Yang Mulia Syekh Duktur Aji Hermawan,

Saya lebih memandang permasalahan sebagai masalah sistem. Sistem
ekonomi Indonesia sendiri tidak secara jelas didefinisikan. Lho
katanya ekonomi Pancasila, tapi nyatanya ekonomi neoliberal. Dibilang
ekonomi liberal yang menolak campur tangan negara kok BLBI ditanggung
pemerintah. Ini kan rancu jadinya. Akibatnya kebijakan negara juga
tidak jelas: bagaimana peran negara terhadap pertumbuhan ekonomi?
Terhadap usaha kecil? Terhadap lembaga-lembaga pendidikan? Terhadap
pelajar/mahasiswa/santri?
Imbasnya ke pesantren: kyai2 cari akal supaya pesantrennya bertahan
hidup atau kalau perlu bisa berekspansi. Jujur saja, pesantren atau
sekolah manapun di dunia ini butuh dana operasional. Lha kebanyakan
pesantren kan harus menghidupi dirinya sendiri atau bertahan hidup
karena bantuan donatur, tidak seperti sekolah umum (baik negeri maupun
swasta) yang jelas bisa memungut dana dari siswa secara lebih bebas.
Jadi ketika Alfamart menerima konsep Menkop PPK, ya wajar ada beberapa
pesantren menyambut hangat. Dalam konteks inilah, dan bukan dalam
konteks pertentangan neoliberal dan neososialisme, kita bisa memandang
fenomena penerimaan para pesantren tadi secara lebih jernih.
Kalau NU menolak Alfamart, harusnya NU membuat konsep baru yang lebih
nyata untuk membantu pesantren. Apakah NU sanggup mengelola ZIS yang
kisarannya bisa sampai ratusan juta per tahun (kalau dikelola dengan
benar dan pemberi dimudahkan)? Ataukah NU bisa berjuang di DPR
(sementara PKB saja ada dua versi) agar pemerintah lebih serius
menangani pesantren? Ataukah NU membuat standardisasi pesantren agar
layak dibantu pemerintah? Memang PR NU masih sangat menumpuk.
Sedikit di luar topik: tahun 2007 akan berlaku UU Guru dan Dosen yang
mengamanatkan tunjangan Guru dan Dosen akan dialokasikan dalam APBN.
Pertanyaannya: apakah kyai pondok dan pengasuh pondok masuk dalam
kriteria Guru dan Dosen? Jika iya, apakah ada standar tertentu?

Salam,
Nano

--- In [email protected], Aji Hermawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Soal Alfamart nyerbu pesantren....
> 
> Saya tidak menyalahkan para kyai yg kurang kritis menerimanya...
> Jangankan para kyai yang seringkali kurang bersentuhan dengan persoalan 
> pengaruh 'modern market', banyak para profesional pun yang malah 
> beperpikiran pragmatis - mengambil keuntungan dari perkembangan ini.
 Ya 
> contohnya, Suryadharma sendiri yang orang NU dan mantan aktivis PMII, 
> kurang profesional apa dia?  wong menteri.
> 
> Contoh lain, di kampus saya sendiri (IPB), asrama mahasiswa diubah
menjadi 
> Mall 'Plaza Ekalosasi' di Bogor.  Bekas gedung lama IPB sekarang sedang 
> dibangun 'agribusiness centre' yang salah satu isinya adalah supemarket 
> 'Giant'.
> 
> Contoh lagi, betapa banyak para profesional yang masuk ke desa-desa 
> memanfaatkan sistem franchise dari 'Alfamart' atau 'Indomart', cari 
> tambahan uang.....  invest! profit!
> 
> Kenapa ini bisa terjadi? dimanakah sensitivitas para kyai dan 
> profesional?  Menurut saya letaknya adalah di paradigma-nya, cara 
> pandangnya.  Occupation seseorang, jabatan seseorang, pendidikan tinggi 
> seseorang tidak menjamin ia berpandangan 'membela wong cilik',
memihak pada 
> yang marginal.
> 
> Saya justru bangga pada banyak wong NU yang justru masih peduli pada 
> masalah seperti ini.  Sementara, saya masih merasa sendirian dalam
hal-hal 
> seperti ini ketika justru di sebuah lingkungan universitas yang
penuh para 
> profesor dan doktor lulusan luar negeri.  Critical thinking sudah
hilang 
> dalam pendidikan kita.
> 
> Untuk details dampak supermarket ini, setahun yang lalu saya sudah baca 
> buku 'the true cost of supermarkets', yang berisi hasil riset di UK 
> bagaimana dampak supermarket terhadap lapangan kerja, pertanian, 
> perdagangan, dll. Untuk di Indonesia, saya menduga dampaknya lebih 
> parah.  Kenapa supermarket bisa lebih murah, kenapa apelnya lebih
cantik2 
> dan murah, bagaimana sistem bisnisnya, bagaimana kaitan dengan
pemasoknya, 
> dll......  ceritanya panjang, lain kali saja kalau ada waktu saya
beberkan.
> 
> Untuk sementara... kalau bisa upayakan stop jaringan supermarket
masuk ke 
> desa-desa... apalagi jaringan multinasional seperti Carefour,
Wal-Mart (ini 
> perusahaan USA di Eropa dihadang dan ganti nama 'Asda', di Indonesia 
> lisensinya dipegang Lippo).
> 
> Salam
> Aji Hermawan
> Manchester, UK
> 
> --- In [email protected], "lakpesdam" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  >
>  > Memang rumit dan ribet. Tapi itu semua tantangan yang
>  > sudah tidak bisa kita tinggal pergi begitu saja,
>  > kecuali kalau kita bisa "fly" kayak para penggemar
>  > narkotika cs: lari dari kenyataan.
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
For $25, 15 Afghan women can learn to read. Your gift can make a difference.
http://us.click.yahoo.com/_smZ4B/SdGMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke