Pertanyaaan nu salah ! Cek Tuhan teh arilaing perlu atawa teu perlu ka Aing, 
kuma dinya ! Naon hubunganana !? Moral alus meureun keur kaalusan maraaneh, 
atuh Moral ruksak keur karuksakaan maraneh oge,
Ngan nu BUTUH jeung PERLU Tuhan pasti neangan !
Tuhan disembah teu disembah oge, akan TETAP Maha Segalanya !
Pertanyaan nu tepat mah : Maneh BUTUH pada Tuhan atau tidak !? Gak butuh juga 
gak apa2; Tuhan membebaskan kok. Manusana we nu GR ngarasa diperlukeun ku TUHAN 
? Hahaha GOBLOK sekali manusia yang berpikir begitu !

--- On Tue, 9/4/13, rsyaifoel <[email protected]> wrote:

From: rsyaifoel <[email protected]>
Subject: [Baraya_Sunda] manusa, pangeran jeung moral?
To: [email protected]
Received: Tuesday, 9 April, 2013, 12:54 PM
















 



  


    
      
      
      

Apakah Manusia Perlu Tuhan untuk Menjadi Bermoral?

Penulis : Yunanto Wiji Utomo | Selasa, 9 April 2013 | 17:56 WIB



KOMPAS.com — Mana yang lebih tepat? Apakah manusia bermoral karena percaya 
Tuhan atau manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral. Hingga kini, jawaban 
pasti pertanyaan itu masih menjadi perdebatan.



Frans de Waal, ahli primata ternama dunia, biolog di Emory University dan 
Direktur Living Links Center di Yerkes Primate Center di Atlanta, mencoba 
memberi uraian untuk menuju pada jawaban akan pertanyaan tersebut lewat 
bukunya, The Bonobo and the Atheist.



Agamawan dan kaum pemeluk agama yang taat pastinya akan menjawab bahwa manusia 
bermoral karena percaya Tuhan. Namun, De Waal menjawab sebaliknya. Menurutnya, 
manusia percaya Tuhan karena manusia bermoral.



Jawaban De Waal didasarkan atas hasil penelitian selama bertahun-tahun pada 
perilaku primata besar seperti simpanse dan bonobo. Ia menunjukkan bahwa 
moralitas berkembang sebelum manusia dan kebudayaan manusia berkembang.



Penelitian menunjukkan bahwa primata besar memiliki empati. Mereka memiliki 
rasa keadilan, mereka bisa memelihara dan peduli satu sama lain serta mampu 
berbagi dengan individu lain yang kurang beruntung.



Karakter primata yang menyerupai sifat manusia tersebut membuat De Waal 
berpikir bahwa primata pun punya akar moralitas. Walaupun, memang, primata 
selain manusia belum bisa dikatakan bermoral; primata punya penyusun utama 
moralitas.



Dalam bukunya, De Waal menuliskan, "Ada sedikit bukti bahwa hewan menilai 
kesesuaian suatu aksi yang tak secara langsung berdampak pada dirinya. Dalam 
perilaku ini, kita pun mengenal nilai yang sama."



"Saya mengambil petunjuk-petunjuk kepedulian pada komunitas ini sebagai tanda 
bahwa penyusun utama moralitas lebih tua dari kemanusiaan, dan kita tidak perlu 
Tuhan untuk menjelaskan bagaimana kita bisa sampai pada posisi kita sekarang," 
tulis De Waal seperti dikutip ABC News, Senin (8/4/2013).



De Waal yang juga seorang ateis menegaskan, moralitas berkembang dari proses 
perkembangan spesies manusia itu sendiri, bukan diberikan oleh Tuhan. Ia 
mengungkapkan tanda lain adanya moralitas pada primata. Salah satunya, primata 
selain manusia juga bisa merasa bersalah.



Kasus tersebut dijumpai pada bonobo bernama Lody di Kebun Binatang Milwaukee 
County. Bonobo itu menggigit tangan dokter hewan yang memberikannya vitamin. 
Akibat gigitan, dokter hewan tersebut kehilangan satu jari. 



Mendengar teriakan sang dokter saat jarinya digigit, Lody menengok ke atas dan 
terkejut. Ia lalu melepaskan tangan yang sudah kehilangan satu jari itu. Hari 
berikutnya, saat dokter hewan kembali menengoknya, Lody lari ke sebuah sudut, 
menundukkan kepala dan melingkarkan tangan di tubuhnya. 



Yang mengejutkan, 15 tahun setelah berpisah dengan dokter hewan itu, Lody tetap 
mengenalinya dan mengingat kesalahannya. Saat dokter hewan itu berdiri di 
kerumunan, Lody berlari ke dokter itu seraya melihat tangan kiri sang dokter. 
Lody terus melihat tangan dan wajah dokter itu.



Apa yang dilakukan Lody menjadi bukti adanya bibit-bobot moralitas pada hewan. 
Apakah Lody merasa malu? Atau, apakah dia takut akan pembalasan? Yang jelas, 
apa yang dilakukan Lody adalah bukti bahwa dia merasa bersalah, sekaligus 
menjadi tanda bahwa ia punya bibit moralitas.



Berkali-kali, para ahli primata juga mendokumentasikan rasa bersalah, sedih, 
dan iba saat pada individu lain yang sekarat, pada ibu kera yang kehilangan 
anaknya, serta memelihara anakan yang kehilangan orangtuanya.



"Beberapa orang mengatakan, hewan adalah diri mereka sendiri, sementara manusia 
mengikuti sesuatu yang ideal, tapi itu terbukti salah. Bukan karena kita tak 
punya sesuatu yang ideal tetapi karena mereka pun memilikinya," tulis De Waal.



Ada satu kasus menarik. Bonobo pun tahu cara mencegah perang. Koloni bonobo 
kadang berkumpul saat dua pejantan akan berperang. Yang menarik, saat perang 
telah siap dimulai, bonobo betina yang ada di sekitarnya justru mulai bercinta 
dengan sesama ataupun lawan jenisnya.



Dalam sudut pandang manusia, apa yang dilakukan bonobo itu bisa disebut orgy. 
Lalu, apakah orgy adalah wujud moral? Pastinya, bagi manusia, hal itu tidak 
bermoral. Namun mungkin, bonobo hanya menyadari bahwa memang lebih baik 
bercinta daripada berperang.



Sumber :ABCNews

Editor :yunan





    
     

    
    






  








Kirim email ke