Kamis, 23 Desember 2004
Ratusan Perempuan HTI Demo Hari Ibu
Laporan : ita
SURABAYA --HTI juga menuntut pemerintah menghentikan kebijakan yang mendorong
terjadinya disfungsi peran ibu. Peringatan Hari Ibu di Surabaya, Rabu (22/12),
diwarnai aksi demo ratusan perempuan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Massa yang
terdiri dari kaum ibu dan remaja putri ini, meminta pemerintah agar lebih
mengoptimalkan peran ibu.
Dalam aksi yang dilakukan mulai pukul 07.00 WIB di Tugu Pahlawan itu, aktivis
HTI, Rif'ah Wahyuni AMd berorasi dengan tema 'Jangan Paksa Kami Mengabaikan
Peran Ibu, kemudian dilanjutkan pembacaan puisi dan orasi oleh Dr Hasniah
Hasan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke DPRD Jatim di Jl
Indrapura. Korlap aksi, Iffah Rahmah mengatakan, demo kaum ibu merupakan
rangkaian kegiatan peduli pendidikan anak pada usia dini dengan tema
'Mengembalikan Fungsi Ibu sebagai pendidik pertama dan utama' yang
diselenggarakan bulan Desember hingga Pebruari 2005.
Aksi tersebut, katanya, sebagai wujud keprihatinan mereka terhadap masih
banyaknya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kaum wanita, khususnya
pada kaum ibu dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu, lanjut Iffah, perempuan
HTI meminta pemerintah agar lebih mengoptimalkan peran ibu. Yakni, memberikan
peluang seluas-luasnya pada kaum ibu untuk mendidik anak-anaknya. Bukan
sebaliknya, kebijakan pemerintah justru mendiskreditkan kaum ibu.
''Selama ini peran kaum ibu cenderung diabaikan dalam menunjang pembentukan
sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Penelitian mengenai indeks
pengembangan SDM yang dilakukan UNDP tahun 2002, menempatkan Indonesia pada
peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti,'' papar Iffah. Posisi ini, lanjut
dia, jauh dibawah negara ASEAN lain seperti Singapura menempati peringkat
ke-25, Brunei Darussalam peringkat ke-32, Malaysia peringkat ke-59, dan
Thailand peringkat ke-70. Secara faktual, menurut dnya, buruknya SDM Indonesia
itu bisa dilihat dari tingginya tingkat korupsi, tindak kriminalitas,
penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan maraknya konflik sosial.
''Karena itu perlu dilakukan berbagai upaya secara sunggu-sungguh untuk
meningkatkan kualitas ibu, sehingga mampu menjalani perannya sebagai pendidik
generasi berkualitas,'' tandasnya. Dikatakan Iffah, kebijakan pemerintah di
sektor ekonomi belum menyentuh persoalan sbstansial yang dihadapi kaum ibu.
Perekonomian yang masih susah ini, merupakan beban tersendiri bagi kaum ibu
untuk mengatur kebutuhan keluarga, termasuk optimalisasi pendidikan anak-anak
sebagai generasi penerus. ''Bagaimana mungkin ibu-ibu ini bisa mendidik anak
dengan baik, kalau beban ekonomi keluarga amat berat?,'' imbuhnya.
HTI juga menyerukan beberapa tuntutan. Antara lain, menuntut pemerintah agar
menghentikan kebijakan yang mendorong terjadinya disfungsi peran ibu. Ini
dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas ibu yang meliputi kualitas
kepribadiannya, pemahaman terhadap pendidikan anak, kesehatan dan kualitas
perannya di tengah keluarga dan masyarakat. Selain itu, HTI meminta pemerintah
untuk membuat kebijakan yang kondusif bagi terciptanya pendidikan yang
berkualitas agar melahirkan generasi yang berkualitas pula. Termasuk
menghentikan segala hal yang merusak generasi, seperti pornografi dan
pornoaksi, serta memperhatikan nasib pekerja wanita.
Anggota Komisi E (bidang kesra) DPRD Jatim yang menerima para perempuan itu,
Djamal Abdullah Alkatiri, berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka untuk
dibahas dan ditindaklanjuti dewan. ''Saat ini kami sedang reses, sehingga
konsentrasi wakil rakyat lebih tercurah ke daerah pemilihan masing-masing,''
ujarnya.
Kamis, 23 Desember 2004
Hari Ibu, Ratusan Perempuan Demo
Laporan : aji
MALANG--Sekitar tujuh ratus kaum perempuan melakukan aksi demo di balai kota
Malang, Rabu (22/12). Mereka yang tergabung dalam Hizbuth Tahir Indonesia (HTI)
Kota Malang menggelar demo dalam rangka memperingati Hari Ibu. Tuntutan yang
diusung, meminta pemerintah menghentikan kebijakan yang mendorong terjadinya
disfungsi peran ibu.
Dalam menyampaikan tuntutannya itu, para kaum hawa tersebut sebagian besar
memakai atribut Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sambil membawa atribut-atribut
demo semacam poster, pamflet, spanduk dan megasound, mereka memulai aksinya
dari depan Stadion Gajayana Malang, sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah berkumpul
di stadion dan menggelar orasi sejenak, mereka melakukan longmarch menuju depan
gedung DPRD Kota Malang. Dalam setiap berorasi, mereka selalu menyerukan
yel-yel.
''Selama ini banyak ibu yang sudah keluar dari fitrahnya. Misalnya, harus
bekerja di malam hari akibat kebijakan pemerintah,'' terang Orator Aksi,
Ustadzah Iffah, kemarin. Di sisi lain, Perempuan Hizbut Tahrir Indonesia (PHTI)
ini menilai peran ibu saat ini belum optimal. Bahkan, menurut mereka, cenderung
diabaikan. Terutama dalam pembentukan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang
unggul. Lantas dia menyebut soal penelitian indeks pengembangan sumber daya
manusia yang dilakukan UNDP 2002. Penelitian itu menempatkan Indonesia pada
peringkat 110 dari 173 yang diteliti.
Posisi ini masih jauh di bawah negara Asean lainnya seperti Singapura (25),
Brunei Darussalam (32), Malaysia (59) dan Thailand (70). ''Sedangkan penyebab
buruknya SDM ini tercermin dari tingginya angka korupsi, kriminalitas,
penyalagunaan narkoba, seks bebas dan konflik. Itulah yang harus diberangus,''
tandas ustadzah Iffah itu. Karena itu, dalam pernyataan sikapnya, PHTI meminta
pemerintah melakukan berbagai upaya penting untuk meningkatkan kualitas ibu.
Baik itu kualitas yang berkaitan dengan pendidikan anak, kesehatan dan kualitas
peran di tengah keluarga dan masyarakat.
Kamis, 23 Desember 2004
Bila Kaum Perempuan Memperingati Hari Ibu
Laporan : ant/aji
JEMBER -- Peran ibu saat ini belum optimal dan cenderung diabaikan, terutama
dalam pembentukan SDM Indonesia yang unggul. Kaum ibu dan remaja putri di
Surabaya, Jember, dan Malang, kemarin (22/12) menggelar aksi damai memperingati
Hari Ibu. Aksi di Surabaya melibatkan sekitar 1.500 ibu-ibu dan remaja putri
yang berasal dari Majelis Ta'lim, Tim Penggerak PKK, Muslimat, dan Aisyiyah
se-Surabaya. Mereka difasilitasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan
mengangkat isu "Mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik pertama dan utama" .
Aksi di Malang diikuti sekitar tujuh ratus kaum perempuan. Mereka berorasi dan
menuntut pemerintah menghentikan kebijakan yang mendorong terjadinya disfungsi
peran ibu. ''Selama ini banyak ibu yang sudah keluar dari fitrahnya. Misalnya,
harus bekerja malam hari akibat lemahnya kebijakan pemerintah,'' ungkap orator
aksi, Ustadzah Iffah, di depan Stadion Gajayana, Malang.
Perempuan Hizbut Tahrir Indonesia (PHTI) Malang menilai peran ibu saat ini
belum optimal. Bahkan, menurut mereka, cenderung diabaikan. Terutama dalam
pembentukan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Disebutkan Iffah,
penelitian indeks pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan UNDP 2002.
Penelitian itu menempatkan Indonesia pada peringkat 110 dari 173 negara yang
diteliti.
Posisi ini masih jauh di bawah negara Asean lainnya seperti Singapura (25),
Brunei Darussalam (32), Malaysia (59) dan Thailand (70). ''Penyebab buruknya
SDM ini tercermin dari tingginya angka korupsi, kriminalitas, penyalagunaan
narkoba, seks bebas dan konflik. Itulah yang harus diberangus,'' tandas
ustadzah Iffah itu. Karena itu, dalam pernyataan sikapnya, PHTI meminta
pemerintah melakukan berbagai upaya penting untuk meningkatkan kualitas ibu.
Baik itu kualitas yang berkaitan dengan pendidikan anak, kesehatan dan kualitas
peran di tengah keluarga dan masyarakat.
Muslimah Jember dalam aksinya mengajak kaum ibu untuk menyelamatkan generasi
Indonesia dengan syariah dan amanah. Salah satu spanduk yang dibawa dalam aksi
tersebut bertuliskan "Mari kita selamatkan generasi ini dari narkoba dan
pornografi". Aksi yang dimulai dari gedung Bhayangkara Jl PB Sudirman Jember
dilakukan secara bergelombang. Kedua elemen tersebut melakukan "long march"
menuju Kampus Universitas Jember (Unej) sambil menyerukan agar para ibu dan
generasi muda Indonesia untuk bertaqwa.
Dalam aksi terebut mereka juga membawa anak-anak yang masih balita. Koordinator
aksi dari Hizbut Tahrir Jember, Alifah mengatakan saat ini peran kaum ibu belum
optimal. Karenanya, kata Alifah, perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk
meningkatkan kualitas kaum ibu, sehingga mampu menjalani perannya sebagai
pendidik generasi yang berkualitas (insan kamil).
Berbeda dengan koordinator DPD PKS Jember, Denok Mahmudah, yang juga turun ke
lapangan, kemarin. Denok mengajak seluruh elemen untuk menghentikan ekspolitasi
perempuan dalam bisnis pornografi dan pornoaksi dalam segala bentuk. "Dengan
kata lain, mengembalikan fungsi kaum perempuan sebagai sekolah anak yang
pertama demi menyelamatkan generasi penerus dari pergaulan bebas dan narkoba,"
ungkap Denok.
Aksi damai HTI di Surabaya meminta pemerintah meningkatkan berbagai upaya
penting untuk meningkatkan kualitas ibu, yakni kualitas kepribadian, pemahaman
tentang pendidikan anak dan kualitas kesehatan. Mereka juga menyerukan kepada
pemerintah untuk melakukan kebijakan yang kondusif bagi terciptanya pendidikan
yang berkualitas bagi lahirnya generasi yang berkualitas, termasuk menghentikan
segala hal yang merusak generasi seperti pornografi, pornoaksi, pergaulan
bebas, mistis, dan kekerasan. Di DPRD Jatim, para aktivis diterima oleh anggota
FPP DPRD Jatim, Jamal Alkatiri. Jamal mendukung sepenuhnya aspirasi yang
disampaikan oleh kaum ibu dan berjanji untuk memperjuangkannya.
Unjuk Rasa Mewarnai Peringatan Hari Ibu
Unjuk Rasa Mewarnai Peringatan Hari Ibu
22/12/2004 19:37 � Perayaan Hari Ibu di berbagai daerah diwarnai unjuk rasa. Di
Jakarta, ribuan kaum hawa yang tergabung dalam HTI menggelar aksi damai. Mereka
menuntut agar berbagai eksploitasi terhadap wanita dihentikan.
Liputan6.com, Jakarta: Peringatan Hari Ibu disambut meriah di berbagai daerah
di Tanah Air. Di Jakarta, misalnya, ribuan ibu rumah tangga dan remaja putri
yang tergabung dalam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggelar aksi damai di
depan Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (22/12) siang. Sambil
berorasi pengunjuk rasa juga mengusung berbagai poster.
Mereka menuntut agar pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
meningkatkan peran ibu. Selain itu, para wanita berkerudung ini meminta
pemerintah membuat kebijakan yang baik bagi generasi muda. Demonstran menilai
kesulitan ibu dalam mendidik anak karena banyaknya tayangan media menganggu
mental anak. Mereka minta pemerintah melakukan pencegahan.
Aksi serupa berlangsung di Yogyakarta. Sekitar 500 kaum hawa yang tergabung
dalam HTI berunjuk rasa di pelataran Gedung DPRD Yogyakarta di Jalan Malioboro.
Dalam orasinya mereka menilai pemerintah sekarang belum mengoptimalkan peran
ibu.
Menurut mereka, ibu yang seharusnya menjadi tempat belajar atau sekolah pertama
bagi anak-anak ternyata dikalahkan pengaruh televisi. Sebaliknya, peran
pendidikan anak justru diberikan pada media massa elektronik yang membuat
tayangan kurang mendidik.
Di Semarang, Jawa Tengah, massa HTI melakukan aksi serupa dalam memperingati
Hari Ibu. Pengunjuk rasa meminta pemerintah Presiden Yudhoyono menghentikan
berbagai eksploitasi terhadap wanita, antara lain penjualan wanita ke luar
negeri.
Adapun eskploitasi pada wanita itu seperti mengumbar aurat, baik dalam bentuk
tayangan televisi maupun media cetak. Demonstrasi yang dilakukan ibu-ibu ini
berakhir tertib meski tak ada satu pun anggota Dewan merespons.
Unjuk rasa massa HTI dalam memperingati Hari Ibu pun berlangsung di beberapa
kota di Jawa Timur. Di Surabaya, sekitar 300 wanita menggelar aksi dimulai dari
Tugu Pahlawan menuju Kantor DPRD Tingkat I Jatim. Demonstran mengusung berbagai
poster terkait dengan maraknya pornografi [baca: SBY: Hormati Hak-Hak
Perempuan].
Di Jember, para kaum hawa yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera menggelar
unjuk rasa di bundaran Masjid Jember. Aksi bertemakan "Gerakan Ibu Indonesia
Bertakwa, Cerdas, dan Berbudaya".
Selain membentangkan berbagai poster dan spanduk, pengunjuk rasa juga membawa
anak-anak. Mereka menilai, anak adalah amanah yang harus dijaga baik-baik.
Selain itu, kewajiban ibu adalah mendidik anaknya agar menjadi orang yang
berbakti.
Peringatan Hari Ibu tak hanya diwarnai protes, tapi juga diisi penyuluhan
mengenai daur ulang sampah rumah tangga. Contohnya yang dilakukan warga Banjar
Sari, Jakarta. Selain ibu-ibu, penyuluhan juga diikuti para tunawisma yang
membutuhkan keterampilan.
Proses daur ulang dilakukan dengan menerapkan prinsip 3M: mengurangi, memakai
kembali, dan mendaur ulang. Sampah kertas paling mudah didaur ulang karena
tidak memerlukan mesin, hanya membutuhkan bahan sederhana seperti air untuk
merendam kertas, alat tumbuk, lem kertas, dan cetakan untuk menjadi lembar
kertas.Selain lembar kertas, hasil daur ulang bisa menjadi barang lainnya
seperti tempat alat tulis, tisu, buku, dan lainnya. Barang-barang hasil daur
ulang dijual bervariasi tergantung jenis barang. Adapun harganya berkisar
antara Rp 1.000 sampai Rp 5.000.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
---------------------------------
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today!
Download Messenger Now
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/