri dan akan berujung 
di Bui. Kalo seperti ini namanya Bangsa Kupreet he he he


Situs Gunung Padang 10 Kali Luas Borobudur


Tim Terpadu Penelitian Mandiri Situs Gunung Padang, yang beranggotakan para 
ahli dari berbagai disiplin ilmu, kembali melakukan penelitian lapangan di 
Situs Punden Berundak Gunung Padang, mulai mendapat titik terang dan menambah 
asumsi baru.
Dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan 22-24 Juni itu, khususnya dari 
disiplin ilmu arkeologi, bisa disimpulkan bahwa Situs Gunung Padang lebih luas 
daripada Candi Bororbudur.
Menurut Ketua Tim Arkeologi yang merupakan bagian dari Tim Terpadu Penelitian 
Mandiri Situs Gunung Padang, Dr Ali Akbar, awalnya situs Gunung Padang ini 
diperkirakan hanya memiliki luas 0,4 hektare.
Namun, setelah dilakukan pembersihan beberapa bagian dinding atau lereng punden 
berundak dari ilalang yang lebat menutupinya, tepat di sisi dinding timur 
ditemukan 20 lebih undakan atau terasering dengan ketinggian tiap undakan 
sekitar 1 meter.
Penemuan ini menjadi asumsi kuat bahwa di sisi lain pun akan ditemukan undakan 
yang sama. "Adanya undakan yang terus melebar hingga bawah itu menjadikan luas 
situs Gunung Padang tidak lagi 0,4 hektare atau hanya 400 meter persegi. 
Diperkirakan situs ini luasnya mencapai 15 hektare, sedangkan Candi Borobudur 
kan hanya 1,5 hektare. Jadi Situs Gunung Padang ini diperkirakan 10 kali lebih 
luas dari Borobudur," kata Ali saat ditemui Tribun di Situs Gunung Padang, 
Minggu (24/6).
Dalam proses pembersihan dinding situs itu, kata Ali, banyak juga temuan lain 
yang diperkirakan menguatkan asumsi awal yang menjadi latar dilakukannya 
penilitian, yakni bangunan punden berundak di atas bukit tersebut ditunjang 
oleh struktur susunan batuan andesit yang sama dengan di atas.
Mulai dari ditemukannya dua batu tegak di sisi timur yang diduga sebagai pintu 
masuk atau semacam gapura. Di sisi lainnya, yakni sisi selatan dan barat, belum 
bisa banyak dilakukan tim karena kondisi dinding sisi selatan, teras-terasnya 
sudah tidak beraturan. Diduga terjadi bencana longsor yang hebat pada masa lalu.
Di sisi barat teradang oleh kondisi longsoran tanah yang tebal dari sisi bukit 
di sebelahnya. Sementara undakan batu yang sekarang ini menjadi jalan menuju 
punden merupakan tangga masuk yang ada di sisi utara punden.
"Selain menemukan undakan di sisi timur, kami juga menemukan adanya indikasi 
kuat tentang undakan atau terasering itu memutar mengelilingi bukit. Sebab, 
pada setiap jarak tertentu ketika kita menaiki tangga masuk ke situs akan 
terlihat adanya susunan batu yang memanjang ke kanan dan kiri seakan membetuk 
terasering," kata Ali.
Dari hasil penelitian survei oleh Tim Geologi, Dr Danny Hilman Natawidjaja, 
yang juga sebagai peneliti Geotek dari LIPI, mengatakan, berdasarkan deteksi 
survei georadar, geolistrik, geomagnet dan pengeboran kecil untuk mengambil 
sampel, diduga kuat di bawah bangunan Punden Berundak Gunung Padang itu ada 
ruang kosong, bahkan dicurigai adanya pintu masuk seperti lorong.
Namun, semua itu harus dibuktikan dengan penelitian arkeologi. Meski belum 
dibuktikan oleh penelitian arkeologi, tim Geologi untuk sementara ini tetap 
berasumsi di bawah Situs Gunung Padang yang sekarang terdapat bangunan yang 
usianya lebih tua dari Situs Gunung Padang.
"Kami sebelumnya juga pernah menyebutkan bahwa hasil dating carbon pada sampel 
yang kami ambil dari kedalaman 8 meter dari atas teras kelima, diperoleh usia 
sampel karbon itu diperkirakan 11 ribu tahun Sebelum Masehi. Dan untuk sampel 
yang ada pada kedalaman 4 meter usia sekitar 4.700 tahun Sebelum Masehi," ujar 
Danny.





    
     

    










    
     

    
    






  








Kirim email ke