Syekh Zuhairi, Terima kasih atas tanggapan baliknya yang sangat cepat. Saya rasa antum "miss" terhadap sejumlah point yg saya sampaikan, khususnya dalam kerangka civil society. Berbeda dengan antum yang menganggap saya jatuh pada skala "mikro", saya justru hendak mengatakan bahwa yang saya lakukan hanyalah mengimbangi antum yang mengangkat isu mikro: yaitu keuangan PBNU dalam kepengurusan HM.
Antum tidak melihat bahwa dalam skala makro civil society apa yang antum lakukan di P3M dan Lakpesdam sama saja dengan yang dilakukan HM. Yang ingin saya sampaikan sebenarnya adalah soal kemandirian dana. PBNU dan P3M/Lakpesdam sama-sama gagal membangun kemandirian dana Nahdliyin. Mereka sama-sama bergantung pada dana dari luar. Bedanya mungkin Hasyim mendapat dana dari pengusaha "lokal" sedangkan antum dkk dapat dana dari "luar". Makanya ketika antum mengangkat soal "keuangan" PBNU di bawah HM, untuk pengimbangan wacana, saya tunjukkan bahwa antum dkk juga "bermasalah" dari sudut kemandirian dana. Entah civil society apa yang HM dan antum dkk bayangkan, namun menurut hemat saya, itu semua akan sukar terwujud selama masih meng-gantungkan diri terhadap sumber dana pihak lain, dan tidak menggali potensi dana di tubuh Nahdliyin sendiri. Ini juga salah satu kegagalan LSM di tanah air pada umumnya, yang begitu ditinggal pihak sponsor langsung kelimpungan (contoh: YLBHI). Mengenai PBNU yang terseret dalam politik praktis, menurut saya ada benarnya. Namun apakah GD tidak akan melakukan hal yang sama kalau beliau memimpin lagi PBNU sekaligus sebagai ketua dewan syura PKB? Tidakkah bisa kita baca upaya GD menguasai PBNU dan PKB sekaligus sebagai upaya utk maju kembali dalam pentas politik nasional? Saya kurang bisa memahami kalau dianggap GD tidak menyeret Nahdliyin ke dalam politik praktis. Bukankah kegalauan GD kepada HM bermula dari HM yang mencoba menjaga jarak dengan PKB? Bahwa ternyata HM pun tergoda utk masuk pertarungan capres-cawapres tentu kita sesali, tetapi mengatakan HM lebih politis ketimbang GD, ya nanti dulu. Kalau antum merasa gerakan GD mendirikan NU 1926 utk mengontrol aktivitas HM dan hanya GD yang berani dan punya kemmapuan melakukan ini, maka siapa yang akan mengontrol GD kalau beliau menguasai PKB dan PBNU sekaligus? Apa Anak-anak muda NU bisa mengontrol gerakan politik GD dengan dua kendaraan PBNU dan PKB tsb? sejak kapan mereka merasa bisa mempengaruhi langkah GD? Ini memang pilihan yang sulit antara memilih HM atau GD. sayang tidak ada tokoh ketiga yang bisa dimunculkan anak-anak muda NU dalam muktamar kemarin. Kalau Mbah Riz mempertanyakan mengapa PCINU luar negeri tidak memunculkan tokoh alternatif di luar GD dan HM, pertanyaan serupa bisa kita ajukan kepada kawan-kawan muda NU yg mengitari muktamar saat itu. Disamping itu saya cukup terganggu dengan klaim "kesucian" yang antum lontarkan (keikhlasan, memberdayakan masyarakat dan kalimat2 normatif lainnya) seraya menunjuk kubu HM sebagai kebalikannya. HM memang bisa digugat karena hanya memberdayakan pimpinan cabang dan wilayah; bukan ummat NU. Tetapi apa sih hasil pemberdayaan yang sudah P3M, lakpesdam, Rahima, dll lakukan? Yang baru berhasil dilakukan kan hanya dalam level "wacana". Bahkan isu-isu yg diangkat kaum kultural NU juag sangat elitis. Saya bertanya-tanya, kenapa PBNU saja yg disalahkan karena gagal mengurusi TKW? Bagaimana dengan anak-anak muda NU yg teriak-teriak mengarahkan isu ini ke PBNU, apakah mereka juga sudah mengurusi masalah TKW, tukang becak, tukang ojek, pedagang bakso warteg, dll ? Kalaupun sudah dilakukan, bagaimana kita mengukur keberhasilan gerakan kultural nan "suci" itu terhadap masalah ummat? Apakah menerbitkan buletin jum'at atau buku hasil muktamar pemikiran NU dapat memberdayakan warga NU? jangankan memberdayakan warga NU, lha wong membuat mereka tidak alergi dg paham "liberal" saja ternyata antum dkkboleh dibilang gagal. Bagaimana kemudian antum dkk mempertanggungjawabkan duit ratusan juta yg sudah dialirkan pihak asing ke antum dkk? Kalau yang antum lakukan itu hanya sebatas angka di atas kertas, itu sama saja dengan yg dilakukan HM dalam laporan keuangannya. Tapi mari kita lihat hasilnya di lapangan? Apakah gerakan kultural nan "suci" tsb sudah berhasil memberdayakan warga NU lebih dari apa yang dilakukan pengurus struktural NU? Justru ini sebenarnya pertanggungjawaban yang hakiki. Dan tentu saja perdebatan akan panjang :D Mari juga kita hitung semua dana asing yang sudah diterima oleh kaum kultural selama 5 th terakhir ini dengan dana yang sudah diterima HM. Jangan-jangan nggak beda jauh :D Dan letak perbedaannya adalah HM masih "berbaik hati" mendistribusikan dana yg dia terima ke wilayah dan cabang, sedangkan kaum kultural tidak melakukan pemerataan distribusi. Bukan rahasia lagi kalau di kalangan kaum muda NU pun terlihat ada kompetisi utk bisa "menjual" proposal ke penyandang dana. Sekali lagi, yang saya hendak angkat sebenarnya adalah isu kemandirian dana kalangan NU. Selama kaum kultural NU juga bermain di wilayah "mikro" yg sama dg yg dilakukan HM [baca: bergantung pada dana dari luar] maka perjuangan civil society yang diagung-agungkan hanya non-sense saja. Alih-alih memberdayakan warga NU, kaum kultural hanya memberdayakan pengurus P3M, lakpesdam, Rahima, dll sebagaimana HM yg "hanya" memberdayakan pengurus cabang dan wilayah. Syekh Zuhairi, Saya tidak mengerti dua kalimat yang kontradiktif ini: di bagian awal antum menegaskan bhw antum bukan pengamat, dan antum adalah aktor [ini tentu berbeda dg saya yg mengamati dr jarak jauh]; namun di bagian lain antum menulis: "Cak, maaf, saya tidak haus kekuasaan. Termasuk untuk masuk dalam pengurus PBNU. Saya sama sekali tidak tertarik. Saya lebih senang menjadi akademisi, peneliti dan penulis." Menurut saya kalau antum sudah mendeklarasikan diri selaku aktor, maka antum harus bermain di wilayah kekuasaan (tanpa harus dianggap kotor atau haus kekuasaan). Di samping itu, sebagai aktor, maka semua email antum dalam dialog kita ini harus dibaca sebagai pandangan seorang aktor yang berasal dari salah satu kubu yg bertikai di arena muktamar. Seharusnya aktor dari kubu HM juga bersedia tampil di milis ini biar kami-kami yang bukan aktor (apalagi selebritis) ini bisa mendapat info yg berimbang. Terakhir, saya sebenarnya agak risih bicara soal-soal pribadi di milis ini. Namun saya tidak mengerti kalau antum bilang bhw antum bertemu Abah saya di SC muktamar. Abah saya sudah wafat tahun 2001. Saya sendiri hanya warga NU biasa. Saya merindukan perubahan di NU...namun jelas perubahan yang dimaksud menurut saya harus dimulai dari dalam. Dalam wawancara di Jawa Pos hari ini, antum bilang bahwa harus dilakukan penyegaran di cabang dan wilayah. Ini sebenarnya sama dengan saran saya di email sebelumnya agar anak muda NU terjung langsung di tingkat ranting, cabang dan wilayah. Hanya dengan cara yang sistemik, sistematis dan berjenjang ini, perubahan di NU dapat diwujudkan. Sebagai aktor, antumlah ya Syekh Zuhairi...harapan kami utk membawa perubahan dan penyegaran di tubuh NU. Kalau saya sih tidak bisa diharap...saya cuma "pengamat" yang memakai kacamata sempit [dan sudah layak diganti namun belum punya duit buat beli kacamata baru :- )] salam sejahtera dengan penuh kehangatan, =nadir= ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
