From: Toni Pangcu
To: Ulil Abshar-Abdalla ; Lakpesdam-NU ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]
; Mohamad Guntur Romli ; Abd. Moqsith Gazali ; Abdul Moqsith Ghazali ; Anick ;
Farid Wajidi ; Hairus Salim ; Ienas Tsuroiya ; MG Romli ; Anick Hamim Tohari ;
[EMAIL PROTECTED] ; Muntajid Billah ; Robin Bush ; Zuhairi Misrawi ; Zuhaeri
Misrawi ; [EMAIL PROTECTED] ; Umdah el Baroroh ; Trisno Sutanto ; Syafiq Hasyim
; Sukidi Mulyadi ; Maria Ulfah Ansor ; Hasyim Wahid
Sent: Saturday, December 31, 2005 1:33 PM
Subject: Re: Kenangan untuk Pak Masykur
Ulil,
Terima kasih atas tulisannya. Mengingatkan pertemanan saya dengan Pak Masykur,
yang saya kenal pada tahun 1980. Pertemanan yang diawali dengan formal, pada
saat Program Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Pesantren, yaitu di PP
Maslakul Huda, Kajen, Pati. Ketika itu, saya masih kuliah di ITB dan Pak
Masykur menjadi "direktur" BPPM PP Maslakul Huda.
Pertemanan yang begitu tulus, terus mengalir dengan penuh keikhlasan. Tanpa
terasa sudah tidak ada lagi jarak di antara kami. Mulanya panggil Pak, kemudian
Kang, dan akhirnya sering panggil nama saja.
Terakhir saya bertemu pada acara Renstra Komunitas Mata Air. Saya ketemu Kang
Masykur pada hari Sabtu sore, 16 Des. di hotel HARRIS, ketika dia akan bertemu
dengan Gus Mus (yang ternyata ketiduran di kamar, sangat pulas seperti "orang
mati", seperti yang dikatakan Gus Mus melalui sms kepada saya). Ada beberapa
hal yang disampaikan kepada saya tentang MATA AIR, yang Alhamdulillah semuanya
sudah saya sampaikan ke Gus Mus dan Kang Muad.
Hanya ada satu "amanah" dari Masykur yang belum sempat saya selesaikan. Padahal
amanah tersebut sudah dikatakan sekitar 4-5 tahun yang lalu, tentang rumah
sakit di Kajen, yang menurut Masykur sudah "komersial" atau cenderung "bisnis".
Saya diminta, karena Masykur tahu bahwa saya memang ikut dalam proses pendirian
rumah sakit tersebut atau bisa dikatakan rumah sakit itu berdiri karena
pembicaraan awal saya dengan Kiai Sahal dan Bu Nyai Sahal sekitar tahun
1987-1988. Mudah-mudahan amanah itu suatu saat bisa saya sampaikan ke Kiai
Sahal dan Bu Nyai Sahal. Insya Allah.
Mudah-mudahan Allah selalu memberikan yang terbaik bagi almarhum dan
keluarganya. Insya Allah.
Duka saya,
Toni Pangcu
Malang, 31 Des. 2005
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
In Memoriam
Masykur Maskub: Penggerak "Silent Transformation" di NU
Tokoh yang pendiam itu telah meninggal dalam insiden kendaraan bermotor di
kawasan Pancoran, pada 30 Desember 2005. Pak Masykur, guru, teman, dan sahabat
yang sangat saya hormati dan cintai itu telah meninggalkan kita untuk
selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.....
Masykur Maskub, atau Pak Masykur --begitu kawan-kawan muda NU kerap
menyapanya-- bukanlah tokoh yang "cemlorot" dan terkenal. Dia nyaris tak pernah
muncul di TV, pernyataan-pernyataannya jarang dikutip media, dan kehadirannya
mungkin hanyalah dirasakan "bermakna" buat kalangan terbatas yang mengenalnya
dari dekat. Dia bukanlah Gus Dur yang kehadirannya nyaris "pervasive" dan ada
di mana-mana. Pak Masykur mung tampak hadir hanya buat segelintir orang,
tetapi, believe me, kehadirannya yang terbatas itu mempunyai makna yang
mendalam, bukan saja buat teman-temannya, tetapi lebih besar lagi buat NU.
