Puguh Mamang oge sami Kang Yayan hehehe asa maruriding bulu punduk euy hehehe.
Heueuh mani asa kacida piraku kitu nya eta ti mulai pamarentah kabupaten sumedang, bupatina oge dprdna kitu oge gubernurna mani euweuh pisan perhatosan nana kana ngalestarikeun situs-2 bersejarah titinggal karuhun teh. Ieu Mamang maca buku Sewaka Darma ceunah naskah kabuyutan ciburuy oge nasibna mengenaskan dipiara ku kuncen barijeung kuncenna oge teu ngariteun macana geus kumel jeung boa geus kusut beak dimakan rayap :(. Padahal sabaraha sih biayana ngarevitalisasi Situs jeung ngarawat cagar budaya? Tempo weh eta Century 6 Trilyun euweuh tapakna kitu oge BLBI ratusan trilyun euweuh tapakna :(. Ieu mah proyek Jatigede mah 4 Trilyun aya ngabentuk monument jadi tah tembok China di Jatigede hehehe ceunah mun dibatalkeun rugi pisan nagara hoooor justru lamun dijadikeun terus ngaeleb situs-2 cagar budaya eta rugina edun pisan leuwih ti ratusan trilyun. Nilai suatu peradaban pan teu bisa diukur ku duit. Tokoh-2 Sunda oge teuing kamarana atuh nya? Poek aaaaah hehehe. Nu pasti mah ceuk kasepuhan Cipaku mah "lemah sagandu diganggu balai sadunya"... Ayeuna wae China anu rek nyaian manehna keur ripuh urusan badey cai... Ratusan rebu jelema direlokasi :P. Tangkuban Parahu ge geus batuk wae tah :(. Gunung Guntur masih keneh Waspada... Siga anu nungguan meureun... Boa siga baheula begitu Kepres Kaluar Pembebasan Tanah Jatigede Dimulai, Galunggung pan meledug. nuhuuuuns, mang asep kabayan www.udarider.com -----Original Message----- From: Yayan Mulyana <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 9 Oct 2013 17:22:42 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kisunda] Mempertanyakan Kesundaanku? Asa muringkak bulu punduk kieu... Nuhun mang. On 10/9/13, mang kabayan <[email protected]> wrote: > Tah geuning ngagugling kapanggih aya oge anu sarua jeung Mamang hayang > ngalestarikeun situs-2 cagar budaya titinggal karuhun. kaasup ieu Kang > Ruddaby nulis di wordpress. aya anu wawuh sugan? Manehna bahasa Sundana teu > lancar ceunah tapi peduli ka Susundaan geuning :). > > > Ada satu kejadian yang berhubungan dengan komunitas kesundaan yaitu masalah > Situs Jatigede dimana di lokasi situs-situs tersebut akan dibangun > Bendungan > Jatigede (silahkan KLIK DISINI ). Saya merasa sedih dan menolak bahkan > mengutuk apabila pemerintah terus melanjutkan programnya tersebut. Karena > apa? Kalau benar dibangun bendungan di areal tersebut maka orang Sunda dan > keturunannya terutama Sumedang Larang sebagai cikal bakal Galeuh Pakuan > (dari Eyang Wali Aji Putihnya) akan kehilangan asal usulnya dan bukti > sejarah yang menyatakan di situs-situs itulah para karuhun atau nenek > moyang > Sunda pernah mendirikan kerajaan Sunda Buhun (asal usul) sebelum adanya > kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tataran Sunda. Ironis sekali sementara > negeri-negeri Barat terus mencari asal-usulnya dan melestarikan peninggalan > nenek moyangnya malah bangsa Indonesia melenyapkan satu per satu > peninggalan > sejarah nenek moyangnya. > > https://ruddabby.wordpress.com/2010/08/29/mempertanyakan-kesundaanku/ > > anpa terasa sudah hampir 12 tahun, saya bersinggungan langsung dengan > segala > hal yang berhubungan dengan kata "SUNDA". Kata-kata seperti Prabu > Siliwangi, > Galeuh Pakuan, Pajajaran, Maung, Cepot sampai pada kalimat Si Mbah Dalem > Lancingan sekalipun hehehehehe. Memang sungguh aneh dan sering menimbulkan > tandsa tanya kenapa saya sampai cebur ke dalam hal-hal kesundaan. tapi > sudahlah memang ini sudah menjadi jalan hidup saya di dunia. Sebelum saya > menguraikan lebih lanjut mengenai judul diatas. Saya akan menceritakan > asal-usul keluarga saya. > > Saya lahir di Jakarta, peranakan campuran 2 suku besar di tanah air ini > yaitu Jawa Tengah (Bapak) dan Bengkulu (Ibu). Mungkin inilah yang membuat > banyak orang termasuk keluarga besar, teman-teman dan orang yang baru kenal > bertanya-tanya kenapa saya bisa tercebur kedalam kesundaan. Saya pun tidak > tahu dan tidak mau tahu karena dari lubuk hati yang paling dalam saya > mengalami kepuasaan batin dan menyenangi atas apa yang telah diperbuat > selama ini. > > 12 tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang yang katanya orang > tua/sepuh Sumedang. Awalnya saya menganggap ini hanya sebuah perkenalan > biasa yang terjadi sesaat dan tidak menduga kalau saya bisa berhubungan > erat > dengan orang tua ini sampai 12 tahun. Banyak orang cerita tentang kesaktian > beliau tapi saya selalu menganggapnya itu sebagai suatu hal yang kebetulan > saja. Orang-orang yang berkata itu hanya mengalami halusinasi atau ekstasi > berlebihan atas kesaktian Beliau. Saya orang yang sangat rasional dan > logika > berpikir selalu dikedepankan. Tapi semua itu rontok satu persatu setelah > saya mengalami langsung ketika selama beberapa tahun jalan bersama lewat > suatu pembuktian yang selalu saya istilah "BUKTIKAN DAN NYATAKAN" > > Tanpa diduga beliau lewat laku lampahnya atau perbuatan sehari-hari > menjabarkan apa yang dimaksud "Buktikan dan Nyatakan" tersebut tanpa perlu > demo/atraksi/circus/sulap/ debus/pertunjukkan kesaktian. Tetapi saya > diajarkan tentang pengenalan diri, lingkungan dan lain-lain dengan > memanfaatkan "IQRA" seperti yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi > Muhammad SAW. Beliau tidak pernah memberikan suatu amalan berupa ayat-ayat > yang jelimet tapi cukup dengan "Al Fatihah" terutama untuk mendoakan diri > sendiri dan orang tua yang telah meninggal dunia. Dari situlah dimulai > pengenalan tentang kesundaan. > > Pengenalan kesundaan yang dilakukan adalah dengan sering melakukan ziarah > ke > makam-makam karuhun orang Sunda, melakukan tawasulan (mendoakan orang tua > sendiri dan para karuhun yang telah meninggal dunia) dan secara tidak > langsung dan tidak disengaja akhirnya mengenal seni dan budaya Sunda > seperti > wayang golek, jaipongan dan lain-lain. > > Saya merasa lebih mengenal tentang Sunda dibanding dengan budaya asal orang > tua terutama budaya Jawa (dari Bapak) dengan segala pernak-perniknya > walaupun saya sempat sekolah selama 6 tahun di Yogya. Memang saya masih > bisa > sedikit-sedikit bicara dalam bahasa Jawa walaupun tidak terlalu fasih > bahkan > sering ditertawakan oleh teman-teman kuliah dulu sampai sekarang karena > bahasa jawa saya yang amburadul atau campur aduk tidak karuan mana ngongko, > kromo, bahasa pergaulan tidak jelas hehehehe. Inilah yang sering orang > merasa heran kok bisa-bisanya saya bisa bersinggungan dengan hal-hal yang > berbau Sunda. > > Terus terang saya kurang begitu paham dan fasih kalau orang-orang berdialog > dalam bahasa Sunda maka itu kadang-kadang saya meminta orang asli Sunda > untuk menerangkan maksud pembicaraan tersebut. Tetapi herannya setiap ada > acara "Ngancik Karuhun", saya bisa menangkap apa yang diucapkan. Tidak tahu > kenapa ???? > > Oh ya ada satu hal yang didapat oleh saya selama ini yaitu saya bisa > bertemu > dengan para sepuh orang Sunda baik yang namanya Ajengan, Aki, Uyut dan lain > lain seperti Uyut Jenggot, Uyut Jambrong, Uyut Papah, Uyut Papak, Uyut > Gelung, Aki Syar'i, Aki Korek, Eyang Sukma Nur Rasa, Mbah Tukiman dan > lain-lain. Karena merekalah saya mengerti tentang sejarah karuhun atau > orang > bilang tentang sejarah Galeuh Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Tetapi > inipun membuat saya makin tidak mengerti tentang hal-hal yang berhubungan > dengan karuhun dan sejarahnya atapun siloka-siloka yang sering dikeluarkan > lewat kitab/serat dan lain-lain. > > Banyak teman-teman atau orang yang merasa heran dan bertanya-tanya kenapa > saya berani-beraninya membuat suatu komunitas yang berhubungan dengan > kesundaan terutama sejarah para karuhun. Saya pun tidak tahu juga kenapa > dan > ini saya lakukan karena amanah yang diberikan oleh para orang tua agar saya > memulai untuk membuat apapun yang berhubungan dengan karuhun lewat media > apapun termasuk media elektronik atau dunia maya seperti Kompasiana ini. > Dengan pikiran yang sederhana yaitu niat yang tulus untuk menjalankan > amanah > orang tua, saya menjalankan itu semua walaupun menaggung resiko untuk > dipertanyakan apa maksud dan tujuannya apalagi dipertanyakan tentang > kesundaan yang terdapat di dalam diri saya (dilihat dari asal usul > keluarga). > > Ada satu kejadian yang berhubungan dengan komunitas kesundaan yaitu masalah > Situs Jatigede dimana di lokasi situs-situs tersebut akan dibangun > Bendungan > Jatigede (silahkan KLIK DISINI ). Saya merasa sedih dan menolak bahkan > mengutuk apabila pemerintah terus melanjutkan programnya tersebut. Karena > apa? Kalau benar dibangun bendungan di areal tersebut maka orang Sunda dan > keturunannya terutama Sumedang Larang sebagai cikal bakal Galeuh Pakuan > (dari Eyang Wali Aji Putihnya) akan kehilangan asal usulnya dan bukti > sejarah yang menyatakan di situs-situs itulah para karuhun atau nenek > moyang > Sunda pernah mendirikan kerajaan Sunda Buhun (asal usul) sebelum adanya > kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tataran Sunda. Ironis sekali sementara > negeri-negeri Barat terus mencari asal-usulnya dan melestarikan peninggalan > nenek moyangnya malah bangsa Indonesia melenyapkan satu per satu > peninggalan > sejarah nenek moyangnya. > > Yang lebih mengherankan adalah ketika saya membaca satu komentar di > komunitas dimana seseorang yang mengaku orang Sunda dan menggunakan nama > Sunda dngan entengnya mengatakan "walaupun kakek-kakek atau nenek moyang > saya termasuk di dalam situs jatigede yang akan ditenggelamkan tetapi tidak > masalah tuh khan mendapatkan ganti rugi dari pemerintah apalagi rencananya > benda-benda atau segala sesuatu yang berhubungan dengan situs akan > dipindahkan juga oleh pemerintah ke suatu daerah tertentu " Miris hati ini > setelah membaca komentar tersebut, dipikirnya mudah memindahkan itu semua > dan apakah sudah begitu parahkah perhatian generasi penerus saat ini atas > peninggalan para karuhun. Apakah semuanya harus dinilai dengan materi atau > kebendaan seperti uang sehingga menutup mata tentang asal usul keberadaan > orang Sunda sekarang dengan mengatakan itu semua adalah masa lalu ????? > Jangan-jangan orang-orang tersebut berasal dari batu (bukan manusia) yang > tidak mempunyai rasa dan perasaan. > > Maaf !!! Itu adalah kata pertama yang saya ucapkan kepada seluruh orang > Sunda atau yang merasa keturunan Sunda, apabila selama ini saya banyak > cerita tentang Sunda padahal saya tidak fasih berbahasa Sunda apalagi > menulis dengan menggunakan aksara Sunda. Inilah yang menyebabkan saya > mempertanyakan kembali "Kesundaan" saya karena saya tahu banyak orang sunda > yang lebih mumpuni tapi saya berharap jangan sampai kalian melupakan > kesundaannya. > > Kepulauan Sunda Besar (Wikipedia.com) > > Kepulauan Sunda Kecil (Wikipedia.com) > > Saya adalah orang yang tidak tahu apa-apa tentang segala hal yang > berhubungan dengan Sunda apalagi kalau bicara tentang "UGA WANGSIT > SILIWANGI" tetapi saya punya keyakinan dan ingin melihat/mengalami kejayaan > kembali Galeuh Pakuan Pajajaran dengan memimpin negeri tercinta ini. Tahun > 2014 saya pikir saat yang tepat untuk PUTERA GALEUH PAKUAN PAJAJARAN > menjadi > Pemimpin Nusantara sehingga bukan sekedar pemimpin Jawa (dalam hal ini suku > Jawa) atau luar Jawa yang mendominasi kepemimpinan nasional tapi Putera > Sunda (Galeuh Pakuan Pajajaran) juga bisa menjadi Pemimpin. JAS MERAH > (Jangan Sekali-kali Meninggalkan/Melupakan Sejarah). Lihat kembali sejarah > penamaan pulau-pulau di nusantara ini. Kenapa dinamakan Sunda Besar dan > Sunda Kecil ? Saya berharap orang Sunda bangkit dan mencari jawaban tentang > sejarah penamaan tersebut. Jangan tanya kepada saya karena saya sendiri > sedang mempertanyakan "kesundaan" saya. > > > > nuhuuuns, > > mang asep kabayan > > www.cipaku.org > > > > -- Yayan Mulyana Let's Talk About Trade Marketing and Category Management Specialist http://papathong.wordpress.com
