http://www.mediaindo.co.id/

 

NU dan Kebingungan Identitas

Hatim Gazali, Nahdiyin/peneliti Community for Religion and Social engineering 
(CRSe), Yogyakarta.


MULAI 28 November sampai 2 Desember, organisasi sosial-keagamaan terbesar di 
negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU), hendak menyelenggarakan hajatan besar, yakni 
Muktamar Ke-31 NU. Muktamar kali ini, diprediksi banyak kalangan, akan sangat 
sengit sebagaimana muktamar di Situbondo 1984.

Muktamar kali ini akan diwarnai tarik-menarik kepentingan antara kubu 
'prokhitah' (gerakan kultural) yang bergerak di wilayah kultural dan menolak 
adanya gerakan politik praktis dalam tubuh NU dengan 'kubu politikus', yakni 
para pengurus NU yang aktif di dunia politik praktis atau terlibat pada 
pencalonan legislatif/eksekutif pada pemilu kemarin. Kelompok pertama 
(prokhitah) direpresentasikan oleh kiai-kiai Langitan (KH Abdullah Faqih dkk) 
sementara kelompok kedua akan diwakili oleh KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum 
Tanfidziyah PBNU yang menjadi cawapres dari PDIP bersama Megawati Soekarnoputri.

Kedua kelompok ini tidak hanya akan berseteru tentang bagaimana konsep dan masa 
depan NU tetapi juga sama-sama memiliki calon untuk didudukkan di kursi 
teratas, yakni Tanfidziyah. Sehingga, perseteruan tidak hanya berhenti pada 
bahstul masail, lebih sengit justru pada perseteruan pemilihan ketua umum 
tanfidziyah dan rais am. Kedua kelompok tersebut sama-sama memikul kepentingan 
yang berbeda dan seakan sulit dipertemukan dalam satu forum muktamar.

Sesungguhnya, 'perseteruan' di internal NU dan tarik-menarik antara sayap 
politikus dan sayap aktivis gerakan kultural NU tersebut tidak perlu terjadi, 
jika tiga hal berikut diperhatikan. Pertama, perlu adanya jalinan komunikasi 
yang intim dan sinergi kekuatan yang padu dalam kedua jalur tersebut secara 
sekaligus, yaitu jalur struktural dan jalur kultural. Sebab, bagi warga NU, 
yang paling inti dari dua strategi perjuangan tersebut baik yang kultural 
maupun yang struktural adalah semakin membaiknya taraf hidup nahdiyin. Oleh 
karena itu, bahu-membahu di antara keduanya akan cukup menentukan bagi kebaikan 
masyarakat NU terutama di tingkat grass root. Sebaliknya, sikap saling 
'menggergaji' antarmereka justru akan merugikan warga NU sendiri.

Kedua, para politikus NU mesti memiliki komitmen ke-NU-an yang kuat, sehingga 
kehadirannya di panggung politik dapat difungsikan bagi pemenuhan 
sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan warga NU di level akar rumput. 
Pada cita inilah, para politikus NU yang datang dari beragam partai politik itu 
dapat menemukan titik temu. Namun, sayangnya, komitmen ke-NU-an yang seharusnya 
menjadi panduan mereka itu hancur lebur karena perebutan kekuasaan dan 
pertengkaran individual di antara mereka sendiri. Kecuali hanya sebagian kecil 
saja, mereka lebih kentara disibukkan oleh aktivitas pengukiran karier 
politiknya sendiri, daripada yang lainnya.

Ketiga, partai politik yang dikelola oleh orang-orang NU mestinya lebih 
sensitif terhadap sejumlah perkara yang menjadi kebutuhan kaum nahdiyin. 
Misalnya, terhadap pentingnya peningkatan dana anggaran untuk perbaikan 
pendidikan di Indonesia, di mana kondisi pendidikan warga NU sangat 
memprihatinkan. Sebab, jika mau jujur, warga NU yang tinggal di dusun-dusun dan 
pedalaman, bukan hanya di luar Jawa melainkan juga di Pulau Jawa masih banyak 
yang illiterate, sehingga perlu mendapatkan penanganan serius dengan suntikan 
dana yang memadai. Dalam tataran itu, yang terjadi malah kebalikannya. 
Menghadapi melorotnya anggaran pendidikan di APBN, para politikus NU itu justru 
terlihat--maaf!--gontai dan kedodoran.

Namun, yang perlu ditegaskan bahwa sebuah partai politik yang menjadi medium 
artikulasi dan penyaluran aspirasi warga NU tetaplah diperlukan, tanpa perlu 
menyulap NU sebagai partai politik. Harapannya, tentu bersama dengan 
partai-partai lain, partai tersebut dapat mendorong proses demokratisasi di 
Indonesia yang kini berlangsung, seraya dapat membagikan dana-dana pembangunan 
secara merata ke masyarakat bawah yang membutuhkannya. Dan, bagi NU sendiri, 
yang perlu dikembangkan sejatinya bukanlah 'politik kekuasaan' yang cenderung 
menguntungkan para elitenya, melainkan yang jauh lebih fundamental adalah 
'politik kewargaan' yang coba berjuang bagi terentasnya warga NU dari belitan 
penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menderanya.

Reformasi peran dan identitas

Dalam kerangka hal tersebut di atas, penting kiranya mencermati kembali 
tausiyah PBNU pada saat pemilu kemarin. Kalau dibaca lebih mendalam, tausyiah 
yang dikeluarkan oleh NU ini tidak hanya sebagai panduan moral bagi warga NU. 
Lebih jauh, pada prinsipnya tausyiah tersebut ingin kembali mengajak organisasi 
keagamaan di Indonesia untuk bergandengan bersama dalam merancang bangun 
demokratisasi di Indonesia. Sudah diketahui bersama bahwa peran organisasi 
keagamaan saat ini justru beralih fungsi dari media kekuatan kultural menjadi 
kekuatan politik.

Memang harus diakui bersama bahwa organisasi keagamaan di Indonesia semisal NU, 
Muhammadiyah, Persis dan lain sebagainya tidak hanya menjadi ruang integrasi 
sosial-keagamaan tetapi juga sebagai media terciptanya rasa kolektivitas yang 
membentuk identitas kelompok tertentu. Pada titik ini organisasi keagamaan 
tidak hanya memiliki ikatan struktural dengan warganya, tetapi merasuk menjadi 
ikatan emosional yang lebih mendalam.

Kepemilikan identitas ini pada gilirannya kerap menyebabkan tumbuhnya 
komunalisme dan fanatisme (ta'asshubiyah) yang dapat memecah kepentingan 
bersama seluruh bangsa. Dan dalam konteks politik, identitas tersebut menjadi 
semangat tumbuhnya politik aliran seperti yang diteliti oleh Geertz. Seperti 
yang diamati oleh Geertz pada tahun 70-an bahwa ternyata dalam momen pemilu 
pertarungan antar politik aliran menjadi begitu kental. Dan dikotomi politik 
aliran yang paling tegas adalah politik aliran berdasarkan organisasi keagamaan.

Harus diakui bersama bahwa tidak sedikit pula partai politik yang sampai saat 
ini masih merepresentasikan politik aliran walaupun secara eksplisit tumbuh 
sebagai partai terbuka. Pada konteks ini NU-Muhammadiyah dalam momen apapun 
bahkan dalam konteks politik telah memainkan kompetisi yang menyejarah. 
Kepentingan politik yang diemban oleh dua organisasi keagamaan dalam sejarah 
politik di Indonesia terus berjalan. Baik NU maupun Muhammadiyah bersikukuh 
untuk menempatkan kadernya dalam struktur pemerintah. Menjadi agenda besar 
bagaimana pentas politik di Indonesia melepaskan kepentingan komunalisme yang 
sudah mengakar ini.

Di sini, tausyiah yang dikeluarkan NU menjadi cukup relevan. Dalam hal ini 
tausyiah tersebut tidak hanya menjadi panduan bagi masyarakat NU tetapi 
memiliki agenda besar, yakni sebagai penerapan politik kebangsaan yang bersih 
dari kepentingan kelompok tertentu.

Dengan ini, NU telah memainkan apa yang disebutkan dalam tausyiah tersebut, 
politik kenegaraan dan politik kebangsaan tanpa mencoba melebur dalam ranah 
politik kekuasaan. Posisi ini menjadi prestasi gemilang bagi NU yang dalam hal 
tertentu dibidik sebagai organisasi keagamaan masyarakat desa, tradisional. 
Namun patut dicatat bahwa dengan tausyiah ini NU seakan melontarkan isu baru 
tentang reformasi peran dan identitas organisasi keagamaan di Indonesia.

Peran yang dimainkan oleh NU saat ini patut menjadi contoh dan referensi bagi 
yang lain. Bahwa organisasi keagamaan yang kerap menampilkan sentimen politik 
aliran telah mampu memainkan peran yang lepas dari perayaan kepentingan politik 
kekuasaan, seperti yang ditampilkan oleh NU saat ini.

Tausyiah yang dikeluarkan oleh PBNU ini menjadi prasasti demokrasi di tubuh NU, 
khususnya dan sebagai contoh bagi organisasi keagamaan di Indonesia yang setiap 
momen pemilu kerap dijadikan tambang legitimasi politik kelompok tertentu.

Posisi ideal seperti inilah yang harus dimainkan oleh organisasi keagamaan 
dalam rangka ikut andil dalam politik kebangsaan di tanah air. Organisasi 
keagamaan tidak harus mengarahkan warganya pada arus dukungan kelompok tertentu 
tetapi harus mampu menjadi media kultural untuk membumikan demokratisasi di 
Indonesia. Wallahu a'alam.


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke