mj. Keun we malah alus bersih ti na KKN. Ngan meureun hese ngangkaatna; daa teu 
boga basis PAMILIH. Ari ngandelkeun PDIP; asa cangcaya laantaran basis nu 
gedena di JATENG.

--- On Tue, 21/5/13, Aliyudin Sofyan <[email protected]> wrote:

From: Aliyudin Sofyan <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1
To: [email protected]
Received: Tuesday, 21 May, 2013, 10:00 AM
















 



  


    
      
      
      Umur mang Joni, ping April kamari tos 72 taun. Sigana kolot teuing. 
Sabenerna aya anu masih rada ngarora. Cing diabsen ku uing, CMIIW:

1. Mang Marty Natalegawa
2. Ceu Pia Alisjahbana
3. Kang Ganjar K
4. Kang Gumilar S
5. Kang Yudi Chrisnandy
6. Kang Agum Gumelar (masih laku teu nya?)
7. Saha deui nya?






--- On Tue, 5/21/13, mang kaby <[email protected]> wrote:

From: mang kaby <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1
To: "Kisunda" <[email protected]>
Date: Tuesday, May 21, 2013, 3:55 PM
















 



    
      
      
      












Ari umurna sabaraha? 
Sok atuh nu ngora saha?
nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.comFrom:  Aliyudin Sofyan <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 21 May 2013 01:44:10 -0700 (PDT)To: 
<[email protected]>ReplyTo:  [email protected]
Subject: Re: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1

 



    
      
      
      Mang Joni (hadeuh asa kagok, urang sunda mah carang make ngaran Joni) teu 
kakolotan teuing kitu? Emang anu rada ngora can aya nu moncorong nya?



--- On Tue, 5/21/13, mang kaby <[email protected]> wrote:

From: mang kaby <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1
To: "Kisunda" <[email protected]>
Date: Tuesday, May 21, 2013, 11:47 AM
















 



    
      
      
      












Hahahaha beneeeer tah wkkkk
nuhuuuuns,
mang kabayan
www.udarider.comFrom:  dudi <[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 21 May 2013 11:30:00 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1

 



    
      
      
      supaya meunang wakilna jokowi tah, ngarah taeun hahaha


2013/5/21  <[email protected]>
















 



  


    
      
      
      












Kumaha pami GKna Kang Ganjar rektor Unpad? Kang Ginanjar, Kang Oma Soneta nu 
ngabeking? Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  "mang kaby" 
<[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 21 May 2013 11:13:57 +0700To: <[email protected]>; 
'UrangSunda'<[email protected]>; <[email protected]>
ReplyTo:  [email protected]
Subject: [kisunda] GINANDJAR KARTASASMITA keur RI 1

 



    
      
      
      







Dari pada Oma Irama anu Urang Sunda oge nu jadi Presiden…
Kumaha lamun Mang Ginandjar Kartasasmita dikomporan supaya naek jadi Presiden…
keun wae kitu eleh oge sugan weh meunang… nu penting nunjukeun heula
Susundaan masih aya hehehe.

Ceunah man behind the gun Mang GK ieu teh disababraha paristiwa…
diantarana turuna Suharto jeung oge sigana Gusdur hehehe. Taaah soook atuh
kahareup kituh maju ulah ditukang wae hehehe.

H. GINANDJAR KARTASASMITA 

Sakit, Lalu
Jadi Tahanan 

Tragis,
begitulah yang terjadi terhadap mantan Menteri Pertambangan dan Energi
Ginandjar Kartasasmita, tersangka dalam kasus tindak pidana korupsi dalam
pelaksanaan kerjasama antara Pertamina dengan PT Ustraindo Petro Gas. Dalam
keadaan sakit, ia dijadikan tahanan. Meski tidak langsung dibawa ke rumah
tahanan Kejaksaan Agung, tapi itu cukup mengiris hatinya. “Dholim,”
sebut Wakil Ketua MPR ini, seperti diceritakan pengacaranya, Muchyar Yara. 

Apa yang
dilakukan oleh Kejaksaan Agung itu memang cukup menyentak, beberapa kalangan.
Adnan Buyung Nasution, misalnya. Pengacara senior ini melihat, upaya Marzuki
menahan Ginandjar hanya karena menuruti instruksi Presiden Abdurrahman Wahid.
“Jangan hanya karena mengejar target untuk melakukan pemeriksaan pada
akhir Maret, lantas berbuat ngawur,” katanya. Ia mengharapkan, proses
pemeriksaan terhadap Ginandjar tetap menghormati ketentuan hukum berlaku wajar
dan tidak sewenang-wenang. 

Memang,
dalam kasus ini, terlihat ada situasi panik di pihak penegak hukum. Tak heran
bila ada yang menilai bahwa penahanan Ginandjar terkesan dipaksakan.
“Tampaknya mereka sudah pada batas frustrasi, sehingga mereka mengatakan
‘apa pun alasannya kami akan tetap melakukan penahanan’,”
ujar Muchyar. Dan ia percaya, penahanan Joni – begitu Ginandjar akrab
disapa -- hanya sekedar untuk memenuhi target tanggal 31 Maret. “Ada
aspek-aspek yang bersifat non yuridis,” Muchyar menegaskan. 

Tetapi,
Marzuki Darusman, Jaksa Agung, mengelak ada kepentingan politik dalam
penangkapan Ginandjar. “Kejaksaan juga tidak punya target penangkapan
demi kepentingan politik. Tetapi, memang ia (Ginandjar) tidak bersahabat dengan
Gus Dur,” kata Marzuki kepada TEMPO. Yang jelas, seperti
diberitakan Majalah TEMPO edisi 8 April 2001, Gus Dur pernah mengultimatum:
jika Ginandjar tidak ditangkap sampai 31 Maret kemarin, Jaksa Agung Marzuki
akan diberhentikan dari posisinya. 

Soal
Ginandjar ini menjadi perhatian khusus Gus Dur. Sampai-sampai, Marzuki sendiri
tidak perlu melapor secara mendalam soal perkembangan kasus bekas menteri Orde
Baru itu. “Presiden sudah tahu perkembangan terakhir kasus Ginandjar.
Kalau beliau sudah tahu, untuk apalagi saya melapor?” kata Marzuki. Itu
menunjukkan bahwa Gus Dur memang sangat memperhatikan kasus itu. Istimewa?
Agaknya, iya. 

Sebelumnya,
tak lama setelah tiba di tanah air, Ginandjar langsung dicekal. Keputusan cekal
itu tertuang dalam surat yang ditanda tangani Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen
H. Chalid Karim Leo bernomor 042/D/DSP.3/03/2001. 

Tampaknya
memang banyak hal yang membuat Gus Dur “tidak akrab” sama
Ginandjar. Tahun lalu, ia pernah hampir ditangkap juga, bersama Fuad Bawazier,
Arifin Panigoro, dan lain-lain. Fotokopi surat perintah penangkapannya,
ditandatangani Jaksa Agung Marzuki Darusman, bernomor 032/J.A/07/2000, sempat
beredar. Tentu saya, Marzuki membantah keberadaan surat itu. 

Tapi ketika
itu, opini telanjur terbentuk -- selain dianggap terlibat dalam rantai KKN Orde
Baru, Ginandjar juga ditengarai bergerak merancang pendongkelan Gus Dur dari
kursi presiden. Ia misalnya, disebut-sebut ikut membiayai demo guru ke DPR.
Seperti ditulis Majalah Forum, ia diduga menyediakan dana Rp 5 miliar untuk
baju seragam dan logistik saat para guru ramai-ramai melakukan demontrasi,
April 2000 lalu. 

Selesai satu
soal, kemudian ia juga dikabarkan ikut merancang pengerahan massa menjelang
Sidang MPR Agustus 2000 lalu, untuk mendesak Gus Dur mundur. Selain itu,
Ginandjar pun dianggap sebagai simpul bersatunya kekuatan PDI Perjuangan dan
Partai Golkar untuk menekan Gus Dur selama ini. "Ginandjar yang secara
intensif mengatur pertemuan antara tokoh-tokoh partai politik itu," kata
sumber dari kalangan istana seperti dikutip Majalah TEMPO, tahun lalu. 

Soal
kedekatan mantan anggota kabinet beberapa periode pada masa Soeharto itu dengan
PDIP memang tidak terbantahkan. Lolosnya Ginandjar ke Senayan, sebagai anggota
MPR utusan Daerah Jawa Barat, tidak lepas dari peran partai berlambang banteng
gemuk itu mendongkraknya. Semula, karir politiknya dipastikan hampir macet,
menyusul menipisnya kendaraan politik baginya untuk sampai ke Senayan. 

Tetapi, soal
KKN -- berkaitan dengan Freeport dan pembangunan kilang minyak Pertamina di
Balongan -- dan soal upaya menghempaskan Gus Dur dari kursinya, semua dibantah
oleh Ginandjar. Ia merasa tidak punya masalah dengan Presiden Abdurrahman
Wahid. "Saya tidak pernah merasa yang dimaksudkan Presiden Gus Dur itu
adalah saya," katanya kepada TEMPO. Memang, Ginandjar tetap anteng
menanggapi berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya, dan penuh percaya diri.


Sikap tenang
dan penuh percaya diri itu pula yang terlihat ketika ia tampil dalam acara
rapat dengar pendapat dengan Komisi VIII DPR, Rabu, 12 Juli lalu. Pada
kesempatan itu ia dengan tangkas menjawab semua pertanyaan anggota dewan --
menyangkut masalah PT Freeport, listrik swasta, proyek kilang minyak di
Balongan, dan lain-lain -- dengan menunjukkan data-data kongkret. Justru,
anggota dewan sendiri yang terlihat kewalahan dan mati kutu menghadapi
Ginandjar yang sangat siap itu. "Saya akui data yang dibawa Pak Ginandjar
sangat baik. Tetapi bukan berarti kami menerima begitu saja keterangannya,"
kata anggota Komisi VIII Priyo Budi Santoso ketika itu. 

Ginandjar
lahir di Bandung, 59 tahun lalu. Menamatkan sekolah dasar hingga menengahnya di
Jakarta. Pada tahun 1959 ia kembali ke Bandung, masuk ITB. Kemudian, Ginandjar
-- yang akrab dipanggil Joni itu -- memperolah beasiswa ke Jepang dan belajar
pada Tokyo University for Agriculture Chemical Engineering, hingga lulus
sebagai insinyur teknik kimia, 1965. 

Ia kemudian
masuk Angkatan Udara RI. Di TNI AU, ia memulai kariernya dengan pangkat letnan
satu. Ketika pangkatnya menjadi Kapten, ia ditugaskan di Sekretariat Negara. Di
sini ia sempat mengikuti pendidikan Lembaga Administrasi Negara, dan lulus
menjadi sarjana administrasi negara, 1980. Dua tahun kemudian ia menjadi
anggota Badan Pekerja MPR. Selain juga berulang kali menjadi anggota delegasi
RI ke berbagai konferensi internasional, ia juga sering ikut dalam perlawatan
kenegaraan Presiden RI. 

Februari
1985, ia menerima tambahan tugas, menjabat ketua Badan Koordinasi Penanaman
Modal, menggantikan Suhartoyo. Termasuk gesit dan tanggap, lima bulan kemudian
Ginandjar mengumumkan Keppres No. 5/1985. Antara lain, keputusan Presiden itu
membolehkan Penanaman Modal Asing memasuki bidang usaha Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN). ''Asal menyertakan koperasi sebagai pemegang 20 persen saham,''
katanya. Di BKPM, di antaranya, ia bertugas menyederhanakan prosedur perizinan,
dalam kaitan tugas pokok mempromosikan penanaman modal di Indonesia 

Ketika
kecil, Ginandjar mengaku anak bandel. Anak keempat dari sepuluh bersaudara ini
putra Husen Kartasasmita, pegawai Kementerian Pertahanan yang aktif di Partai
Nasional Indonesia (PNI), dan pernah menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1955.
Ibunya, Ratjih Natawidjaja, juga aktivis PNI. 

Ayah tiga
anak yang sudah haji ini pengagum semangat bushido orang Jepang. Ia juga
menggemari olah raga bela diri kendo dan kempo, yang dipelajarinya semasa di
Jepang. Bahkan ia pernah mendirikan dojo, tempat latihan kendo dan kempo.
Selain itu, lelaki berperawakan tinggi yang tidak suka merokok ini juga suka
main golf. Menurut istrinya, Yultin Harlotina, ''Makanan kesukaan Joni lalap
dan sambal.” (mis/dari berbagai sumber) 

Sumber: http://www.tempo.co.id/harian/profil/prof-ginandjar.html


 

nuhuuuns,

mang kabayan

www.dkabayan.com

 








    
     

    










    
     

    
    






  










    
     

    










    
     











    
     

    










    
     











    
     

    
    






  








Kirim email ke