Dialah orang yang, di mata saya, melakukan "silent transformation" (perubahan
diam-diam). Jika tak khawatir menimbulkan efek berbihan, saya hampir saja
mengatakan "revolusi diam-diam".
Usahanya, tentu bersama kawan-kawannya yang lain, untuk menegakkan institusi
lembaga riset, kajian dan pengembangan sumber daya manusia NU, yakni
Lakpesdam-NU, serta membangun sistem yang kredibel dan bermartabat dalam
lembaga itu, jarang dikenal oleh banyak orang, bahkan di lingkungan NU sendiri.
Tetapi, berkat usahanya itu, Pak Masykur telah menjadikan Lakpesdam-NU sebagai
salah satu lembaga NU yang berjalan normal sebagaimana laiknya sebuah institusi
modern. Dia bekerja dari balik layar, wajahnya jarang, atau nyaris tak pernah,
disorot oleh kamera, dan sosoknya hanya disadari oleh sejumlah orang di NU
dalam kesempatan yang terbatas. Tentu dia hadir dalam setiap event besar NU,
tetapi jarang orang menyadari bahwa dia telah melakukan hal yang "besar" buat
NU. Dan saya kira, figur-figur yang bekerja dengan diam-diam untuk NU semacam
ini bertebaran di seluruh daerah, dari mulai PB hingga ke pengurus ranting.
Orang jarang mengenal mereka, dan mereka tentu tak risau jika tak banyak orang
mengetahui apa yang telah mereka kerjakan untuk institusi yang mereka cintai
lahir-batin, Nahdlatul Ulama. Saya kira, umur NU bisa panjang karena "tangan
dingin" dan keikhlasan yang nyaris tanpa pamrih dari orang-orang semacam Pak
Masykur ini.
Di kalangan anak-anak muda NU, terutama teman-teman yang sering
mendefinisikan diri mereka sebagai "NU kultural", Pak Masykur dianggap sebagai
pelindung dan pengayom. Meskipun jarang atau tidak banyak bicara, tetapi
kehadiran Pak Masykur sangat berarti buat teman-teman itu. Dia, mungkin seperti
garam: tidak terlihat di mangkuk waktu anda menyantap bakso, tetapi jika bahan
itu tak ada di sana, anda merasa ada sesuatu yang hilang. Tak berlebihan, jika
saya mengatakan bahwa Pak Masykur adalah semacam "mursyid" untuk teman-teman
muda NU yang bergerak di jalur kultural.
Perkenalan saya dengan Pak Masykur berlangsung secara pelan-pelan, dan itu
terjadi mula-mula pada 1983 di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati. Madrasah
ini dipimpin oleh KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, atau Kiai Sahal,
sebagaimana kami dulu sering menyebut beliau. Saat itu, saya duduk di kelas 3
Tsanawiyah. Pada pandangan pertama, penampilan Pak Masykur sebagai seorang guru
tak begitu meyakinkan. Pembawaannya terlalu "lembut" untuk mata pelajaran yang
dia pegang saat itu, yakni "Kewarganegaraan Indonesia". Kami dulu menyebutnya
"pelajaran civic". Dia mempunyai sifat yang agak unik, yaitu sulit mengatakan
sesuatu yang ada dalam pikirannya. Dia kerapkali tampak seperti terengah-engah
untuk melontarkan sesuatu yang berkecamuk di benaknya. Saat menerangkan sesuatu
di kelas, Pak Masykur kelihatan seperti tergagap-gagap. Tak aneh, jika pada
bulan-bulan pertama mengikuti kelas dia, saya tak terlalu terkesan.
Tetapi, pelan-pelan, kesan saya berubah total saat pelajaran sudah berjalan
jauh. Meskipun Pak Masykur bukanlah seorang guru yang pandai berbicara, tetapi
cara dia membangkitkan rasa ingin tahu di kalangan murid luar biasa. Salah satu
momen yang paling tidak saya lupa adalah saat dia menjelaskan secara detil,
walaupun dengan terengah-engah, sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia. Tentu,
keterangan tentang peristiwa di sekitar proklamasi sudah kerap saya dengar di
kelas dari guru-guru lain.Tetapi, keterangan Pak Masykur sangat tidak
"konvensional". Dia banyak menjelaskan detil-detil peristiwa penculikan Sukarno
oleh Sukarni dan anak-anak muda "revolusioner" saat itu ke Rengasdengklok.
Tentu, detil-detil itu tidak ada dalam buku teks pelajaran. Dia juga
menjelaskan dengan menarik sekali rumitnya perdebatan dalam sidang-sidang
persiapan kemerdekaan RI, serta debat di konstituante yang berakhir dengan
dead-lock. Sejarah, di tangan dia, menjadi begitu hidup buat saya saat itu.
Yang menarik adalah, dia juga menyebutkan sumber-sumber yang dia rujuk. Ketika
membahas soal debat di konstituante tentang dasar negara itu, dia menyebut buku
karangan Syafii Maarif terbitan LP3Es yang, belakangan saya ketahui, ternyata
menjadi bahan pembicaraan luas, yaitu "Islam dan Masalah Kenegaraan". Dia
antara lain menyebut jurnal Prisma sebagai salah satu sumber rujukannya.
Seperti kita tahu, dekade 80-an awal adalah masa-masa kejayaan jurnal yang
diterbitkan oleh LP3ES itu. Di sana, saya tahu ini belakangan, ada rubrik
"tokoh" yang selalu memuat biografi sejumlah tokoh terkenal dalam sejarah
Indonesia. Pak Masykur, saya kira, satu-satunya guru di madrasah saya yang
membaca jurnal itu, bahkan berlangganan. Buat saya sebagai seorang santri dusun
saat itu, nama-nama buku dan jurnal yang datang nun jauh dari kota tampak
seperti barang "luks" yang nyaris tak terjangkau. Tetapi, believe me or not,
Pak Masykur lah yang membuat barang-barang mewah itu bisa saya sentuh.
Belakangan saya kemudian tahu bahwa Pak Masykur rupanya bekerja sebagai
seorang "social volunteer" untuk program pengembangan pesantren yang dilakukan
oleh LP3ES, dan karena itulah dia mendapat kiriman rutin jurnal Prisma dan
buku-buku terbitan LP3ES yang lain. Dari segi bacaan, Pak Masykur saat itu
mendahului ratusan langkah dari guru-guru lain di madrasah saya. Karena cara
dia mengajar yang hidup inilah saya menjadi tertarik dengan kelas dia. Setiap
masuk kelas, selalu ada hal baru yang dia bawa yang tak ada dalam buku teks
pelajaran. Dia selalu membawa hal-hal baru yang segar. Dunia saya sebagai
seorang murid madrasah kampung yang sempit saat itu seperti diperluas
cakrawalanya oleh penjelasan-penjelasan dia yang bersumber dari bahan bacaan
yang kaya. Ada salah satu kebiasaan mengajar pada dia yang unik. Dia akan
selalu mengakhiri kelas dengan mendaftar sejumlah bahan bacaan yang menjadi
bahan rujukan dia. Tentu dia tak menuntut kami untuk membaca buku-buku itu.
Sebab, semua bahan bacaan yang dia sebutkan itu tak ada di perpustakaan
madrasah saya yang isinya sebagian besar adalah kitab kuning dan sejumlah buku
"drop-dropan" (istilah yang dikenal waktu itu) dari pemerintah. Tetapi, ini
uniknya, dia selalu mempersilahkan murid-muridnya untuk datang ke rumahnya
untuk meminjam buku-buku bacaan yang dia anjurkan. Dia hanya ingin
memperlakukan kami, murid madarasah Tsanawiyah, seperti seorang mahasiswa.
Udangan ini langsung saya sambut dengan suka cita. Jarak antara rumah saya
dan rumah Pak Masykur yang berada di desa Sumerak (sekitar 7 kilo ke arah
selatan dari kota Kawedanan Tayu) sekitar 5 kilo. Saya selalu naik sepeda
"onthel" (istilah yang lazim dipakai di desa saya) ke rumah dia; sekitar 45
menit. Pertama kali saya berkunjung ke rumahnya, saya terkesima. Untuk pertama
kali saya melihat koleksi jurnal Prisma yang dibundel dengan rapi dan bagus.
Buku-buku terbitan LP3ES juga ada di sana, dengan beragam topik dan tema:
politik, ekonomi, sosial-budaya, agama, dll. Saya tak pernah menyaksikan bahan
bacaan seperti itu sebelumnya, bahkan di perpustakaan madrasah pun tidak. Dalam
hati, saya berkata, "Pantesan kelas Pak Masykur kaya dengan informasi-informasi
baru, abis bacaannya keren kayak gini." Saya masih ingat, buku pertama kali
yang saya pinjam dari koleksi pribadi Pak Masykur adalah dua buku bunga rampai
tulisan seorang intelektual Indonesia yang paling dihormati saat itu,
Soedjatmoko. Dua buku itu adalah: Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan Etika
Pembebasan. Tidak seluruh tulisan Soedjatmoko yang rumit itu bisa saya cerna.
Tetapi, membaca buku-buku itu, saya merasa ada sesuatu yang "lain" di luar
pelajaran keagamaan a la pesantren yang saya terima selama ini. Saya juga mulai
meminjam beberapa edisi jurnal Prisma. Dari sanalah saya mulai mengenai
sejumlah inetelektual Indonesia yang terkenal pada saat itu: Abdurrahman Wahid,
Ignas Kleden. Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Fachry Ali, Juwono Sudarsono, Daniel
Dhakidae, Aswab Mahasin, Lukman Sutrisno, Prof. Sajogjo (yang ahli pergizian
itu), Sediono Tjondronegoro, Rahman Tolleng, Burhan D Magenad, YB Mangunwijaya,
Soetjipto Wirosardjono, Nurcholish Madjid, Syafii Maarif, Amien Rais,
Jalaluddin Rakhmat, dll. Tentu perkenalan saya dengan tokoh-tokoh ini tidak
terjadi sekaligus. Dalam rentang waktu empat tahun, sejak kelas 3 Tsanawiyah
hingga 3 Aliyah, saya tak pernah henti-hentinya diajar oleh Pak Masykur, dan
tak henti-hentinya pula saya melahap koleksi pribadi dia. Belakangan, setelah
terbit majalah Pesantren oleh P3M, lembaga yang sekarang dipimnpin oleh Masdar
F Masudi, daftar pinjaman saya tentu mencakup jurnal itu. Majalah lain yang
saya pinjam adalah Pesan yang juga diterbitkan oleh LP3ES dan dikhususkan
sebagai bacaan untuk para santri ('Pesan' adalah kependekan dari 'Pesantren').
Di samping mengajar di madrasah asuhan Kiai Sahal itu, Pak Masykur juga
terlibat dalam sebuah LSM yang berada di bawah naungan Pesantren Maslakul Huda,
asuhan Kiai Sahal. Nama LSM itu adalah BPPM, Badan Pengembangan Pesantren dan
Masyarakat. BPPM adalah salah satu mitra kerja LP3ES, dan belangan P3M, dalam
program pengembangan pesantren dan masyarakat. Dekade 80-an adalah periode
"romantis" LSM di Indonesia. Saat itu, banyak kalangan kritis yang merintis
sejumlah LSM di Jakarta percaya bahwa perubahan sosial bisa terjadi lewat jalur
yang non-developmentalis, yakni di luar jalur pembangunan yang ditempuh oleh
pemerintah dengan ciri utamanya adalah pendekatan "top down": pemerintah
memutuskan, rakyat tinggal manut saja. Pendekatan itu dikritik sebagai sumber
kegagalan pembangunan saat itu. Oleh karena itu, harus dicari alternatif
perubahan sosial yang lain. Timbullah gagasan tentang perubahan yang
"bottom-up", dari bawah ke atas, dengan pendekatan yang saat itu dikenal
sebagai metode partisipatoris. Karena pesantren dianggap sebagai lembaga
pribumi yang berkembang dari bawah, maka banyak kalangan percaya bahwa
perubahan sosial alternatif bisa ditempuh lewat peran pesantren. Ramailah orang
menoleh ke pesantren, dan disertasi Zamakhsyari Dhofier yang diterbitkan oleh
LP3ES saat itu dengan judul "Tradisi Pesantren" menjadi bacaan yang populer.
Ada optimisme bahwa pesantren menjadi semacam "jalan ketiga" dalam melaksanakan
perubahan sosial. Romantis memang.
Sebagai seorang santri madrasah, saya tak sepenuhnya memahami konsep-konsep
yang rumit itu. Saya membacai banyak buletin dan terbitan-terbitan yang
dikelola baik oleh LP3ES atau P3M yang dikirim ke BPPM. Semuanya mungkin karena
kedekatan saya dengan Pak Masykur. Saat itu, saya bukan santri Maslakul Huda,
sebab saya mondok di pesantren yang dikelola oleh ayah saya sendiri, Pesantren
Mansajul Ulum di desa Cebolek. Tetapi, kedekatan saya dengan Pak Masykur
memungkinkan saya untuk mengakses sumber-sumber bacaan yang dimiliki oleh BPPM
yang berafiliasi dengan Pesantren Maslakul Huda itu.
Buat saya, dan saya kira juga buat murid-murid lain yang seangkatan dengan
saya di Madrasah Mathali'ul Falah saat itu, Pak Masykur adalah layaknya sebuah
"jendela" dari mana kami bisa menjenguk ke dunia luar. Bagi kami, Pak Masykur
persis menempati posisi yang pada dekae 80-an dikenal sebagai "cultural broker"
-- istilah yang dikenalkan oleh antropolog Amerika, Clifford Geertz, dan sangat
populer di kalangan sarjana yang mengamati pesantren saat itu. Pak Masykur
adalah "jembatan budaya" yang menghubungkan kami di madrasah dengan dunia luar
yang tak kami kenal dengan baik saat itu.
Tahun 1987, kalau tak salah, Pak Masykur pindah ke Jakarta, karena diminta
oleh Gus Dur untuk bergabung dengan teman-teman di Lakpesdam NU Pusat di
Jakarta. Pertama kali saya bertemu dengan dia adalah pada 1988, di kantor
Lakpesdam di Jl. Supomo, Pancoran. Sejak itu, saya makin dekat dengan dia, dan
akhirnya, pelan-pelan, terlibat secara tak langsung dalam kegiatan di Lakpesdam
yang saat itu di bawah kepemimpinan Pak Sadi Budairi, salah satu wartawan NU
senior yang pernah terlibat di koran Duta Masyarakat milik NU dan masih hidup
hingga sekarang. Sifat Pak Masykur tidak pernah berubah: dia tetap seorang
pendiam, murah senyum, dan mengayomi. Tentu, interaksi saya dengan Pak Masykur
sekarang berubah sifatnya: saya tak lagi menjadi murid dia, tetapi sebagai
sesama teman di sebuah kantor; sebagai kolega. Meskipun, hingga akhir hayatnya,
saya selalu menganggap Pak Masykur sebagai guru yang saya hormati. Ada
kualitas-kualitas pribadi Pak Masykur yang mulai terkuak setelah saya bergaul
dengan dia bukan semata-mata sebagai seorang murid, tetapi juag kolega. Dia
adalah tipe orang yang "get-thing-done", yang selalu berusaha berpikir
bagaimana segala sesuatu bisa terlaksana. Pak Masykur bukanlah seorang
"idealis-pemimpi" yang suka berbicara tentang konsep-konsep besar dan gigantik,
tetapi dia adalah orang yang sadar, bahwa bagaimanapun konsep besar harus bisa
jalan di bumi. Dia juga orang yang sadar tentang pentingnya organisasi modern
bagi NU. Oleh karena itu, sistem dan aturan main adalah faktor penting yang di
mata dia sangat menentukan mati-hidupnya sebuah lembaga modern.
Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur NU, tentu Pak Masykur sangat
menghormati figur kiai. Bahkan, sebagaimana ia kisahkan secara pribadi pada
saya, beberapa keputusan penting dalam hidupnya selalu ia ambil setelah
berkonsultasi dengan seorang kiai sepuh yang sangat dia hormati, yakni allah
yarham KH. Abdullah Salam, Kajen, yang di daerah kami dikenal dengan Mbah
Dullah. Pak Masykur menaruh hormat yang dalam dan tulus pada kiai-kiai sepuh di
NU. Tetapi, dia juga sadar bahwa NU harus ditegakkan bukan semata-mata atas
dasar kharisma kiai sepuh. Sebagai lembaga modern, NU harus membangun sistem
dan manajemen organisasi yang baik dan berjalan dengan normal. Dalam hal ini,
Pak Masykur mengagumi figur lain dalam NU yang, secara kebetulan, mempunyai
sifat-sifat yang sama dengan dia: yakni kesederhanaan serta kesadaran yang
tinggi tentang pentingnya sistem dan manajemen. Tokoh itu tak lain adalah
almarhum Fahmi Saifuddin, putera dari mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.
Dalam istilah yang dikenal selama ini di kalangan NU, Pak Masykur menghendaki
agar NU tidak berhenti sebagai 'jama'ah' atau kumpulan biasa, tetapi juga
meningkat sebagai 'jam'iyyah', yakni organisasi yang ditegakkan atas dasar
aturan main dan sistem yang kokoh. Dedikasi Pak Masykur yang berlangsung lebih
dari 15 tahun di Lakpesdam dikerahkan, antara lain, untuk membangun "jam'iyyah"
itu, lewat institusi Lakpesdam. Bersama teman-teman lain seperti Lukman
Saifuddin, Mufid A. Busyairi, Helmi Ali, Muntajid Billah, Yahya Ma'shum, Pangcu
Driantoro, Masrur Ainun Najih, Lilis N. Husna, dan senior-senior lain sepeti MM
Billah dan Said Budairi, Pak Masykur telah menjadi bagian dari arus penting
untuk men-jam'iyyahkan NU.
Saya tahu, cinta pertama dan terakhir Pak Masykur adalah NU dan kiai. Oleh
karena itu, seluruh orbit kehidupan dia berputar di sekiar pesantren, NU dan
kiai. Dia tak pernah lepas dari dunia para kiai itu. Salah satu etos yang
begitu menonjol dan dilihat secara mencolok oleh teman-teman NU pada figur Pak
Masykur, dan terutama di Lakpesdam, adalah etos kesederhanaan dan kejujuran --
salah satu etos yang diajarkan di pesantren. Pertama kali saya bertemu dengan
dia di luar kantor adalah di rumahnya yang sangat sederhana di kawasan
Pancoran. Rumah kontrakan itu hanya mempunyai dua kamar yang sempit, dengan
keadaan bangunan yang sangat sederhana. Lokasi rumah agak menjorok ke dalam,
dinaungi oleh pohon sawo yang rimbun. Selama bertahun-tahun Pak Masykur tinggal
di rumah sederhana itu. Baru beberapa tahun belakangan, Pak Masykur memutuskan
untuk membeli rumah sendiri --rumah kecil yang terletak tak jauh dari rumah
kontrakannya yang lama. Rumah yang ia beli sendiri ini jauh dari kesan mewah,
dan letaknya agak jauh dari jalan utama. Untuk mencapai ke sana kita harus
melewai gang kelinci yang agak menikang-nikung. Selama hidupnya, Pak Masykur
tidak memiliki mobil. Sejak pertama kali saya melihat dia di madrasah
Mathali'ul Falah hingga akhir hayatnya, dia hanya memakai sepeda motor. Kami,
muridnya saya itu, selalu mengenali dia lewat sepeda motor Yamaha bebek merah
keluaran tahun 70-an. Saat di Jakarta, dia mempunyai sepeda motor yang agak
sedikit lebih baik, yaitu Honda seri lebih baru (saya sudah lupa). Tetapi,
hingga akhir hayatnya, dia selalu "istiqamah" memakai sepeda motor. Bahkan,
tragisnya, dia harus meninggal dalam insiden sepeda motor.
Tentu, kesederhanaan hidup seperti ini kontras dengan perubahan pola
kehidupan di kalangan NU, terutama setelah era reformasi politik. Sudah menjadi
rahasia umum bahwa saat ini, pola hidup tokoh-tokoh NU mulai berubah, mulai
lebih kelihatan sedikit "mewah". Meskipun tak ada sesuatu yang sepenuhnya salah
dalam perkembangan seperti ini, tetapi perubahan gaya hidup di kalangan
tokoh-tokoh agama semacam itu tentu menimbulkan "gunjingan" di kalangan
masyarakat. Pak Masykur tentu ikut risau dengan keadaan semacam ini. Dalam
pembicaraan pribadi, dia selalu mengingatkan saya pada kesederhanaan hidup yang
diteladankan oleh Mbah Dullah di Kajen. Dalam salah satu momen pembicaraan via
telp yang sangat menyentuh, bahkan dia nyaris menangis menceritakan kembali
teladan kehidupan Mbah Dullah kepada saya. Saat dia menjabat sebagai Direktur
Lakpesdam selama 10 tahun, dia sempat menikmati fasilitas mobil kantor. Tetapi,
dia tak pernah membawa mobil itu ke rumah, karena tentu hal itu tak mungkin.
Dia sendiri tak mempunyai areal parkir. Rumahnya berada di kawasan yang
"crowded" dan berhimpit dengan rumah-rumah lain. Setelah usai menjadi Direktur
Lakpesdam beberapa bulan sebelum dia meninggal, dia kembali "istiqamah" dengan
kendaraan lamanya: sepeda motor. Dia tak pernah berubah: hidup dengan
sederhana.
Ada satu hal yang selalu dia kisahkan kepada saya dengan penuh kebanggaan dan
rasa puas, yaitu pendidikan putera-puteranya. Dia selalu bilang bahwa dia
bersyukur pada Allah karena sebagai orang yang berpenghasilan tak terlalu
besar, dia berhasil menyekolahkan putera-puteranya ke UGM, UI, dan ITB. Ini
karunia besar yang selalu dia syukuri. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa
ini semua terjadi bukan semata-mata karena usaha keras dia dan isterinya,
tetapi juga berkat restu kiai sepuh yang tak lain adalah Mbah Dullah. Dia
mengisahkan bahwa keberangkatan dia ke Jakarta bukanlah tanpa suatu dilema. Dia
akhirnya bisa memecahkan dilema itu setelah mendapat restu dari Mbah Dullah.
Dia berangkat dengan hati yang tenang dan mantap setelah mendapat izin dari
kiai yang dia sangat hormati.
Setelah dusai menjabat sebagai direktur Lakpesdam, dia aktif di lembaga baru
yang didirikan oleh sejumlah anak-anak muda NU, di bawah asuhan Kiai A Mustofa
Bisri, atau lebih dikenal dengan Gus Mus, yaitu "Mata Air" yang kantornya
terletal di kawasan Tebet. Lagi-lagi, Pak Masykur tidak bisa bergerak jauh dari
dunia kiai. Kantor lembaga itu memang tak terlalu jauh dari rumah dia,
kira-kira 15 menit. Dia sering berangkat, pulang-pergi, ke kantor baru itu
dengan mengendarai sepeda motor. Dia tampaknya menjadi salah satu tumpuan Gus
Mus untuk menjalankan lembaga baru itu. Kesederhanan dan kejujuran Pak Masykur
nyaris seperti "mata air" di NU.
Walau nama dia tak hingar-bingar dikenal oleh kalangan luas, baik di NU atau
di luarnya, tetapi Pak Masykur telah menjaid ilham untuk beberapa anak muda di
NU, sekurang-kurangnya buat saya dan teman-teman saya sekelas di Mathali'ul
Falah dan teman-teman muda lain di Lakpesdam. Dengan caranya sendiri, dan
dengan pembawaannya yang sangat halus, dia telah melakukan transformasi
diam-diam dalam tubuh pesantren dan NU.
Mari kita bacakan al-Fatihah untuk arwahnya. Semoga segala amalnya diterima
oleh Allah dan segala kekhilafannya diampuni olehNya.
Boston, 30/12/2005
--------------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays,
whatever.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help the victims of the Pakistan/India earthquake rebuild their lives.
http://us.click.yahoo.com/it0YpD/leGMAA/E2hLAA/.DlolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/