Catatan Seorang Klayaban:

ABSURD!


Suara Pembaruan Daily, Jakarta, [25 Nopember 2004] menurunkan berita tentang 
pernyataan Jendral Endriartono Sutarto mengenai arah Tim Investigasi Independen 
yang didesak oleh banyak pihak dan disetujui oleh Presiden SBY untuk 
menyelediki kematian Munir sebagai berikut:

".. kasus kematian aktivis hak asasi manusia Munir merupakan persoalan hukum. 
Karena itu, dia meminta agar kasus itu tidak dibelokkan menjadi persoalan 
politik". "Kasus ini merupakan kasus hukum yang harus diselesaikan secara hukum 
pula. Jangan dikembangkan macam-macam sehingga masalah hukumnya tidak selesai," 
katanya di sela-sela pembukaan Indo Defence 2004 & Forum, di Jakarta, Rabu. 


Pendapat ini, sekali lagi hanyalah salah satu pendapat dari sekian pendapat. 
Sekalipun ia berasal dari seorang pimpinan kunci TNI Angkatan Darat, tidak 
berarti kedudukan demikian identik dengan kebenaran. Kekuatan fisik dan 
kedudukan atau jabatan tidak sama dengan kebenaran. Sebagai pendapat, Jenderal 
Endriatono Sutarto mengemukakan alasan bahwa "kasus ini [baca: kasus Kematian 
Munir -- JJK] merupakan kasus hukum yang harus  diselesaikan secara hukum 
pula". Sebagai pendapat ia terbuka untuk disanggah.Kalau enggan dan tak mau 
disanggah, apakah namanya?!


Melalui pernyataan di atas nampak bahwa sang Jendral ingin menghormati dan 
menempatkan hukum pada tempatnya. Tentu saja keinginan ini sangat positif dan 
patut dipertahankan serta  dikembangkan serta kita catat benar, apakah benar 
demikian sang Jendral bersikap. Karena memang demikianlah yang kita harapkan 
sesuai dengan nilai-nilai  republiken serta kedudukan negara sebagai negara 
hukum. Sebagai contoh Jendral Endriartono Sutarto mengambil kasus Timika, Papua 
Barat. Menurut dia, kasus penembakan sejumlah warga Amerika Serikat (AS) di 
Timika, Papua, dapat menjadi contoh. Ketika itu, TNI dituding berada di 
belakang peristiwa itu namun setelah diproses secara hukum masalah itu bisa 
selesai.


Latar belakang lain argumen Jendral Endriartono Sutarto bisa disimak dari  
pernyataan  Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin 
yang menurut Harian Suara Pembaruan, Jakarta [25 Nopember 2004]: 

"merasa yakin tidak ada prajurit TNI yang terlibat, baik dalam aksi teror itu 
atau pembunuhan Munir. Sebab, menurut dia, setiap prajurit TNI memiliki 
moralitas sehingga tidak akan melakukan tindakan seperti itu". 


Pernyataan kedua pimpinan TNI di atas memunculkan pertanyaan: [1]. Bagaimana 
hubungan antara hukum  dan politik, dan [2]. Bagaimana moralitas TNI? 


[1]. Hubungan antara hukum dan politik:


Terhadap persoalan ini, Roeslan dalam tulisannya di milis [EMAIL PROTECTED] [28 
Nopember 2004], antara lain menulis:

"Polapikir seperti yang terungkap dalam kutipan diatas, menurut pendapat saya 
adalah polapikir yang naif yang tidak berpandangan secara integral, adalah 
polapikir menurut model paradigma lama yang bersumber pada pandangan dunia lama 
yang dijiwai oleh filsawat mekanisme yang dilahirkan sejak dari jamannya Rene 
Decartes sampai Newton yang telah menguasai dan menjiwai semua ilmu pengetahuan 
pada abat ke 17. Pada abad itu dunia dipandanganya sebagai suatu mesin, 
demikisn juga manusia, juga dianggap sebagai mesin.

Dewasa ini kita hidup di abat 21, oleh karena itu sudah selayaknya jika kita 
harus mulai menyesuaikan pola pikir kita dengan abat 21 ini, untuk itu kita 
harus mengadakan perubahan  polapikir atau system berpikir, terutama dalam  
bidang ilmu pengetahuan alam dam ilmu sosial (sosial,politik, hukum dll) harus 
mendapatkan perhatian khusus. Perubahan disini berarti kita harus merubah 
polapikir kita dan menyesuaikan dengan pandangan-pandangan kita dengan 
paradigma baru yang bersumber pada teori system, pandangan-pandangan tentang 
kehidupan dan filsafat ekologi.

Mempraktekan pola pikir abat ke 17san dewasa ini hanya akan menyebabkan 
terjadinya krisis yang multidemensi dalam praktek kehidupan dewasa ini, 
misalnya krisis lingkungan hidup, Krisis kesehatan, krisis masyarakat,krisis 
ekonomi,krisis sosial, krisis teknologi, krisis politik,krisis intelektuil dll."

Setelah menguraikan apa-siapa Munir yang meninggal di pesawat Garuda karena 
racun [diracuni], serta sederatan contoh, Roeslan selanjutnya berkata: 

"Oleh karena itu dalam meninjau kasus pembunuhan Munnir janganlah menggunakan 
polapikir yang mengikuti filsafat mekanisme, karena polapikir yang mengikuti 
filsafat mekanisme  akan terjebak dalam suatu pemikiran yang menganggap bahwa 
kasus pembunuhan Munnir adalah sebagai kasus yang mempunyai kaitan linear 
(lurus) dari sebab dan akibat saja, yang hanya boleh diusut melalui jalur hukum 
saja. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa kasus pembunuhan Munir bukanlah 
merupakan kasus yang linear (lurus), tetapi kasus pembunuhan Munir adalah 
merupakan kasus yang multi kompleks. Oleh karena itu dalam masalah tersebut 
janganlah menempatkan hukum sebagai sesuatu yang terpisah dan terisolasi dari 
masalah perjuangan untuk demokrasi, HAM, memberantas teroisme, KKN dan ideologi 
militerisme".


Sebagai kesimpulan sekaligus menyanggah pendapat dan argumen Jendral 
Endriartono Sutarto, Roeslan berpendapat bahwa "Kasus pembunuhan Munir harus 
dituntaskan secara hukum dan politik".

"Komponen A akan berpengaruh positif terhadap komponen B; B akan akan 
berdamapak negatif pada komponen C; komponen C selanjutnya akan menimbulkan 
pengaruh pada komponen D dan selanjutnya D akan berpengaruh balik terhadap A 
(feed back). Demikianlah jalannya suatu system yang kita hadapi dewasa ini.

Bila terjadi keretaan dalam system tersebut, maka penyebabnya adalah 
mutikompleks tidak  linaer (lurus)", ujar Roeslan.


Mengikuti dasar agurment Roeslan di atas maka pertanyaannya dengan pernyataan 
Jendral Endriartono Sutarto  seperti di atas, siapakah lalu yang "membelokkan 
persoalan" dengan cara membatasi persoalan dengan latar belakang yang 
dijelaskan  oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Sjafrie 
Sjamsoeddin yang "merasa yakin tidak ada prajurit TNI yang terlibat, baik dalam 
aksi teror itu atau pembunuhan Munir. Sebab, menurut dia, setiap prajurit TNI 
memiliki moralitas sehingga tidak akan melakukan tindakan seperti itu". 
"Merasa" adalah perasaan dan perasaan tidak bisa dijadikan bahan bukti. "Yakin" 
pun tidak lain dari bentuk perasaan dan sama sekali bukan pula bukti. 


Melanjutkan uraian Roeslan di atas yang melihatnya dari segi linear dan tidak 
linear, jika dilihat dari segi hukum saling hubungan dan dialektika [barangkali 
hanya istilah lain saja dari "tidak linear], barangkali argumen Jendral 
Endriartono sangat tidak dialektis dan memutuskan saling hubungan hal-ikhwal. 
Dengan pemisahan demikian, maka Jendral Endriartono Sutarto membatasi masalah 
hanya pada masalahnya an sich [thoq, saja],cara pandang yang tidak mungkin 
mencapai pemahaman hakiki. Tapi sebatas pada gejala. Tegak tidaknya hukum di 
negeri ini adalah pilihan politik pemegang kekuasaan politik. Dengan cara ini 
pula maka Jendral Endriartono melihat masalah kematian Munir sebatas persoalan 
kriminal dan itupun belum tentu tindak kriminal. Sehingga pertanyaan mengapa 
Munir meninggal jadi sama sekali tidak terjawab secara mendasar kecuali 
sebatas, bahwa Munir meninggal karena di tubuhnya terdapat "racun tikus".Saling 
hubungannya sebatas pada saling hubungan gejala di permukaan. Dan metode ini 
memang salah satu cara berkelit dari kemungkinan tersangka. Argumen Jendral 
Endriartono memang lebih menggunakan otak daripada perasaan  yang digunakan 
oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin. Sebab 
bisa saja Suciwati "merasa" Munir suaminya tidak meninggal dan masih hidup 
padahal pada kenyataannya Munir sudah meninggal bahkan sudah dimakamkan. Kalau 
boleh bertanya: Mengapa di negeri kita sangat sedikit jenderal yang 
berorientasi kecendekiawanan? Saya kira pengalaman Tiongkok yang sejak lama 
memadukan kemiliteran, kenegarawan dan kebudayaan tidak buruk-buruk jika 
dipelajari. Sampai sekarang, siapa di antara yang disebut pemimpin bangsa yang 
memadukan tiga kebolehan dan kemampuan ini? Orang militer yang tidak berbudaya 
akan jadi preman dan tukang pukul saja, politisi tanpa kebudayaan akan jadi 
tukang rekayasa, budayawan tanpa tahu politik dan aspek-aspek kehidupan lainnya 
akan jadi budayawan "kosong" seperti "layang-layang putus tali". 


Jika dilihat dari segi ilmu sejarah, pandangan Jendral Endriartono Sutarto bisa 
dikategorikan kedalam klasifikasi sinkronis atau ankronis. Apalagi jika dilihat 
kacamata aliran sejarawan Anneles, maka pandangan Jendral Endriartono sangat 
tidak nalar. Di mana tidak nalarnya? Sejarawan Annales melihat bahwa masa lalu, 
hari ini dan masa depan sesuatu bukanlah pulau terpencil tanpa jembatan 
penghubung. Justru dengan pandangannya di atas, Jendral Endriartono Sutarto 
memotong jembatan penghubung yang memungkinkan kita memahami hal-ikhwal secara 
utuh. Mengapa Jendral Endriartono Sutarto memotong jembatan penghubung ini? 
Mengapa ia tidak ingin kita memahami masalah atau hal-ikhwal secara utuh? 
Keutuhan dengan kata lain adalah kebenaran [relatif]. Sedangkan ketidakutuhan 
adalah kebohongan. Kebohongan sejak lama dan sampai sekarang adalah dasar 
pembenar kebijakan politik banyak pemegang kekuasaan politik.


Kalau kita mempelajari sejarah hukum dunia,tanpa usah menggunakan teori Marxis, 
 maka nampak jelas betapa hukum dan politik sangat erat kaitannya. Averoes [Ibn 
Rusdi?!] pemikir Islam terkemuka pada zamannya justru meninggalkan negerinya 
dan klayaban di Eropa disebabkan untuk menghindari jeratan hukum setelah 
terjadi pergulatan politik yang tidak menguntungkannya. Demikian juga dengan 
nasib banyak Islamolog Timur Tengah sekarang yang banyak meninggalkan 
negerinya. Data-data dalam sejarah Indonesia sendiri, menyediakan banyak contoh 
keterkaitan hukum dan politik. 


Berdasarkan argumen-argumen di atas, saya hanya bisa memahami pernyataan 
Jendral Endriartono Sutarto yang panglima TNI Republik Indonesia dengan 
nilai-nilai republiken dan keindonesiaannya, sebagai pernyataan absurd belaka. 
Absurd karena sulit dipertanggungjawabkan selain dilihat dari sisi kepentingan 
dan ketakutan. Yang saya saya khawatirkan kepentingan dan ketakutan ini menjadi 
kekalapan, kekerasan membabibuta  yang sama absurdnya. 


Sedangkan mengenai titik kedua yaitu "bagaimana moralitas TNI" , saya tidak 
memasukinya lebih jauh karena Tragedi Nasional September 1965 yang menelan 
korban 3 juta orang menurut alm. Jendral Sarwo Eddie, Tragedi Tanjung Periuk, 
Tragedi Lampung, Aceh, Papua, Semanggi, Trisakti, Ambon, Poso, TGragedi  Mei 
1998, dan lain-lain, dan lain-lain... masih segar di ingatan. Dampak buruknya 
masih dialami dan dirasakan [dengan bukti tentu!] sampai sekarang. Orang 
klayaban pun masih saja klayaban. Lepaskah semuanya ini dari politik dan 
moralitas manusiawi? Ingatan warganegara negeri yang menyandang sebutan 
Republik Indonesia ini tidak terlalu pendek, sekalipun barangkali mereka 
diam.Mereka tidak mempunyai "memoire court" [ingatan pendek] , ujar orang 
Perancis yang sering memeriksa diri. Rakyat negeri kita pun mempunyai ingatan 
kolektif. Memang mereka lama relatif diam.Tapi patut dicatat budaya diam erat 
hubungannya dengan tingkat penindasan. Apakah dengan argumennya yang tidak 
nalar, Jendral Endriartono Sutarto ingin mempertahankan budaya diam ini? 
Membaca pernyataan Presiden SBY dibandingkan dengan pernyataan Jendral 
Endriartono Sutarto, saya melihat kebenaran yang dikatakan oleh SBY bahwa kita 
"tidak berjalan di bawah bulan purnama". Mendung hitam masih mengancam dari  
langit tanahair. Republik dan Indonesia memerlukan TNI yang republiken dan 
menjunjung keindonesiaan sebagai nilai seperti konsepsi Tentara Rakjat 
Indonesia. Barangkali yang kita perlukan adalah adanya Tentara Rakyat Indonsia.


Paris, Nopember 2004.
--------------------
JJ.KUSNI






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke