Asa muringkak bulu punduk kieu... Nuhun mang.
On 10/9/13, mang kabayan <[email protected]> wrote: > Tah geuning ngagugling kapanggih aya oge anu sarua jeung Mamang hayang > ngalestarikeun situs-2 cagar budaya titinggal karuhun. kaasup ieu Kang > Ruddaby nulis di wordpress. aya anu wawuh sugan? Manehna bahasa Sundana teu > lancar ceunah tapi peduli ka Susundaan geuning :). > > > Ada satu kejadian yang berhubungan dengan komunitas kesundaan yaitu masalah > Situs Jatigede dimana di lokasi situs-situs tersebut akan dibangun > Bendungan > Jatigede (silahkan KLIK DISINI ). Saya merasa sedih dan menolak bahkan > mengutuk apabila pemerintah terus melanjutkan programnya tersebut. Karena > apa? Kalau benar dibangun bendungan di areal tersebut maka orang Sunda dan > keturunannya terutama Sumedang Larang sebagai cikal bakal Galeuh Pakuan > (dari Eyang Wali Aji Putihnya) akan kehilangan asal usulnya dan bukti > sejarah yang menyatakan di situs-situs itulah para karuhun atau nenek > moyang > Sunda pernah mendirikan kerajaan Sunda Buhun (asal usul) sebelum adanya > kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tataran Sunda. Ironis sekali sementara > negeri-negeri Barat terus mencari asal-usulnya dan melestarikan peninggalan > nenek moyangnya malah bangsa Indonesia melenyapkan satu per satu > peninggalan > sejarah nenek moyangnya. > > https://ruddabby.wordpress.com/2010/08/29/mempertanyakan-kesundaanku/ > > anpa terasa sudah hampir 12 tahun, saya bersinggungan langsung dengan > segala > hal yang berhubungan dengan kata "SUNDA". Kata-kata seperti Prabu > Siliwangi, > Galeuh Pakuan, Pajajaran, Maung, Cepot sampai pada kalimat Si Mbah Dalem > Lancingan sekalipun hehehehehe. Memang sungguh aneh dan sering menimbulkan > tandsa tanya kenapa saya sampai cebur ke dalam hal-hal kesundaan. tapi > sudahlah memang ini sudah menjadi jalan hidup saya di dunia. Sebelum saya > menguraikan lebih lanjut mengenai judul diatas. Saya akan menceritakan > asal-usul keluarga saya. > > Saya lahir di Jakarta, peranakan campuran 2 suku besar di tanah air ini > yaitu Jawa Tengah (Bapak) dan Bengkulu (Ibu). Mungkin inilah yang membuat > banyak orang termasuk keluarga besar, teman-teman dan orang yang baru kenal > bertanya-tanya kenapa saya bisa tercebur kedalam kesundaan. Saya pun tidak > tahu dan tidak mau tahu karena dari lubuk hati yang paling dalam saya > mengalami kepuasaan batin dan menyenangi atas apa yang telah diperbuat > selama ini. > > 12 tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang yang katanya orang > tua/sepuh Sumedang. Awalnya saya menganggap ini hanya sebuah perkenalan > biasa yang terjadi sesaat dan tidak menduga kalau saya bisa berhubungan > erat > dengan orang tua ini sampai 12 tahun. Banyak orang cerita tentang kesaktian > beliau tapi saya selalu menganggapnya itu sebagai suatu hal yang kebetulan > saja. Orang-orang yang berkata itu hanya mengalami halusinasi atau ekstasi > berlebihan atas kesaktian Beliau. Saya orang yang sangat rasional dan > logika > berpikir selalu dikedepankan. Tapi semua itu rontok satu persatu setelah > saya mengalami langsung ketika selama beberapa tahun jalan bersama lewat > suatu pembuktian yang selalu saya istilah "BUKTIKAN DAN NYATAKAN" > > Tanpa diduga beliau lewat laku lampahnya atau perbuatan sehari-hari > menjabarkan apa yang dimaksud "Buktikan dan Nyatakan" tersebut tanpa perlu > demo/atraksi/circus/sulap/ debus/pertunjukkan kesaktian. Tetapi saya > diajarkan tentang pengenalan diri, lingkungan dan lain-lain dengan > memanfaatkan "IQRA" seperti yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi > Muhammad SAW. Beliau tidak pernah memberikan suatu amalan berupa ayat-ayat > yang jelimet tapi cukup dengan "Al Fatihah" terutama untuk mendoakan diri > sendiri dan orang tua yang telah meninggal dunia. Dari situlah dimulai > pengenalan tentang kesundaan. > > Pengenalan kesundaan yang dilakukan adalah dengan sering melakukan ziarah > ke > makam-makam karuhun orang Sunda, melakukan tawasulan (mendoakan orang tua > sendiri dan para karuhun yang telah meninggal dunia) dan secara tidak > langsung dan tidak disengaja akhirnya mengenal seni dan budaya Sunda > seperti > wayang golek, jaipongan dan lain-lain. > > Saya merasa lebih mengenal tentang Sunda dibanding dengan budaya asal orang > tua terutama budaya Jawa (dari Bapak) dengan segala pernak-perniknya > walaupun saya sempat sekolah selama 6 tahun di Yogya. Memang saya masih > bisa > sedikit-sedikit bicara dalam bahasa Jawa walaupun tidak terlalu fasih > bahkan > sering ditertawakan oleh teman-teman kuliah dulu sampai sekarang karena > bahasa jawa saya yang amburadul atau campur aduk tidak karuan mana ngongko, > kromo, bahasa pergaulan tidak jelas hehehehe. Inilah yang sering orang > merasa heran kok bisa-bisanya saya bisa bersinggungan dengan hal-hal yang > berbau Sunda. > > Terus terang saya kurang begitu paham dan fasih kalau orang-orang berdialog > dalam bahasa Sunda maka itu kadang-kadang saya meminta orang asli Sunda > untuk menerangkan maksud pembicaraan tersebut. Tetapi herannya setiap ada > acara "Ngancik Karuhun", saya bisa menangkap apa yang diucapkan. Tidak tahu > kenapa ???? > > Oh ya ada satu hal yang didapat oleh saya selama ini yaitu saya bisa > bertemu > dengan para sepuh orang Sunda baik yang namanya Ajengan, Aki, Uyut dan lain > lain seperti Uyut Jenggot, Uyut Jambrong, Uyut Papah, Uyut Papak, Uyut > Gelung, Aki Syar'i, Aki Korek, Eyang Sukma Nur Rasa, Mbah Tukiman dan > lain-lain. Karena merekalah saya mengerti tentang sejarah karuhun atau > orang > bilang tentang sejarah Galeuh Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Tetapi > inipun membuat saya makin tidak mengerti tentang hal-hal yang berhubungan > dengan karuhun dan sejarahnya atapun siloka-siloka yang sering dikeluarkan > lewat kitab/serat dan lain-lain. > > Banyak teman-teman atau orang yang merasa heran dan bertanya-tanya kenapa > saya berani-beraninya membuat suatu komunitas yang berhubungan dengan > kesundaan terutama sejarah para karuhun. Saya pun tidak tahu juga kenapa > dan > ini saya lakukan karena amanah yang diberikan oleh para orang tua agar saya > memulai untuk membuat apapun yang berhubungan dengan karuhun lewat media > apapun termasuk media elektronik atau dunia maya seperti Kompasiana ini. > Dengan pikiran yang sederhana yaitu niat yang tulus untuk menjalankan > amanah > orang tua, saya menjalankan itu semua walaupun menaggung resiko untuk > dipertanyakan apa maksud dan tujuannya apalagi dipertanyakan tentang > kesundaan yang terdapat di dalam diri saya (dilihat dari asal usul > keluarga). > > Ada satu kejadian yang berhubungan dengan komunitas kesundaan yaitu masalah > Situs Jatigede dimana di lokasi situs-situs tersebut akan dibangun > Bendungan > Jatigede (silahkan KLIK DISINI ). Saya merasa sedih dan menolak bahkan > mengutuk apabila pemerintah terus melanjutkan programnya tersebut. Karena > apa? Kalau benar dibangun bendungan di areal tersebut maka orang Sunda dan > keturunannya terutama Sumedang Larang sebagai cikal bakal Galeuh Pakuan > (dari Eyang Wali Aji Putihnya) akan kehilangan asal usulnya dan bukti > sejarah yang menyatakan di situs-situs itulah para karuhun atau nenek > moyang > Sunda pernah mendirikan kerajaan Sunda Buhun (asal usul) sebelum adanya > kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tataran Sunda. Ironis sekali sementara > negeri-negeri Barat terus mencari asal-usulnya dan melestarikan peninggalan > nenek moyangnya malah bangsa Indonesia melenyapkan satu per satu > peninggalan > sejarah nenek moyangnya. > > Yang lebih mengherankan adalah ketika saya membaca satu komentar di > komunitas dimana seseorang yang mengaku orang Sunda dan menggunakan nama > Sunda dngan entengnya mengatakan "walaupun kakek-kakek atau nenek moyang > saya termasuk di dalam situs jatigede yang akan ditenggelamkan tetapi tidak > masalah tuh khan mendapatkan ganti rugi dari pemerintah apalagi rencananya > benda-benda atau segala sesuatu yang berhubungan dengan situs akan > dipindahkan juga oleh pemerintah ke suatu daerah tertentu " Miris hati ini > setelah membaca komentar tersebut, dipikirnya mudah memindahkan itu semua > dan apakah sudah begitu parahkah perhatian generasi penerus saat ini atas > peninggalan para karuhun. Apakah semuanya harus dinilai dengan materi atau > kebendaan seperti uang sehingga menutup mata tentang asal usul keberadaan > orang Sunda sekarang dengan mengatakan itu semua adalah masa lalu ????? > Jangan-jangan orang-orang tersebut berasal dari batu (bukan manusia) yang > tidak mempunyai rasa dan perasaan. > > Maaf !!! Itu adalah kata pertama yang saya ucapkan kepada seluruh orang > Sunda atau yang merasa keturunan Sunda, apabila selama ini saya banyak > cerita tentang Sunda padahal saya tidak fasih berbahasa Sunda apalagi > menulis dengan menggunakan aksara Sunda. Inilah yang menyebabkan saya > mempertanyakan kembali "Kesundaan" saya karena saya tahu banyak orang sunda > yang lebih mumpuni tapi saya berharap jangan sampai kalian melupakan > kesundaannya. > > Kepulauan Sunda Besar (Wikipedia.com) > > Kepulauan Sunda Kecil (Wikipedia.com) > > Saya adalah orang yang tidak tahu apa-apa tentang segala hal yang > berhubungan dengan Sunda apalagi kalau bicara tentang "UGA WANGSIT > SILIWANGI" tetapi saya punya keyakinan dan ingin melihat/mengalami kejayaan > kembali Galeuh Pakuan Pajajaran dengan memimpin negeri tercinta ini. Tahun > 2014 saya pikir saat yang tepat untuk PUTERA GALEUH PAKUAN PAJAJARAN > menjadi > Pemimpin Nusantara sehingga bukan sekedar pemimpin Jawa (dalam hal ini suku > Jawa) atau luar Jawa yang mendominasi kepemimpinan nasional tapi Putera > Sunda (Galeuh Pakuan Pajajaran) juga bisa menjadi Pemimpin. JAS MERAH > (Jangan Sekali-kali Meninggalkan/Melupakan Sejarah). Lihat kembali sejarah > penamaan pulau-pulau di nusantara ini. Kenapa dinamakan Sunda Besar dan > Sunda Kecil ? Saya berharap orang Sunda bangkit dan mencari jawaban tentang > sejarah penamaan tersebut. Jangan tanya kepada saya karena saya sendiri > sedang mempertanyakan "kesundaan" saya. > > > > nuhuuuns, > > mang asep kabayan > > www.cipaku.org > > > > -- Yayan Mulyana Let's Talk About Trade Marketing and Category Management Specialist http://papathong.wordpress.com ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/
