Tempo No. 41/XXXIII/06 - 12 Desember 2004

Opini
Repotnya Melewati Gus Dur


SEANDAINYA Nahdlatul Ulama mendengarkan saran Kiai Achmad Siddiq yang
diucapkan 25 tahun lalu, mungkin kisruh pasca-Muktamar Boyolali 2004 tak
akan terjadi. Pemikir penting dan bekas Rais Am NU itu menyarankan agar NU
kembali sebagai organisasi keagamaan saja. Partisipasi politik NU, yang
dianggap sebagai "selingan" bagi NU, di mata Kiai Achmad sudah berakhir
ketika NU melebur dalam Partai Persatuan Pembangunan pada 1973. Saran itu
tak sepenuhnya diikuti. Persentuhan NU dengan politik seperti "pasang naik
dan pasang surut" mengikuti hasrat pemimpinnya.

Kita tahu, urusan politik juga yang buntutnya terbawa-bawa sampai ke
Muktamar Boyolali. K.H. Abdurrahman Wahid, mustasyar (penasihat) NU,
berupaya menjegal K.H. Hasyim Muzadi dari pencalonan kembali sebagai Ketua
Umum (Tanfidziyah) PBNU. Abdurrahman atau Gus Dur menganggap Hasyim Muzadi
mempolitisasi NU ketika maju dalam pemilu presiden yang lalu-mendampingi
Megawati dari PDI Perjuangan. Di Boyolali, Gus Dur tidak saja gagal masuk
dalam bursa pemilihan Rais Am Syuriah yang prestisius itu, tapi juga gagal
mengganjal pencalonan Hasyim Muzadi, yang terpilih lagi sebagai Ketua Umum
Tanfidziyah dengan perolehan suara jauh melewati saingannya, Masdar F.
Mas'udi, yang dijagokan Abdurrahman.

Maka, yang pertama bisa diserukan kepada NU, baik kepada kelompok yang
menang maupun yang kalah di Boyolali, ingatlah keadaan jam'iyyah pada tahun
1983. Setelah konflik internal mempersoalkan jabatan ketua umum yang
dipegang Idham Chalid, NU pecah menjadi kelompok Cipete dan kelompok
Situbondo. Pertentangan antar-kiai meruncing. Konflik itu membuka pintu bagi
intervensi pemerintah, yang sedang getol mengkampanyekan asas tunggal
Pancasila. Kelompok Situbondo, yang disokong pemerintah, akhirnya menerima
asas tunggal dan berhasil menyelenggarakan muktamar di Situbondo pada 1984.
Kelompok Cipete, yang basisnya kiai luar Jawa, "terluka". NU perlu waktu
lama untuk mengobati carut-marut akibat pertarungan kepentingan internal
itu.

Potensi dan tanda-tanda konflik 1983 bakal berulang sudah tercium
pasca-Boyolali. Kelompok yang kalah, dalam hal ini Kiai Haji Abdurrahman
Wahid atau Gus Dur sebagai mustasyar (penasihat), mengantongi mandat 29 kiai
karismatik NU untuk "membentuk PBNU yang benar, berkedudukan di Jalan Kramat
Raya Nomor 164, Jakarta".

Apabila Gus Dur dengan keras hati membentuk "PBNU yang benar", jelas pada
saat yang sama stempel "PBNU yang imitasi" akan dilekatkan pada pengurus NU
hasil Muktamar Boyolali. Sukar membayangkan konflik dua kubu ini tidak akan
diikuti pengikutnya sampai pelosok-pelosok daerah. Sukar pula membayangkan
bagaimana kelak sebuah kantor PBNU di Kramat Raya, Jakarta, itu dibagi untuk
"dua kubu" yang mengklaim sama-sama punya otoritas menjalankan organisasi.
Gus Dur akan menguasai lantai satu dan Kiai Sahal-Hasyim di lantai tiga?

Ketimbang menjadi buah mulut masyarakat, sebaiknya gagasan membentuk
kepengurusan "NU dobel" dihindari, misalnya dengan sekuatnya mengupayakan
tabayyun (berdamai) yang khas NU itu. Setelah itu, organisasi NU harus
diberesi agar ketergantungan pada "otoritas keulamaan" dan "kepemilikan
darah biru"-dua tiket spesial bagi Abdurrahman-tidak membuat roda organisasi
macet. Sejak Gus Dur terpilih sebagai ketua umum di Situbondo pada 1984, dua
tiket spesial itu dibiarkan melekat pada sosok Abdurrahman. Bahkan masih
ditambah para ulama NU yang menyebut Gus Dur sebagai azimat kaum nahdliyin,
setengah wali, dan seabrek julukan "keramat" lainnya.

Predikat itu datang karena Abdurrahman dianggap punya jasa besar untuk NU.
Di Situbondo, Kiai Abdurrahman dan Achmad membawa NU ke jalan yang benar,
yakni Khitah 1926. Peran yang paling penting, keduanya berhasil meningkatkan
NU dari posisi yang "marginal" di mata pemerintah Orde Baru menjadi
organisasi yang dihormati. Keduanya berani mengambil risiko tak populer di
mata gerakan Islam lain di Indonesia, dengan menerima asas tunggal Pancasila
dan Republik Indonesia sebagai bentuk final negara. Jasa besar itulah yang
membuat keduanya dipilih kembali di Muktamar Krapyak, Yogyakarta, pada 1989.

Kekuasaan besar, tanpa kontrol internal yang memadai, membuat langkah
Abdurrahman Wahid dan sejumlah elite kiai yang mendirikan Partai Kebangkitan
Bangsa pada 1999 tidak terbendung. Asyik-masuk dengan politik itu mencapai
puncaknya tatkala Abdurrahman terpilih sebagai presiden. Ia semakin
bertenaga melakukan aktivitas apa pun, termasuk mengatur naiknya Ketua
Tanfidziyah NU yang baru, Hasyim Muzadi, dalam muktamar NU di Lirboyo, 1999.
Ujung-ujungnya, urusan politik juga yang meretakkan hubungan Abdurrahman
dengan Hasyim.

Maka, sudah tepat jika rais am yang baru, Kiai Sahal Mahfudz, tegas
menyatakan bahwa NU tidak lagi ikut politik. Selain bebas dari pengaruh
politik, NU perlu bebas dari ketergantungan pada individu yang memiliki
tiket-tiket spesial-karena "otoritas keulamaan" ataupun "darah biru"-baik
Gus Dur maupun yang lain. NU harus dipimpin oleh tokoh yang dipilih secara
demokratis, mempunyai kapabilitas dan kesalehan yang mumpuni, agar mampu
mempertahankan NU sebagai pembawa ajaran Islam yang luwes dan moderat.




Advance Search


 Berita lainnya



. Musim Hujan Datang, Harga Sayur Pun Melambung Tinggi
(Selasa, 07/12/2004 | 13:26 WIB)

. Anwar Ibrahim: Kerja Sama Memberantas Terorisme Jangan Didikte Asing
(Selasa, 07/12/2004 | 13:22 WIB)

. BEJ Suspen Bimantara Citra dan Bank Permata
(Selasa, 07/12/2004 | 13:20 WIB)

. Australia Kembali Berikan Bantuan untuk Berantas Terorisme
(Selasa, 07/12/2004 | 13:17 WIB)

. Rapat Paripurna Berlangsung Singkat dan Aman
(Selasa, 07/12/2004 | 13:11 WIB)

. Fadel Muhammad: Tangkap Oknum Anarkis
(Selasa, 07/12/2004 | 13:04 WIB)

. Presiden Tunjuk Mayjend Syamsir Siregar Sebagai Kepala BIN
(Selasa, 07/12/2004 | 13:00 WIB)

. Kapolri: Otopsi Ulang Jenazah Munir Belum Diperlukan
(Selasa, 07/12/2004 | 12:59 WIB)

. LSM Maluku Unjuk Rasa di Depan Istana
(Selasa, 07/12/2004 | 12:53 WIB)

. Kunjungan Anwar Ibrahim ke Ketua DPD
(Selasa, 07/12/2004 | 12:47 WIB)

>  index berita






Copyright @ tempointeraktif








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke