http://www.klik-galamedia.com/cara-cepat-mengenal-budaya-sunda

 

 

RESENSI

Kamis, 23 Mei 2013 00:53 WIB

Aspek Visual Budaya Sunda

Cara Cepat Mengenal Budaya Sunda

DARPAN membuka buku ini dengan sebuah tulisan yang berjudul "Maluruh Sajarah
Carita Pondok Sunda". Menurut Darpan Kolonialisme tidak begitu saja hilang
dalam diri si penjajah maupun yang terjajah. Wacana kolonialisme menurut
Darpan sampai saat ini selalu diperbincangkan. Carita Pondok Sunda, dalam
pandangan Darpan, tidak terlepas dari peranan kaum elit Sunda.
Sastrawan-sastrawan yang melahirkan karya sastra, termasuk carita pondok,
berasal dari golongan bangsawan Sunda. Selanjutnya, alam Priangan sarat
keindahan. Tidak mengherankan jika seorang pengemara ilmiah seperti Junghun
tertarik untuk mengabadikan keindahan alam di depan mata ke dalam bentuk
lukisan. Hawe Setiawan (hlm. 33-62) memaparkan empat lukisan Junghun berikut
keterangan yang diuraikan dalam dua bahasa, yaitu Belanda dan Indonesia. 

Jamaluddin Wiranatakusumah mengajak pembaca untuk menelaah tentang konsep
bangunan di tatar Sunda. Bentuk masjid atau bangunan rumah bukan sembarang
bentuk melainkan disusun dari bahan-bahan bangunan tertentu dalam bentuk
berlandaskan falsafah tertentu. Falsafah itu sudah dianut oleh nenek moyang
orang Sunda sejak lama. Bentuk bangunan masjid jika diwujudkan dalam bentuk
benda dasar terdiri atas sebuah kotak, segitiga, dan lingkaran yang tersusun
ke atas. Bentuk kotak bermakna kesempurnaan perilaku, segitiga melambangkan
kesempurnaan sebuah tempat, dan lingkaran merupakan simbol kesempurnaan
iman. Bentuk rumah, menurut Wiranatakusumah, dilandaskan pada aspek
kemiripan dan kenangan akan sesuatu, misalnya bentuk rumah dengan posisi
anjing sedang duduk atau burung sedang mengepakkan sayapnya. 

Di dalam makalah berjudul "Alat Makan Orang Sunda Masa Kini", Nedina Sari
mengajak pembaca untuk meng-eksplorasi alat-alat makan dan tata cara makan
orang Sunda. Di dalam tulisan tersebut, Nedina Sari ingin menyampaikan bahwa
orang Sunda pun adaptif terhadap kebutuhan makan mereka. Sendok dan
peralatan makan lain dibutuhkan sesuai dengan sifat makanan yang akan
diambil, misalnya garpu untuk mengambil tape singkong tidak sama dengan
garpu untuk makan atau garpu untuk mengempukkan daging. Sikap adaftif orang
Sunda dalam wujud visual di dunia maya dipaparkan oleh Syaifuddin Iskandar
dalam tulisan berjudul "Identitas Visual Kasundaan dalam Ranah Media
Sosial". Orang Sunda tidak gaptek dan hal itu dibuktikan dengan
bermunculannya situs kesundaan di internet dalam berbagai varian. 

Tanah Sunda juga dikenal dengan tangan-tangan terampil pembuat batik. Batik
adalah kain yang berbicara. Gambar di atas sehelai kain batik bukanlah
sembarang gambar melainkan gambar yang dapat berbicara dan harus
berkesinambungan. Batik-batik di tanah priangan saling berbicara satu sama
lain. Jika digambarkan dalam sebuah bagan. Lingkaran isi batik di daerah
yang satu akan bersinggungan dengan lingkaran isi batik dari daerah lain.
Artinya, gambar batik di Tanah Priangan saling mempengaruhi. Yan-Yan Sunarya
mengemas paparan tentang batik priangan tersebut dalam tulisan berjudul
"Refleksi Estetik Kesundaan dalam Batik Priangan".

Buku kumpulan esai yang disampaikan dalam berbagai bahasa, yaitu Sunda,
bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris tersebut ditutup dengan karya
terjemahan Hawe Setiawan berjudul "The Story of Parahyangan". Tulisan
tersebut berasal dari sebuah naskah kuno Sunda berjudul "Carita
Parahyangan". Karya terjemahan tersebut bercerita tentang jatuhnya
kerajaan-kerajaan Hindu setelah datangnya pengaruh agama Islam di Jawa
Barat. Buku berjudul Aspek Visual Budaya Sunda tersebut dapat pembaca
jadikan sebagai jalan pintas untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Sunda
dalam sekali duduk.

(Resti Nurfaidah, Staf Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat)**

 

Kirim email ke