Memahami Hakekat Tauhid
Oleh: Syamsuddin Ramadhan al-Nawiy


Hakekat Tauhid

Hakekat iman kepada Allah adalah menegakkan prinsip-prinsip tauhid dan 
meniadakan seluruh antithesanya, syirik. Tauhid secara literal berarti 
mengesakan, dan syirik berarti menyekutukan. Dalam konteks Islam, tauhid 
dimaksudkan untuk mengesakan Allah, atau menisbatkan hanya kepada Allah, 
sifat-sifat dan kemampuan-kemampuan yang memang milikNya. Sebaliknya, syirik 
bermakna menisbatkan kepada selain Allah, beberapa sifat dan 
kemampuan-kemampuanNya. Keesaan Allah dianggap tidak lengkap kecuali 
diekspresikan dalam tiga aspek berikut ini*1):


1. Keesaan Ketuhanan (Tauhid Rububiyyah)*2)

Tauhid ini merupakan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Sang Pencipta 
dan Pengatur langit, bumi, dan seisinya. Dialah yang memberi kekuatan, rejeki 
semua yang ada di semesta alam ini. Tak ada satupun kejadian yang terjadi tanpa 
ijin dariNya. Al-Qur�an menyatakan:

�Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.� (Qs. 
az-Zumar [39]: 62).

�Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.� (Qs. 
ash-Shaff�t [37]: 96).

�Tidak ada sesuatupun musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin 
Allah.� (Qs. at-Tagh�bun [64]: 11).


�Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan 
gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan 
Tuhan mereka.� (Qs. al-An��m [6]:1).

Nabi Saw bersabda:

�Ketahuilah bahwa jika seluruh bangsa bersatu dalam usaha memberimu suatu 
manfaat, mereka hanya mampu memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu jika Allah 
memang telah menakdirkannya untukmu. Demikian pula, jika seluruh bangsa bersatu 
untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka hanya mampu melakukannya jika Allah 
telah menakdirkan hal itu terjadi kepadamu.�*3) Keyakinan bahwa Allah adalah 
satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta juga diyakini oleh orang-orang 
kafir. Allah SWT berfirman:

�Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: �Siapakah yang menciptakan 
langit dan bumi?� Tentu mereka akan menjawab: �Allah�. Katakanlah: �Segala puji 
bagi Allah�; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.� (Qs. Luqman [31]: 25).

�Katakanlah: �Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika 
kamu mengetahui?� Mereka akan menjawab: �Kepunyaan Allah.� Katakanlah: �Maka 
apakah kamu tidak ingat?� (Qs. al-Mu�min�n [32]: 84-85).

Namun, keyakinan mereka akan keesaan Allah dalam hal rububiyyah tidak 
menyelamatkan mereka dari kekafiran. Sebab, mereka telah menolak tauhid 
uluhiyyah. Ini terlihat tatkala Rasulullah Saw berkata kepada mereka, 
�Katakanlah La Ilaha Illa al-Allah �artinya beribadahlah hanya kepada Allah dan 
jangan mempersekutukanNya.� Orang-orang kafir itu menjawab �sebagaimana telah 
disebutkan di dalam al-Qur�an:

�Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini 
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.� (Qs. Sh�d [38]: 5).

Di ayat lain, Allah berfirman:

�Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan 
orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): �Kami tidak 
menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan 
sedekat-dekatnya.� Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang 
apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki 
orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.� (Qs. az-Zumar [39]: 3).

Al-Muqriziy menyatakan, �Tidak ada keraguan lagi, tauhid rububiyyah tidak 
diingkari oleh orang-orang musyrik, bahkan mereka menetapkan bahwa Dialah 
satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Mereka hanya mengingkari 
tauhid uluhiyyah.�*4)


2. Keesaan Nama-Nama Allah dan Sifat-SifatNya (Tauhid Asma� wa Shifat)

Tauhid Asma� wa Shifat merupakan keyakinan bahwa Allah memiliki nama dan sifat, 
yang dengan nama dan sifatNya itu, Ia atau Nabi Saw melukiskan keadaan 
diriNya.*5) Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan, �Allah SWT mensifati DiriNya dengan 
sifat yang telah disifatkan oleh DiriNya sendiri, atau disifatkan oleh 
Rasulullah Saw, serta para generasi awal Islam yang tidak melebihi batas 
al-Qur�an dan Sunnah.�*6) Nama dan Sifat Allah ditunjukkan oleh ayat-ayat 
berikut ini:

�(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.� (Qs. Th�h� 
[20]: 5).

�Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya `Arsy, dari 
apa yang mereka sifatkan itu.� (Qs. az-Zukhruf [43]: 82).

�Dan Dia-lah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi 
dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Maha Suci Tuhan Yang 
mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di 
sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu 
dikembalikan.� (Qs. az-Zukhruf [43]: 84-85).

Nama dan Sifat Allah tidaklah serupa dengan sifat dan nama makhlukNya. Dalam 
hal ini Allah SWT telah memberi rambu-rambu kepada umatNya ketika hendak 
memahami sifat dan nama Allah, dengan firmanNya:

�(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu 
sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan 
(pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada 
sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha 
Melihat.� (Qs. asy-Sy�ra [42]: 11).

Demikianlah, Allah SWT memiliki nama dan sifat.


3. Keesaaan Ibadah (Tauhid Uluhiyyah)

Tauhid belum sempurna dengan sekedar pengakuan atas tauhid rububiyyah dan asma� 
wa shifat. Sebab, kedua tauhid ini dapat dianggap sebagai sekedar teori tauhid. 
Agar �tauhid teoritis� ini menjadi sempurna, ia harus melibatkan tujuan dan 
sasaran dari tauhid, yakni penyembahan hanya kepada Allah SWT.*7) Ketika 
menjelaskan tauhid uluhiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, �Tidak 
ada kebahagian, dan keselamatan bagi seorang hamba kecuali selalu mengikuti 
Rasulullah Saw. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, ia akan dimasukkan 
ke surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Yang demikian itu adalah 
kemenangan yang sangat agung. Akan tetapi, siapa saja yang maksiyat kepada 
Allah dan RasulNya dan melanggar ketetapan-ketetapan Allah, maka ia akan 
dimasukkan ke neraka. Ia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Sesungguhnya 
Allah menciptakan makhluq agar mereka menyembah (beribadah) kepadaNya. Allah 
SWT berfirman, artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
 supaya mereka menyembah-Ku.� (Qs. adz-Dz�riy�t [51]: 56). Bentuk ibadah mereka 
kepada Allah adalah dengan cara mentaati Allah dan RasulNya. Tidak ada ibadah 
kecuali apa yang telah diwajibkan dan diridloi oleh agama Allah.�*8) 

Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Mekah pada masa Nabi Saw 
mempercayai ketuhanan Allah sebagai Pencipta sekaligus mempercayai pula 
berbagai sifat-sifatNya. Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai orang 
musrik. Allah SWT berfirman:

�Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menjadikan 
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab, 
�Allah�. Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan dari jalan yang benar.� (Qs. 
al-�Ankab�t [29]: 61).

�Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka siapakah yang menurunkan 
air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?� Tentu 
mereka akan menjawab, �Allah�. Katakanlah, �Segala puji bagi Allah�, tetapi 
kebanyakan mereka tidak memahaminya. � (Qs. al-�Ankab�t [29]: 63).

Ibadah dalam Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah yang diwujudkan 
melalui kepatuhan pada hukum-hukum Allah SWT.*9) Berpegang teguh atau lebih 
mengutamakan hukum-hukum buatan manusia lebih dari hukum Allah merupakan 
kesyirikan dalam tauhid al-�ibadah. Allah telah berfirman di dalam al-Qur�an:

�Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan 
Dia Pemberi keputusan yang paling baik.� (Qs. al-An��m [6]: 57).

�Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka 
mereka adalah orang-orang yang kafir.� (Qs. al-M�idah [5]: 44).

Ketika Rasulullah Saw membacakan ayat al-Qur�an, �Mereka menjadikan orang-orang 
alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.� (Qs. at-Taubah [9]: 
31), Adiy bin Hatim menyatakan bahwa (orang-orang Yahudi dan Nashrani) tidak 
menyembah kepada rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, akan tetapi mereka 
juga menyembah kepada Allah. Pernyataan ini ditangkis Rasulullah Saw dengan 
pernyataan beliau, �Akan tetapi rahib-rahib dan pendeta itu telah menghalalkan 
apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, 
kemudian mereka mengikutinya.�*10) Ini menunjukkan bahwa, sekedar menyakini 
Allah SWT dari sisi rububiyyah dan asma� wa shifat, tidak akan mampu 
menyelamatkan seseorang dari kekafiran, sampai ia mengesakan Allah dalam hal 
penyembahan (tauhid uluhiyyah); dengan jalan menyakini bahwa hukum Allah adalah 
satu-satunya hukum yang berhak ditaati dan diikuti. 

Atas dasar itu, menyakini bahwa hukum Allah SWT sebagai satu-satunya hukum yang 
berhak mengatur kehidupan manusia, merupakan refleksi dari tauhid uluhiyyah. 
Seorang muslim harus menyakini bahwa hukum-hukum Allah (syari�at Allah), 
satu-satunya hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problematika umat 
manusia. Ia tidak boleh menyakini aturan-aturan lain selain aturan Allah yang 
mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah SWT. *11)

Seorang mukmin wajib menjunjung tinggi al-Qur�an dan Sunnah. Ia hanya akan 
berhukum dengan aturan-aturan Allah SWT. Sebab, berhukum kepada al-Qur�an dan 
Sunnah adalah kewajiban mendasar seorang muslim, sekaligus refleksi keimanannya 
kepada Allah SWT. Al-Qur�an telah menyampaikan pesan penting ini di beberapa 
tempat.

�Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman 
kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum 
kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah 
mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) 
penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: �Marilah kamu 
(tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul�, 
niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan 
sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.� (Qs. an-Nis� [4]: 60-61).

Imam Ibnu al-�Arabiy menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan perselisihan 
antara orang Yahudi dengan orang Munafiq. Kemudian orang Yahudi dan Munafiq itu 
menyampaikan masalah mereka kepada Rasulullah Saw. Perkara itu diputuskan oleh 
Rasulullah Saw. Akan tetapi, orang munafiq itu tidak rela, Selanjutnya, mereka 
mengajukan perkara mereka kepada Abu Bakar, namun orang munafiq itu juga tidak 
rela. Lalu, mereka mengajukan perkara mereka kepada �Umar. �Umar masuk ke dalam 
rumah dan mengambil pedangnya. Orang munafiq itu dipenggal kepalanya hingga 
mati. Keluarga orang munafiq itu melaporkan perkara itu kepada Rasulullah Saw. 
�Umar berkata, �Wahai Rasulullah, ia telah menolak keputusanmu.� Rasulullah 
menjawab, �Engkau adalah al-Far�q� Lalu, turunlah firman Allah SWT, surat 
an-Nis� [4]: 65.*12)

Thaghut di sini bermakna, semua aturan atau hukum selain hukum Allah SWT.*13) 
Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh Ibnu al-�Arabiy menyatakan, �thaghut 
adalah semua hal selain Allah yang disembah manusia. Semisal, berhala, pendeta, 
ahli sihir, atau semua hal yang menyebabkan syirik.�*14)

Di tempat lain, al-Qur�an juga menyatakan hal ini dengan sangat jelas dan 
tegas. Alah SWT berfirman:

�Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka 
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka 
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, 
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.� (Qs. an-Nis� [4]: 65).

Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam al-Sa�diy, menyatakan, �Allah SWT telah 
bersumpah atas nama dirinya, sesungguhnya mereka tidak beriman sampai mereka 
menjadikan Rasulullah Saw sebagai hakim yang akan memutuskan perkara-perkara 
yang mereka perselisihkan� Akan tetapi, mereka tidak cukup hanya bertahkim 
kepada Rasul saja, akan tetapi, mereka harus menghilangkan keraguan, perasaan 
sempit, dan kesamaran di dalam hati mereka tatkala bertahkim kepada Rasulullah 
Saw� Barangsiapa menolak untuk berhukum kepada Rasulullah Saw dan tidak mau 
terikat dengan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw, maka ia telah 
kafir.�*15)

Al-Qur�an juga menyatakan di dalam ayat lain:

�Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qu�'an dengan membawa kebenaran, 
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) 
dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara 
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu 
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk 
tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.� (Qs. 
al-M�idah [5]: 48).

Pesan-pesan di atas juga diperkuat dengan sabda Rasulullah Saw yang termaktub 
dalam hadits-hadits shahih. Diantaranya, Rasulullah Saw pernah bersabda:

�Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan, dan perbuatan itu tidak diperintahkan 
kami, maka perbuatan itu tertolak.� [HR. Bukhari & Muslim].

Nash-nash di atas merupakan argumentasi kokoh atas wajibnya seorang mukmin 
untuk selalu terikat dengan hukum Allah SWT. Sekaligus menunjukkan bahwa 
seorang mukmin berkewajiban untuk hanya berhukum kepada aturan-aturan Allah 
SWT. Siapa saja yang mengingkari aturan Allah SWT, mendustakannya, serta 
menggantinya dengan aturan-aturan lain, kelak akan dimasukkan ke neraka Allah 
SWT. Al-Qur�an telah menyatakan hal ini dengan sangat tegas.

�Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan 
diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu 
langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. 
Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.� 
(Qs. al-A�r�f [7]: 40).

Bila al-Qur�an telah menyampaikan pesan di atas dengan sangat jelas dan tegas, 
tentu tidak ada dalih lagi bagi kaum mukmin untuk menolak ketetapan-ketetapan 
di atas. 

Mungkin ada sebagian kaum muslim meragukan kemampuan hukum Allah dalam 
menyelesaikan persoalan-persoalan manusia. Keraguan telah membawa mereka 
menolak, meminggirkan dan mengambil hukum-hukum selain hukum Allah. Tidak 
sedikit juga diantara kaum muslimin berargumentasi; penerapan hukum Islam akan 
memberangus hak-hak asasi manusia. Anehnya, mereka tidak pernah menggunakan 
logika yang sama untuk hukum-hukum selain Islam. Padahal, al-Qur�an telah 
membantah keunggulan sistem hukum selain hukum Islam. Al-Qur�an telah 
menyatakan hal ini. 

�Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih 
baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?� (Qs. al-M�idah [5]: 
50).

�Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan 
kepadamu ni�mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.� (Qs. 
al-M�idah [5]: 3).

Hukum Allah adalah hukum yang paling baik di atas segala sistem hukum di dunia 
ini. Seorang mukmin wajib menyakini hal ini tanpa ada keraguan sedikitpun. 
Hatinya harus menerima dengan sepenuh hati apa yang telah ditetapkan al-Qur�an 
dan Sunnah. 

Aqidah harus direfleksikan dalam bentuk menerapkan dan menegakkan syari�at 
Islam. Sebaliknya, penerapan syari�at Islam mesti dilandasi oleh aqidah. 
Keduanya, �aqidah dan syari�ah merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan 
satu dengan lainnya. Mereduksi Islam hanya pada tataran �aqidah�, tanpa ada 
keinginan untuk menerapkan syari�at Islam, tidak ubahnya menjadikan Islam 
sebagai agama ritual belaka. Di sisi lain, penerapan syari�at Islam tanpa 
dijiwai oleh aqidah Islam, seperti halnya jasad tanpa ruh. 

Aqidah Islam harus dijadikan asas dan jiwa bagi penerapan syari�at Islam. 
Aturan Islam �dilihat sebagai sebuah aturan� bisa saja diterapkan dan 
ditegakkan dengan spirit kekufuran. Penerapan syari�at Islam bisa saja 
ditegakkan dengan dijiwai ideologi kapitalisme atau sosialisme. Seperti halnya, 
gerakan Islam Liberal yang ingin melihat Islam �terutama wacana penerapan 
syari�at Islam� dengan kaca mata liberalisme ala kapitalisme. Tentu, penerapan 
syari�at Islam semacam ini, tidak akan menghasilkan sebuah bangunan sistem yang 
tangguh dan kuat. Sebab, antara spirit dan empiris terdapat pertentangan yang 
sangat nyata.


Refleksi Tauhid Untuk Kontrol Dan Kendali Diri

Seluruh penjelasan di atas memahamkan kepada kita, bahwa tauhid merupakan unsur 
mendasar dan terpenting bagi perilaku seorang muslim. Tauhid yang lurus akan 
menjauhkan seorang muslim dari tindak-tindak menyimpang. Tauhid yang kokoh akan 
menjadi benteng tangguh untuk menghadapi cobaan, godaan, dan ujian.

Tauhid merupakan unsur mendasar bagi kontrol dan kendali diri seorang muslim. 
Sebab, seluruh perbuatan kaum muslim harus didasarkan pada keimanannya kepada 
Allah SWT, alias harus didasarkan pada tauhid. Seorang muslim tidak boleh 
mengerjakan perbuatan apapun kecuali didasarkan di atas tauhid. Wujud perbuatan 
yang dilandasi tauhid adalah, perbuatan tersebut sejalan dengan aturan-aturan 
dan hukum-hukum Islam. Seorang muslim ketika menyaksikan bahwa perbuatannya 
tidak sejalan dengan aturan Allah SWT, ia akan segera meninggalkan dan 
mencampakkan perbuatan tercela tersebut. Ia akan merasa rendah di sisi manusia 
dan di sisi Allah, ketika tidak berbuat sesuai dengan aturan Allah SWT. 
Kebanggaan dirinya adalah tatkala ia dekat dengan Allah SWT dan sejalan dengan 
Islam. Kecintaan dan penghargaan kepada orang lain juga selalu didasarkan oleh 
aturan Allah SWT. Ia akan membenci dan tidak menaruh hati ataupun condong 
dengan orang-orang yang bergelimang dengan kemaksiyatan, mengganti aturan Allah
 dengan aturan manusia. Selanjutnya, ia akan tergerak untuk menasehati dan 
menghilangkan kemaksiyatan tersebut.

Inilah gambaran tauhid sebagai bagian terpenting dari kontrol dan kendali diri. 
Sungguh, hanya dengan tauhid yang kuat dan kokoh, seseorang akan mampu 
mengarungi kehidupan apapun tanpa pernah bergeser dengan aturan Allah SWT .

Lebih dari itu, tauhid yang benar dan murni merupakan faktor utama untuk 
menyelamatkan manusia dari siksa Allah SWT. Tauhid merupakan jaminan terakhir, 
apakah kita masih layak masuk surganya Allah atau tidak.

Semua ini menunjukkan, bahwa tauhid merupakan dasar bagi kontrol dan kendali 
diri seorang muslim.

Catatan Kaki:

1. Bandingkan dengan Imam Ibnu Taimiyyah, Majm�� al-Fatawa, juz I/41, Daar 
al-Kutub al-�Imiyyah. Lihat juga, Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid�ah, PT. 
Andalus Press, Surabaya, hal. 200.

2. Bandingkan dengan penjelasan Imam al-Hafidh Abi �Abdillah Muhammad bin Ishaq 
bin Muhammad bin Yahya bin Manduh, Kitaab al-Tauh�d: Wa Ma�rifah Asma� al-Allah 
�Azza wa Jalla wa Shif�tih �Ala al-Ittif�q wa al-Tafarrud, al-J�mi�ah 
al-Isl�miyyah, Madinah, jilid I, hal. 33.

3. Diriwayatkan oleh Ibnu �Abbas dan ditakhrij oleh at-Tirmidzi.

4. Lihat Al-Muqriiziy, Tajr�d al-Tauh�d al-Muf�d, hal.4-9, tahun 1373 H., 
ta�liq oleh Muhammad Thaha al-Zainiy. Lihat juga penjelasan Imam Ibnu 
Taimiyyah, dalam al-Fatawa, III/97-98.

5. Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid�ah, PT. Andalus Press, Surabaya, hal. 
208.

6. Imam Ibnu Taimiyyah, Majm�� al-Fatawa, juz III/16, D�r al-Kutub al-�Imiyyah.

7. Op.cit, hal.228.

8. Imam Ibnu Taimiyyah, Majm�� al-Fatawa, juz I/42, pada bab Tauhid Uluhiyyah, 
D�r al-Kutub al-�Imiyyah.

9. Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid�ah, PT. Andalus Press, Surabaya, hal. 
235.

10. Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafs�r Ibnu Katsir.

11. Lihat, Dr. Muhammad Husain �Abdullah, Diras�t fi al-Fikr al-Isl�miy

12. Lihat Ibnu al-�Arabiy, Ahk�m al-Qur��n, Juz I, ed.I, D�r al-Fikr, 1988, 
hal. 577. Lihat juga pada Imam Qurthubi, Tafs�r Qurthubi, juz II, hal.97; Ibnu 
Hajar, al-K�f al-Sy�f, hal. 45.

13. Imam �Abdurrahman Nashir al-Sa�diy, Tais�r al-Kar�m al-Rahman fi Tafs�r 
Kal�m al-Man�n, hal. 90.

14. Ibnu al-�Arabiy, Ahk�m al-Qur��n, Juz I, ed.I, D�r al-Fikr, 1988, hal. 578.

15. Imam �Abdurrahman Nashir al-Sa�diy, Tais�r al-Kar�m al-Rahman fi Tafs�r 
Kal�m al-Man�n, hal. 93-94.




---------------------------------
  Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! 
Download Messenger Now

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke