----- Original Message -----   From: Akmal N. Basral
  To: [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Monday, May 01, 2006 6:16 PM
  Subject: [*Apresiasi-Sastra*] Budi Darma: Sekarang Ide Multikulturalisme Lebih Diterima

 


Wawancara

Budi Darma:

SEKARANG IDE MULTIKULTURALISME LEBIH DITERIMA

      BUDI Darma selalu dikenal sebagai sosok bersahaja dan rendah
hati. Ketika sedang mempersiapkan disertasi doktoralnya yang
berjudul Character and Moral Judgment in Jane Austen's Novels di
Universitas Indiana pada 1979-1980, ia menulis novel Olenka yang
menorehkan namanya dalam lanskap sastra tanah air. Jauh sebelumnya
di tahun 1963 saat usianya baru 26, ia sudah menjabat Dekan Fakultas
Sastra dan Seni IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri
Surabaya/Unesa), kampus yang juga pernah merasakan gaya
kepemimpinannya sebagai rektor (1984-1988). Namanya juga tercatat
sebagai anggota Modern Language Association, New York dan dalam buku
Who's Who in the World. Tetapi ia selalu menolak dipanggil dengan
sebutan akademis yang sudah menjadi haknya: Profesor Doktor. "Saya
tidak memiliki prestasi luar biasa untuk dipanggil `doktor'
atau `profesor'. Apa yang saya tulis selama ini adalah kewajiban,"
katanya.

      Padahal sumbangsihnya bagi dunia sastra tidak hanya
dilakukan lewat Unesa.  Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra
Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais
muda berbakat dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam
wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Tahun-tahun sebelumnya
ia menjadi guru besar tamu di Barat maupun Timur. Dari Northern
Territory University, Australia, almamaternya di Indiana,
Bloomington; Ocemania University di Hyderabad India, sampai Nanyang
University, Singapura.  Tak syak lagi, lelaki kelahiran Rembang ini
adalah seorang guru dunia.

      Selasa 25 April lalu, sang guru berulang tahun ke-69. "Saya
berterima kasih kepada Tuhan, apalagi relatif tidak ada masalah
kesehatan," ujarnya kepada wartawan Tempo Akmal Nasery Basral. Lebih
jauh Budi Darma memaparkan pandangannya tentang Sastra Dunia dan
perkembangan Sastra Indonesia dalam sebuah perbincangan yang
menyenangkan. Berikut ini petikannya.


+ Bagaimana rasanya berusia 69 tahun?

Ini proses alami yang wajar. Saya berterima kasih kepada Tuhan,
apalagi relatif tidak ada masalah kesehatan.


+ Maksud saya dalam konteks kreatif …

Kurang waktu untuk menulis. Cara saya menulis itu harus nge-blok
waktu, tidak bisa terputus-putus. Banyak sekali tugas akademis dan
makalah ilmiah yang harus saya kerjakan.

+ Termasuk untuk Seminar redefinisi Sastra Dunia di Universitas
Indonesia Juli nanti?

Ya. Tapi saya  belum sempat menulis makalah sama sekali.

+ Mengapa harus ada redefinisi Sastra Dunia? Apa perbedaannya dengan
pemahaman selama ini yang mengacu pada dominasi sastra berbahasa
Inggris atau bahasa utama dunia lainnya?

Kita harus melihat pasca Perang Dunia II, pada tahun 1950-1960
ketika sastra Inggris dan Amerika sudah kekurangan darah, padahal
publik ingin membaca hal-hal baru. Mereka beruntung dengan adanya
penulis-penulis migran dari India, Jepang dan Cina. Keadaan serupa
juga terjadi di Prancis, Jerman. Lalu terjadi pergeseran makna
sastra, antara lain lewat wacana posmo yang menyatakan bahwa semua
tulisan adalah sastra. Tak ada tinggi rendah dalam sastra. Tulisan
pop juga sastra, seperti semua bunyi adalah musik. Karena itu
definisi sastra dunia perlu dipikirkan lagi. Tapi ada masalah di
sini.

+ Yaitu?

Sekarang yang merajalela adalah budaya pop yang suka dengan sesuatu
yang baru, tak suka yang usang. Setelah Perang Dunia II, musik-musik
yang sebelumnya tidak dianggap, tiba-tiba mengubah wajah musik dunia
seperti The Beatles, The Rolling Stones atau The Doors. Tapi
kemunculan sastra pop tidak sehebat musik The Beatles atau grup-grup
lain sesudah itu sehingga ketika membicarakan sebuah standar baru
dalam sastra, yang muncul tetap saja standar lama seperti Hemingway
atau Kipling.

+ Apakah penerjemahan ke dalam bahasa Inggris tidak bisa menjadi
jembatan agar sebuah karya bisa disebut Sastra Dunia?

Belum tentu. Sastra Malaysia sangat gencar menerjemahkan karya-karya
mereka ke dalam bahasa Inggris dan memasarkannya ke berbagai penjuru
dunia. Tetapi di toko buku, karya-karya itu diletakkan di bagian
bawah rak, atau tempat-tempat yang tidak mendapat perhatian utama
pengunjung. Posisi karya sastra sebuah negara atau bangsa sebenarnya
berkaitan dengan kekuatan ekonomi, politik, dan kebudayaan mereka
dalam konteks global. Faktor-faktor itu yang tidak dimiliki Malaysia.

+ Bagaimana dengan sastra negara-negara Afrika, misalnya Nigeria
yang banyak melahirkan sastrawan dunia seperti Chinua Achebe atau
Ben Okri, meski sebagai negara Nigeria tidak lebih kokoh posturnya
dibandingkan Malaysia?

Mengapa Nigeria diperhatikan? Itu pertanyaan bagus. Menurut saya
selain faktor bahasa Inggris yang mereka kuasai, juga menyangkut
eksotisme.  Kombinasi ini yang menyebabkan Chinua Achebe dan kawan-
kawan lebih mendapat tempat dibandingkan sastrawan Asia. Dalam
pandangan Barat, yang disebut Asia itu hanya India, Cina, dan Jepang
yang meninggalkan jejak kebudayaan yang tinggi, terutama lewat
pengaruh Hindu dan Buddhisme. Itu bagian dari eksotisme. Selain itu
kiprah para penulis asal ketiga negara itu di Inggris atau Amerika
juga meyakinkan seperti ditunjukkan Bharati Mukherjee.

+ Jika tadi disebutkan pengaruh Hindu dan Buddhisme yang lebih mudah
diterima Barat, bagaimana terhadap agama lain, Islam khususnya?

Ada prasangka Barat terhadap Islam yang sesungguhnya telah terbentuk
lama sebelum Peristiwa 11 September. Misalnya pada cerpen Anton
Chekov di abad ke-19. Salah satu cerpennya menggambarkan seorang
tokoh lelaki yang ingin menikahkan anaknya dan mengundang banyak
orang. Salah seorang tamu yang datang adalah pembantunya. Si tokoh
ini melakukan salam cium kepada pembantunya seperti kepada tamu
lain. Bukan berciuman, tapi salam cium. Tapi setelah melakukan hal
itu, istri sang tokoh kurang lebih berkata, "Saya percaya kamu tidak
akan macam-macam, tetapi kamu ternyata pengikut Nabi Muhammad."  
Contoh lain menyangkut kartun Denmark yang menghina Nabi Muhammad.
Menurut saya jejaknya bisa ditelusuri sampai karya Dante Alighieri
terutama bagian Inferno.

+ Bukankah Olenka sangat terinspirasi oleh The Darling karya Chekov?
Bagaimana menjelaskan citra Chekov yang bias terhadap Islam dengan
Chekov sebagai sumber inspirasi Anda?

Betul, tapi masalahnya kan berbeda. Yang saya ambil dari Chekov itu
perhatiannya terhadap isu kemanusiaan yang sangat kritis. Sama saja
dengan novel Anda Imperia yang concern-nya juga terhadap masalah
kemanusiaan. Saya kira pengaruhnya juga dari banyak pihak.

+ Tentang Sastra Indonesia, bagaimana Anda melihatnya sebagai sastra
nasional?

Sebagai wacana, Orde Lama melihatnya sebagai pluralisme. Ini buah
dari kompromi Sutan Takdir Alisjahbana dengan Sanusi Pane yang
ditengahi oleh Ki Hajar Dewantara, sehingga muncullah rumusan
seperti kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah,
dan seterusnya itu. Tapi sekarang yang lebih diterima adalah ide
multikulturalisme. Artinya, semua bentuk kebudayaan daerah itu
mendapat tempat yang sama. Semuanya adalah kebudayaan nasional,
sastra nasional, termasuk kebudayaan Cina yang mulai diakui secara
terbuka sejak pemerintahan Gus Dur. 

+ Adakah contoh multikulturalisme sebagai bentuk sastra nasional di
negara lain?

Contoh terdekat adalah Singapura. Sastra Nasional di negeri itu ada
empat bentuk, yakni Sastra Melayu, Sastra Cina, Sastra Tamil, dan
Sastra yang ditulis dalam bahasa Inggris. Semua diakui sebagai
bentuk Sastra Nasional. Jadi kalau ide multikulturalisme ini mau
kita gunakan di Indonesia, maka setiap karya sastra dalam bahasa
daerah apa pun ditulis sesungguhnya adalah sastra nasional.

+ Menjelang pergantian millennium Anda menyebutkan adanya bagian
dari aliran pokok Sastra Indonesia, antara lain "Sastra Kabur" dan
Sastra Feminis. Bagaimana kecenderungan ini dalam 5-6 tahun terakhir?

Dulu jumlah pengarang kita terbatas. Sastra kabur itu mencoba
mengikuti bentuk seorang penulis terkemuka tetapi tak jelas
hasilnya. Kalau kita lihat di tahun 50-an, semua penulis ingin
seperti Toto Sudarto Bachtiar. Setelah itu, semuanya ingin menjadi
Sapardi Djoko Damono atau Goenawan Mohamad. Tetapi yang dihasilkan
adalah kekaburan. Saat ini kesempatan menulis ada di mana saja, dan
setiap individu bisa menulis tanpa perlu mengidolakan penulis
sebelumnya. Yang muncul adalah segmentasi seperti teenlit  atau
chicklit. Saat ini setiap hari muncul 15 novel dalam bahasa
Indonesia.

+ Anda sempat baca chicklit dan teenlit?
Ya. Tentu tidak semua, tapi saya ikuti perkembangannya.

+ Tentang sastra feminis di Indonesia apakah ada perkembangan baru
yang Anda perhatikan?

Sastra feminis harus dibedakan dengan emansipasi wanita. Yang
terakhir ini sekadar memberi cita-cita seperti karya Sutan
Takdir "Layar Terkembang". Sedangkan feminisme adalah gerakan yang
menyalahkan laki-laki. Semua karya NH Dini menunjukkan ini
dengan "memaki-maki" lelaki. Ayu Utami menurut saya tidak termasuk
feminis. Kecuali dalam pendeskripsiannya tentang seks, ada
kesetaraan jender antara pria dan wanita yang jelas dalam karya-
karyanya. Misalnya jika si tokoh wanita melihat seorang lelaki
terlambat menepati janji, dia tidak akan bilang, "Dasar lelaki!",
tetapi "Dasar tidak bertanggung jawab."

+ Apakah Anda melihat predikat post-novel dalam karya sastra
Indonesia sebagai sebuah konsep yang bisa dipertanggungjawabkan
secara teoritis?

Ini tentang Tuan dan Nona Kosong dari Hudan dan siapa itu yang
wanita?

+ Mariana Amiruddin.
Ya, Mariana. Saya kira mereka berdua menginginkan kebaruan dalam
bentuk penceritaan.

+ Berhasilkah?
Waktu yang akan menentukan. Tapi cerpen "Kota Kelamin" yang ditulis
Mariana (dimuat oleh edisi minggu Jawa Pos akhir tahun lalu – red)
lebih banyak seksnya ketimbang muatan sastra. Di sini (Surabaya –
red) menjadi heboh sampai ada yang berkomentar, "Matamu picek." Itu
ungkapan keras sekali dalam bahasa Jawa Timuran.

+ Siapa penulis Indonesia yang karyanya sedang Anda baca?

Filosofi Kopi dari Dewi Lestari. Dia tampaknya menulis secara main-
main tapi isinya serius.

+ Sekarang kita bicarakan karya-karya Anda sendiri seperti Orang-
orang Bloomington atau Olenka. Setelah tiga dekade berlalu, sejauh
mana relevansinya sekarang?

Masalah kemanusiaan dalam karya-karya itu rasanya masih relevan.
Hubungan antarpersonal, dan bagaimana individu mendefinisikan
dirinya sendiri dalam konteks masyarakat. Saya kira sama juga dengan
Imperia yang mencoba menyodorkan universalitas kemanusiaan dengan
mencoba menghubungkan apa yang terjadi di Barat dengan problem
kemanusiaan di Indonesia. Boleh tidak sekarang saya yang
bertanya, `Bagaimana Anda sendiri melihat Imperia?'

+ Secara umum belum puas.

Itu bagus. Setiap penulis selalu merasa tidak puas dengan karyanya,
dan hal itu yang menyebabkannya menulis lagi. Penulis Abasalom
Absalom (William) Faulkner berkata, "Penulis yang mudah puas itu
sama saja dengan bunuh diri." Tetapi, ada juga penulis yang hanya
mau menulis sekali dan merasa karyanya itu masterpiece. Contohnya
adalah E.M. Foster yang menulis A Passage to India. Setelah menulis
itu, dia berhenti.

+ Karya-karya Anda banyak mengandung lanturan (digresi) berupa
loncatan-loncatan pemikiran dari persoalan pokok yang justru
memperkuat tema utama yang ingin disampaikan. Tapi teknik ini tak
selalu berhasil dilakukan penulis lain. Bagaimana caranya agar
lanturan itu tetap dalam kontrol penulis?

Prinsipnya kalau semua lanturan itu diurut kembali, maka semuanya
harus relevan dengan tema utama. Setiap penulis saya kira tahu kapan
tema lanturannya mulai tidak relevan. Ketika itu terjadi ia harus
stop. Tapi sepanjang masih relevan, lakukan saja.

+ Hollywood semakin sering membuat film dari novel Jane Austen. Yang
terakhir adalah Pride & Prejudice. Bagaimana Anda sebagai pakar
Austen melihat  hal ini?

Karya-karya Austen itu selalu mengejek orang-orang snob. Pada jaman
dia menulis, yang disindirnya adalah bangsawan-bangsawan kecil kelas
kampung. Ada juga istri-istri bangsawan atau pejabat yang tiba-tiba
menjadi penyair atau pembaca puisi. Ini jenis snobisme yang juga ada
di Indonesia sampai sekarang, juga di banyak masyarakat.

+ Jika harus diringkas, siapa tiga sastrawan yang paling banyak
mempengaruhi Anda?

Pertama tetap Chekov dan Tolstoi. Kedua, penulis Yahudi (Isaac
Bashevis) Singer yang pernah menerima Nobel Sastra (1978). Karya-
karyanya sangat dalam. Lalu Albert Camus.


(Sumber: Ruangbaca edisi April 2006)

           
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Corporate culture Corporate culture change Business culture of china
Corporate culture training


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke