Salam,
Pagi itu, usai menemui imam masjid Paris, Dr. Dalil
Boubakeur di kantornya yang berada di dalam kawasan
masjid Paris yang sangat antik dan indah, dengan
arsitektur dan interior yang khas pada bangunan
mediterianian dari abad-abada keemasan Islam, saya
beruntung menemukan sebuah toko buku yang luar biasa
kaya dengan koleksi-koleksi langka. Dikelola oleh
seorang "pecinta ilmu" dari Libanon, Hachem Mouawieh,
toko buku Avicenne Libariarie adalah semacam "taman
pemikiran" yang tak kalah indahnya dengan "taman-taman
kota" lain yang bertebaran di kota Paris (Kapan
Jakarta mempunyai taman kota yang hijau, rindang,
tempat untuk melepaskan penat dan "ngelamun"?). Toko
ini mempunyai dua cabang, satu di 25, rue Jussieu,
Paris dan yang lainnya di 30, rue des Fosses St
Bernard, Paris. Yang pertama khusus menjual buku-buku
pemikiran Islam dalam bahasa Perancis, yang kedua
berbahasa Arab. Yang menarik minat saya tentu yang
kedua ini.

Inilah adalah toko buku yang menjadi langganan para
pemikir-pemikir Islam besar yang tinggal di Paris,
seperti Mohamed Arkoun, Hachem Saleh, Malek Chebel,
Youssef Seddik, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhsin Mahdi
(seorang sarjana penting setelah Rosenthal yang
memperkenalkan Ibn Khaldun ke dunia Barat), dll.
Barangsiapa ke Paris, dan mempunyai minat besar di
dunia pemikiran Islam, maka mengunjungi toko buku ini
hukumnya adalah fardlu 'ain. Koleksinya lengkap, meski
ruag tokonya tak terlalu besar: mulai dari tafsir,
hadis, kalam, filsafat, tasawwuf, sastra, sampai ke
buku-buku para pemikir Islam kontemporer. Tampaknya
pemilik toko buku ini mempunyai "passion" atau syahwat
besar pada dunia pemikiran, sehingga ia hanya menjual
buku-buku yang memang sangat dibutuhkan oleh kaum
"khawashul khawash", kaum pemikir dan intelektual. Dia
bisa menunjukkan buku-buku kepada saya sambil
menerangkan isinya dengan cukup detil dan mendalam.

Traktak-traktak filsafat Islam klasik bisa kita
temukan dengan cukup lengkap di sana, dan ditempatkan
di bagian yang terpisah, berjejer dengan
traktak-traktat tasawwuf. Saya sungguh terkejut karena
di sana saya temukan traktat filsafat klasik yang
dikarang oleh seorang teolog Yahudi, Musa ibn Maimun
(1135-1205 M), atau lebih dikenal dengan Maimonides,
"Dalalat al Hairin". Saya menjumpai pula edisi yang
sudah diedit dengan kritis dari risalah klasik yang
menyerupai sebuah novel, yaitu "Hayy ibn Yaqdzan".
Risalah ini sebetulnya beredar di di mana-mana, tetapi
yang unik pada edisi yang saya jumpai di sana adalah
bahwa ia merangkum tiga versi dari risalah itu.
Seperti kita tahu, risalah dengan judul itu dikarang
oleh tiga tokoh yang berbeda, yaitu Ibn Thufail, Ibn
Bajjah dan Al Suhrawardi al Maqtul. Naskah yang saya
temukan itu merangkum ketiga versi itu, dan diedit
dengan cukup bagus oleh Ahmad Amin.

Kejutan-kejutan lain terus bersusulan. Di sana,
misalnya, saya menemukan pula sebuah buku yang ditulis
oleh salah seorang ulama penting dari kalangan
Mu'tazilah, yaitu Abul Husein al Khayyath al
Mu'tazili. Buku itu adalah kritik atas salah seorang
zindik (agnostik) besar Islam yang dulunya berada di
kubu Mu'tazilah, tetapi kemudian "membangkang", yaitu
Ibn Rawandi (yang ingin mengetahui sekilas
pemikiran-pemikiran Ibn Rawandi, silahkan membaca buku
yang ditulis oleh Ibn Warraq, "Leaving Islam"; ada di
perpustakaan Freedom Institute). Bagi pengkaji
pemikiran Mu'tazilah, buku itu tentu tak asing lagi,
yaitu "Kitab al Intishar wa al Radd 'ala Ibn al
Rawandi al Mulhid" (Kitab Kemenangan: Kritik atas Ibn
al Rawandi yang Agnostik). Buku ini termasuk langka,
dan selama berabad-abad hilang dari peredaran, karena,
sebagaimana kita tahu, buku-buku kaum Mu'tazilah
umumnya dibenci dan dijauhi sebagai "barang najis".
Buku ini penting karena merekam dua hal sekaligus:
pemikiran kaum Mu'tazilah yang jarang kita ketahui
kecuali melalui karya-karya para musuhnya, dan tentu
pemikiran Ibn Rawandi yang memang tidak mungkin dibaca
oleh umat Islam karena seluruhnya karyanya disensor,
sebab dianggap sebagai semacam "Nietzsche" yang
menghancurkan fondasi doktrin Islam.

Mungkin menarik membaca kisah bagaimana buku ini bisa
"lahir" kembali ke dunia. Terbitnya buku ini adalah
berkat usaha seorang orientalis Swedia, H. S. Nyberg
(Universitas Uppsala, Swedia), yang membongkar buku
itu dari koleksi-koleksi manuskrip kuno di "Dar al
Kutub al Mishriyyah". Menurut Nyberg, manuskrip buku
karya Al Khayyath ini adalah manuskrip kedua paling
kuno yang ditulis dalam bentuk kertas yang bisa kita
miliki saat ini, setelah manuskrip Abi 'Ubaid, "Gharib
al Hadis" yang selesai disalin pada 311 H (awal abad 4
Hijriyyah atau 10 Masehi). Naskah manuskrip "Al
Intishar" sendiri selesai disalin pada 347 H.

Buku ini, seperti saya katakan tadi, "tenggelam" lama
dalam timbunan sejarah, hingga akhirnya ditemukan oleh
orientalis Swedia itu dan diedit secara kritis
sehingga bisa dibaca dengan enak oleh publik sekarang.
Untuk memperlihatkan bagaimana buku itu sendiri
sengaja "dihindarkan" dari publik agar tak dibaca,
Nyberg mengutip kalimat yang berisi semacam
"peringatan" yang ditulis oleh pemilik awal naskah
itu. Inilah bunyi lengkap peringatan yang ditulis di
sampul kitab itu:

"Puji bagi Allah yang Maha Hebat, Hebat sekali (Al
'Azhim, al 'Azhim), kitab ini telah dibaca oleh
Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Abdurrahim ibn Al
Shumaidiy, dan dia berkata: Sebaiknya kitab ini
dihindari, tak usah dibaca".

Saya sungguh sangat beruntung mendapat buku yang
sangat berharga itu.

Karya para intelektual Arab mutakhir yang mungkin bisa
kita sebut sebagai "liberal", bisa kita jumpai dengan
lengkap di toko ini. Salah satunya adalah seorang
ulama, intelektual, dan sastrawan dari Libanon yang
sangat prestisius dan baru saya kenal melalui pemilik
toko itu, yaitu Syeikh Abdullah Al 'Alayili. Sungguh
aneh, saya belum pernah mengenal tokoh ini. Bahkan
teman-teman Indonesia yang kuliah di Mesir juga belum
pernah menyebut nama ini. Pemilik toko itu
memperlihatkan sejumlah buku yang dikarang oleh al
'Alayili. Karena keterbatasan finansial, saya hanya
ambil dua saja. Salah satunya yang menarik, setelah
saya baca sepulang di hotel, adalah bukunya yang
berjudul "Aina al Khatha'?: Tash-hih Mafahim wa
Nadzrah Tajdid...." (Dimana yang Salah?: Meluruskan
Paham, dan Memperbaharui Jalan Pikiran).

Saya baru percaya bahwa tokoh ini memang istimewa
setelah saya baca tuntas buku itu (tidak cukup tebal,
hanya 136 hal.)Saya sungguh menyesal tidak mengetahui
tokoh ini sejak lama. Al 'Alayili (saya kira dia sudah
meninggal) mempunyai selera bahasa yang sangat
"flamboyan", selain penguasaannya yang sangat mendalam
dalam hampir seluruh cabang-cabang pengetahuan Islam
klasik. Membaca buku dia sama dengan membaca esai-esai
Goenawan Mohamad. Membaca buku dia, kita akan teringat
langgam penulisan yang pernah dipertunjukkan dengan
indah oleh penulis-penulis semacam Mushthafa Shadiq al
Rafii. Membaca buku al 'Alayili, kita akan merasa
kembali berada pada masa keagungan artikulasi bahasa
Arab pada zaman sastrawan-sastrawan besar klasik
seperti Al Buhturi, Abu Tammam, Al Ma'arri, dll.

Yang lebih istimewa lagi adalah bahwa al 'Alayili ini
memperkenalkan sudut pandang yang "liberal" dalam
memahami Islam. Bukunya yang sudah saya sebut itu bisa
menjadi semacam model yang sangat baik bagaimana
memahami warisan intelektual Islam yang sangat kaya
dalam konteks tantangan modern, terutama warisan yang
berkaitan dengan pemikiran hukum Islam, atau fiqh.

Dalam bukunya itu, misalnya, al 'Alayili dengan
argumen yang cukup kokoh mengatakan bahwa hukum rajam
sebetulnya tak ada dasarnya dalam Islam (saya bertemu
dengan Mufti kota Marseille, Socheib Bencheikh [yang
sangat ganteng, elegan dan tidak berjenggot!], sehari
setelah saya mengunjungi toko buku Avicenna itu, dan
mengatakan hal serupa). Argumen al 'Alayili adalah:
hukum rajam hanyalah didasarkan pada sebuah hadis
riwayat Umar. Hadis itu mengatakan bahwa dulu, pernah
ada sebuah ayat dalam Qur'an yang sudah dihapus
redaksinya (tilawatan), tetapi hukumnya masih berlaku.
Ayat itu bunyinya: "Seorang tua lelaki dan perempuan
jika melakukan zina, maka rajamlah mereka hingga mati,
sebagai hukuman dari Allah." Hadis ini, dalam ushul
fiqh, biasa dipakai sebagai contoh untuk salah satu
dari tiga jenis "naskh" (penghapusan atau amandemen
ayat Quran), yaitu naskh dari segi bacaan, tetapi
tidak dari segi isi (naskh tilawatan, la hukman).
Maksudnya, ayat tadi itu pernah ada dalam Qur'an,
terus dihapuskan, tetapi isinya tetap dipertahankan.
Bagi Al 'Alayili, naskh semacam ini aneh, dan tidak
mungkin terjadi. Dia menolak naskh semacam itu. Dan
dengan demikian, dia juga menolak hukum rajam yang
dianggapnya berlawanan secara tegas dengan ayat Qur'an
tentang hukum zina, yaitu jilid atau lontar batu
hingga 100 kali. Bagi dia, tidak ada sama sekali hukum
rajam dalam Qur'an. Melalui kritik teks yang sangat
menarik, dia menolak hadis tentang sahabat Ma'iz yang
meminta Nabi untuk dirajam; salah satu hadis yang
dipakai untuk mendukung adanya hukum rajam. Hadis itu,
bagi dia, adalah palsu. Taruhlah hadis itu bisa
diterima dari segi sanad atau mata rantai periwayatan,
tetap susdah diterima, karena jelas berlawanan dengan
Qur'an. Menurutnya, tidak mungkin Qur'an diam dalam
soal sepenting seperti "rajam", kalau benar hukuman
itu dikehendaki oleh Qur'an.

Tetapi, tiada buku yang lebih membuat saya suka cita
dan gembira luar biasa kecuali empat buku klasik
karangan para ulama besar Islam, yang boleh kita sebut
sebagai semacam "seni bercinta a la Islam", atau
katakan saja "Islamic Kamasutra". Buku pertama adalah
"Al Wisyah fi Fawaid al Nikah" karya ulama besar yang
saya kira tak asing di Indonesia, yaitu Jalaluddin Al
Suyuti, pengarang tafsir yang mungkin paling luas
dibaca di dunia Islam, Tafsir Jalalain. Kedua, "Rusyd
al Labib ila Mu'asyarah al Habib" karangan Ahmad ibn
Muhammad ibn "Ali al Yamani. Ketiga, "Tuhfat al 'Arus
wa Mut'at al Nufus" karya Muhammad ibn Ahmad al
Tijani. Buku keempat adalah yang paling "sensual",
dengan judul "Jawami' Al Lazzah" [Ensiklopedi
Kenikmatan Seksual) karya 'Ali al Katibi Al Quzwini.
Harap diingat, ini bukanlah buku "panduan seks" yang
dikarang oleh penulis-penulis modern, tetapi oleh para
ulama Islam di zaman pertengahan.

Buku-buku ini, sekali lagi, memperlihatkan bahwa
"taman pemikiran" Islam sangatlah penuh nuansa dan
pelangi warna-warni, tidak melulu karya-karya
"ortodoks" yang hanya bicara soal pengkufuran dan
pemurtadan. Yang lebih memikat perhatian saya
sebetulnya adalah buku karya Al Suyuthi. Bagi mereka
yang mempelajari tokoh besar ini, mungkin akan
teringat para eksiklopedis besar Perancis dari zaman
pencerahan, seperti Diderot dan Condorcet. Al Suyuthi
mengarang ratusan buku, dengan cakupan tema yang
dahsyat sekali, mulai dari tafsir, hadis, teologi,
fiqh (dengan segala cabang-cabangnya), linguistik,
sastra, folklore, etika perdebatan, nahwu, sharaf,
balaghah, tarajum (semacam "who is who", misalnya
"Bughyat al Wu'ah fi Thabaqat al Nuhah" tentang
biografi para sarjana bahasa dalam Islam), dll. Hanya
ada satu bidang saja yang tidak digeluti oleh Al
Suyuthi, yaitu filsafat dan logika. Dia tak mempunyai
satu karangan pun dalam dua bidang itu.

Dalam bidang "seni bercinta" sendiri, konon Al Suyuthi
menulis tak kurang dari 4 buku. Selain buku yang sudah
saya sebut tadi, ada dua buku lain, yaitu: "Al Ifshah
fi Asma' al Nikah" dan "Al Yawaqit al Tsaminah fi
Shifat al Saminah" (yang ini perlu saya terjemahkan:
"Mutiara-Mutiara Berharga, Tentang Karakter-Karakter
Perempuan Berbadan Montok") dan terakhir "Mabasim al
Milah wa Mayasim al Shabah fi Mawasim al Nikah"
(tentag musim-musim yang baik untuk melangsungkan
pernikahan).

Buku-buku ini layak diulas tersendiri sebagai bidang
yang cukup menarik, sebab literatur tentang
"seksualitas" dalam Islam cukup kaya, dan
memperlihatkan bahwa dalam Islam sebetulnya sikap
terhadap "seks" tidaklah sarat kecurigaan, seperti
yang dikira banyak orang. Dunia seks dipandang dengan
rileks dan ringan, tanpa beban "Victorian" yang
sekarang kita lihat di kalangan sebagian
kelompok-kelompok Islam yang berpaham
"fundamentalis-salafi-wahabi".

Lihatlah, misalnya, bagaimana Al Suyuthi dengan ringan
berbicara tentang nama-nama vagina dan penis dalam
bahasa Arab yang jumlahnya hampir lima puluhan.
Nama-nama vagina dalam bahasa Arab, antara lain: al
ajamm, al ajabb, al izb, al budh', al basha', al buh,
al jar, al jahaz, al hir, al hajum, al hafasy, al
hauz, al hauzah ("hauzah" juga berarti pesantren dalam
tradisi Iran; saya tidak tahu, kenapa pesantren dan
vagina mempunyai nama yang sama), al syarih, al
'adabah, al furq, al qahfaliz (saya suka nama ini), al
qabqab (anda bisa bayangkan, kata ini sudah "menyaran"
kepada obyek yang menjadi rujukannya), al masydakh,
dll. (saya kutip dari "Al Wisyah fi Fawa'id al Nijah"
).

Banyak anekdot-anekdot seks yang dikisahkan oleh A
Suyuthi. Contoh-contoh berikut ini sangat menarik.

Seorang linguis besar Arab dari abad pertengahan, Al
Ashma'i, yang sering melakukan penelitian
"etnolinguistis" ke suku-suku pedalaman Arab, pernah
bertanya kepada seorang Arab badui, "Apakah sesuatu
yang anda anggap paling lezat dalam hidup?" Jawab
orang badui itu, "Makan daging, tidur di atas
"daging", dan menancapkan "daging" ke dalam "daging""
(hal. 143).

Al Suyuthi mengisahkan anekdot lain dari kitab "Al
Jawahir", karya Al Biruni. Anekdot itu sangat
ilustratif menggambarkan kehidupan seksual raja-raja
Islam pada zaman pertengahan. Khalifah Al Mutawakkil,
salah satu satu khalifah pada zaman dinasti Abbasiyah,
adalah orang yang sangat suka melakukan hubungan seks.
Saking seringnya khalifah ini berhubungan seks, dia
"letoy", kehabisan tenaga. Tetapi, dalam keadaan yang
demikian itu, toh dia masih terung ingin melakukan
hubungan seks. Maka, dicarilah "teknik": dibuatlah
semacam "bath up" atau kolam rendam yang dipenuhi
dengan air "zi'baq" (semacam air raksa yang sangat
licin seperti oli), kemudian di atas air itu
ditaruhlah karpet. Al Mutawakkil kemudian terlentang
di atas karpet itu (saya bayangkan, khalifah kita ini
sedang melakukan seks "WOT" atau "woman on top") yang
bergerak secara otomatis. Dia tinggal terlantang saja,
tanpa perlu melakukan gerakan (karena sudah terlalu
"letih"), (hal. 310).

Sebetulnya, ada buku lain yang juga cukup menarik,
karangan Al Hafiz Maghalthay, dengan judul yang sangat
mengusik, "Al Wadhih al Mubin, fi Dzikr Man Ustuyshida
Min Al Muhibbin" (Penjelasan Yang Gamblang-Kentara,
Tentang Orang-Orang yang Mati Gara-Gara Asmara).

Berada di dalam toko buku itu, saya seperti
mengendarai "mesin waktu" dan kembali ke masa
"pencerahan" Islam di masa klasik, ke zaman Al
Zamakhsyari, Abu Bakr Al Razi, Al Farabi, Ibn Sina,
Ibn Rushd, Ibn Khaldun, Ibn Bajjah, dll. Itulah masa
ketika kebebasan berpikir berdaulat, dan perbedaan
pendapat bisa berlangsung dalam segala lapangan
keilmuan. Pada masa itulah, seorang penyair besar
Arab, Abul Ala al Ma'arri (jangan dikacaukan dengan
Abul Ala al Maududi yang sangat "cupet" pemikirannya
itu), lahir, mengumandangkan nada yang kritis dan
skeptis kepada ajaran-ajaran agama Islam, tanpa takut
dituduh sebagai kafir dan murtad.

Sebelum saya pulang, Hachem, pemilik toko buku itu,
melontarkan komentar, sambil berkelakar: kita butuh
Islam sekuler seperti anda saksikan dalam karya-karya
di toko ini. Ada tiga orang Arab yang sedang membeli
buku saat itu, dan mereka beteriak setuju, "Oui, Oui."

Kunjungan ke Paris kali ini makin menguatkan keyakinan
saya bahwa peradaban Barat adalah peradaban yang sama
yang dulu pernah dibawa oleh generasi Abu Bakar Al
Razi dan Ibn Rushd. Di sana, akal menjadi fondasi
utama. Jika anda membaca buku karya Al Zammakhsyari,
salah satu tokoh penting kaum rasional Mu'tazilah, "Al
Mufashshal fi Shan'at al I'rab" (tentang ilmu nahwu
atau sintaksis bahasa Arab), anda tiada lain kecuali
berkesimpulan bahwa sarjana dari abad 12 M ini tak
kurang jeniusnya dibanding Leonardo da Vindi atau
Jacques-Louis David (m. 1825 M) dengan lukisannya yang
kolosal itu, "Penahbisan Kaisar Napoleon dan Penobatan
Kaisar Puteri Josepin."

Seperti saya katakan dalam surat yang pertama,
"sejarah" dan "kesadaran sejarah" telah hacur di
kalangan umat Islam sekarang seperti hancurnya patung
Budha di Bamiyan, Afghanistan, di tangan kaum Taliban.
Islam tinggal Quran dan Hadis yang dipahami di luar
konteks sejarah yang panjang. Yang terjadi: pemiskinan
spiritual, pemiskinan intelektual.

Beruntung sekali, saya bertemu (melalui
karya-karyanya) dengan seorang alim besar Libanon di
toko buku Avicenna itu: Syeikh Abdullah Al 'Alayili,
"jenius" dari abad dua puluh yang layak dibaca oleh
umat Islam sekarang. Nasehat indah yang dikemukakan
oleh Al 'Alayili dalam bukunya yang amat penting,
"Muqaddimah Lidars Lughat al 'Arab":

"Laisa muhafadzatan al taqlidu ma'a al khatha', wa
laisa khurujan al tash-hihu al ladzi yuhaqqiq al
ma'rifah" (sikap taklid dengan mempertahankan
kesalahan yang diwariskan dari pendahulu bukanlah cara
menjaga tradisi yang baik; sementara, melakukan
koreksi atas tradisi yang membawa kita lebih dekat
kepada kebenaran bukanlah sikap "membangkang").

Inilah jalan pencerahan ke depan; jalan yang membawa
Islam kembali ke "Paris", "Louvre", Kordoba, Grenada,
Andalusia, bukan ke tanah Nejd yang kering kerontang,
tempat asal kaum Wahabi yang "ikonoklastis" itu.

Di Paris, di Acivenna librairie, taman pemikiran yang
indah itu, saya temukan kembali Islam yang cerah, yang
mencerahkan.

Paris, 18 Juni 2005

Ulil




______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke