Buat teman-teman,
Gus Mus akhirnya menolak masuk PBNU. ini ancaman
serius bagi NU. Berita ini hanya sekadar menguatkan
adanya resistensi yang besar atas hasyim muzadi.
Bagaimana mau membersihkan NU dari politik praktis,
wong salah satu team formatur adalah ketua tanfidziyah
PWNU Jawa Barat, sekaligus anggota DPD RI.
ZM
Minggu, 12 Des 2004,
Gus Mus Tolak Masuk PB NU
Gus Sholah Juga Tak Bersedia Namanya Diumumkan Hasyim
JAKARTA - Keinginan Rais Aam PB NU KH A. Sahal Mahfudz
dan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi untuk merangkul semua
pihak di kalangan nahdliyin agar duduk bersama di
kepengurusan PB NU belum bisa diwujudkan. Dua tokoh NU
yang diharapkan mampu mencairkan suasana perselisihan
di organisasi tersebut menyatakan menolak duduk di
kepengurusan PB NU 2004-2008.
KH Mustofa Bisri dan KH Salahuddin Wahid yang nama
mereka tercantum dalam susunan kepengurusan yang
diumumkan Hasyim kemarin menyatakan tak bersedia.
Dalam kepengurusan itu, Gus Mus -sapaan KH Mustofa
Bisri- ditempatkan sebagai salah satu rais, sedangkan
Gus Sholah - panggilan akrab KH Salahuddin Wahid-
diposisikan sebagai salah satu ketua. Gus Sholah yang
juga adik kandung Gus Dur itu, pada periode lalu,
berada di jabatan tersebut.
Menurut Gus Sholah, keputusan untuk tidak terlibat
dalam kepengurusan Hasyim itu diambil setelah meminta
pertimbangan istri, anak, dan saudara-saudaranya,
kecuali Gus Dur yang kini sedang berada di Australia.
"Saya juga salat istikharah dan mendapat petunjuk dari
Surat An Naml yang mengandung pesan untuk islah. Saya
ingin ikut dalam pihak yang mendorong islah. Jadi,
saya tidak boleh masuk dalam PB NU dan juga tidak ikut
dalam kelompok Gus Dur. Karena itu, saya menolak
tawaran untuk masuk PB NU supaya bisa mengupayakan
islah," jelas Gus Sholah. Dia menambahkan, keputusan
itu sudah disampaikan kepada Kiai Sahal dan Hasyim.
Dikonfirmasi koran ini setelah mengumumkan kabinetnya,
Hasyim terlihat tidak begitu kaget. Mantan ketua PW NU
Jawa Timur itu mengaku sudah dikontak langsung oleh
Gus Sholah. "Kewajiban saya menyusun. Setelah itu,
kalau keberatan, silakan ke rais aam. Hasilnya, ya
tanya ke Gus Sholah," ujar Hasyim.
Sementara itu, Gus Mus mengungkapkan bahwa dirinya
tidak bersedia menjadi pengurus karena akan lebih
banyak mencurahkan waktunya untuk mengasuh pondok
pesantrennya, Raudathul Tholibin, Rembang. Secara
diplomatis, dia menjelaskan, saat masih ada Mbah
Cholil (almarhum KH Cholil Bisri), pondoknya sudah
keteteran, apalagi sekarang dirinya tinggal sendirian.
Sampai tadi malam, saat diwawancarai koran ini pukul
19.30, Gus Mus mengaku belum menerima surat konfirmasi
kesediaan menjadi pengurus PB NU***. Sementara,
pengumuman kepengurusan dilakukan Hasyim pukul 15.00.
"Saya punya tiga nomor telepon Kiai Sahal dan tiga
nomor telepon Pak Hasyim, tapi semuanya tidak bisa
dihubungi. Karena itu, sikap ini saya sampaikan lewat
surat dan sekarang sedang dikirim," ujarnya.
Sikap Gus Mus itu dipastikan akan berdampak sangat
luas terhadap legitimasi kepengurusan PB NU kali ini.
Tadi malam, santer beredar bahwa Tolchah Hasan yang
ikut sebagai formatur juga akan mengikuti langkah
tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, yang
bersangkutan tidak berhasil dikonfirmasi.
Sementara itu, di lingkungan Kajen -tempat tinggal
Kiai Sahal- pengunduran diri Gus Mus itu menjadi
perhatian serius. Beberapa santri Kajen langsung
menghubungi Kiai Sahal agar kiai karismatik itu segera
melakukan penyelamatan. Misalnya, merombak pengurus PB
NU.
"Kalau tidak, kami khawatir Pak Kiai (Kiai Sahal, Red)
akan kena dampat dari kepengurusan PB NU yang terbukti
kurang diterima warga NU tersebut," ujar salah seorang
santri yang enggan disebut namanya.
Lalu, bagaimana reaksi Kiai Sahal terhadap desakan
itu? Sumber itu menuturkan, Kiai Sahal yang kemarin
berada di Semarang akan memikirkan usul tersebut
secara serius. Kiai Sahal memandang keputusan Gus Mus
itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Dalam
waktu dekat, Kiai Sahal akan berusaha melakukan
pembicaraan dengan kiai asal Rembang, Jateng, itu.
Soal dampak besar dari pengunduran diri Gus Mus itu
juga diakui Masdar Farid Mas?udi. Alumnus IAIN Sunan
Kalijaga, Jogjakarta, itu menyakini bahwa Kiai Sahal
segera melakukan hal-hal yang diperlukan terkait
pengunduran diri Gus Mus itu.
"Keberadaan beliau (Gus Mus, Red) di PB NU sangat
penting. Setahu saya, Kiai Sahal juga sangat
membutuhkan Gus Mus. Kiai Sahal sangat mempercayai Gus
Mus. Karena itu, kalau sampai Gus Mus mundur, saya
yakin Kiai Sahal akan melakukan sesuatu," kata Masdar.
Dia mengatakan bahwa dirinya ragu kalau keputusan Gus
Mus itu hanya semata-mata didorong oleh sempitnya
waktu yang tersedia sepeninggal kakaknya, KH Cholil
Bisri. Dia menduga, ada hal prinsip yang menjadikan
Gus Mus mengambil sikap seperti itu. "Saya yakin, Kiai
Sahal bisa menangkap apa semestinya yang mendorong Gus
Mus mundur. Dengan demikian, beliau akan menanggapinya
secara serius dan mencari penyelesaian yang terbaik."
Ditanya apakah dirinya akan meniru langkah Gus Mus?
Masdar dengan diplomatis mengatakan, dirinya diminta
Kiai Sahal untuk melakukan amal sosial seluas-luasnya
di NU. Bila kondisi kepengurusan mendatang memang
memungkinkan untuk melakukan itu, dia akan
melakukannya. "Kalau tidak, untuk apa saya di sana."
Pengurus PB NU yang diumumkan di Kantor PB NU, Jalan
Kramat Raya, Jakarta, kemarin adalah 42 orang,
termasuk Gus Mus dan Gus Sholah. Kepengurusan itu
disusun oleh formatur yang diketuai Kiai Sahal dengan
Sekretaris Hasyim Muzadi. Sedangkan lima formatur lain
adalah KH Tholhah Hasan yang juga wakil rais aam, H
Rusdiansyah, Harifuddin Cawidu, Choiruddin Tahmidz,
dan KH Sofyan Yahya.
Dalam struktur yang diumumkan Hasyim, Masdar Farid
Mas?udi yang menjadi rival Hasyim pada Muktamar Ke-31
NU di Asrama Haji Donohudan, Solo, lalu masuk dalam
posisi salah seorang ketua tanfidziyah. Nama lain yang
diakomodasi adalah Katib Syuriah PW NU Jogjakarta KH
Malik Madany yang ditempatkan pada posisi salah
seorang katib.
Sususan kepengurusan baru itu juga mencakup tokoh di
berbagai wilayah. Untuk posisi syuriah, selain Kiai
Sahal dan Kiai Tholhah, ada KH Idris Marzuki (pengasuh
Ponpes Lirboyo) dan Prof Dr KH Said Agil Al Munawar
(mantan Menag). Dua nama yang disebut terakhir dikenal
dekat Hasyim.
Untuk perwakilan wilayah, ada Prof Dr Abdul Mu?iz
Kabri (pengasuh Ponpes Pare Pare, Sulsel, yang juga
pengajar IAIN Makassar), Habib Abullah Al Jufri (Al
Khairat/Sulteng), Dr KH Artani Hasbi MA
(Kalsel/Universitas Islam Negeri Jakarta). KH Ma?ruf
Amin (Banten), KH Syarifuddin Amsir (Ponpes As
Syafi?iyah Jakarta), dan Dr KH Masyhuri Na?im
(Jakarta).
Untuk posisi katib aam, muncul nama Dr KH Akrom
Malibary. Dari informasi yang diterima koran ini, dia
sekarang menjabat direktur Bait Al Qur?an Taman Mini
Indonesia Indah (TMII).
Untuk posisi eksekutif atau tanfidziyah, didominasi
kalangan dekat Hasyim. Ada Ahmad Bagdja, Rozy Munir,
Said Agil Siradj, Fajrul Falakh, Andi Djamaro, dan
Mustafa Djuhad Mugni. Seperti diketahui, nama-nama
tersebut termasuk black list di kantong Gus Dur.
Sementara itu, nama baru yang masuk adalah Prof Dr
Ridwan Lubis (Sumatera Utara) dan Prof Dr Qodry Azizi
MA (dirjen Bimbaga Depag).
Yang menarik, di posisi kesekjenan, formasi yang
diumumkan Hasyim menunjukkan perubahan yang cukup
mendasar. Taufik R. Abdullah yang sebelumnya diplot
menjadi sekjen ternyata balik ke posisi semula,
sebagai wasekjen. Sementara itu, posisi sekjen
diamanatkan kepada Dr Endang Turmudzi yang juga
dikenal dekat dengan Hasyim. "Kemarin kan masih dalam
proses. Sekarang finalnya," ujar Hasyim saat
dikonfirmasi koran ini.
Perubahan nama sekjen tersebut memang berlangsung
mendadak. Menurut sumber kuat koran ini, Hasyim tidak
melakukan koordinasi dengan Kiai Sahal terlebih
dahulu. Dari informasi yang dihimpun koran ini,
kepastian pergantian dilakukan sekitar pukul 11.00.
Endang yang ditemui koran ini mengaku baru dikontak
Hasyim pukul 10.00 dan ditawari posisi sekjen.
Pria asal Karawang yang kini menjadi peneliti madya di
pusat kemasyarakat dan kebudayaan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mengaku tidak bisa
menolak. Sebab, sebagai orang NU, dia harus mau
mendarmabaktikan dirinya untuk organisasi yang
membesarkannya.
Untuk diketahui, peraih gelar master dari Flinders
University dan doktor di Australia National University
itu murni didikan madrasah dan Ponpes Cipasung,
Tasikmalaya. Sebelum ke Australia, dia terlebih dulu
mengambil S1 di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. "Saya
nggak tahu prosesnya, kok kemudian tiba-tiba masuk,"
ujar Endang, yang kemarin langsung berkoordinasi
dengan Hasyim.
Taufik Abdullah yang dikonfirmasi koran ini berterus
terang mengakui bahwa perubahan berlangsung mendadak.
Tapi, dia mengaku legawa tetap di posisi wakil Sekjen.
"Kemarin sebenarnya masih dalam proses, tapi sayangnya
sudah banyak yang tahu. Saya sudah menerima ratusan
SMS (short message service) yang mengucapkan selamat,"
katanya.
Nama lain yang semula ada tapi mendadak hilang adalah
Nur Iskandar SQ. Pengasuh Pondok Pesantren Assydiqiyah
Jakarta itu konon didrop gara-gara penolakan yang
muncul di internal NU sangat besar.
Mengenai formasi kabinet yang baru tersebut, Hasyim
menjelaskan bahwa penyusunannya diarahkan untuk
melanjutkan program yang telah dicanangkan pada
periode sebelumnya, penataan institusional, jaringan,
dan program. Terkait dengan misi itulah, untuk posisi
syuriah, dia ingin memperkokoh dengan memasukkan tokoh
yang bukan hanya menguasai ilmu keagamaan, tapi juga
disiplin ilmu lain atau yang menguasai
interdisipliner.
Formasi yang diumumkan kemarin baru sebagian di antara
formasi lengkap PB NU. Seperti diketahui, selain
pengurus harian, PB NU juga dilengkapi kepengurusan,
seperti lembaga dan lajnah. Diperkirakan, masih ada
seratusan posisi lagi yang harus diisi. Sementara itu,
untuk badan otonom, -seperti GP Ansor, Fatayat,
Muslimat- mereka mempunyai mekanisme penyusunan
pengurus sendiri. Untuk menyusun kepengurusan
tersebut, Hasyim berjanji akan melakukan secepat
mungkin.
Bagaimana tanggapan kubu Abdurrahman Wahid atas
pembentukan PB NU itu? Koordinator tim kecil
pembentukan organisasi NU "baru", KH Aminullah
Muchtar, mengaku tak mempermasalahkan pengumuman
nama-nama PB NU tersebut. "Kami tak ada urusan dengan
itu. Biarkan saja," kata Aminullah kepada koran ini
kemarin.
Aminullah menegaskan, pihaknya tetap melaksanakan
keputusan Buntet yang menyatakan mufarroqoh dari NU
saat ini. Karena itu, dia enggan mengomentari ataupun
terlibat dalam kepengurusan NU di bawah duet KH A.
Sahal Mahfudz-Hasyim Muzadi. "Kan yang mufarroqoh juga
banyak. Di antara nama-nama itu, saya dengar juga
banyak yang tak bersedia," ujarnya. (lex/nur)
__________________________________
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! - What will yours do?
http://my.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/