Salam, daripada membicarakan orang2 NU yang korup; dan cuma 
bisa "sedih" bagi NU sekarnag yang menyedikan, atau "malu" bagi orang 
NU sekarnag yang memalukan, kita baca NU Masa Depan melalui Ulil
Met baca

-GuN-
===================================
Salam,
Minggu kemaren, 12/6, saya tiba di Paris: kota tumpah
darah pencerahn; kota yang membuat takjub Rifaah
Tahtawi; kota yang membuat Muhammad Abduh melontarkan
kalimatnya yang terkenal itu, "Aku lihat Islam (di
Paris), meskipun tidak ada orang Islam; Aku lihat
orang Islam di Kairo, tetapi tak melihat Islam di
sana".

Begitu sampai di hotel, saya tak sabar menahan godaan
untuk jalan-jalan. Kebetulan, saya menginap tidak jauh
dari salah satu "square" yang masyhur di Paris, Place
de la Concorde, yang melalui jalan besar Avenue des
Champs Elysee bersambung ke gerbang yang menjadi salah
satu "landmark" kota "asmara" itu, yaitu Arc de
Triomphe Etoile.

Saya langsung jalan kaki ke taman kota itu. Pagi itu
mungkin terindah sepanjang musim semi: cerah, matahari
berkilau-kilau, tetapi temperatur tak terlalu tinggi,
juga tak terlalu rendah (saya jadi ingat hadis,
"Sebaik-baik perkara ada di tengah-tengah"). Ribuan
turis bertebaran di kawasan itu, dari pelbagai suku
bangsa (persis seperti kata Qur'an tentang kota Mekah,
"Dan serulah manusia, hingga mereka berdatangan dari
kawasan yang terjauh, fajjin 'amiq). Di pusat Place de
la Concorde itu berdiri tegak obelis atau tugu yang
terbuat dari batu yang menjadi pusat berkumpulnya para
turis.

Saya tak tahu, bahwa taman itu dekat dengan kawasan
musim terbesar di dunia, yaitu Louvre atau Musee du
Louvre. Momen ketika saya menyadari bahwa kawasan itu
dekat dengan musim besar itu persis seperti pengalaman
kaum sufi yang disebut dengan "kasfy" atau
penyingkapan. Saya berteriak suka cita. Saya langsung
jalan kaki menuju musium itu, dengan semangat yang
menyala-nyala. Luas kawasan musium itu mungkin sama
dengan lima desa Jawa "diikat" jadi satu "ombyokan".
Arsitektur gedungnya sangat antik, dengan gaya Gotik
yang melambangkan suatu "grandeur" yang menjadi ciri
khas kekaisaran Perancis selama berabad-abad.

Musium Louvre sungguh menakjubukan sekali, karena
koleksinya yang bukan main kaya. Mungkin kita butuh
waktu sebulan penuh untuk mengeksplorasi seluruh
isinya. Inilah musium terbesar di dunia dengan koleksi
yang luar biasa melimpah.

Begitu masuk, kita akan bertemu dengan bangunan
piramid dari kaca yang menjadi ciri khas musium itu,
"Piramid Pei". Di ruang lobby yang luas, saya
kebingungan, harus masuk ke bagian mana. Terlalu
banyak pilihan yang menarik untuk ditonton. Sejak
lama, saya ingin sekali melihat lukisan-lukisan dari
masa klasik dan romantik. Saya ingin lihat langsung
karya-karya seniman besar seperti Michaelangelo,
Leonardo da Vinci, Jacques-Luis David, Francois
Gerard, Eugene Delacroix (yang terkenal dengan
lukisannya "Liberty Guiding the People" yang menjadi
ilustrasi sampul bukunya Fareed Zakaria, "The Future
of Freedom"), Theodore Gericault (dengan lukisannya
yang terkenal tentang penumpang kapal Medusa yang
tenggelam, "The Raft of the Medusa")dan (tak kalah
penting) Jean-Auguste-Dominique Ingre (salah satu
lukisannya yang terkenal, "The Turkish Bath", pernah
diulas dengan menarik oleh Fatima Mernissi dalam
bukunya, "Shecherazade Goes West"). Saya tak sabar
untuk melihat karya-karya itu.

Selama tiga jam saya berkeliling di bagian yang
memajang lukisan-lukisan klasik. Saya berdiri takjub
di hadapan karya-karya besar itu. Saya berdiri
terkagum-kagum di hadapan lukisan karya Jacques-Luis
David dengan ukuran raksasa, 6.21 x 9.79 m, dengan
judul panjang "The Consecration of Emperor Napoleon
and the Coronation of Empress Josephine in the
Cathedral of Notre Dame, Paris, 2nd December 180".
David tentu hidup di zaman sebelum ditemukannya kamera
modern yang bisa menangkap dengan detil suatu obyek.
Pelukis-pelukis besar dari zaman klasik itu mencoba
untuk memotret dunia dengan detil, anatomi manusia,
permainan warna yang sungguh mengagumkan. Perbedaan
penting lukisan dengan fotografi adalah, saya kira,
bahwa lukisan memotret dunia dengan interpretasi. Jika
fotografi hanyalah fotokopi dunia, lukisan para
seniman klasik itu adalah "enciptaan kembali" dunia
dengan suatu tafsiran yang kreatif. David membutuhkan
waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan lukisan besar
itu.

Sejak membaca bukunya Fatima Mernissi yang sudah saya
sebut di atas, saya bermimpi kapan bisa melihat
langsung lukisan-lukisan Jean-Auguste-Domonique Ingres
(hidup antara 1780-1867). Seniman besar Perancis ini
terkenal dengan lukisan-lukisannya tentang
perempuan-perempuan yang mandi, "The Bathers" (mungkin
dia pernah ngintip cewek mandi waktu kecil, kali,
kayak kami di pesantren dulu, yang memburu pasangan
pengantin baru melewatkan malam pertama di kamar yang
biasanya terbuat dari bambu, sehingga menyediakan
lobang untuk mengintip). Lukisan Ingres yang diulas
dengan menarik oleh Mernissi adalah "Mandi Turki" atau
"Turkis Bath". Puluhan harem yang telanjang dilukiskan
di sana, dengan badan montok, eksotis, menggambarkan
kehidupan para harem di istana raja-raja Turki.
Lukisan Ingres itu adalah salah satu bentuk dari
ketakjuban Barat atas Timur yang "eksotis",
sebagaimana pernah diulas dengan menarik oleh Edward
Said dalam Orientalism. Kritik Mernissi terhadap karya
Ingres itu adalah bahwa seluruh perempuan dalam
lukisannya itu digambarkan sebagai obyek yang pasif,
menyerah, sementara penggambaran dunia harem dalam
lukisan-lukisan Persia atau literatur Timur justru
memperlihatkan perempuan penghuni harem sebagai tokoh
yang "powerful" dan karena itu ditakuti oleh
raja-raja. Mernissi melihat dalam lukisan Ingre ada
sejenis "domestifikasi" atau penaklukan "timur" oleh
"pandangan barat" (analisis kayak gini adalah kesukaan
Ahmad Baso).

Saat saya berkeliling di ruangan yang memajang
lukisan-lukisan Italia zaman pencerahan, tiba-tiba
saya melihat puluhan orang berkerumun di depan sebuah
lukisan. Saya segera lari ke sana. Ternyata, di
sanalah terdapat lukisan paling masyhur di dunia karya
Leonardo Da Vinci, "Senyum Monalisa" atau "Potret Lisa
Gherardini". Saya melihat orang-orang itu berkerumun
seperti para hujjaj tawaf mengelilingi Ka'bah. Lukisan
Monalisa itu sengaja diletakkan di tempat terpisah,
dilindungi dengan kaca tebal, dan sekelilingnya
dipasang sabuk pembatas yang biasa dipakai bank-bank
untuk mengantur nasabah yang antri. Di mata saya,
pengunjung itu berkerumun di hadapan lukisan itu
seperti menghadapi obyek yang suci.

Setelah tiga jam berkeliling, saya tak mempunyai daya
lagi. Saya masih ingin melihat bagian-bagian yang
lain, tetapi baik secara fisik dan mental saya telah
"lelah". Melihat "barang cantik" dalam jumlah yang
banyak dan berkelebihan, kadang-kadang dapat
menghilangkan pesona barang-barang itu. Kecantikan
kadang-kadang perlu dinikmati secara "cicilan", a drop
by drop. Saya jadi ingat, barangkali itulah sebabnya
kenapa wahyu datang ke Muhammad dengan cara dicicil.
Wahyu yang datang "menggelontor" secara "grosiran"
sudah pasti membat wahyu itu kehilangan daya tarik,
tak punya lagi daya pikat.

Saya masih harus menyimpan tenaga untuk jalan-jalan
lagi di musium lain yang memajang karya-karya modern,
yaitu Pompidou Center. Di sanalah konon karya-karya
Matisse, Picasso, Kandinsky, Mondrian, Salvador Dali
(di rumah, saya menyimpan repro karyanya yang sangat
saya sukai, "The Persistence of Memory"; saya kira
lukisan asli karya ini dipajang di Museum of Modern
Art [Moma] di New York), Magritte, Chagall, dll.

Saya kira, musium Louvre ini memperlihatkan dengan
jelas bahwa peradaban Barat memang sangat raksasa.
Bagi orang-orang Islam yang fundamentalis, mungkin
karya-karya lukisan itu hanyalah "barang najis" yang
diharamkan agama, sehingga tak layak untuk dikoleksi.
Tetapi, bagi saya, lukisan itu mencerminkan
tahap-tahap kehidupan rohaniah yang terus berkembang
di Barat. Berdiri di hadapan lukisan Louis David, anda
tak bisa lain kecuali mengagumi suatu "jenius" yang
dahsyat.

Berada di musium itu, saya seperti berada dalam
sejarah yang sambung-menyambung sejak zaman Babilon
(di Louvre juga dipajang patung Hammurabi dengan Codex
Hammurabi-nya yang terkenal), hingga zaman modern.
Waktu di dalam musium itu seperti digambarkan lagu
Gesang dalam "Bengawan Solo": air mengalir sampai
jauh. Sejarah adalah aliran waktu yang menjangkau
kawasan-kawasan terjauh. Kita duduk di titik abad 21
satu dengan kesadaran historis yang panjang.

Historisitas inilah yang hilang dari kesadaran Muslim
modern. Waktu, dalam kesadaran Muslim modern, seperti
mall-mall di Jakarta yang diciptakan kemaren sore:
gemerlap, penuh dengan kontras, tetapi miskin
kedalaman. Jika anda lihat struktur kesadaran
orang-orang Islam fundamentalis di abad 21, gambaran
mall-mall di Jakarta bisa memberikan ilustrasi yang
baik. Dalam kesadaran itu, "jenius-jenius" besar
seperti Ibn Khaldun, Ibn Rushd, Ibn Bajjah, Ibn
Thufail, Abu Bakr Ar Razi, dilupakan, dihancurkan,
persis seperti bangunan-bangunan kuno di Jakarta yang
dihancurkan dan harus mengalah kepada mall-mall
modern.

Kesadaran fundamentalis ingin menjangkau masa antik di
zaman Nabi. Mereka menguarkan jargon besar, "kembali
kepada Qur'an dan Sunnah". Tetapi yang terjadi adalah
penghancuran kesadaran historis.

Umat Islam perlu membangun "musium Louvre"-nya
sendiri, membangun "colosseum" untuk mengingat kembali
sejarah intelektual Islam yang raksasa sepanjang 14
abad.

Paris, 13 Juni 2005

Ulil






______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke