Ahlan Wa Sahlan "Binatangisme"  
 
Tragedi di masa depan, adalah semakin banyaknya kaum nihilis. Mereka bukan 
hanya kalangan ilmuwan bahkan kaum agamawan yang liar. Itulah saat  yang layak 
disebut 'binatangisme' 
Hidayatullah.com, Rabu, 3 Agustus 2005

Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi

Anda mungkin pernah melihat tayangan acara Fenomena di Trans TV pada Jumat 
tengah malam pukul 24.00 WIB 9 Juli 2005. Dalam program itu diekspos seputar 
bisnis esek-esek di Makassar; seperti seks becak lambat, tari erotik, dan 
karaoke plus. 

Beberapa waktu sebelumnya, dalam acara Good Morning, Senin, 13 Juni 2005, pukul 
08.30 WIB, Trans TV telah melakukan kampanye legalisasi perkawinan sejenis. 
Seorang lesbian digambarkan sebagai pejuang atau bahkan pahlawan. Trans TV 
melakukan kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis. 

Ketika itu ditampilkan sosok wanita lesbian bernama Agustin, yang mengaku sudah 
13 tahun hidup bersama pasangannya yang juga seorang wanita. Praktik hubungan 
seksual dan perkawinan sesama jenis, katanya, adalah sesuatu yang baik.

Program serupa itu juga ada di TV lain. Lativi misalnya, pernah mengangkat 
liputan esek-esek seperti; Jakarta Underground, Cucak Rawa, dan Bunglon. Belum 
lagi tarian-tarian yang sangat vulgar seperti fenomena Inul Daratista dan 
Annisa Bahar yang sudah tergolong penari-penari pornoaksi yang amoral.

Program-program murahan ini umumnya digemari semua kalangan produsen TV. Ada 
acara jual goyangan seperti Digoda, Joged, Duet Maut, dan Kawasan Dangdut.

Perilaku yang kita anggap amoral dan tidak normal (dissorder) justru oleh media 
TV disajikan sebagaimana biasa, seolah-olah sesuatu yang sah saja.

Hampir banyak kita temukan figur-figur yang bergaya waria. Entah dia waria 
sungguhan atau hanya pura-pura. Rasanya, seolah kurang lengkap jika TV tak 
mengontrak seorang presenter waria alias banci. Liputan kehidupan kaum gay atau 
lesbian. Yang juga diangkat melalui film layar lebar berjudul Arisan. 

Alih-alih berbisnis, pemutaran film seperti ini seolah ingin mengkampanyekan 
bahwa perilaku laknat seperti itu adalah hal yang lumrah, sah-sah saja, dan tak 
perlu dipersoalkan.

Sering pula kita jumpai tayangan bejat lainnya seperti kehidupan komunitas para 
penjaja seks, baik wanita maupun laki-laki (gigolo), pelacuran anak-anak di 
bawah umur, fenomena 'ayam kampus', kehidupan tante-tante girang dan oom-oom 
senang, pesta seks (orgy), fenomena tukar pasangan (swinger), serta berbagai 
gejala penyimpangan seksual lainnya.

Menuju Liberalisme

Ada tiga fenomena mendasar yang kita saksikan dalam perkembangan menghawatirkan 
sehubungann liarnya media massa di Indonesia belakangan ini. Pertama, secara 
sosial, telah terjadi proses rekayasa sosial (social engineering) yang 
disengaja untuk mentransformasikan masyarakat kita menuju masyarakat 
sekuler-liberal. 

Kedua, secara ekonomi membuktikan kaum kapitalis (pemodal) telah menguasai 
media demi uang semata tanpa peduli moral masyarakat. Ketiga, secara politik 
menunjukkan pemerintah kita tidak punya tanggung jawab dalam urusan moral umat.

Fenomena media liberal (saya lebih senang menyebutnya liar) membuktikan bahwa 
masyarakat kita sekarang sedang digiring oleh kekuatan kapitalisme global untuk 
bertransformasi menuju masyarakat sekuler dan liberal, sebagaimana masyarakat 
Barat. 

Tayangan-tayangan TV yang liar seperti secara halus akan menyusup pada rana 
publik dan secara sengaja pula menjajakan nilai kebebasan (freedom, liberty). 
Melalui ruang publik (public sphere) itulah kemudian melahirkan opini umum 
(public opinion), dan selanjutnya berproses menjadi shared values, yaitu acuan 
nilai kultural yang disepakati bersama.

Jika dulu kalangan ahli psikologi memasukkan gay dan lesbianisme sebagai salah 
satu diantara bentul kelainan seks (sexual-dissorder), tetapi kini orang biasa 
memandangnya, karena media massa –lah yang mengkampanyekanya.

Kebebasan tanpa batas adalah mind-set kaum sekuler-liberal. Bahwa kebebasan 
adalah nilai ideal yang harus diujudkan dalam suatu masyarakat. 

Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden tanggal 20 Januari 2005 lalu, 
George W. Bush mengatakan ,"When you stand for your liberty, we will stand for 
you." (Jika Anda berjuang untuk kebebasan Anda, maka kami akan bersama Anda).

Bush juga menegaskan, "The best hope for peace is the expansion of freedom." 
(Harapan terbaik untuk perdamaian, adalah melakukan ekspansi kebebasan) 
(Newsweek, 31 Januari 2005). Perhatikan pilihan kata Bush, yang menggunakan 
"ekspansi kebebasan" (expansion of
freedom). Jelas, mengindikasikan bahwa kebebasan adalah nilai asing yang 
dicekokkan secara paksa ke dalam tubuh masyarakat kita yang mayoritas muslim.

Tentu ekspansi kebebasan ini jangan diartikan harfiyah bahwa yang mengusung 
nilai-nilai kebebasan haruslah orang kulit putih seperti orang Amerika atau 
Eropa. Bisa jadi, dan ini memang sudah terjadi, yang mengusungnya justru orang 
kita sendiri yang berkulit sawo matang dan bahkan, beragama Islam. Namun 
pikiran mereka tentu telah terkotori oleh paham liberal gaya kapitalis.

Anti Moralitas
Secara ekonomi, eksistensi media liberal membuktikan kaum kapitalis adalah 
pihak yang sungguh tak bertanggung jawab. Karena mereka hanya memikirkan 
bagaimana mengeruk keuntungan pribadi dengan cara nista. 

Ketika banyak pihak mengecam goyang Inul justru media mengangkatnya 
tinggi-tinggi hanya untuk mengejar rating dan iklan. Uang, adalah Tuhan bagi 
industri hiburan.

Kata Adam Smith, dalam The Wealth of Nations (1776), jika tukang daging menjual 
dagingnya kepada Anda, itu bukan karena dia berbelas kasihan atau bersimpati 
kepada Anda, melainkan karena dia mengejar keuntungannya sendiri. Bicaralah 
uang karena hidup adalah uang. Itulah cita-cita kapitalisme dan kaum liberalis.

Ciri berkembangnya fenomena sekulerime-liberalisme adalah hadirnya kaum 
nihilis. Alih-alih sebagai pejuang keadilan, mereka selalu menempatkan kata 
'netral' sebagai penyelamat moral. Kaum seperti ini tak pernah bisa membedakan 
mana yang benar menurut hati nurani dan
mana yang salah.

Karena itu, jangan heran bila kemudian muncul jawaban-jawaban seperti; "Kalau 
tak suka acaranya, matikan saja TV yang Anda tonton."

Logika nihilisi seperti ini tak hanya milik produser TV. Hampir semua orang, 
para seniman, artis, selebritis dan tak terkecuali para ilmuwan ikut terserat 
ke dalamnya. Tatkala muncul pro kontra pose bikini Artika Sari Devi --wakil 
Indonesia dalam Miss Universe— dengan entengnya seniman Sujowo Tejo santai 
mengomentari,"...Yang bikin porno itu pikiran kita."

Jadi, bagi orang seperti Sujiwo Tejo, atau para pemuja liberalisme, yang salah 
itu otak kita. Artika tidak salah, media juga tak salah, pemerintah juga tak 
berdosa. Inilah logika kaum nihilis.

Logika kaum nihilis membolehkan orang bertelanjang berlenggang-kangkung di 
jalan-jalan, di pasar, di panggung hiburan. Boleh saja di film dan layar TV 
menjajakan 'ketelanjangan' asalkan otak bisa sopan..

Ketika umat Islam –yang juga mayoritas pemilik negeri ini—dan menjerit-jerit 
untuk menghentikan 'media liar' melalui RUU Pornografi dan Pornoaksi, para LSM 
dan suara kaum nihilis justru melawannya beramai-ramai.

Mereka yang menamakan diri "Jaringan Program Legislasi Nasional" (Prolegnas) 
Pro Perempuan, yang beranggotakan 35 organisasi perempuan --termasuk Komnas 
Perempuan, Kowani, Puan Amal Hayati, Muslimat NU, Cetro, Aliansi Pelangi 
Antarbangsa, Kalyanamitra, Pusat Krisis Terpadu RS Cipto Mangunkusumo, LBH 
Jakarta, dan LBH APIK Jakarta-- menilai RUU tersebut justru berpotensi 
melahirkan kekerasan  aru, menempatkan korban menjadi pelaku, terutama pada 
korban perempuan dan anak, melanggar kebebasan berekspresi, dan membakukan 
standar kesusilaan berdasarkan pemahaman satu kelompok saja (Kompas, 2/7/2005).

Seorang anggota jaringan tersebut hanya mempersoalkan salah satu isi pasal 
pornoaksi berpotensi mengkriminalkan semua perempuan hanya karena ada istilah 
"dilarang memperlihatkan payudara di muka umum." "Tidak dijelaskan payudara 
siapa." Katanya sinis. "Bagaimana dengan ibu-ibu yang menyusui bayinya di muka 
umum? Bagaimana dengan kebiasaan masyarakat mandi dan buang air di kali?" 
Demikian pertanyaan rewel aktivis itu.

Seorang pengelola pesantren, Abdul Moqsith Ghazali bahkan terkesan 
menghalang-halangi RUU yang dibutuhkan umat Islam tersebut. Pria yang juga 
aktifis Islam liberal itu mengugat pasal "dilarang
mempertontonkan alat kelamin di muka umum" dengan mengatakan , "Lalu bagaimana 
dengan orang yang mandi di sungai?" (Kompas, 2/7/2005).

Selera kaum liberalis (sebut saja kaum nihilis) pada akhirnya membolehkan apa 
saja secara bebas dan liar tanpa adanya otoritas pelarangan baik atas nama 
pihak berkuasa atau kaum yang sering mereka ledek sebagai kaum moralis. Semua 
boleh hidup bebas meski itu liar.

Saya teringat George Orwell, pengarang novel "Animal Farm" yang oleh mendiang 
Mahbub Djunaidi diindonesiakan menjadi novel "Binatangisme". Dalam kehidupan 
'Binatangisme' orang boleh hidup semau-gue. Undang-undang kaum 'Binatangisme" 
adalah 'siapa yang kuat itulah yang menang'. 

Bahkan dalam kehidupan 'Binatangisme', seorang anak boleh saja menggauli 
ibundanya sendiri tanpa harus takut agama atau ditangkap polisi. Ituklah makna 
kebebasan!.

Tragedi di masa depan, adalah semakin banyaknya kelahiran kaum nihilis 
berselera 'binatangisme'. Mereka bukan hanya kalangan ilmuwan bahkan kaum 
agamawan. Mereka bahkan fasih terhadap ayat suci tetapi lupa 'hati-nurani'.

Justru merekalah pendukung utama jalan-jalan 'liar'. Sebab atas nama kebebasan, 
mereka tak lagi pernah berani mengatakan haq dan batil. 

Untuk itu, tak ada kata yang tepat bagi mereka selain ucapan, "Ahlan Wa Sahlan 
'Binatangisme'."

*) Penulis adalah dosen STEI  Hamfara, Yogyakarta dan aktivis HTI


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hdnm68p/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705136382:TM/Y=YAHOO/EXP=1123354987/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>DonorsChoose.
 A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in 
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke