GATRA
6 / XI 25 Des 2004
 

NASIONAL

NAHDLATUL ULAMA
Orang Lama Pengelola Dana

Laporan keuangan PBNU periode 1999-2004 disoal. Ada saldo dana, 
padahal masih ada utang yang seharusnya dilunasi. Pengurus jadi 
penyetor pemasukan dana terbesar.

NAMA-nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hasil Muktamar 
Boyolali diumumkan, Sabtu lalu. Yang merilis adalah Ketua PBNU 
terpilih Hasyim Muzadi. Di antara personel yang bakal berkantor di 
Kramat Raya itu, kemunculan kembali nama Abdullah Mahrus sebagai 
bendahara umum banyak mendapat sorotan.

Adalah KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid yang berteriak paling kencang 
ihwal adanya ketidakberesan pengelolaan duit organisasi sosial 
keagamaan yang didirikan KH Hasyim Asy'ari itu. Generasi muda NU 
seperti Nahdliyyin Crisis Centre dan Kaum Muda Nahdlatul Ulama 
berada satu gerbong dengan Gus Dur meneriakkan hal yang sama. Mereka 
mencium gelagat tak sedap bahwa Abdullah Mahrus sengaja diposkan 
kembali ke posisi lama sebagai bendahara umum untuk 
menyimpan "rahasia" keuangan PBNU.

Saldo duit senilai Rp 5,4 milyar di buku keuangan NU periode 1999-
2004 disoal. Hasyim Muzadi, ketua umum periode itu, mengklaim adanya 
tirkah alias peninggalan dana itu sebagai bukti keberhasilan. 
Padahal, kata Hasyim di awal kepemimpinannya --menggantikan Gus Dur--
 ia sangat disibukkan dengan pelbagai masalah di dalam NU. Persoalan 
itu, antara lain, lemahnya manajemen NU karena mengandalkan kultur 
tanpa struktur.

Namun kubu yang berseberangan dengan Hasyim menilai saldo fulus itu 
terasa janggal. "Lucu ya, ada saldo lima setengah milyar rupiah," 
kata Gus Dur. Padahal, Gus Dur menambahkan, PBNU masih punya utang 
Rp 4 milyar. Tagihan itu berasal dari kontraktor pembangunan Gedung 
PBNU Kramat Raya yang belum dilunasi. "PBNU tak mau bayar dan tak 
ambil peduli. Terus gimana?" mantan Presiden RI itu menambahkan.

Data lain yang disodorkan Gus Dur adalah tertunggaknya pembayaran 
listrik kantor PBNU selama beberapa bulan. Fachri Thaha Ma'ruf, 
pengelola Gedung PBNU, menjelaskan bahwa sejak dinonaktifkan dari 
jabatannya --dicalonkan PDI Perjuangan sebagai wakil presiden-- 
Hasyim menyetop aliran dana untuk pengelolaan Gedung NU. Ini juga 
bukti bahwa pengelolaan duit NU terpusat di tangan ketua umum.

Akibatnya, pada Juli lalu, aliran listrik ke Gedung PBNU diputus. 
Setelah dilakukan pembayaran, aliran listrik mengalir kembali. 
Namun, lagi-lagi, aliran setrum ke Gedung PBNU diputus selama tiga 
hari karena ada tunggakan pembayaran dua bulan.

Yang memilukan, pemutusan terjadi pada saat Muktamar Boyolali 
berlangsung dan Hasyim sedang mengumumkan kebanggaannya bisa 
menyisakan duit Rp 5 milyar selama kepengurusannya. Fachri 
menyatakan, jauh hari sebelum pemutusan dilakukan, ia sebenarnya 
sudah berkirim surat ke Hasyim. Isinya, meminta agar tunggakan 
tagihan segera dibayar.

Masalah lain yang juga jadi sorotan adalah sumber dana yang masuk ke 
kas PBNU, yang besarnya Rp 8,9 milyar. Dalam buku keuangan PBNU 
tertulis, dana itu bersumber dari pengurus, penjualan almanak NU, 
buku muktamar, dan lain-lain. Porsi sumbangan pengurus yang 
mendominasi. Ketua umum, misalnya, setor Rp 4,7 milyar atau lebih 
dari separo duit yang masuk. Pertanyaannya, dari mana ketua umum 
punya duit sebanyak itu?

Abdullah Mahrus mencoba meluruskan. Duit setoran pengurus itu 
sebenarnya tak berasal dari kocek pribadi. "Uang tersebut dari 
donatur," katanya. Siapa yang menyumbang? "Ini masalah internal. 
Tidak boleh diberitahukan," ia menambahkan. Toh, ia menjamin, masuk 
dan keluarnya duit PBNU bisa dipertanggungjawabkan. Abdullah 
menunjuk laporan yang hanya diketahui Ketua Umum dan Rais Aam PBNU 
(KH Sahal Mahfudz) tentang kejelasan penyumbang dan besarnya donasi.

Tak hanya di buku keuangan, menurut Jazuli Kasmani, Koordinator 
Nahdliyyin Crisis Centre, dalam penyelenggaraan Muktamar Boyolali 
juga ada skandal keuangan yang perlu ditelanjangi, yakni adanya 
dugaan praktek politik uang dalam pemilihan ketua umum. Di luar 
itu, "Penyelenggaraan muktamar juga terkesan elitis dan hanya 
melayani pengurus, tanpa menghormati partisipasi warga NU," kata 
menantu Mbah Lim, kiai nyentrik asal Klaten, Jawa Tengah, itu.

Ditembak kiri-kanan, Hasyim tak tinggal diam. "Tak ada politik 
uang," kata Hasyim Muzadi. Di tubuh PBNU yang dipimpinnya segalanya 
juga dilakukan dengan transparan. Hasyim pun meluruskan pernyataan 
yang dilontarkan Gus Dur soal adanya utang Rp 4 milyar dan tunggakan 
pembayaran listrik. "Soal utang dan sebagainya itu, siapa yang 
mengatakan begitu. Sampeyan kok percaya sih sama yang begitu-
begitu," katanya.

Toh, kalaupun masih dianggap kurang transparan, ia berjanji akan 
melakukan perbaikan di sana-sini. Sebagai langkah awal, Hasyim 
membentuk tim manajemen keuangan yang diketuai Abdullah Mahrus. 
Anggotanya, Ronin Hidayat (wakil bendahara kepengurusan sebelumnya), 
Sirodjul Munir, Bambang Adyaksa, dan Asmui Suhaimi.

Persoalan keterbukaan pengelolaan duit di tubuh PBNU, kata Zuhairi 
Misrawi, justru harus terus diteriakkan. NU bersama Muhammadiyah 
telah menggagas dan membentuk Aliansi Gerakan Nasional Antikorupsi, 
Oktober 2003. "Seharusnya NU jadi uswatun hasanah (teladan). Tapi 
faktanya, Ketua Umum PBNU lebih kaya dari NU-nya," kata alumnus 
Universitas Al-Azhar, Mesir, itu. Hal itu menimbulkan kecurigaan di 
mata warga NU khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Irwan Andri Atmanto, Mohammad Guntur Romli, dan M. Agung Riyadi


---------------------------------------------------------------------
-----------

Akomodasi Setengah Hati

JUMLAH personel PBNU Periode 2004-2008 sebanyak 41 orang. Masing-
masing 18 orang di Syuriyah yang dipimpin seorang Rais Aam, dan 23 
orang di jajaran Tanfidziyah yang dipimpin seorang Ketua Umum 
Tanfidziyah. Namun beberapa tokoh NU menolak duduk dalam kabinet 
PBNU ini.

Misalnya, KH Ahmad Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus tidak 
bersedia menjadi salah satu Rais Syuriyah. Kemudian Ir. H. 
Salahuddin "Gus Solah" Wahid mundur dari salah satu Ketua 
Tanfidziyah. Demikian juga Dr. KH Akram Malubary yang menolak diplot 
menjadi Katib Aam Syuriyah.

Tokoh NU yang mundur itu sering diasumsikan berseberangan dengan 
Hasyim Muzadi. Namun, pada hakikatnya, posisi Gus Mus dalam 
polarisasi kubu Gus Dur vis a vis kubu Hasyim bukan berada dalam 
satu kubu itu. Gus Mus adalah kubu yang saat ini bersikap sukut 
(diam, pasif). Gus Solah dari pihak yang aktif menyerukan islah 
antara kedua kubu itu. Sedangkan Akram Malibary memang berasal dari 
kubu Gus Dur. Motifnya bisa ditangkap dari alasan mundurnya mereka.

Gus Mus tidak bersedia karena tidak ada waktu. Ia akan bekonsentrasi 
menguris pesantren, setelah KH Cholil Bisri, kakak kandungnya, wafat 
tiga bulan silam. Alasan yang sama ia ungkapkan ketika tidak 
bersedia dicalonkan menjadi ketua umum.

"Saya merasa dihargai dan berterima kasih sekali atas kepercayaan 
kepada diri saya untuk menjadi anggota pengurus PBNU periode 2004-
2009," kata Gus Mus dalam surat pernyataannya yang dilansir website 
resmi PBNU www.nu.or.id. "Mengingat waktu saya saat ini tidak 
selonggar tempo hari, maka dengan ini saya menyatakan tidak bersedia 
ditunjuk nenjadi Rais Syuriyah," Gus Mus menegaskan.

Alasan Gus Solah mundur, saat ini ia sedang berusaha membangun 
komunikasi antara dua kubu yang bersetu: Hasyim dan Gus Dur, agar 
bisa berdamai. Setelah meminta pertimbangan istri, anak, teman, 
keluarga, dan beristikharah, Gus Solah mengaku mendapat petunjuk 
dari surat Al-Naml ayat 32-34 yang memberi makna islah.

Sedangkan Akram tidak bersedia menjelaskan alasannya. Ia hanya 
mengirim surat lewat faksimili kepada Rais Aam KH Sahal Mahfudz dan 
Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, "Dengan ini menyatakan tidak bersedia 
menjadi anggota pengurus dalam kepengurusan PBNU periode 2004-2009. 
Pernyataan ini saya buat dengan tulus ikhlas untuk diketahui pihak-
pihak yang berkepentingan," tulis Akram dalam suratnya.

Guru besar bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Syarif 
Hidayatullah, Jakarta, itu memang sangat intens dalam kegiatan-
kegiatan kubu Gus Dur. Di setiap pertemuan kaukus Gus Dur, baik 
dengan nama kiai khos, kiai sepuh, maupun kiai NU kultural dan lain-
lain, Akram Malibary tidak pernah absen. Terakhir, dalam pertemuan 
Gus Dur bersama para kiai sepuh di kediaman KH Abdullah Abbas di 
Buntet, Cirebon, Akram juga terlihat hadir.

Selain nama-nama yang mundur itu, beberapa nama juga disorot. Endang 
Turmudi, yang menduduki posisi sekretaris jenderal, dinilai kurang 
beken di kalangan kiai NU. Sejumlah tokoh NU yang menjadi tim sukses 
Hasyim Muzadi pada pemilihan preriden dan Muktamar NU juga masuk 
dalam jajaran pimpinan PBNU. Antara lain Hafidz Utsman, Said Aqil 
Siraj, Ahmad Bagdja, Andi Jamaro, Mustofa Zuhad, Saiful Bahri, 
Abdullah Mahrus, dan Ronin Hidayat.

Ada juga pendatang baru, seperti Anas Thahir, Iqbal Sullam, Sirojul 
Munir, Asmui, dan Bambang Adyaksa. Lima nama terakhir ini dalam 
Muktamar ke-31 NU terlihat getol memperjuangkan Hasyim Muzadi.

Mohammad Guntur Romli





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke